
"Kia pulang sama Om saja, Bim." tegas Lucky saat mereka selesai.
"Kia mau sama mereka saja, Om." tolak Kia langsung.
"Om ada perlu sama Papamu, tadi kami sudah janjian." kata Lucky pada Kia.
"Ya sudah, Bima aku sama Om Lucky." Kia pandangi Bima yang cengar-cengir pandangi keduanya.
"Apa lu Bim?" tanya Kia sewot.
"Ih kenapa sih, Kak Kia." Bima mendengus, membuka pintu mobilnya lalu mencibir pada Kia, sementara yang lain sudah duduk manis di dalam mobil menunggu Bima dan Kia.
"All, aku sama Om Lucky, bye." pamit Kia lambaikan tangan pada yang lain.
"Bye Kak Kia, call me ya." Belin naikkan alisnya dan Kia pun ikut naikkan alisnya.
"Om, jangan lupa." Aca seperti biasa melobby untuk kepentingan pribadi.
"Oke." Lucky acungkan jempol.
"Minta apa lu?" tanya Bima.
"Ada deh." Aca tertawa sambil joget-joget senang.
"Aku juga, Om. Masa Aca saja." Shaka tidak mau kalah.
"Iya kalian hitung saja ada berapa orang." kata Lucky.
"Asiiik apaan sih Om?" Billian penasaran.
"Tanya Aca saja." jawab Lucky lalu menyusul Kia yang sudah lebih dulu ke Mobil Lucky.
"Kia sayangku apa kabar, Om kangen tahu?" tanya Lucky setelah masuk ke mobil dan duduk dibangku pengemudi lalu mengacak anak rambut Kia yang monyongkan bibirnya.
"Om janjian sama Papa dimana?" tanya Kia sambil rapikan rambutnya, abaikan pertanyaan Lucky yang mulai lajukan kendaraannya perlahan.
"Janjian di rumah kamu." jawab Lucky.
"Tapi jam segini Papa belum pulang Om." Kia beritahukan Lucky kebiasaan Papanya.
"Kalau begitu kita jalan-jalan dulu sampai Papa pulang." jawab Lucky santai.
"Om mau temani Kia nonton basket?" ajak Kia pada Lucky.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Lucky.
"Senayan, hari ini final." jawab Kia.
"Kamu kenal yang main?" tanya Lucky lagi.
"Tidak tapi Kia nge fans berat sama kaptennya, ayo Om." Kia bersemangat bertemu kapten basket pujaan hatinya, walaupun Kia tidak kenal. Bisa saja minta dikenalkan sama Panta atau Ayah Leyi, tapi Kia malu kalau sampai mereka tahu, sementara dengan Lucky Kia bisa ceritakan semua isi hati dan isi kepalanya.
"Basket Cowok?" tanya Lucky, Kia anggukkan kepalanya semangat sambil cengar-cengir pandangi Lucky, matanya penuh harap, bikin Lucky kesal saja. Anak ini tidak ada kangen-kangennya sama gue, kesal Lucky dalam hati.
"Malas kalau cowok, kamu saja yang cuci mata, kalau basket cewek atau volley cewek, Om mau." jawabnya bikin Kia mendorong bahunya.
"Om Lucky matanya jelalatan." langsung saja Kia nyanyi peleseti salah satu lagu yang mereka nyanyikan saat karaoke tadi. Lucky langsung terbahak, ini yang membuatnya selalu merindukan Kia.
"Selain nonton basket, deh?" tawar Lucky.
"Makan saja ya, mau?" bujuk Lucky karena Kia tadi hanya mengedikkan bahunya.
"Kia sudah makan di ruangan karaoke tadi." jawab Kia jujur, perutnya terasa penuh kini.
"Minum kopi atau minum jus, bagaimana?" Lucky menawarkan.
"Di Bandung tapi." jawab Kia konyol, sudah pasti tidak terpenuhi mau jam berapa sampai di rumah.
"Ok." Lucky menyetujui, ingin ngobrol banyak sama Kia, setidaknya mendengar celotehan abege yang bikin hari-harinya kusut selama beberapa minggu ini.
"Tidak sampai tengah malam, jam tujuh kita sudah di rumah, Om janji." jawab Lucky.
"Ish, ngebut pasti. Kia tidak mau, Om ngebut-ngebut." dengus Kia.
"Iya santai kok, kamu mau minum obat flu dulu?" tanya Lucky.
"Kia tidak flu." jawab Kia.
"Biar ngantuk jadi tidur sebentar dalam perjalanan ke Bandung." jawab Lucky.
"No way, kalau Kia tidur Om ngebut." Kia lagi-lagi bikin Lucky terbahak.
Perjalanan Jakarta-Bandung mereka tempuh hanya dalam waktu empat puluh menit, ya demi Kia yang mau diajak minum kopi di bandung, Lucky menyewa helicopter. Selama di perjalanan Kia sibuk pukuli bahu Lucky, Om nya satu ini selalu saja penuhi kemauan Kia, pantas saja pacar-pacar Lucky cemburu sama Kia.
"Welcome Bandung, sayang." Lucky tertawa melihat ekspresi Kia yang antara kesal, senang bercampur aduk. Mereka dijemput supir kantor Lucky cabang Bandung.
"Om betul-betul ya. Kalau Om sudah menikah, Kia pasti akan sangat kehilangan, Om. Makanya selama ini Kia menjauh dari Om, biar terbiasa tidak dimanja sama Om begini." Kia langsung mengoceh dalam perjalanan menuju coffee shop.
__ADS_1
"Kalau Om sudah menikah, Om tetap akan manjakan kalian kok." jawab Lucky sebut kalian maksudnya semua keponakannya.
"Tapi pasangan Om selalu Salah sangka sama Kia, Kia capek Om jadi tertuduh terus." sungut Kia.
"Om nanti cari istri yang bisa menerima om begini." jawab Lucky.
"Mana ada istri yang menerima suami lebay seperti Om."
"Apa? Lebay? enak saja." Lucky langsung cubiti pipi Kia. Kia sudah pasti sibuk menyelamatkan pipinya dari serangan Lucky.
"Kia..." panggil Lucky.
"Ya." masih sibuk usap-usap pipinya yang dicubit Lucky.
"Jangan sombong sama Om, kalau Om telepon tuh diangkat. Chat dari Om di balas."
"Kan Kia sudah bilang, Kia harus membiasakan diri jauh dari Om." jawab Kia.
"Biar kamu bisa dekati kapten basket itu?" tanya Lucky.
"Yoi..." jawab Kia tiru gaya Papanya kalau bicara sama para sahabatnya.
"Yoa Yoi, jangan mimpi." jawab Lucky kesal.
"Ih, mimpi dulu biar jadi kenyataan." jawab Kia tertawa.
"Om, Tante Lee saja yang jadi istri Om." kata Kia tersenyum.
"Kamu temannya Opa Micko ya?" tanya Lucky bikin Kia terbahak.
"Atau kamu teman arisan Oma Lulu?" tanya Lucky lagi, tambah terbahak saja Kia.
"Jadi selama abaikan Om kamu berteman sama mereka ya Oma Kia?" tanya Lucky lagi.
"Huaa Om, enak saja Kia dibilang Oma." Kia langsung balas cubiti pinggang Lucky yang tertawa sambil selamatkan pinggangnya dari serangan Kia. Sakit? sudah pasti karena Kia selalu serius kalau cubiti Lucky.
"Om Kia bulan depan berangkat ke Ohio, jadi saat Om Lucky menikah nanti Kia tidak di Indonesia." lapor Kia pada Lucky tanpa beban.
"Kamu tidak sedih?" tanya Lucky pandangi Kia.
"Sedih sedikit tapi bahagia karena Om akhirnya tidak lagi jelalatan Dan gonta-ganti pacar." jawab Kia terkikik geli. Lucky pandangi Kia, sepertinya lebih banyak bahagianya dibanding sedihnya, tapi kok Lucky yang jadi sedih mendengar ucapan Kia barusan. Ia menarik nafas panjang, rasanya memang tidak ingin menikah, karena belum temukan orang yang tepat, yang bisa bikin Lucky selalu tertawa seperti saat bersama Kia.
"Nanti kalau Om menikah, Kia bisa dekat sama Kak Noah tanpa beban deh, karena Tante Hilma akhirnya tahu kalau bukan Kia yang bikin Om sama Tante Hilma putus." kata Kia lagi dengan senyum melebar.
__ADS_1
"Kamu mau dekati Noah? jangan mimpi Kia, Om tidak akan ijinkan." jawab Lucky cepat sambil menjewer telinga Kia.
"Huaaa, Om kenapa sih selalu lebih galak dari Papa." Kia pukuli tangan Lucky yang sedang menjewer telinganya, Lucky memang selalu begitu kalau Kia mau dekati cowok, ah Lucky kamu belum sadar juga ya.