
Daniel akhirnya temani Billian kunjungi kantor Belin, Lucky juga turut serta karena untuk kebutuhan Balena Hotel, Lucky yang tahu detail, Daniel baru garis besarnya saja.
Billian sibuk hubungi Kakaknya setelah menjemput Daniel dan Lucky ke Balena Hotel. Demi kelancaran masa depannya kedua Om nya ini diminta membantu menilai gadis masa depannya.
"Mestinya kamu minta temani Redi dan Lucky, duo mantan playboy lebih pintar menilai wanita." kata Daniel pada Billian.
"Aku ambil dari dua sudut pandang, Om Lucky perwakilan mantan playboy, Om Daniel perwakilan pengamat gadis untuk calon istri." jawab Billian sambil fokus menyetir.
"Maksudnya apa tuh?" tanya Daniel.
"Maksudnya, Om Daniel kan amati Ante Baen dulu baru jadikan istri." Billian nyengir.
"Bukan begitu." Lucky buka suara.
"Bagaimana?" tanya Billian.
"Daniel sudah melamar Balen dari dia ingusan, lalu minta Papa James untuk menjaga Balen, bahasa halusnya mengikat, dia pakai Mama dan Papanya untuk mengikat Balen." Lucky seperti yang tahu saja.
"Hmm..." Daniel hanya naikkan alisnya.
"Tuh berarti Om jagoannya, dari kecil saja Om tahu kalau Ante layak jadi calon istri Om." kata Billian.
"Kalau sudah dewasa justru Om tidak tahu." jawab Daniel.
"Om pasti lebih tahu, Noah saja Om bisa nilai cocok tidaknya untuk Beyin." Billian menyimpulkan.
"Ya kebetulan Om kenal lama dengan Noah, kalau temannya Beyin mana Om tahu." jawab Daniel.
"Lagian kamu ajak kita, kalau temannya Beyin naksir kita berdua bagaimana?" tanya Lucky konyol, Daniel terbahak sambil menoyor kepala Lucky.
"Masih playboy saja." sungut Billian.
"Enak saja, bisa dihajar Syabda nanti." jawab Lucky terkekeh.
"Geng rusuh juga ikut hajar, Om." jawab Billian nyengir tapi serius.
"Nah gawat itu, belum lagi geng kwartet, geng ganteng, duh ampun." Lucky bikin semuanya terbahak.
"Beyin kebetulan ada di cafe dekat kantornya sama Vina, Pingkan dan Michael." Billian beritahukan Daniel dan Lucky saat mereka tiba diparkiran.
"Jadi kita menyusul kesana?" tanya Daniel, Billian anggukan kepalanya. Daniel tersenyum sambil pandang-pandangan dengan Lucky.
__ADS_1
"Sudah beritahu Baen belum kita kesini?" tanya Lucky.
"Masih merajuk dia tidak mau angkat telepon, tapi aku sudah kirim pesan." jawab Daniel.
"Kia juga begitu." Lucky terkekeh, rupanya keduanya sedang diacuhkan istri karena hari ini rencana mereka ke Bandung gagal.
"Mesti kita apain itu para istri?" tanya Lucky.
"Cium saja nanti kalau sampai rumah." jawab Daniel, Lucky langsung terbahak.
"Om, tumben." Belin menyambut kedua Omnya dengan sedikit heran.
"Urusan kerjaan nih." jawab Billian cepat, Lucky dan Daniel segera duduk di bangku lain, tugas mereka hanya mengamati.
"Sebentar ya Om, Beyin makan dulu." kata Belin pada Daniel dan Lucky, keduanya anggukan kepala sambil amati dua gadis temannya Belin, belum tahu mana yang Billian incar.
"Sepertinya yang rambut sebahu ya Bang?" bisik Lucky pada Daniel.
"Seperti begitu, yang lebih kalem ya?" gantian Daniel yang berbisik pada Lucky.
"Boleh lah." kata Lucky mulai komentari gadis yang menurutnya bernama Vina itu.
"Seperti Baen?" tanya Daniel karena menurutnya tidak.
"Bagaimana menilainya, standard Billian seperti Baen." Daniel jadi bingung sendiri.
"Seperti Kia juga dong, ini beda. Mungkin sifatnya ya, kita harus ngobrol kalau mau tahu detail, mana bisa jarak jauh begini." Lucky terkekeh.
"Anggap saja lagi menilai karyawan baru, gesturenya bagaimana?" tanya Daniel sambil memegang dagunya.
"Kita jangan terlalu fokus nanti ceweknya kira kita sedang tebar pesona." bisik Lucky karena beberapa kali kedua teman Belin memandang ke arah mereka.
"Ah iya, pesan minum deh Luck." kata Daniel kemudian keduanya beranjak ke counter untuk memesan minuman, biarkan Billian asik ngobrol bersama teman-temannya Belin.
"Telepon Noah Bang, ajak kesini." kata Lucky.
"Janganlah, lagi kerja." Daniel tidak enak harus mengganggu jadwal kerja Noah.
"Malah aneh kalau kita tidak hubungi."
"Begitu ya, sebentar." Daniel segera ambil handphonenya untuk hubungi Noah beritahukan keberadaan mereka.
__ADS_1
"Mau ke ruangan aku, Bang?" tanya Noah via telepon.
"Tidak usah kami disini saja sambil tunggu Billian." jawab Daniel.
"Oke, sepuluh menit lagi aku menyusul, semoga bisa lebih cepat." Noah akhiri sambungan teleponnya.
"Menurutku sih, Billian lebih baik langsung dekati saja, kalau tidak cocok tinggal beralih, kenapa juga harus diamati kita dulu." kata Lucky setelah mereka dapati pesanan minuman mereka.
"Iya sih, mungkin dia punya pertimbangan sendiri atau mau pamer sama kita kalau dia punya gebetan." Daniel dan Lucky tertawa bersama, senang sekali bisa komentari anaknya Baen.
"Lihat saja sampai disini dia lupa sama kita." oceh Lucky lagi sambil tertawa.
"Kurang playboy dia." dengus Lucky.
"Aih jangan samakan dia dengan kamu dulu dong." jawab Daniel.
"Seperti yang tahu bagaimana aku dulu saja." Lucky terkekeh.
"Lucky darling..." nah baru saja sok polos sudah ada yang menyapa panggil darling. Lucky menoleh mencari asal suara sambil kerutkan keningnya.
"Siapa ya?" tanya Lucky.
"Jessica, lupa sama ai? yang waktu di Lembang." tanya gadis tersebut, entah masih gadis atau bukan, yang pasti dia tampak lebih dewasa dibandingkan Belin.
"Apa kabar Jessica?" tanya Lucky masih coba mengingat-ingat Jessica yang mana, tapi kok berani panggil darling, berarti mereka pernah dekat.
"Masih sering merindukan you, kapan dong kita jalan bareng lagi? ajak ai lagi lah liburan ke Italy." Nah Lucky baru ingat ini, mereka sempat dekat beberapa bulan tapi tidak pacaran, walaupun pernah temani Lucky liburan ke Italy, berdua saja.
"Wah Jes, you belum tahu ai sudah punya buntut sekarang? mana bisa ajak you liburan lagi, bisa ngamuk istri ai." jawab Lucky langsung, Daniel pura-pura sibuk dengan handphonenya sambil menahan tawa.
"Kapan? kenapa tidak undang ai?" tanya Jessica, Belin kerutkan keningnya coba pasang telinga, karena ini sepertinya mantan Om Lucky, awas saja kalau macam-macam.
"Semua yang urus keluarga sih, tapi lumayan viral kok dulu." jawab Lucky tersenyum manis. Belin berdecak kesal, bisa tidak sih Om Lucky tidak usah senyum-senyum begitu, bahaya.
"Biar sudah menikah dan punya buntut, bolehlah kita makan siang bersama, kapan ada waktu?" tanya Jessica.
"Om, Istrinya telepon nih." Belin antarkan handphonenya pada Lucky yang segera menerima handphone dari Belin.
"Sayang, aku lagi di kantor Belin sama Bang Daniel dan Billian." langsung saja laporan sebelum istrinya tanya macam-macam, kemudian lambaikan tangan pada Jessica lalu kembali sibuk bicara di handphone dengan Kia, senang sekali karena istrinya sudah tidak merajuk.
"Kok telepon ke handphone Beyin, bukan ke handphone aku?" tanya Lucky.
__ADS_1
"Beyin yang telepon aku, aku juga bingung kenapa dia kasih ke kamu teleponnya." kata Kia masih judes, Lucky sudah GR saja dikira Kia sudah tidak merajuk, dasar Belin, mewakili suara hati Kia betul, tidak rela lihat Lucky ngobrol terlalu lama dengan perempuan lain. Jangan salahkan Lucky, ini sih karena Billian jadi Lucky bisa bertemu dengan salah satu perempuan masa lalunya, mungkin Kia juga tahu kisah Lucky dan Jessica dulu.