Because I Love You

Because I Love You
Future husband


__ADS_3

"Gue sudah hubungi Kia." kata Redi pada Lucky saat sudah tiba di apartment Ulan. Urusannya sendiri belum selesai, tapi sekarang sedang sibuk urusi percintaan Lucky.


"Diangkat? jam berapa dia terima telepon lu?" tanya Lucky penasaran.


"Iya gue ngobrol banyak sih. Tadi telepon setelah elu tutup telepon gue." kata Redi sambil perhatikan Ulan yang sibuk dengan buku-buku yang baru dibelinya. Pantas saja gadis ini dapat beasiswa, waktunya hanya diisi untuk belajar dan membaca buku, walaupun tampilannya bukan seperti kutu buku, batin Redi.


"Ck, padahal tadi gue juga telepon bahkan gue chat, tidak di respon." keluh Lucky bikin Redi tertawa.


"Apa yang lucu sih, Red?" tanya Lucky sedikit kesal.


"Elu tuh lucu tahu, masa tidak bisa hadapi Kia."


"Ngomong sih gampang." Lucky bersungut, masih terdengar tidak semangat.


"Masih tidak mau mengaku kalau elu suka Kia?" tanya Redi.


"Gue suka dan sayang sebagai keponakan." jawab Lucky cepat.


"Keponakan my ***." Redi terbahak.


"Pilih kasih lu, keponakan lu bukan Kia saja." dengus Redi.


"Apa sama keponakan yang lain, kakak Lucky begini juga?" Redi menggoda Lucky.


"Sepertinya sama." jawab Lucky ragu.


"Ada Bima, Aca, Shaka, sama mereka begitu juga tidak? you are so over protect to Kia." Redi terkekeh.


"Kia perempuan, gue harus jaga Kia." jawab Lucky cepat.


"Bukan tanggung jawab elu juga." Redi menyentil Lucky.


"Gue harus tanggung jawab lah, secara kita tuh sudah bersama dari Kia lahir." jawab Lucky.


"Sama Baen tidak begitu, Baen juga perempuan loh." Redi mendengus.


"Bahkan elu tidak seperhatian itu juga sama Ulan yang jelas-jelas jauh dari orangtuanya." Redi membuat Lucky berdecak.


"Lu mojokin gue banget." dengusnya.


"Ayo lah, mengaku saja. Tidak berani?" Redi menantang.


"Harus mengaku apa, gue tulus dan sayang sama Kia, kita keluarga." jawab Lucky.


"Yah, sampai segitunya jaga Kia dari cowok-cowok lain. Kamu terlalu posesif kakak." Redi ingatkan Lucky.

__ADS_1


"Ck, Kia terlalu polos, takut gue dia bertemu cowok berandalan." Lucky masih berkelit.


"Alex sepupu gue, gue jamin bukan berandalan. Kenapa di block handphonenya?" tanya Redi.


"Gue belum kenal Alex." jawab Lucky.


"Gue jamin seratus persen Alex anak baik, biarkan dia dekat sama Kia. Dia bisa menjaga Kia." pancing Redi.


"Nomornya sudah gue hapus dari nomor Kia." desah Lucky, Redi terbahak dibuatnya.


"Noah juga baik, mapan dan berprestasi. Cocok juga sama Kia." Redi pancing emosi Lucky.


"Ck, Noah adiknya Hilma, nanti Kia diapa-apain sama Hilma." Lucky kembali berdecak.


"Kan elu nanti menikah sama Hilma, aman lah." goda Redi jahil.


"Gue sudah bilang, gue tinggalin Hilma demi menjaga hubungan persaudaraan gue sama Kia." jawab Lucky tegas.


"Jadi, tidak mau hubungan lu sama Kia rusak toh, gue kasih tahu ya Lucky, perasaan lu bukan perasaan Om sama keponakan pada umumnya." Redi tidak kalah tegas.


"Elu mana mengerti sih Red, apa yang gue rasa." dengus Lucky.


"Gue rasa elu yang tidak mengerti perasaan lu sendiri Lucky, Winner Abang lu mengerti, makanya dorong elu supaya menikah sama Kia."


"Kalian salah sangka." kesal Lucky lalu matikan teleponnya. Redi tersenyum lalu letakkan kembali handphonenya di meja.


"Kamu menguping?" Redi bercandai Ulan.


"Kedengaran Abang." jawab Ulan tersipu.


"Manis banget sih." kata Redi jujur pandangi Ulan, bikin Ulan salah tingkah dan pura-pura sibuk kembali dengan bukunya .


"Baca apa?" tanya Redi mendekat. Ulan hanya tunjukkan judul bukunya tanpa berani menatap Redi lama.


"Tentang apa?" tanya Redi lagi lalu duduk disebelah Ulan.


"Ndak tahu, baru baca sedikit." jawabnya bikin Redi tertawa, kalaupun belum dibaca pasti sudah baca garis besar isi di sampul belakang buku tersebut.


"Ulan..." Redi menghela nafas panggil Ulan.


"Iya?" Ulan mendongak menunggu Redi bicara.


"Acara Ichie kamu ke Indonesia kan?" tanya Redi, Ulan menarik nafas lega ternyata Redi membahas acara pernikahan Richie bulan depan.


"Sepertinya ndak bisa, Bang." jawab Ulan setelah mengingat jadwal kuliahnya, apalagi kemarin itu sempat tidak masuk beberapa hari karena ikut ke Ohio.

__ADS_1


"Tiga hari saja, berangkat jumat, minggu sudah pulang, senin kamu bisa kuliah lagi, acaranya hari sabtu." Redi membujuk Ulan.


"Sayang ticketnya, Bang." Ulan tersenyum, beneran pemborosan pikir Ulan. Walaupun Ulan bisa saja minta Masanta untuk belikan ticket, tetap saja itu pemborosan untuk Ulan.


"Tidak apa Ulan, ada sponsor yang bayari ticket kita." jawab Redi tersenyum.


"Siapa?" tanya Ulan.


"Papi Mario." jawab Redi naikkan alisnya.


"Mau kan? aku masukkan nama kamu nih di list, Belin lagi tanyakan siapa saja yang akan ke Indonesia." kata Redi tunjukkan pesan yang diterimanya dari Belin.


"Kasihan repotkan Papi." jawab Ulan.


"Tidak repot kalau Papi yang menawarkan." jawab Redi.


"Ulan sendirian berangkat dari sini?" tanya Ulan.


"Sama aku, aku berangkat dari sini juga." jawab Redi, demi cinta ya harus sedikit berkorban jemput future wife dulu ke Kyoto.


"Bertemu di Tokyo saja ya, Bang. Jadi Abang tidak perlu ke Kyoto lagi." jawab. Ulan, Redi langsung tersenyum dan anggukan kepalanya.


"Nanti setelah acara Richie, boleh ya aku kenalan sama Mama dan Papa kamu?" pinta Redi pada Ulan yang langsung menegang dibuatnya.


"Kan, aku sudah menginap disini, masa tidak kenal sama Papa dan Mama kamu sih, kalau perlu sekalian kenalan sama Eyang kamu." Redi sok santai gitu, padahal ia juga kebat kebit lihat ekspresi Ulan.


"Iya, sepertinya Mama dan Papa datang ke acara Ichie deh, Krisna adik Ulan juga datang." jawab Ulan.


"Nah kamu bisa kangen-kangenan sama mereka tuh." kata Redi pandangi Ulan.


"Iya, sayangnya disana hanya sebentar, kalau dipikir capek dijalan saja ya Bang." Ulan terkekeh.


"Ya kan demi keluarga, tidak masalah." jawab Redi.


"Iya sih." Ulan tersenyum manis, duh kalau keseringan lihat yang manis-manis begini harus banyak minum biar tidak batuk hatiku, pikir Redi sambil tertawa geli sendiri, betapa noraknya gue, batinnya lagi.


"Abang kenapa tertawa sendiri." Ulan menatap Redi ingin tahu.


"Aku kan sudah pernah kenalkan kamu sebagai future wife waktu di Ohio." jawab Redi dengan senyum melengkung dibibirnya.


"Iya terus?" Ulan sedikit menahan nafas, tutupi salah tingkahnya.


"Nanti saat kamu kenalkan aku sama Mama dan Papa kamu, juga sama adik kamu, mendingan kamu kenalkan aku sebagai future husband deh." jawab Redi nyengir lebar, bodo amat deh Ulan mau bilang apa.


"Abang selalu saja bercanda." dengus Ulan lalu pukuli bahu Redi, sekarang Ulan yang sok santai tanggapi kalimat Redi barusan, beneran apa tidak nih Redi minta dikenalkan sebagai future husband, pikir Ulan.

__ADS_1


"Aku serius Ulan." Redi tidak lagi nyengir tapi pegangi tangan Ulan yang pukuli bahunya.


"Eh..." Ulan terbengong, bingung mau bilang apa, tapi tidak berusaha lepaskan tangannya yang kini sedang digenggam Redi.


__ADS_2