
"Ndak apa kok, Abang." Ulan menggeser kakinya, cuci dua piring sudah selesai dan tangan pun sudah di lap.
"Coba jalan." perintah Redi sambil memandang Ulan.
"Bisa." jawab Ulan sambil berjalan menjauhi Redi.
"Sakit?" tanya Redi lihat jalan Ulan terpincang-pincang.
"Sedikit, sebentar juga hilang." Ulan tersenyum.
"Aku kompres pakai es batu, kamu tiduran di sofa deh Lan, kakinya diganjal pakai bantalan kursi." perintah Redi lalu segera menuju ke kamarnya mengambil handuk kecil lalu ke dapur menuju lemari pendingin, membuka freezer, mengambil es batu dan membungkusnya dengan handuk yang tadi dibawa.
"Ndak mesti begini sebenarnya, Bang. Nanti juga sembuh sendiri." kata Ulan tapi tetap ikuti maunya Redi.
"Besok aku sudah kembali ke California, Lan. Masanta bilang apa kalau aku tinggalkan kamu dalam keadaan cedera." kata Redi bikin Ulan tertawa.
"Abang berlebihan." katanya masih tertawa, tapi tetap tidurkan diri di sofa dengan kaki di ganjal bantal.
"Terserah deh kamu bilang berlebihan atau apa, yang penting kamu harus istirahat dan terima saja pengobatan dari aku." Redi mendengus.
"Ulan kekenyangan langsung tiduran begini, nanti perut Ulan buncit." kata Ulan bikin Redi tertawa.
"Disini kamu banyak jalan kaki kan? jadi tidak akan buncit. Memarnya lumayan besar, Lan. Untung saja tidak ada luka. Pasti sakit sekali ya?" Redi meringis lihat memar di kaki Ulan, padahal hanya tersandung sebentar.
"Iya terasa cenat-cenut, sebentar juga sehat kok." jawab Ulan menahan nyeri saat Redi letakkan es batu pada kakinya yang memar.
"Nanti kamu minum juga obat pereda nyeri ya, ada?" tanya Redi sambil memegang handuk berisi es batu yang menempel di kaki Ulan.
"Ada." jawab Ulan anggukan kepalanya. Sebenarnya Ulan agak risih dengan situasi saat ini. Inginnya obati diri sendiri saja, tapi Redi begitu telaten. Setelah kompres kaki ulan dengan es batu, berikan obat pereda nyeri, Redi juga siapkan handuk dan air panas.
"Untuk apa, Bang?" tanya Ulan merasa Redi berlebihan obati memarnya.
"Nanti kompres lagi kaki kamu dengan air hangat ya." kata Redi tersenyum.
"Harus?" tanya Ulan.
"Iya harus, kamu jangan anggap remeh. Memar begitu bikin kamu sulit berjalan, padahal disini kamu kesana kemari berjalan kaki. Mau berapa lama sampai di kampus." Redi pandangi Ulan sambil mengompres kaki Ulan.
"Kalau besok tidak ada perubahan kita ke dokter." kata Redi lagi.
"Ya ampun Abang. Ini hanya tersandung loh." Ulan gelengkan kepalanya, Redi tersenyum saja, mungkin Redi berlebihan, tapi pikirkan Ulan ke Kampus dengan jalan terpincang-pincang begitu bikin Redi tidak tega.
"Kamu istirahat deh di kamar." kata Redi setelah selesai ritual obati Ulan.
"Abang seperti perawat." Ulan tertawa.
"Yah, aku siap kok jadi perawat kamu dua puluh empat jam." kata Redi ikut tertawa. Ulan langsung monyongkan mulutnya sambil tersenyum, bingung mau jawab apa.
"Mau ke kamar sekarang?" tanya Redi siap membantu Ulan.
"Ulan masih mau bikin tugas yang tadi Ulan bilang." jawab Ulan.
"Ayo..." Redi siap membantu.
"Ulan bereskan meja makan dulu." jawab Ulan segera bangun dari sofa.
__ADS_1
"Pelan-pelan Ulan."
"Iya, bisa kok." jawab Ulan tersenyum.
"Sayurnya masih ada loh, kalau tidak habis besok tidak enak lagi." kata Ulan lihat capcai yang tadi dibikinnya masih bersisa.
"Ulan ndak makan lagi kalau malam." kata Ulan.
"Waktu itu kamu makan."
"Iya, waktu itu karena lagi ramai, jadi ikuti gaya makan banyak orang." jawab Ulan nyengir.
"Oke, nanti aku makan lagi deh." jawab Redi.
"Disini ya Bang." Ulan letakkan sayur dan udang di meja kecil, sudah tertutup silicon jadi tidak akan masuk angin. Meja sudah dibersihkan, Ulan juga sudah bentangkan kertas yang sudah digambarnya.
"Tadinya design Ulan seperti ini loh, Bang. Tapi teman Ulan tiba-tiba minta kolam berenang." Ulan tunjukkan gambar pada Redi, kakinya masih terlihat pincang, tapi tidak separah tadi.
"Ini sudah ada taman." tunjuk Redi.
"Iya, tapi kalau dijadikan kolam berenang terlalu kecil, itu sih kolam ikan." Ulan tertawa. Redi mengamati kemudian mulai mencoret-coret kertas gambar yang kosong, Ulan jadi penonton lihat apa yang Redi kerjakan, hening hanya bunyi gesekan kertas saja yang terdengar.
"Ini gambaran kasar." Redi tunjukkan Design yang dibuatnya, sedikit merubah gambar Ulan tapi bikin Ulan tersenyum lebar.
"Gambar sebagus ini, Abang." Ulan kagumi gambar Redi walaupun baru sketch kasar.
"Harusnya Abang tetap jadi Arsitek, kenapa jadi urusi jengkol." Ulan tertawa, Redi nyengir lebar.
"Nanti kita buka jasa konsultan bersama ya." Redi mengacak anak rambut Ulan.
"Tapi kan dari sekarang sudah mulai ada yang minta gambar."
"Iya mereka minta gambar ala-ala Jepang." Ulan tertawa.
"Nah itu bagian kamu, Mediterranean kasih ke aku." jawab Redi tersenyum.
"Terima kasih Abang, tadi Ulan sudah berpikir keras." Ulan terkekeh, semua urusannya jadi mudah sejak kenal Redi.
"Kerja disini Abang urus jengkol juga?" tanya Ulan.
"Sebagian." jawab Redi tersenyum.
"Sebagian lagi?"
"Harus kasih tahu ya?" tanya Redi.
"Ndak harus sih, Ulan penasaran saja." jawabnya polos.
"Nanti ya kalau sudah berjalan, baru diceritakan." jawab Redi tersenyum, Ulan anggukan kepalanya.
"Mama sama Papa tahu tidak, aku lagi disini?" tanya Redi pada Ulan.
"Ulan ndak cerita."
"Loh kamu menyelundupkan laki-laki di apartment kamu tanpa setahu orang tua?" Redi gelengkan kepalanya menggoda Ulan.
__ADS_1
"Ini kan disuruh Masanta." jawab Ulan polos.
"Padahal aku juga mau menginap di hotel sebelah tadinya." jawab Redi jujur.
"Iya Masanta bilang tanggung hanya dua malam. Disini ada kamar kosong." jawab Ulan.
"Berani sekali Masanta kamu ya. Kalau aku jahat bagaimana?" tanya Redi.
"Kalau Abang jahat, Masanta pasti tidak ijinkan." jawab Ulan nyengir.
"Abang kalau mau istirahat, masuk kamar saja. Ulan mau lanjutkan tugas Ulan." Ulan persilahkan Redi istirahat.
"Aku temani." jawab Redi.
"Ulan..."
"Yah?"
"Kamu tidak punya meja gambar?" tanya Redi bingung.
"Ada di kamar." jawabnya.
"O kamu mau kerjakan tugas gambar di kamar ya?" tanya Redi.
"Ndak, Ulan kerjakan di meja makan." jawab Ulan.
"Nanti pinggang kamu sakit."
"Iya sih, tapi di kamar sepi, kalau disini kan Abang temani."
"Katanya suruh aku istirahat." Redi terkekeh.
"Kalau Abang istirahat, nanti pasti bolak-balik juga jadi Ulan ndak kesepian." jawabnya yakin.
"Jadi kamu sebenarnya kesepian selama ini?"
"Iya, biasanya kalau lagi gambar Ulan telepon Mama, Papa, Kisna, Baen, Ichie, Masanta, siapa saja yang bisa temani Ulan Video call sambil kerja." jawab Ulan.
"Mana konsen kalau begitu."
"Ulan video call kan tidak harus ngobrol, mereka juga sambil aktifitas, jadi kedengaran sama-sama sibuk. Sesekali Ulan lihat ke kamera jadi seperti ada yang temani." jawabnya tertawa.
"Baen tidak pernah cerita kalau kamu begitu."
"Karena biasa saja jadi ndak harus diceritakan juga." jawab Ulan mulai sibuk dengan gambarnya.
"Besok-besok videocall aku saja Ulan." kata Redi.
"Kalau Abang sibuk?"
"Aku akan kasih tahu kamu kalau aku lagi tidak bisa temani kamu." jawab Redi.
"Oke berarti anggotanya bertambah." jawab Ulan senang.
"Jadikan aku anggota pertama yang kamu hubungi ya." pinta Redi dekatkan badannya pada Ulan, duh dengkul Ulan jadi lemas kalau terlalu dekat begini.
__ADS_1