Because I Love You

Because I Love You
Tamu


__ADS_3

"Kalau belum siap tidak apa." Lucky mengacak anak rambut Kia.


"Maaf Om." suara Kia nyaris tidak terdengar.


"Aku sabar kok." Lucky tertawa, sedikit merasa pusing karena satu dan lain hal.


"Om mau kemana?" tanya Kia saat Lucky beranjak dari kursi santai.


"Kamar." jawab Lucky, sepertinya harus menjauh sebentar dari Kia.


"Ikuut." teriak Kia segera ikut beranjak, malah mau ikut, Lucky jadi tertawa dan terima nasib, mana bisa menjauh kalau begini. Dengan senang hati ulurkan tangannya menggandeng Kia menuju kamar mereka.


"Kamu sudah lapar?" tanya Lucky, masih menahan sakit kepalanya.


"Belum, Om mau Kia masakin apa?" tanya Kia sambil tersenyum.


"Menu kamu kan cuma telor ceplok, rebus atau dadar." Lucky terkekeh.


"Nah itu tahu, Om mau yang mana?" bangga betul dengan tiga menu andalannya.


"Tidak usah, kita pesan saja."


"Yang penting Kia sudah tawarin ya, mau masak untuk suami." katanya tengil tapi Lucky senang Kia menyebut kata Suami.


"Eh sudah punya suami ya kamu? kenalin dong."


"Sudah, itu loh Om kenal deh pasti, si Lucky yang mantan pacarnya bederet, keponakannya berapa kali kena labrak mantannya eh malah sekarang keponakannya dijadikan istri." celoteh Kia bikin Lucky terbahak mendengarnya.


"Ketawa lagi." Kia mendengus.


"Kamu sebut mantan terus sih." Lucky mencubit pipi Kia gemas.


"Mulai sekarang tidak boleh bahas itu ya, sudah lewat. Apalagi keponakan kesayangannya sudah berhasil jadi istri." pesan Lucky sambil tersenyum, siapa yang tidak meleleh lihat senyum Lucky.


"Tapi tadi Om yang mulai kok." dengus Kia.


"Iya maaf, tadi cuma jahili Baen kok." jawab Lucky.


"Om, tapi kan Om Lucky masih ada urusan sama Tante Kei ya? reaksi dia bagaimana nanti kalau tahu Kia yang jadi istri Om?"


"Sama seperti reaksi teman-teman aku yang lain pasti." jawab Lucky menutup pintu kamarnya dan langsung mendorong Kia ke kamar mandi.


"Sana mandi dulu, bau." katanya sambil menutup hidung.


"Ih, tadi om peluk-peluk sama cium tidak bilang bau sih, kalau sekarang jadi bau karena ulah om tuh." Kia nyerocos bikin Lucky nyengir.


"Sayang siapkan bajunya dulu." Lucky menahan pintu kamar mandi yang mau Kia tutup.


"Tuh kan, main dorong saja sih." sedikit monyongkan bibirnya pada Lucky, bikin gemas saja, langsung saja Lucky kecup bibir Kia yang baru langkahkan kakinya keluar kamar mandi.

__ADS_1


"Iiih..." cuma begitu reaksi Kia yang langkahnya terhenti karena terhadang badan suaminya, berarti tidak marah, boleh lanjut dong, pikir Lucky kembali mengecup bibir istrinya, dilakukan berulang-ulang, kemudian tersenyum pandangi Kia.


"Mau ditemani mandi?" tanya Lucky nekat, Kia buru-buru gelengkan kepalanya, mulai ngaco ini Om Lucky, pikir Kia.


"Om minggir, Kia mau ambil handuk sama baju." katanya tidak berani menatap wajah Lucky.


"Cium dulu." Lucky menyeringai.


"Tadi kan sudah." mendorong pelan badan Lucky yang jauh lebih besar dari Kia.


"Tadi aku yang cium, sekarang kamu. Hayo..." Lucky tunjuk bibirnya.


"Iiih..." Kia salah tingkah.


"Dapat pahala tahu." Lucky tersenyum jahil.


"Iya tahu." jawab Kia bergeming.


"Nah, ayo cium." dasar Lucky bikin Kia pasang wajah aneh, ragu antara mau cium apa tidak.


"Ih lama." Lucky menangkupkan tangannya pada pipi Kia, lalu mulai beraksi ******* bibir istrinya, belum ada reaksi dari Kia yang pejamkan mata karena terkejut, pertama kali merasakan bibirnya menempel dan dihisap oleh Lucky. Seluruh tubuh Kia serasa meremang.


"Enak kan?" tanya Lucky nyengir setelahnya.


"Huh..." Kia hembuskan nafas sambil pegang dadanya, seluruh badannya berasa ada getaran aneh. Lucky segera singkirkan tubuhnya sambil tersenyum puas, agar Kia bisa lewat ambil baju ganti dan handuk. Senang karena Kia tidak marah, walaupun sekarang tampak salah tingkah, biarkan saja, Lucky pilih pura-pura tidak tahu, malah bersiul senang tinggalkan Kia di kamar sendiri.


Sementara itu setelah ditinggal Lucky, Kia langsung terduduk lemas di lantai tepat di depan kopernya.


"Ante..." sekarang panggil Ante yang mungkin keselek karena dipanggil anaknya.


"Huhu Om Lucky nakal." akhirnya bilang Lucky nakal sambil pegang-pegang bibirnya, masih terasa apa yang Lucky lakukan tadi.


"Bilang enak lagi, dasar Om Lucky." Kia ngoceh sendiri sambil buka koper pilih baju yang mau di pakai sore ini. Setelahnya segera masuk ke kamar mandi, masih bayangkan ciuman pertamanya tadi.


"Eh sudah cantik." sambut Lucky yang sedang bermain game saat melihat Kia keluar kamar tampak segar dan pasti semakin cantik di mata Lucky.


"Sini sayang." Lucky menepuk bangku disebelahnya.


"Om main apa?" tanya Kia, berlagak acuh padahal bibirnya masih rasakan apa yang dilakukan Lucky tadi.


"Mainannya Om Kenan nih, spiderman."


"Ini yang lama Om."


"Kamu mau main?" Lucky menawarkan, Kia gelengkan kepalanya.


"Mau makan apa? aku belum pesan makan loh." tanya Lucky pada Kia.


"Yang enak saja Om." jawab Kia.

__ADS_1


"Yang enak makan kamu." jawabnya terkekeh.


"Iiih, Om Lucky apaan sih." Kia menutup wajah Lucky yang pandangi Kia seperti benar mau memakannya.


"Bagaimana tadi, enak kan?" Lucky lepaskan tangan Kia dari wajahnya, malah bahas yang tadi, wajah Kia langsung merah merona.


"Ada yang lebih enak sayang, mau coba?" mulai ya merayu-rayu modus.


"Om, Kia mau main." berusaha alihkan pembahasan Lucky yang mengarah ke sana.


"Ini, aku pesan makan dulu." baru saja Lucky mau memesan makanan, bel apartment nya berbunyi.


"Siapa Om?" tanya Kia.


"Tidak tahu..." Lucky gelengkan kepalanya.


"Mantan Om jangan-jangan." tebak Kia.


"Tidak mungkin, belum ada yang di ajak ke sini." jawab Lucky.


"Biasanya diajak kemana?" halah malah ajak ngobrol sementara bel terus saja berbunyi, berisik sekali.


"Kepo..." jawab Lucky terkekeh, lalu membuka pintu menyambut tamu yang tidak diharapkan.


"Surprise!!!" teriak Bima bersama anak-anak Baen yang lainnya.


"Kita bawakan makanan." kata Shaka sambil mengangkat tentengan ditangan kanannya.


"Ada pizza juga." Aca tidak mau kalah.


"Ih siapa yang suruh ke sini?" tanya Lucky sambil nyengir.


"Oma Lulu, suruh antar makanan untuk Om dan Ante Kia." jawab Bima cengengesan pandangi Kia.


"Apa sih Bima, panggil Ante." protes Kia monyongkan bibirnya.


"Ih kan sudah jadi istri Om Lucky, atau Om Lucky mau aku panggil Abang?" tanya Bima segera masuk tanpa dipersilahkan.


"Kalian bukannya sudah ke Malang?" tanya Lucky heran.


"Belum kok, kan aku besok mau bareng Om Daniel naik private jet." jawab Shaka nyengir.


"Iya, aku juga sama Om Daniel." Bari ikutan.


"Kita jadi sama Om Daniel juga Om?" tanya Kia semangat ada geng nya.


"Mana muat." jawab Lucky.


"Muat kok Om tujuh orang. Ayo Om." ajak Aca semangat.

__ADS_1


"Ada kalian tidak bisa mesra-mesraan nanti." jawab Lucky cengengesan sementara geng rusuh bersorak-sorak bikin Lucky segera menarik para anak-anak Baen minus Belin dan Billian, agar segera masuk dan tidak mengganggu tetangganya.


"Aca sama Bima tidak ikut private jet kok, mereka sudah beli tiket. Om tenang saja kalau mau bermesraan, aku sama Bari pakai kacamata tidur." kata Shaka sambil tersenyum acungkan jempolnya lalu naikkan alisnya pada Kia.


__ADS_2