
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
Tiba tiba, pintu apartment Reiner terbuka dan Max datang bersama polisi dan petugas apartment.
"Ivanna!" panggil Max.
Ivanna menoleh dan tersenyum pada Max. Reiner melepaskan Ivanna dari cengkramannya. Max menghampiri Ivanna dan memeluknya.
"It's okay, Van. Tenang, ada aku disini." ucap Max.
Reiner mengambil sesuatu dari belakang rak bukunya. Reiner menembakkan senjata api ke arah Max. Tanpa disangka, Reiner juga menyimpan senjata api di tempatnya.
"Letakkan senjata itu atau kami tembak!" ancam polisi.
Reiner menyerah dan meletakkan senjata api itu ke lantai. Dan dia juga digiring oleh polisi untuk keluar dari apartmentnya. Penghuni apartment lainnya keluar setelah mendengar keramaian di depan.
"Max! Are you okay?" tanya Ivanna.
Max melindungi Ivanna dengan cara memeluknya. Masih untung peluru yang ditembakkan Reiner tidak mengenai Max lagi.
"I'm okay. Don't worry!" jawab Max.
Sekilas bayangan tertembaknya Max karna menyelamatkannya waktu itu, melintas dipikiran Ivanna. Ia takut bahwa Max melindungi dirinya lagi. Polisi sudah menahan Reiner dan menyegel apartmentnya ini untuk dijadikan TKP. Kelakuan Reiner kali ini, hanya akan menambahkan kasus lagi dalam riwayatnya. Ya, Ivanna akan menuntutnya atas tindakan penculikan dan kekerasan pelecehan seksual. Sementara Max, ia akan menuntut atas tindakan Reiner yang menembaknya dihadapan polisi.
__ADS_1
"Ayo kita pergi dari sini." ajak Max.
"Tunggu, aku ambil tas dan ponselku dulu." ucap Ivanna.
"Baiklah, ini kamu pakai." Max memberikan jaketnya pada Ivanna.
"Aku ga kedinginan sama sekali, Max."
"Bajumu itu robek, dan bahkan terlalu terbuka! Aku ga mau orang lain melihat tubuhmu! Cepat pakai saja!" ucap Max.
Max juga merapihkan rambut Ivanna yang acak acakan itu. Mereka pergi dari tempat itu.
"Dimana mobilmu?" tanya Max.
"Di parkiran." jawab Ivanna.
"Kalian? Papa? Kenapa disini?" tanya Max.
"Papa sudah tau semuanya! Kalian baik baik saja? Ivanna, kamu harus ke rumah sakit, nak." kata William.
"Aku ga papa, uncle. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku." ucap Ivanna.
William pulang menggunakan mobil Max karna anaknya itu akan mengantar Ivanna menggunakan mobilnya. Sementara Nat dan Ben mereka akan menginap dirumah Max. Ben akan tidur bersama Max karna kedatangan Nat yang tidak direncanakan. Rumah Max hanya memiliki 1 kamar tamu yang akan ditempati oleh Nat.
"Ayo masuk, aku temani!" ucap Max memampah Ivanna masuk ke dalam rumahnya.
"Sayang! Astaga Tuhanku! Kenapa kamu jadi begini, nak?" tanya Ellen.
__ADS_1
"What the hell? What happen, baby?" tanya Howard.
"Mom, dad, tadi aku menemui Reiner Gunawan." ungkap Ivanna dengan jujur.
"What? Are you crazy?" ucap Howard yang terkejut dengan perkataan anak tunggalnya ini.
"Aku kesana untuk mendapatkan bukti, dad. Dia benar benar bersekongkol dengan Anna untuk menjatuhkanku."
"Dimana b*j*ngan itu sekarang?" tanya Ellen.
"Dia sudah dibawa ke penjara, mom." jawab Ivanna.
"Ayo, biar mom bantu bersihkan lukamu itu! Sungguh berantakan sekali penampilanmu, nak, nak."
"Tante, boleh Max mengobati luka Ivanna? Karna ada hal yang ingin Max bicarakan juga dengan Ivanna." tanya Max.
"Tentu saja, boleh, sayang. Jika sudah, kalian istirahatlah karna hari esok, kalian akan lebih menantang." saut Ellen.
"Thanks, mom, dad. Good night." ucap Ivanna.
"Good night, girl. Good night son!" ucap Ellen dan Howard.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
__ADS_1
See you at the next chapter. 🥰