Because I Love You

Because I Love You
Interogasi


__ADS_3

"Oke ya, aku harus ke kedutaan. Semoga perjalanan ke Jakarta lancar dan menyenangkan Kia. Senang berkenalan dengan kamu." kata Noah setelah mereka akhiri pertemuan hari ini. Kia tersenyum dengan manisnya, kesan pertama berkenalan dengan Noah, orangnya hangat dan menyenangkan. Hanya sebatas itu, belum ada kesan lainnya.


"Nanti kalau sudah ada pertanyaan aku hubungi Kak Noah ya." kata Kia kemudian.


"Anytime Kia." jawab Noah membuat Balen mencibir.


"Anytime apanya, Noah suka lama balas pesan." protes Balen.


"Kalau lagi ada kesibukan tidak buka handphone aku, tapi setiap pesan yang masuk pasti aku balas saat senggang. Kecuali Nyonya Daniel yang hubungi aku harus langsung angkat kalau tidak mau dimusuhi." Noah menggoda Balen.


"Ndak gitu juga kali." kembali Balen mencibir, Kia dan Noah terbahak.


"Ok, see you next time." Noah segera tinggalkan Balen dan Kia.


"Have a nice day, Kak Noah."


"You too Kiaz and have a nice trip." Noah tersenyum manis, segera hampiri Nanta dan Larry yang sudah dikenalnya, basa-basi sebentar lalu segera pamit. Noah tidak ngeh kalau di meja lain seorang pria yang dikenalnya sedang menatap setiap pergerakan Noah, siapa lagi kalau bukan Lucky.


"Huraaaiiii..." Kia kibarkan brosur dan silangkan kaki kirinya ke belakang, senang sekali dapat petunjuk lengkap mengenai seluruh University di Ohio lengkap berikut biaya dan jurusannya. Kia tidak perlu keliling lagi cari informasi.


"Panta, bantu pilihin sama Papa ya nanti di rumah." kata Kia pada Nanta.


"Sini duduk." Nanta menggeser kursi kosong disebelahnya persilahkan Kia duduk. Kia ikuti keinginan Nanta.


"Kenapa tiba-tiba mau kuliah di Ohio?" tanya Nanta pada Kia.


"Aku suka disini." jawab Kia asal.


"Baen saja sudah diminta pindah ke Jakarta begitu kuliahnya selesai, jangan sampai kamu nanti seperti Ichie, baru setahun dua tahun di Ohio sudah di suruh kembali Ke Jakarta." Nanta ingatkan Kia.


"Kia ndak mau begitu, kalau sampai Ante Baen harus kembali Ke Jakarta, please Kirim Bima temani Kia disini." pinta Kia pada Nanta.


"Ambil keputusan jangan karena emosi Kia." Larry ingatkan Kia.


"Kia tidak emosi Ayah, Kia menuntut ilmu sampai ke negeri Amerika." jawabnya ikuti perkataan Ulan.


"Baiklah, kamu mau ambil jurusan apa memangnya? Nanti kalau diijinkan Mama dan Papa, kamu harus kuliah yang benar jangan hanya main-main disini." pesan Larry lagi.


"Iya Ayah, lihat saja nanti Kia pasti lakukan yang terbaik. Beyin nanti Kirim ke sini juga kan Ayah?"

__ADS_1


"Nanti Ayah pikirkan bagaimana baiknya. Opa sudah minta Daniel pegang usahanya sendiri di Jakarta, Opa mau santai-santai sekarang pekerjaan Daniel sudah berkembang pesat jadi Opa sudah tidak santai."


"Nah bagaimana tuh Kia, kalau Baen


dan Daniel harus kembali Ke Jakarta sementara kamu belum selesai kuliahnya?" tanya Nanta.


"Seperti Ante Ulan saja dilepas sendiri di Jepang, Kia juga berani kalau terpaksa harus sendiri di Ohio, demi masa depan Kia juga kan." jawab Kia tersenyum.


"Kamu tidak dibebankan untuk meneruskan usaha Opa Alex ataupun Opa Eja loh, jadi tidak harus sekolah di Amerika juga sih." Nanta terkekeh.


"Kia tahu kok semua bebaskan Kia mau ikut diperusahaan manapun. Tapi kalau Kia kompeten apa tidak membanggakan tuh, yang tidak diharapkan malah persiapkan diri sebaik mungkin." tanya Kia pada Nanta.


"Bukan tidak diharapkan, hanya berikan kebebasan untuk kamu mau ikut Kemana? Suryadi kan atau Alex enterprise. Mungkin saja nanti malah kamu punya usaha sendiri kan, atau justru mau terjun di hotel Ante Baen yang sebentar lagi akan dibangun." kata Nanta menjelaskan.


"Nanti kita pelajari deh Panta, Kia dibutuhkannya dimana sih? Kia siap saja." jawab Kia bikin Larry terkekeh.


"Jadi serius kuliah di sini untuk mengejar Ilmu? bukan menghindari sesuatu nantinya?" tanya Larry jahil.


"Apa yang harus dihindari Ayah? semua itu harus dihadapi dan diselesaikan kata Papa Kia sih." jawab Kia.


"Apa yang harus diselesaikan?" tanya Larry lagi.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Larry.


"Ih masalah apa? Ayah nih kepo deh." Kia langsung bersungut.


"Loh Ayah tanya malah dibilang kepo." Larry terbahak Nanta pun begitu.


"Ini Ayah sama Panta lagi interogasi kamu Kia, seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan sampai tiba-tiba mau kuliah di Ohio." Rumi ikutan.


"Justru Kia mau kuliah disini untuk mencari solusi Nami, bukan menghindari masalah." jawabnya tersenyum.


"Nami harap terselesaikan dengan baik masalah kamu." Rumi tersenyum jahil.


"Masalah Kia apa ya?" tanya Dania tidak kalah jahil.


"Ih Kia tidak ada masalah tahu."


"Loh kamu bilang dalam rangka selesaikan masalah, apa masalahnya?" desak Dania.

__ADS_1


"Manta, please deh. jangan pojokkan Kia." Kia menghela nafas.


"Manta hanya membantu, siapa tahu bisa selesaikan masalah kamu." jawab Dania.


"Kepo ah Manta, tidak ada masalah tahu. Everything gonna be alright." jawabnya justru tunjukkan ia sedang bermasalah.


"Kia, Manta siap jadi teman curhat kamu loh." Dania kerlingkan matanya.


"Kia mau ujian akhir sebentar lagi loh Manta, itu masalah paling berat Kia saat ini." jawab Kia terkekeh.


"Selain itu tidak ada?" tanya Nanta, Kia lagi di interogasi jadi Balen diam saja mendengarkan. Sejak hamil Balen tidak begitu cerewet. Biasanya mana bisa diam begini dia, pasti ikutan interogasi Kia juga, bahkan membocorkan kalau Balen tahu masalahnya.


"Tidak ada Manta." Kia tersenyum.


"Kata Lucky kamu mau menjauhkan diri dari Lucky, ini salah satu cara kamu menjauh?" Dania to the point. Kia menghela nafas saat nama Lucky disebut.


"Nah bagaimana tuh?" Nanta langsung ikutan, sementara Larry senyum simpul. Rumi diam seperti Balen, ikut menyimak.


"Manta, Om Lucky harus menikah kan? Kia harus siap diri kalau ternyata nanti istri Om Lucky sama seperti istri Om Winner, yang tidak suka keributan, sementara kita geng rusuh yang tidak bisa tidak ribut." Kia tertawa geli sendiri.


"Jadi ini salah satu solusi terbaik Kia." jawab Kia akhirnya mengaku.


"Berarti benar melarikan diri dari Lucky." Nanta menatap Kia.


"Bukan melarikan diri dong kalau ketahuan tempatnya dimana, hanya menjaga jarak jangan sampai Om Lucky dan calon istrinya ribut karena Kia." jawab Kia tersenyum.


"Kalau ternyata calon istrinya kamu bagaimana?" tanya Dania tanpa senyum.


"Tidak pernah terpikir jadi istri Om Lucky, Kia rasa Om Lucky juga merasa begitu. Biarkan kami tetap bersaudara deh Manta. Jangan jadikan pasangan, sepertinya Kia juga bukan type Om Lucky." jawab Kia lugas.


"Om Lucky type Kia bukan?" Balen mulai ikutan.


"Ante jangan ikut campur deh." Kia pasang wajah galak.


"Berarti Om Lucky type Kia dong." Dania terbahak.


"Please deh Manta, jangan ketularan Ante Baen. Tadi Noah bagaimana tuh, setuju tidak kalau dia jadi jodoh Kia?" Kia alihkan pembicaraan.


"Kita lagi bahas Lucky, tidak bahas Noah." jawab Dania masih tertawa geli.

__ADS_1


"Sudah manta, Kia mau pulang saja. Om Lucky pulang yuk." tuh masih saja jadikan Lucky andalan disaat terpojokkan begini, dasar Kia.


__ADS_2