
"Oke sudah malam, waktunya kalian pulang." Lucky bertepuk tangan meminta geng rusuh untuk pulang karena mereka sudah selama dua jam mengganggu kesenangan Lucky berdua istrinya.
"Aku nginap sini ya." pinta Bima dengan polosnya.
"Aku juga." Aca ikutan
"No, no, no, no. Pulang saja ya." Lucky tersenyum dengan manisnya.
"Biar saja Om." kata Kia pada Lucky, senang ada Bima dan Aca, Lucky gelengkan kepalanya, menolak dengan tegas.
"Temani Om Daniel dan Ante Baen sana." kata Lucky pada Bima dan Aca.
"Aku ngobrol sebentar sama Kak Kia, empat mata." pinta Bima pada Lucky.
"Oke." Lucky persilahkan Bima menarik Kia ke balkon, entah ada urusan apa mereka berdua.
"Apa Bim?" tanya Kia pada Bima.
"Bagaimana jadi istri?" Bima cengengesan.
"Baru juga sehari." Kia mengedikkan bahunya.
"Sudah ehem-ehemnya?" tanya Bima bikin Kia memukul bahu sepupunya yang hanya beda usia beberapa bulan dengan Kia.
"Jangan kurang ajar deh." gerutu Kia bikin Bima terbahak sambil mengusap bahunya yang lumayan sakit.
"Ingat ya, jangan jual mahal kalau suami minta." seperti yang sudah pengalaman saja menasehati Kia.
"Sok tahu deh." Kia monyongkan bibirnya.
"Eh beneran, Kak Kia bisa dosa besar loh."
"Kamu disuruh Om Lucky ya bilang begini ke aku?" tanya Kia melipat tangannya di perut.
"Tentu tidak, masa iya Om Lucky mau curhat sama gue masalah begini sih Kak, tapi gue pikir kan Kak Kia belum pernah pacaran, gue takut Om Lucky elu tendang lagi, Kak. Kaya Sam kakak kelas kita tuh, yang mau cium elu dulu." Bima terkekeh.
"Mana ada, dosa dong tendang suami. Gue cuma perlu waktu Bima, kalau Sam sih memang harus ditendang, dia kira gue cewek murahan." kata Kia jadi tertawa.
"Jadi bener ya, Om Lucky elu tolak pas mau ehem-ehemnya?" pancing Bima nyengir.
"Bukan urusan kamu." dengus Kia kesal merasa terpancing.
"Nih baca!" Bima tunjukkan tulisan di handphonenya.
Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapatkan laknat para Malaikat sampai subuh." (HR Muslim).
"Ih serem amat." Kia bergidik ngeri.
"Nah makanya buruan bikin anak." kata Bima nyengir.
"Bima siapa yang suruh kamu kasih tulisan itu ke aku?" tanya Kia menebak pasti Bima ada yang suruh.
__ADS_1
"Papa Lemon." jawab Bima terbahak.
"Sumpeh Bima?" Kia terbelalak sedang Bima tambah terkikik geli.
"Bohong." Kia tidak percaya tapi ikut tertawa.
"Tanya saja sendiri kalau tidak percaya." jawabnya masih saja tertawa.
"Masa iya Papa suruh kamu yang masih bocah." Kia mencebik.
"Idih, masih bocah juga yang urus percintaan para Om-Om itu siapa?" tanya Bima sombong.
"Iya sih kamu yang urus." Kia anggukan kepalanya.
"Awas saja kalau gue jadi jauh jodoh, sibuk jadi comblang kalian." dengus Bima.
"Idih, yang ada kamu dapat rumah disurga dong, yang kamu comblangin menikah semua." Kia terkekeh.
"Alhamdulillah kalau begitu, gue balik ya Kak Kia, besok kalian ke Malang jam berapa?" tanya Bima.
"Tidak tahu, istri ikut suami saja." jawab Kia tengil.
"Kak, sudah dicium sampai mana sama Om Lucky, pas photo?" tanya Bima.
"Pas photo, maksudnya bagaimana?" tanya Kia.
"Sampai dada, sudah?" tanya Bima bikin Kia kembali memukul sepupunya.
"Ih kan aku cuma tanya." Bima langsung keok saat diancam mau di adukan ke Panta.
"Tahu dari mana Pas Photo? sering ya begitu?" tanya Kia langsung menjewer telinga Bima sepenuh hati.
"Aaah Kak Kia, sakit, ampun Kak Kia." Bima berteriak sementara Kia masih saja menjewer telinganya.
"Ngaku dulu, kamu sering begitu?" tanya Kia.
"Tidak." jawab Bima menahan sakit telinganya masih di tarik Kia.
"Kalau tidak sering, berarti pernah?' tanya Kia.
"Aaah, tidak." jawab Bima berteriak.
"Tahu dari mana pembahasan mesum begitu?" tanya Kia galak.
"Aaah Kak Kia, disekolah kan suka pada ngobrol begitu sekumpulan cowok-cowok." jawab Bima, akhirnya Kia lepaskan jewerannya, telinga Bima sudah pasti merah bukan kepalang.
"Awas ya kalau nakal, Kia bilangin Panta biar cepat menikah." ancam Kia pada Bima.
"Iyoo, mau nakal bagaimana kalau harus jadi pengawal Kak Kia sama Beyin terus." sungut Bima bikin Kia terbahak.
"Kejam, aku di siksa." sungut Bima tinggalkan Kia di balkon sendirian.
__ADS_1
"Kalian kenapa?" tanya Lucky yang lihat Bima di aniaya oleh istrinya.
"Aku cuma tanya Kak Kia sudah Om Cium sampai mana, Pas Photo apa bukan, malah dijewer." sungut Bima bikin Lucky terbahak.
"Om malah ketawain aku lagi, padahal aku sedang upayakan supaya Om bisa cepat malam pertama." Bima sedikit merajuk.
"Hei, malam pertama itu sih urusan Om, kenapa kamu sibuk? tanya Lucky.
"Papa Lemon tidak sabar mau punya cucu." jawab Bima bikin Lucky terbahak.
"Dia suruh kamu?" tanya Lucky.
"Tidak, Ante Baen yang suruh." jawab Bima jujur, tadi tulisan itu titipan Balen.
"Dasar, pasti Baen mau cari teman tekdung." Lucky terkekeh.
"Ah bodo deh, telinga aku sakit nih Om, harus ke dokter." sungut Bima merajuk.
"Butuh biaya?" tanya Lucky nyengir, keponakannya ini paling pintar cari uang dari para Om.
"Biaya beli obat sama biaya entertainment." jawab Bima mengusap telinganya.
"Cari duit itu kerja Bima, jangan akal-akalan." Kia masih saja judes, padahal Bima sudah kesakitan.
"Idih, Kak Kia." Bima monyongkan bibirnya, Aca, Shaka dan Bari cengar-cengir. Biaya entertainment itu sudah pasti untuk mereka berempat.
"Mau Om Kirim ke rekening kalian satu persatu atau ke rekening Bima semua?" tanya Lucky senang saja kasih tips untuk geng rusuh.
"Ke Bima saja Om." jawab Shaka tersenyum lebar.
"Iya ke Bima saja." jawab Bari setuju.
"Aca tidak usah Om, dia habis dapat honor video clip." kata Bima.
"Enak saja, aku mau Om, langsung kerekening aku saja." kata Aca langsung khawatir kalau ke rekening Bima bisa kena pajak.
"Oke Om transfer nanti ya. Hati-hati di jalan." belum juga geng rusuh pamit sudab dibilang hati-hati di jalan.
"Tidak sabar mau berduaan ya." bisik Bima nyengir.
"Iya lah, bagaimana mau malam pertama kalau kalian tongkrongi begini." Lucky terkekeh.
"Lah kalau ada kita malah enak Om, ada pengamat." jawab Bari bikin Kia gelengkan kepalanya.
"Kalian ini pada mesum-mesum ya, mau cepat nikah juga?"
"Cepat Kawin." jawab Shaka.
"Nikah dulu baru Kawin." sahut Aca.
"Bari Kawin dulu baru nikah." celutuk Bima bikin Bari memiting leher Bima, dan kepulangan mereka jadi terpending karena huru-hara yang mereka buat di apartment Lucky.
__ADS_1