Because I Love You

Because I Love You
Nego


__ADS_3

"Rumah yang Om tunjuk tadi, rumah mantan Om kan?" tanya Kia pada Lucky sambil memicingkan matanya, mereka sudah kembali ke apartment saat ini.


"Kata siapa?" Lucky terperangah, mencoba mengingat apa pernah mengajak Kia ke sana dulu.l, kenapa juga Kia ingat, itu kan waktu Kia masih kecil.


"Tahu lah, Kia tahu semua mantan-mantan Om, Om lupa pernah ajak Kia ke sana." Kia menjulurkan lidahnya, Lucky langsung nyengir lebar merasa tidak enak hati.


"Tadi cuma kebetulan kok, bukan karena lagi ingat dia, beneran deh beib." Lucky menjelaskan supaya Kia tidak salah pengertian, tapi istrinya malah nyengir dengan pandangan sejuta arti.


"Memang mantan Om itu cinta mati sama Om Daniel?" tanya Kia kepo sambil mencibir, Lucky gelengkan kepalanya, tidak boleh bohong, baru awal pernikahan sudah bohong mau jadi apa nanti.


"Tidak." jawab Lucky jujur, yang ada malah gadis itu cinta mati sama Lucky.


"Tadi kenapa Om bilang begitu? padahal dia yang cinta mati sama Om tahu" Kia monyongkan bibirnya, benar saja Kia tahu semua tentang urusan asmara Lucky.


"Mau panasi Baen saja, Daniel kepalanya mulai mengepul karena Baen bahas Ben terus, kamu lihat kan dia mulai sewot." Lucky jadi nyengir.


"Om nyebelin!" kata Kia lalu tinggalkan Lucky menuju Balkon.


"Mau kemana sayang?" tanya Lucky tidak rela ditinggal istrinya walau hanya ke balkon, tadi Kia bilang apa? nyebelin? siapa? Lucky atau mantan pacarnya, gawat. Lucky langsung panik khawatir istrinya merajuk dan meniru Balen kabur-kaburan.


"Mau ngadem." jawab Kia tanpa melihat Lucky.


"Angin-anginan di luar, disini saja lebih dingin." kata Lucky berusaha menarik tangan istrinya.


"Panas Kia karena dekat Om." sungutnya lalu berjalan membuka pintu arah balkon.


"Panas kenapa, nafsu ya? pengen cium?" tanya Lucky jahil, senyumnya langsung mengembang.

__ADS_1


"Idih." Kia menjulurkan lidahnya dan tetap lanjutkan keinginannya untuk duduk di balkon sambil melihat langit yang mulai memerah karena hari sudah senja.


"Sayang, aku mandi ya." teriak Lucky saat Kia sudah duduk santai, harus wangi dulu baru membujuk Kia yang lagi kepanasan, sepertinya hatinya yang panas karena Lucky menunjuk rumah mantannya tadi.


Tidak ada jawaban dari Kia, mau mandi ya mandi saja. Kia menghembuskan nafasnya perlahan, cepat sekali perubahan dalam hidupnya hanya dalam semalam sudah menjadi istri Lucky, tidak pernah terbayangkan harus menikah di usia muda seperti ini. Tadi Oma Nina pesan semua harus di jalani dan disyukuri, bersyukur suaminya itu Lucky yang sayang, perhatian dan sangat menjaga Kia. Memang iya sih, tapi mantan pacar Lucky yang bejejer bikin Kia jadi kesal sendiri, sementara Kia tidak punya mantan satupun, karena memang belum diijinkan pacaran oleh keluarganya, malah sekarang dinikahkan tanpa persetujuan Kia.


"Melamun, pikirkan apa?" tanya Lucky yang sudah tampak segar, sekarang kan hanya kenakan kaos oblong dan celana sedengkul.


"Tidak ada." jawab Kia, menggeser posisinya yang setengah rebahan di kursi santai yang ada di balkon apartment Lucky. Ia biarkan Lucky ikut berbaring di sebelahnya.


"Kamu tidak usah mandi dulu ya, nanti saja mandinya." bisik Lucky ditelinga Kia.


"Kenapa?" tanya Kia sedikit menjaga jarak karena bibir Lucky nyaris menempel ditelinganya, hembusan nafasnya sangat terasa bikin Kia meremang.


"Mau peluk." kata Lucky lalu lingkarkan tangannya di pinggang Kia, lalu perlahan bergerilya mengusap-usap perut, pinggang dan juga punggung Kia.


"Kata Oma tadi istri tidak boleh menolak suami kan?" bisik Lucky lagi sambil nyengir, Oma Nina sempat berikan sedikit *** education untuk Kia. Kia yang awalnya ingin memberontak jadi diam ingat perkataan Oma Nina tadi.


"Om, geli..." Kia pejamkan matanya menahan rasa geli efek perlakuan Lucky.


"Enak?" tanya Lucky hentikan aktifitasnya sambil nyengir, tadi mau gerak cepat menjelajah ke setiap penjuru tubuh istrinya, tapi Lucky khawatir Kia shock karena ini yang pertama kali bagi Kia.


"Geli, memang makanan enak." gerutu Kia menahan malu.


"Kamu kan bisa aku makan." jawab Lucky bikin Kia mencubit perut suaminya antara kesal dan gemas.,


"Om biasa begini sama mantan Om ya?" tanya Kia. Lucky tidak menjawab, malah benamkan wajahnya dileher Kia.

__ADS_1


"Jawab Om." Kia naikkan bahunya hingga kepala Lucky sedikit bergoyang.


"Seperti ini?" tanya Lucky mengecup bibir Kia.


"Oom..." Kia memukul bahu Lucky beberapa kali sambil monyongkan bibirnya. Lucky terkikik geli melihatnya, ia ingat pesan Daniel seperti pacaran dulu saja, coba cium dulu kalau marah stop, kalau diam ulang lagi, kalau balas lanjutkan ke langkah berikutnya.


"Genit." dengus Kia membalik tubuhnya punggungi Lucky, jantung Kia berdebar tidak karuan, bibir Lucky masih terasa menempel, rasanya seperti terapi kejut buat Kia yang baru pertama kali rasakan kecupan di bibir dari laki-laki, bahkan Papa dan Mama Kia sendiri tidak pernah lakukan itu, walaupun Kia sering melihat temannya dikecup bibir oleh Mama dan Papanya waktu sekolah dulu. Kata Papa itu tidak baik untuk dilakukan karena bibir dan mulut adalah batas pribadi tubuh anak.


Sempat Kia dan anak-anak Baen bahas bersama mereka lakukan browsing di internet Dan mereka temukan alasannya menurut psikolog Charlotte Reznick, bibir dan mulut adalah batas pribadi tubuh anak. Ketika orang tua mencium bibir anaknya, secara tidak langsung anak akan berpikir bahwa batas tubuh mereka terbuka dan orang lain bisa menyusup ke wilayah pribadi mereka tanpa masalah.


"Sayang..." Lucky sadarkan Kia dari lamunannya.


"Ya Om..." menjawab tanpa membalikkan badannya, Kia tidak mau Lucky menyadari kalau Kia gugupnya bukan main.


"Ke kamar yuk, kamu belum mandi." ajak Lucky.


"Sudah boleh mandi?" tanya Kia.


"Boleh dong, mau aku temani di kamar mandi saja boleh." jawab Lucky tanpa dosa, Kia tidak tahu bagaimana ekspresi Lucky saat bilang itu, tapi yang pasti Kia tambah deg-degan saja dibuat Lucky.


"Yuk..." ajak Lucky lagi tempelkan tubuhnya pada Kia.


"Om, ini apa kok rasanya aneh?" tanya Kia tambah tak karuan, sepertinya ada yang bangun.


"Ada yang tidak sabar mau bikin anak." bisik Lucky mulai mengendusi leher istrinya.


"Oom, memang harus sekarang?" tanya Kia ingat pesan Oma berdosa jika menolak keinginan suami.

__ADS_1


"Maunya kapan?" tanya Lucky sedikit jauhkan tubuhnya pada Kia, tapi tetap tempelkan bibirnya dileher Kia walau tidak lakukan apapun.


"Ini tambah berasa kok Om? tanya Kia, walah Lucky pikir sudah menjauh tapi kok Kia masih merasakan, Lucky menghela nafas, mau unboxing istri rasanya lebih sulit dari nego proyek besar sama klien.


__ADS_2