
"Mama mana sayang?" tanya Daniel setelah sibuk mengurus administrasi istrinya.
"Di dalam." tunjuk Chandra pada ruangan bersalin.
"Langsung ke ruang bersalin? kamu tidak masuk, nak?" tanya Daniel.
"Aku dibawah umur Pap." jawab Chandra, Daniel menarik nafas panjang, hampir saja lupa kalau anaknya ini masih kecil, bahkan belum sepuluh tahun.
"Kamu berani Papa tinggal masuk? Papa harus temani Mama. Kamu tidak masalah sendirian di sini? Papa sudah hubungi Om Redi untuk menjemput kamu sih." kata Daniel lagi, khawatirkan Chandra.
"I'm okay Pap, don't worry. Mam needs you more."
"Ok sayang, Papa temani Mama dulu." Daniel mengelus pucuk kepala Chandra, lalu berikan handphonenya pada Chandra.
"Aku yang pegang?" tanya Chandra.
"Kamu bisa menjawab telepon yang masuk dari keluarga."
"Kalau aku yang hubungi boleh?" tanya Chandra dengan wajah berbinar-binar.
"Boleh sayang, call them right now." kata Daniel, Chandra anggukan kepalanya senang. Ia segera menghubungi Abang-abangnya.
"Jam berapa ini Om?" kata Bima dengan suara bantal.
"Ini aku Chandra."
"Chandra ada apa? Papa sakit? atau Mama melahirkan?" Bima langsung panik sementara satu persatu wajah bermunculan karena Chandra lakukan sambungan video.
"Ya Mam akan melahirkan, aku sendirian, Pap didalam temani Mama."
"Kamu di rumah sakit mana dek?" tanya Billian, Chandra beritahukan Billian.
"Ok Abang kesana." Billian gerak cepat, sementara Bima garuk kepala, Aca masih bengong-bengong, Bari malah pejamkan mata ngantuk berat.
"Gue juga langsung kesana." Shaka pun gerak cepat dan langsung matikan sambungan telepon.
"Kok mati, kenapa dek Abang Billian sama Abang Shaka?" tanya Bima.
"Abang mengantuk ya? tidur saja aku cukup ditemani Abang Billian dan Abang Shaka, nanti Om Redi juga kesini.
"Eh kamu dimana sih?" tanya Aca yang mulai nyambung.
"Aku di rumah sakit, I will have twin sister, Abang."
"Ya ampun, dirumah sakit mana, Abang kesana." Chandra gelengkan kepalanya.
"Chandra cepat, info." kata Aca.
"Tadi aku sudah kasih tahu, aku shareloc saja."
"Nah itu lebih bagus, wait for me tampan." kata Aca, lalu ikut matikan telepon Bima pun begitu, sementara Bari tidur pulas, kenapa juga dia angkat telepon, pikir Chandra.
"Have a nice dream Abang." kata Chandra tetap sopan dan matikan sambungan teleponnya.
"Chandra sayang, anak pintar Uncle Redi." Redi sedikit berlari hampiri Chandra.
"Uncle sendiri? Mora?"
"Bobo dong, harusnya kamu juga bobo." Redi segera duduk di sebelah Chandra.
__ADS_1
"Tidur sini di paha uncle." Redi persilahkan kesayangannya tidur di pangkuannya.
"Mam kesakitan Uncle."
"Ya, kamu panik?" tanya Redi.
"Aku zikir terus seperti yang Papon ajari tadi." jawab Chandra.
"Bagus, Uncle juga akan lakukan itu." Redi tersenyum.
"Ayo bobo." Redi menarik tubuh Chandra agar kepalanya jadinya paha Redi bantal. Bocah itu menurut saja, ia memang mengantuk, karena semalam temani Papa, setiap sebentar mengintip karena Mama selalu berteriak saat di kamar tadi. Kedua adiknya tadi ingin ikut, tapi tidak diijinkan oleh Kenan, mengingat keduanya tidak setenang Chandra.
"Uncle, apa Mam oke?" Chandra kembali mendengar Balen berteriak.
"Ok, itu sedang berusaha keluarkan bayi mungkin." jawab Redi yang ikut ngeri dengar teriakan Balen.
"Kenapa tidak kedap suara ya?" gumam Redi.
"Ganti aja dokternya Abaaan, ini sakiiit." teriak Balen lagi-lagi minta ganti dokter karena dokter Imelda diganti oleh asistennya.
"Sama saja sayang, ayo zikir, kamu kuat, twins juga kuat." Daniel tenangkan Balen, tangannya sudah perih-perih kena cakaran istrinya.
"Mana dokter Imeldanyaaa?" teriak Balen lagi.
"Sedang dalam perjalanan bu, ayo Ibu anaknya sudah di pintu." kata Dokter pengganti yang membantu Balen melahirkan.
"Aaah tutup dulu pintunyaaaa." teriaknya, bikin dokter dan perawat terkikik geli.
"Semangat sayang, buka, biar anaknya cepat lihat Mama yang cantik. Tarik nafas, hembuskan, ayo sayang, Mama hebat." Daniel membujuk Balen yang ikuti arahan suaminya.
"Nanti ndak mau punya anak lagi Abaan." Balen kembali menangis.
"Iya sayang, ini sudah lebih dari cukup, Bismillah... Tarik nafasnya..."
Sementara itu diluar, Chandra tidak bisa tidur mendengar Mamanya terus berteriak.
"Kasihan Mam." katanya pada Redi.
"Iya sesakit itu melahirkan, makanya anak harus menurut sama orangtua ya."
"Mam saja yang sakit, Pap tidak, jadi harus lebih menurut sama Mam ya?" tanya Chandra.
"Ya ibumu, ibumu, ibumu baru ayahmu. Hmmm, iya juga sih." Redi terkekeh. "Tapi harus menurut sama keduanya." kata Redi lagi mengelus rambut Chandra.
"Anak baik, jaga adik-adik ya."
"Yang jaga bertiga nanti, aku, Cayi, Cadi." jawab Chandra.
"Ya kalian harus kompak." sekarang mulai mengantuk karena Redi terus mengusap anak rambut Chandra.
"Tidur?" tanya Daniel yang baru saja keluar dari ruangan bersalin sambil mengusap keringatnya, melihat Chandra pulas. Daniel tampak berantakan, bajunya sudah tidak beraturan karena ditarik-tarik Balen.
"Sudah lahir?" tanya Redi, Daniel mengangguk senang.
"Alhamdulillah, perempuan dan triplets." jawabnya tersenyum lebar.
"What's? Triplets?" Redi berteriak tanpa sadar hingga Chandra terbangun.
"Pap? Mam Oke?" tanya Chandra.
__ADS_1
"Ok sayang." Daniel menitikkan air matanya lalu memeluk Chandra, entah kenapa rasa sedih bahagia bercampur jadi satu.
"Twins Oke?" tanya Chandra lagi dengan suara seraknya.
"Bukan twins, Kamu punya tiga adik perempuan sayang."
"Really Pap? kita hanya siapkan dua nama." Chandra jadi panik.
"Nanti kita cari yang satu nama lagi, sebentar lagi Mama akan dipindahkan keruang rawat."
"Ok Pap, namanya yang satu lagi C?" Chandra berikan ide.
"C?" tanya Redi.
"Tadi sudah kasih nama B dan D, ternyata yang keluar tiga, C boleh, jadi C's bertambah jumlahnya."
"Ya, dua, dua, empat. Genap semua." jawab Chandra, menghitung awalan nama mereka.
"R, please." Pinta Redi pada keduanya.
"Why R?" tanya Chandra.
"B sudah banyak, ada Billian dan Belina, Bima, Bari, C juga sudah kalian bertiga, R cuma uncle sendiri."
"Poor Uncle." Chandra gelengkan kepalanya.
"Ulan is R, Rembulan." kata Daniel, Redi pasang wajah tidak ingin di tolak.
"Terserah Pap and Mam saja Uncle." katanya pasrah, kembali menguap.
"Oke karena Uncle yang temani Chandra malam ini, yang satu lagi R saja." jawab Daniel.
"Siapa namanya Uncle?" tanya Chandra.
"Rachita." jawab Redi.
"Yes we can call her Chita, welcome C." Redi terbahak melihat Chandra begitu senang karena akhirnya Chita akan bergabung dengan C's.
Tidak lama Billian, Aca, Bima dan Shaka pun tiba, sedikit terlambat karena semua minta dijemput Billian.
"Kenapa datang?" tanya Daniel.
"Mau temani Chandra." jawab mereka kompak. Redi terkekeh pasang wajah tengil. Tentu saja telat temani Chandra.
"Bagaimana Om?" tanya Billian.
"Kalian tambah tiga adik perempuan." jawab Daniel pasang wajah bahagia.
"Beneran, tiga?" tanya Bima.
"Iya." Daniel tertawa.
"Ya ampun enam loh Om, anaknya." Bima gelengkan kepalanya sambil tertawa senang.
"Perempuan semua?" tanya Aca.
"Iya."
"Aku harus kasih tahu Panta." kata Aca.
__ADS_1
"Oh my god, Om lupa kabari keluarga." Daniel menepuk dahinya.
"Hubungi Papon dan Mamon dulu Aca, baru Panta, atau telepon group keluarga, kamu juga Red." Daniel mulai berikan instruksi, bisa-bisanya dia lupa kabarkan keluarga tentang kabar bahagia ini. Setelah merasakan Panik, senang, sakit, bahagia, haru, semua jadi satu malam ini buat Daniel.