
"Siapa yang tadi menangis? kuping Oma sakit mendengarnya." tanya Mama Amelia pura-pura tidak tahu siapa yang menangis. Cadi sudah mau menjawab saja tapi Charlie sudah melotot pada adiknya itu, jadi Cadi cengengesan saja tidak menjawab.
"Cadi ya yang menangis?" tanya Oma Amelia.
"Bukan kok." jawab Cadi tanpa beritahukan siapa yang menangis, daripada bikin Charlie menangis lagi, eh bukan Cadi tidak mau ribut sama Abangnya yang lagi bersedih itu. Kalau dia menangis lagi nanti minta tukar jaga Opa bisa repot Cadi, tidak bisa main basket.
"Jadi siapa kalau bukan Cadi?" tanya Oma mendesak, Charlie eratkan pelukannya pada Redi.
"Itu Papa akuuuu." teriak Mora lihat Papanya menggendong Charlie. Charlie menarik nafas lega, tidak harus menjawab pertanyaan Oma.
"Abang pinjam dulu Papanya." kata Opa James pada Mora.
"Berdua, berdua, gendongnya berdua." teriak Mora ulurkan tangannya minta digendong Redi juga, mau tidak mau Redi menggendong keduanya sekaligus.
"Aduh nanti sakit pinggang Papanya." kata Ulan kasihan melihat Redi kesulitan.
"Aku sayang Papa." sungut Mora.
"Papa juga sayang Moa." Redi mengecup pipi Mora, "Sayang Cayi juga." lanjut Redi dan mengecup pipi Charlie yang tersenyum senang karena merasa disayang Uncle Redi.
"Cayi sini pangku Opa." kata Papa James agar Redi tidak keberatan.
"Mau turun?" tanya Redi, Charlie yang masih model diam anggukan kepalanya.
"Aku juga turun." Mora membeo, Redi dan yang lainnya jadi tertawa.
"Mau jalan kemana kita?" tanya Redi pada Charlie.
"Aku mau kerumah Ayah." teriak Mora, padahal Charlie yang ditanya.
"Aku mau main sama kakak Beyin." sungutnya karena Mama Ulan gelengkan kepalanya.
"Kita suruh Kakak Beyin kesini mau?" tanya Redi.
"Yada!" Mora gelengkan kepalanya menolak, ia mau ke rumah Ayah agar bisa bertemu semuanya.
"Papa telephone Ayah dulu, ada dirumah apa tidak." jawab Redi karena Mora tetap mau kerumah Abangnya.
"Yosh!" jawab Mora tersenyum. Ulan tertawa, Redi tidak pernah bisa menolak kemauan Mora. Jadi anaknya gampang saja mengatur Papa, untungnya Ulan masih diberikan wewenang oleh Redi untuk mengatasi Mora kalau Redi kelimpungan hadapi Mora yang merajuk.
Beberapa kali hubungi Larry, handphonenya tidak diangkat.
"Nanti kita hubungi lagi, Ayah belum angkat telepon." kata Redi.
"Cayi, main yuk." ajak Mora langsung menggandeng tangan Abangnya yang masih Salah tingkah karena habis menangis, jadi malu sendiri.
"Chandra sama Cadi ajak juga dong." kata Mama Amelia.
"Memang mau ajak kok, Chandra main monopoly yuk." ajak Mora sok tua, main panggil Chandra saja.
__ADS_1
"Abang." Redi mengingatkan.
"Tidak apa Uncle, Chandra saja." jawab Chandra tersenyum, lalu hampiri Mora.
"Aku ikut kan?" tanya Cadi.
"Iya, kita berempat." jawab Mora lalu mengambil mainan monopoly yang diberikan Krisna saat ia di Malang beberapa waktu lalu.
"Bagaimana cara mainnya?" tanya Cadi yang belum pernah bermain monopoly.
"Gampang kok, goyangkan saja dadunya sampai keluar angka, nanti melangkah sesuai jumlah angkanya." Mora ajari Charlie.
"Eh tapi ini kok ada bank, ada uang juga?" tanya Charlie.
"Iya nanti kita bisa beli gedung atau hotel pakai uang ini." jawab Mora, "Seperti Ante Baen ya, punya hotel. Pasti rajin main monopoly." Mora simpulkan sendiri, yang lain cekikikan mendengarnya.
"Enak betul main monopoly bisa punya hotel, Papa juga mau kalau hotelnya seperti yang Ante Baen punya, bukan hanya di mainan ini." kata Redi.
"Makanya Papa harus ikut main." kata Mora tersenyum.
"Tapi orangnya sudah empat, Papa mau jadi petugas bank dulu, nanti kalau hotelku banyak, aku kasih Papa satu." bujuk Mora, semua terbahak dibuatnya.
"Padahal Mam tidak pernah main monopoly." dengus Cadi.
"Mungkin waktu sekecil kita, sering main, makanya punya hotel." jawab Mora.
"Coba saja tanya Mam." kata Mora ikutan panggil Balen Mam."
Chandra cengar-cengir dengar komentar Mora tentang Mam, ia ingin menjelaskan tapi biarkan saja nanti Mora berisik lagi pertahankan pendapatnya. Mereka terus saja bermain monopoly dengan petugas bank nya tentu saja Redi yang tidak pernah bisa menolak keinginan anaknya.
Perhatian mereka teralihkan saat ada suara ramai-ramai membuka Pagar, beberapa Mobil masuki halaman rumah mereka. Tampak Mobil Nanta, Billian dan juga Lucky.
"Pada kumpul disini, Papa suruh?" tanya Redi pada Papa yang asik ngobrol bersama Ulan dan Mama Amelia.
"Tidak, mungkin Daniel dan Baen." jawab Papa James.
"Papa, Ayah Leyi ke sini kok?" tanya Mora kecewa karena maunya ia yang kunjungi Ayah.
"Iya sama Abang Billian tuh." kata Redi yang mengintip di jendela bersama para bocah.
"Pantaaa..." teriak Charlie langsung berlari menyambut kehadiran Nanta dan yang lainnya.
"Ada Papa Lemon juga." kata Chandra pandangi Larry.
"Ayo kita sambut, bereskan dulu mainannya." perintah Redi pada ketiga bocah yang masih standby. Mereka kompak langsung bereskan monopoly rapikan uangnya dan masukkan semuanya kedalam kotak semula. Lalu semua segera bergegas menyambut para tamu.
"Waah mau ada pesta kah?" tanya Papa James lihat para pria tampan didapur sedang sibuk dengan bahan yang akan mereka masak. Nanta, Raymond, Daniel, Larry dan Lucky memakai celemek. Badan mereka yang besar tentu saja memenuhi isi dapur.
"Kita mau masak untuk Baen." jawab Raymond pada Papa James.
__ADS_1
"Wow kalian semua?" Mama Amelia tampak heran.
"Iya demi Ibu hamil." jawab Raymond, sementara Balen yang sedang ngobrol bersama Kia dan Ulan cekikikan melihatnya.
"Kalian berlima didapur begitu mana muat." Mama Amelia tampak protes, tentu saja menghambat ruang gerak mereka di dapur.
"Seharusnya Bang Raymond saja." jawab Nanta.
"Eh mana bisa begitu, masa gue sendiri. Nanti rasa masakannya tidak jelas, Baen mana mau makan." oceh Raymond.
"Baen mau kok asal masakan Aban Lemon." teriak Balen yang sudah tidak mual, seruangan mual hanya terjadi pagi hari dan cukup menyiksa.
"Baen diam saja nanti tinggal makan." kata Lucky membela mertuanya.
"Nah ini menantu yang baik." Raymond langsung tertawa senang.
"Iya Baen diam." jawab Balen.
"Ada celemek lagi kah? biar aku bantu." Cadi sok iye.
"Tidak usah Nak, kamu temani Mama saja." kata Daniel benarkan topi cheft yang saat ini sedang dipakainya.
"Kalian bergaya seperti cheft professional saja." Papa James terbahak.
"Ini demi senangkan istri." jawab Daniel, Papa James dan Mama Amelia cekikikan sambil acungkan jempolnya.
"Aban masak apa sih?" tanya Balen.
"Yang gampang saja ya Baen, yang pentingkan kamu makan masakan Abang." kata Raymond.
"Iya." Balen setuju saja.
"Sop daging dan telur puyuh, suka kan?' tanya Raymond.
"Suka, memang Aban bisa?" tanya Balen.
"Tinggal cemplung-cemplung, bumbu sudah ditumis duluan." jawab Raymond nyengir.
"Siapa yang bikinin bumbunya?" tanya Balen.
"Bunda lah." jawab Raymond cengengesan.
"Berarti Bunda yang masak dong." protes Balen.
"Enak saja, kita sudah pakai seperti cheft begini, ini Nanta, Larry, Daniel dan Lucky bagian mengupas telur puyuh, telur puyuh loh ya bukan yang lain." komentar ya menjurus-jurus.
"Telur apa yang lain Papa Lemon?" tanya Charlie.
"Tuh Aban Baen jitak nih." omel Baen bikin semua terbahak, Raymond selalu saja tidak melihat situasi dan kondisi kalau mau bercanda nakal.
__ADS_1