
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
"Tante, apa benar Max sudah punya calon istri?" tanya Claudya dengan nada manja dan memelas.
"Itu alasan yang biasa diucapkan Max saat ada perempuan yang mendekatinya, sayang. Tapi kamu tenang aja, dia belum ada yang punya ko." jawab Vanessa.
######################################
Max memiliki janji untuk bertemu Marcel untuk membantunya dalam pernikahan yang sudah direncanakan. Eitss jangan salah sangka dulu. Ini pernikahan Marcel dengan kekasihnya ko, bukan pernikahan Max. Marcel meminta bantuan Max dihari pernikahannya.
"Lo ga mau jujur aja ke nyokap soal hubungan lo sama Ivanna, bro?" tanya Marcel pada Max.
"Gimana gue mau ngomong, Cel, nyokap gue aja sudah 3 kali bawa anak temannya untuk dikenalkan ke gue dan berharap jadi calon menantunya." jawab Max.
"Coba lu mogok makan atau lo lakukan apa gitu yang menunjukkan kalau lo itu memang ga bisa pisah dengan Vanna." usul Marcel.
"Lo suruh gue demo?"
"Binggo!"
"G*la lo, Cel. Gue udah di ancam sama Ivanna ga boleh demo demo seperti itu. Dia menghargai banget nyokap gue, bro."
__ADS_1
"Bisa jadi ini kesempatan lo untuk bisa bersama Ivanna, Max. Coba lo mogok makan deh dan gila kerja. Gue yakin pasti nyokap lo ga akan tega melihat lo sedih."
"Betul juga ucapan lo. Tapi kalau Ivanna tau, bisa marah dia sama gue!"
"Ya lo lakukan dengan smart aja, bro. Jangan sampai Ivanna tau hal itu."
Max berpikir bahwa ucapan Marcel ada benarnya juga. Ia harus melakukan sesuatu untuk membuat mamanya menerima Ivanna.
*
Ivanna yang ingin pergi ke minimarket depan rumahnya dengan menggunakan sepeda, bertemu dengn Vanessa yang sedang menemani Claudya menunggu taksi saat Ivanna baru saja keluar dari gerbang pintu rumahnya.
"Tante...." sapa Ivanna.
Ivanna menyapa Vanessa seolah olah ia tidak mengetahui bahwa Vanessa melarang Max untuk tidak berhubungan dengannya.
Tanpa curiga, Ivanna menghampiri mereka berdua disana.
"Ya tante, ada apa?" tanya Ivanna.
"Ini loh, tante mau mengenalkan calon menantu tante, calon istrinya Max."
Bak petir di siang bolong bagi Ivanna yang sangat terkejut mendengar hal itu langsung dari mamanya Max, bukan dari Max sendiri. Ia berpikir karena wanita inikah mereka menjadi lost contact?
"Hey, Van, ko melamun?"
__ADS_1
"Ah maaf tante, halo saya Ivanna." ucap Ivanna.
"Dy, Ivanna ini teman kecilnya Max, mereka tumbuh bersama."
"Berarti kamu seumuran dengan kak Max?" tanya Claudya.
"Ivanna ini sudah seperti adiknya Max, sayang. Tapi mereka kurang akur setelah Max kembali ke Indonesia." jelas Vanessa pada Claudya.
"Tante maaf, Vanna harus ke minimarket depan. Ivanna pamit, tan. Permisi." ucap Ivanna dengan sopan.
Ivanna mengayuh sepedanya ke minimarket depan kompleknya yang tak jauh letaknya.
Setelah membeli barang yang diperlukannya, Ivanna keluar dan duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket itu sambil meneguk minuman soda dan juga makanan ringannya yang tadi ia beli. Tanpa permisi air mata Ivanna menetes gitu saja.
Max yang melewati minimarket depan komplek rumah dengan mobilnya, melihat keberadaan Ivanna yang sedang menangis. Dengan segera Max menghampiri Ivanna.
"Hey, what's wrong?" tanya Max pada Ivanna.
Ivanna menatap ke arah Max dengan tatapan marah.
"Ayo masuk mobil. Kita bicara sebentar." ucap Max.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
__ADS_1
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰