
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
"Apa yang mau kamu bicarakan, Max?" tanya Ivanna.
"Sebentar, biar aku obati dulu lukamu itu. Dimana kotak p3k?"
"Ada di lemari." jawab Ivanna.
"Kamu ini kenapa ga minta aku datang sebelum itu? Aku syok saat tau kamu di apartment b*j*ngan itu! Untuk apa?"
"Aku ga mau kamu terluka seperti dulu, Max. Tadi aja kamu hampir tertembak lagi!"
"Hey gadis bodoh! Yang memiliki tugas melindungi itu laki laki bukannya perempuan! Kita terbalik, seharusnya aku yang melindungi kamu, bukan kamu yang melindungi aku."
"Apa bedanya? Sama aja! Intinya kita harus saling melindungi kan?"
"Itu betul, tapi aku mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu!"
"Masalahku sudah banyak, Max. Belum lagi nanti aku harus ke pengadilan untuk memastikan Reiner dipenjara."
"Sekarang biarkan polisi menangani masalah ini. Kamu istirahat saja." ucap Max.
"Baiklah. Terimakasih untuk segalanya, Max."
"Sama sama, cantik. Istirahatlah, kamu sudah melewati banyak hal hari ini."
"Bye, Max! Kamu istirahat juga!"
__ADS_1
"Siap tuan putri!" jawab Max.
Pagi hari tiba. Suara ramai terdengar di rumah keluarga William yang sedang sarapan bersama karna kedatangan 2 orang tamu yang menginap dirumahnya.
"Kasihan yah, Ivanna! Aduh mama ga tega melihatnya." ucap Vanessa.
"Ivanna itu anak yang kuat, mah. Papa yakin dia bisa melewati semuanya." saut William.
"Tapi, biar bagaimanapun dia juga anak perempuan, pah."
"Tenang mah, ada Max."
"Maksudnya, pah?"
"Maksud papa, ada Max, Ben, dan juga Nat yang membantu Vanna."
"Mama berharap semoga masalah Ivanna terselesaikan ya."
Tak ada perbedaan bagi Vanessa menganggap Ben dan juga Nat. Baginya, teman teman Max adalah anaknya juga.
"Taruh saja, ga usah dicuci, Nat." kata Vanessa begitu melihat Nat yang mau mencuci piring sehabis makan.
"Ga papa tante, biar Nat aja yang cuci."
"Ih kamu ini calon menantu idaman banget deh."
"Ekhem!"
Max yang sengaja pura pura batuk mendengar perkataan mamanya itu. Mendengar Max datang, Nat segera menyusul Ben dan William yang tengah berbincang di ruang tamu.
"Mam, apaan sih!" ucap Max.
__ADS_1
"Mama serius, Max. Nat ini menantu idaman mama banget. Cantik iyah, pintar iyah, penyayang iyah, semuanya deh perfect!" saut Vanessa.
"Nat itu hanya sahabat bagi Max, mam."
"Kalian kenal sudah lama juga kan? Kenapa ga kamu pepet aja?"
"Dulu Max memang pernah suka sama Nat, tapi perasaan itu cuma sebagai pelarian aja, mam. Max cintanya sama orang lain." jelas Max.
"Siapa orang lain itu?" tanya Vanessa.
"Nanti juga mama tau."
"Hey! Mama tanya siapa?"
"Mam, papa aja tau aku jatuh cinta sama siapa. Masa mama ga tau? Artinya mama kurang perhatian sama aku!"
"Dasar kau ini!"
"Aku serius mah, aku suka, cinta, dan sayang sama perempuan ini. Jadi aku harap mama juga setuju yah kalau aku sama dia!"
"Bagaimana mama mau setuju kalau kamu aja ga memberitahu siapa orang yang kamu maksud itu!"
"Nanti juga mama akan tau. Pikirkanlah....." ucap Max meninggalkan mamanya di dapur yang berkutik dengan pikirannya.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1