Because I Love You

Because I Love You
Coklat


__ADS_3

"Aban, Baen mau bobo." rengek Balen ketika Daniel terus saja menggodanya ketika mereka sudah berada dikamar.


"Siapa yang larang bobo sih?" kata Daniel tapi mulutnya tidak berhenti ciumi Balen.


"Ndak konsen Baennya." kata Balen lagi dengan gaya mata terpejam dan peluk guling.


"Memang kamu mau ujian ya harus konsen." Daniel tertawa peluki istrinya.


"Kan udah dibilang tadi, malam ini ndak usah." kata Balen ingatkan Daniel.


"Iya Abang ingat kok, Abang juga mau bobo." Peluk Balen erat dan cium lehernya dari belakang.


"Mau bobo tapi cium begitu." sungut Balen bikin Daniel tertawa.


"Baen udah kenyang tahu." katanya lagi pada Daniel.


"Kenyang lah makan sop dua mangkok." Daniel tertawa karena tadi Balen serius nambah satu porsi lagi.


"Bukan kenyang itu, tapi kenyang ini." katanya arahkan tangan Daniel ke perut bawahnya, bikin Daniel kembali terbahak.


"Ayo bobo, jangan lupa baca doa." kata Daniel pada istrinya, matanya sudah ikut terpejam kini, mengundang rasa kantuk agar lebih cepat datang.


"Beneran Aban ndak mau?" tanyanya lagi pada Daniel.


"Tidak nanti kamu capek, besok mau main tenis." jawab Daniel pasti, tadi ia hanya senang menggoda istrinya.


"Ih ndak tanggung jawab." gerutu Balen bikin Daniel gemas dan menggigit bahu istrinya.


"Iih, Aban! sakit tahu." teriak Balen bikin Daniel terbahak, rusuh sekali Balennya Daniel ini, untung saja sekarang lagi di kamar hotel, kalau dirumah pasti keributan mereka berdua didengar oleh anggota keluarga yang lain.


"Besok setelah main tenis, mau kemana?" tanya Daniel pada Balen.


"Lihat besok aja." jawab Balen dengan mata terpejam.


"Kuliner lagi, mau makan apa?" tanya Daniel juga dengan mata terpejam.


"Ndak tahu, kalau ditanya sekarang, Baen masih kenyang." jawab Balen.


"Yang mana yang kenyang?" Daniel usapkan perut Balen lalu turun ke tempat yang ditunjuk Balen tadi.


"Aah Aban, godain Baen terus." kembali berteriak sambil balikkan badan memeluk Daniel dan benamkan wajahnya di dada suaminya.


"Kamu juga godain Abang terus nih lihat." kata Daniel karena tubuh mereka benar-benar rapat sekarang.


"Biarin aja, biarin, biar Aban tahu rasa." katanya kesal.


"Tahu rasa apa?" tanya Daniel terkekeh.


"Tahu rasa kalau Baen gangguin." Balen rupanya mau balas dendam mulai menggoda Daniel gerak-gerakan tubuhnya.


"Tidak berasa." kata Daniel menahan senyum. Gerakan Balen semakin cepat, mulai ciumi Daniel, yang ada malah Balen merasakan sesuatu kini.


"Berasa ndak, Aban?" bisik Balen pada Daniel.

__ADS_1


"Hmm..." Daniel nikmati saja setiap gerakan istrinya.


"Ah Aban, Baen ndak tahan." Balen mulai agresif preteli pakaian suaminya. Tentu saja Daniel bersorak dalam hati, ini yang dia mau dari tadi.


"Abang ngantuk." kata Daniel menggoda Balen.


"Aban harus tanggung jawab, Aban yang godain Baen duluan." katanya sambil terus beratraksi. Selanjutnya Daniel mulai ambil alih ikuti permintaan Balen untuk bertanggung jawab selesaikan olah raga malam mereka.


"Bobo ya?" kata Daniel setelah mereka selesai beraktifitas.


"Baen juga udah mau bobo dari tadi, Aban sih godain Baen terus." Daniel tertawa mencium pucuk kepala istrinya.


"Nanti kalau dirumah tidak bisa begini ya, kamu itu ribut sekali, kamar Abang tidak kedap suara." kata Daniel pada Balen.


"Kamar Baen kedap suara ndak ya? Besok Baen tanya Papon deh." katanya polos.


"Eh tidak usah sayang, nanti Papon tertawakan kita." Daniel tertawa, istrinya memang masih polos.


Ante, aku ikut kejuaraan Tenis ya?


pesan dari Bima baru Balen baca esok paginya menjelang shubuh. Balen segera hubungi Bima via telepon.


"Ante semalam sudah bobo, daftar sama Billian aja." kata Balen saat Bima angkat teleponnya dengan suara bantal.


"Kirim pesan Isha dibalas waktu fajar." gerutu Bima bikin Balen tertawa.


"Hadiahnya cuma setoples coklat? yang juara dua sama tiga dapat coklat apa?" tanya Bima mau tahu.


"Ante dapat hadiah juga?


"Iya kalau menang." jawab Balen.


"Nanti hadiahnya untuk aku ya, Ante kan alergi coklat?" Bima membujuk Balen.


"Mau kasih pacar kamu itu ya?" tebak Balen.


"Ih Ante nanti kedengaran Om Daniel, bocor lagi sama Panta. Kita kan tidak boleh pacaran."


"Itu kamu pacaran?"


"Teman aja kok."


"Tapi kasih coklat punya Ante?"


"Kan kalau ante menang dan aku kalah." Bima terkekeh.


"Ante belum tentu menang, lawannya Om Daniel sama Om Redi, mereka lebih jago." Balen tertawa.


"Yah kalau Om menang coklatnya buat aku dong, Om pasti kasih Ante." Bima masih usaha.


"Jangan mau Baen, dia pacaran nih, Oma lagi marah-marah." teriak Richie tertawakan Bima.


"Om Ichie juga pacaran." langsung menunjuk Richie.

__ADS_1


"Ichie sudah siap kalau dipaksa menikah, Bima. Kamu masih high school mau dipaksa menikah?" tanya Balen pada Bima.


"Itu teman aja kok, bukan pacar." Bima tertawa.


"Teman gandengan tangan." Richie tertawa.


"Anak sekarang gandengan tangan biasa kali Om."


"Oh begitu, Om baru tahu." Richie tertawa senang saja menggoda Bima.


"Jadi coklat bagaimana nih?" tanya Balen ingatkan Bima.


"Iya bilang Om Daniel dong, jadi kalau Om Daniel, Om Ichie dan Ante ternyata pemenang coklat buat aku."


"Ih curang, aku juga mau dong." teriak Aca bikin Balen pusing, belum juga lomba sudah ada nego-nego pembagian coklat.


"Bima, Ichie menang ndak menang nanti Ante kasih coklatnya."


"Memang Ante punya stock?"


"Ada oleh-oleh yang buat kalian kan belum Ante bongkar." jawab Balen terkekeh.


"Ih kalau tahu begitu, aku tidak usah bujuk Ante sama Om sampai begini, terbongkar deh rahasiaku." gerutu Bima bikin Balen tertawa, sementara Daniel masih dikamar mandi bersihkan diri.


"Kamu tuh tidak punya rahasia Bima, masa Oma saja sudah tahu." Richie tertawakan keponakannya yang hampir sama besar dengannya.


"Oma sih kepo, suka nguping kalau aku lagi teleponan." kata Bima tertawa.


"Bukan kepo Bima, kamu ini ikuti siapa sih, masih SMA sudah pacaran." Omel Nona pada Bima.


"Tuh Mamon mulai naik oktaf, sebentar lagi Oma Nina deh." bisik Bima pada Balen sambil terkekeh.


"Nanti kasih tahu Panta saja." kata Richie kompori Mamon.


"Aih Om ini, sukanya bikin ponakan panik."


"Kalian jam berapa kesini? Bawain raket Baen ya."


"Shaka sama Bari masih bobo." teriak Aca.


"Eh memangnya ndak sholat shubuh?" tanya Balen.


"Lagi halangan." jawab Aca bikin bantal yang dipeluk Bari mendarat dibadannya.


"Ante aku juga ikut Tenis." teriak Bari dengan suara bantalnya.


"Bari, teriak jangan dikuping gue kali." gantian bantal Shaka yang mendarat dikepala Bari, karena Bari tadi berteriak mengarah pada kuping Shaka, semua tertawa jadinya, sudah pada bangun mulai rusuh deh.


"Sudah pada daftar sama Billian belum sih, cepat datangnya jangan kesiangan nanti panas." kata Balen ingatkan semuanya.


"Iya Ante, sarapan dulu baru kita berangkat." jawab Bima pada Balen.


"Yah, ditunggu." jawab Balen matikan sambungan teleponnya bergegas ke kamar mandi untuk bersihkan diri, sebentar lagi adzan shubuh, kebayang kan shubuh-shubuh geng rusuh sudah pada bikin kelakuan.

__ADS_1


__ADS_2