Because I Love You

Because I Love You
Manis


__ADS_3

Raymond benar-benar kena jewer Kenan saat mampir ke rumah om kesayangannya itu sepulang kantor, ia bawakan makanan untuk Kenan dan Nona.


"Aih sudah dibawakan makanan kena jewer pula." Raymond meringis mengusap telinga kanannya.


"Kenapa sih Om?" tanya Raymond pada Kenan, Balen tertawa melihatnya, mau tambahin tapi kasihan sama Aban Lemonnya.


"Kamu tuh kalau bercanda hati-hati, disini ada anak kecil sekarang." desis Kenan dengan Gigi gemeretak, sementara Cadi sudah tertidur di gendongan Papanya. Daniel tertawa geli lihat Om dan Keponakan yang kompaknya bukan main.


"Aku bercanda apa sih sampai kena jewer?" tanya Raymond bingung, harap maklum setelah bercanda biasanya Raymond tidak ingat lagi apa yang dia ocehkan.


"Bilang Nanta suntik Dania didepan Cadi." omel Kenan sedikit berbisik takut Cadi terbangun.


"Ya ampun, itu kan lagi banyak orang, bukan hanya Cadi, Papon." jawab Raymond tertawa.


"Kamu bilang apa memangnya?" tanya Kenan.


"Aku kan lagi bantu Oma suntik insulin waktu itu, Nanta goda aku bilang sudah jago suntiknya." Raymond ceritakan kejadian waktu makan di rumah Reza.


"Terus?" tanya Kenan melipat tangannya diperut.


"Ya aku bilang, iya dong memangnya kamu jagonya suntik Dania, suntik terus punya adik lagi tuh Bima." jawab Raymond tertawa geli sendiri.


"Nah itu direkam sama anak Baen Aban." Balen gemas langsung mencubit lengan Abangnya.


"Ya ampun disiksa gue malam ini." Raymond terbahak sambil usap-usap tangannya.


"Anakmu bilang apa?" tanya Raymond.


"Baen mau program anak perempuan kan, kata Cadi harus disuntik kalau mau punya adik." Balen menjelaskan, tawa Raymond langsung meledak. Daniel ikut tertawa tapi menjauh agar Cadi tidak terbangun.


"Ya mana gue tahu bakal begini hahahha." lagi-lagi Raymond terbahak.


"Mana cadi tanya pagi Mam tadi siapa yang suntik Pap apa dokter." sungut Balen, Raymond kembali tertawa sambil memegang perutnya.


"Kocak nih Cadi, bilang dong kalau malam disuntik Pap." jawab Raymond.


"Abaaaan..." teriak Balen sambil menutup mulut Abangnya itu. Semua jadi tertawa geli jadinya. Wajah Balen memerah jadinya. Gara-gara Aban Lemon dan Cadi jadi begini deh.


"Sudah ya Papon Baen pulang." ijin Balen pada Kenan.


"Sini cium dulu cucu Papon." kata Kenan hampiri Cadi dan langsung menciumnya.


"Kasihan cucu Papon, mau jaga Papon sampai begini." Kenan terkekeh.


"Kata Mbak Amel Cadi tidak mau diajak Abangnya tukar shift." lapor Nona sambil tertawa.


"Iya, dia merasa kuat jaga Papon dan Mamon sendiri." jawab Daniel tertawa.


"Cucu gue nanti kelakuannya bagaimana lagi nih Syabda." Raymond tertawa.


"Lagian Aban masih muda sudah punya cucu."

__ADS_1


"Lo juga nanti masih muda punya cucu Baen." jawab Raymond.


"Belum tentu sih, anak Baen kan laki-laki semua." Balen tertawa sambil julurkan lidahnya.


"Eh anak Kia kan cucu kamu juga." jawab Nona.


"Walah, iya ya." Balen terbahak.


"Nah lo masih muda gini sudah punya cucu." Raymond tertawakan Balen.


"Tapi Baen belum punya uban sih." jawabnya.


"Mamon juga belum punya uban loh, cucu Mamon sudah dua belas." jawab Nona.


"Banyak amat." jawab Raymond.


"Di Cirebon empat, Jepang satu, di sini tujuh." jawab Nona.


"Lebih dong, Kia tidak dihitung." sungut Raymond.


"MasyaaAllah iya Kia, tuh banyak kan." jawab Nona tertawa.


"Tiga belas ya, mantap." Raymond cengengesan.


"Oke lah, aku juga pulang Om, Kak Nona. Jangan dijewer lagi aku ya, kan itu accident. Anak Baen saja yang kupingnya lebar, perasaan dia jauh deh, ternyata menyimak." Raymond tertawa.


"Anak Aban juga nih." Balen menepuk bahu Cadi dengan lembut.


"Emmm..." respon Cadi dengan mata terpejam.


"Cium lagi biar bangun." kata Raymond jahil kembali mencium Cadi.


"Emmm..." menggeliat tukar posisi yang awalnya dibahu kanan jadi dibahu Kiri Papanya.


"Capek Daniel digendong begitu, ayo kemobil sini gantian Cadi biar gue yang gendong." Raymond menawarkan.


"Biar saja Bang, dia bisa rewel kalau di gendong yang lain." jawab Daniel.


"Anak Pap ya." Raymond tertawa.


"Bukan begitu juga, cuma kalau pindah tangan saja rewelnya." jawab Daniel.


"Pa, Mamon, Daniel pamit ya." Daniel salami mertuanya.


"Kalian tidak capek tiap hari jemput begini? kalau capek biar supir yang antar Cadi kalau sore atau malam." kata Kenan pada Balen dan Daniel.


"Ndak kok, malah senang tiap hari bisa bertemu Papon sama Mamon biar sebentar, jadi adil kan pagi bertemu Papa dan Mama." Balen tersenyum senang.


"Syukurlah, Papon khawatir kalian jadi repot."


"Malah Papon yang repot jemput anak-anak ke sekolah." jawab Daniel.

__ADS_1


"Tidak repot malah happy itu si Om." sahut Raymond.


"Iya betul, happy ada aktifitas baru. Punya cucu pintar-pintar, kalau sudah pada mengoceh kalah itu si Raymond kecil." Kenan tertawa.


"Aku kecil kan diam ya Om." Raymond pandangi Kenan.


"Iya lah diam, Om nya jauh." Kenan tertawa.


"Waktu cepat sekali ya Om, perasaan baru kemarin ini si Balen lahir sekarang sudah mau program anak ke empat." Raymond tertawa.


"Apa sih Aban." Balen terkekeh.


"Hobby ya punya anak?" tanya Raymond tertawa.


"Hobby bikinnya." jawab Balen langsung saja Nona menjewer telinga Balen.


"Nanti anakmu mengoceh lagi Baen." geram Nona, Balen dan Raymond langsung terbahak, sementara Daniel hanya nyengir sambil gelengkan kepalanya.


Perjalanan dari rumah Kenan kerumah keluarga Prawira tidak terlalu lama, karena sudah malam jadi tidak lagi padat. Perjalanan lumayan lancar hingga sekarang Cadi sudah berada dikasurnya yang nyaman. Untungnya sudah pakai piyama dari rumah Papon tadi.


"Mam, kenapa malam sekali pulangnya?" tanya Chandra yang masih bangun, Charlie sudah tertidur.


"Tadi habis jemput Cadi ada Papa Lemon, jadi Mama ngobrol dulu." jawab Balen.


"Kamu belum tidur, sayang?" tanya Balen.


"Aku menunggu Mam and Pap." jawab Chandra.


"Opa sama Oma sudah tidur?" tanya Daniel.


"Sudah, aku suruh tidur saja duluan biar aku saja yang tunggu." jawab Chandra.


"Padahal tidak usah ditunggu kalau mengantuk tidur saja, Mama dan Papa kan bawa kunci sendiri, ada Bibi juga yang bisa Mama telepon untuk bukakan pintu." jawab Balen.


"Aku maunya aku bisa sambut Mam and Pap kalau pulang. Tidak boleh bibi." jawab Chandra, Balen langsung mengulum senyum lalu memeluk anak sulungnya itu.


"Mama sayang Chandra." bisik Balen.


"Aku juga love Mam so much." jawab Chandra.


"Papa?" tanya Daniel.


"Pasti Love Pap juga." jawab Chandra.


"Manis betul anak Papa, ayo mau Papa temani tidur?" tanya Daniel, Chandra gelengkan kepalanya.


"Aku sudah besar Pap, sudah bisa sendiri. Aku bobo ya." pamitnya lalu langsung masuk ke dalam kamar.


"Ah Aban mereka kok manis-manis banget sih." Balen langsung memeluk suaminya.


"Seperti Papanya kan manis." jawab Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Ih sayang." Daniel langsung mengusap pipinya yang dijilat Balen saat bilang manis, baru juga sampai rumah sudah mancing-mancing lagi istrinya


__ADS_2