
"Kamu mau makan sop tahu?" tanya Lucky saat menyambut Kia di parkiran.
"Bukan Kia Om, tapi Beyin." jawab Kia jujur, sementara Redi cengar-cengir.
"Beyin, harus sop tahu kah? Om tidak tahu di sana ada menu itu atau tidak. Kalau tidak ada setelah makan kita cari, bagaimana?" Lucky tanyakan Belin.
"Oh santai Om, Beyin bisa makan yang lain kok, tidak harus itu." jawab Belin tersenyum.
"Perhatian sekali." Redi menggoda Lucky.
"Perut itu yang utama." jawab Lucky tertawa.
"Dari mata turun ke perut." sahut Balen cekikikan.
"Ih tidak nyambung Baen." Richie menoyor kepala kakaknya sambil tertawa.
"Karena besok kita pisah negara, Baen ndak marah nih Chie." kata Balen malah bergelayut manja di lengan adiknya.
"Kangen pasti sama gue." Richie terkekeh.
"Pasti Ichie, kita mana pernah pisah lama sih." Balen tertawa.
"Tapi kan sekarang sudah full tanggung jawab Bang Daniel, jadi kita sudah serah terima saat kalian ijab kabul." kata Richie lagi.
"Kabari Baen nanti Ichie menikahnya dimana? S'pore apa Indonesia?" tanya Balen.
"Jakarta lah, Opa Santoso kan di Jakarta, Oma Nina juga tidak mau naik pesawat lagi." jawab Richie.
"Mau Baen bawakan apa nanti dari Ohio?" tanya Balen lagi.
"Iphone Ante, buat aku." Bima langsung saja ikutan padahal yang ditanya itu Richie.
"Kalau Panta ijinkan." jawab Balen naikkan alisnya.
"Ah Ante mah." Bima pasang wajah kecewa.
"Ulan, nanti Ichie menikah Ulan ke Jakarta ndak?" tanya Balen lagi abaikan Bima, perlahan Lucky sudah menggiring mereka berjalan kaki menuju restaurant. Arah lain dari restaurant yang tadi siang Redi dan Lucky kunjungi.
"Tiga bulan lagi ya Chie?" tanya Ulan.
"Iya, Kak. Datang loh, nanti aku sedih kalau Kak Ulan tidak datang." kata Richie pada Ulan.
"Ulan usahakan datang deh, ulan cari kerja part time dulu buat kumpulin ongkosnya." kata Ulan tersenyum.
"Ih, ada Aban." Kata Balen cepat.
"Masanta Ulan mintakan tiket liburan ke Ohio kemarin." jawab Ulan.
"Oh Ohio sih urusan Aban Ledi." Balen langsung cekikikan.
__ADS_1
"Iya kan Ledi? Ulan ke Ohio Ledi tanggung semua?" Balen langsung saja tembak Redi.
"Yah, Ulan tinggal sebut deh kapan mau berangkat." jawab Redi.
"Beyin juga dong." tidak mau kalah si Belin.
"Kamu mau ke Ohio juga?" tanya Redi, Belin mengangguk cepat.
"Tidak bisa berbarengan sama Ante Ulan tapi ya, waktu libur kalian berbeda." kata Redi pada Belin.
"Yah tidak seru dong." Belin bersungut.
"Beyin kita saja, nanti saat liburan." kata Kia semangat ingin liburan ke Ohio juga.
"Nanti Om temani." Lucky langsung tawarkan diri. Daniel terkekeh dibuatnya.
"Lama-lama jatuh cinta lu." bisik Redi pada Lucky.
"Hmm... masa sih." masih menolak, Daniel kembali tertawa, mereka bertiga kini karena Balen sibuk bersama Richie dan Ulan, mungkin melepas rindu karena besok mereka akan berpisah sementara waktu.
"Kita boleh ikut lagi Om?" tanya Shaka pada Lucky.
"Kalau orang tua kalian mengijinkan." jawab Lucky santai. Ia senang saja liburan bersama geng rusuh ini, seru juga mereka dan tidak merepotkan.
"Huraaaiiii." Shaka langsung gunakan gaya andalan kalau lagi senang.
"Baen I'm gonna miss you." Ulan memeluk Balen erat. Setelah mereka selesai makan malam dan keluar dari restaurant.
"Duh Ulan jangan bikin Baen sedih dong. Nanti kita kumpul di Indonesia ya." bisik Balen pada Ulan.
"Yah..." Ulan anggukan kepalanya, berat sekali rasanya melepas kepergian Balen besok, maunya Ulan mereka ada di dekatnya selama Ulan di Kyoto. Tapi mana bisa begitu, semua punya kesibukan masing-masing. Malam ini terakhir berjumpa karena besok pagi Ulan harus ke kampus dan semuanya akan bertolak ke Tokyo.
"Kamu baik-baik ya disini, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku." pesan Redi saat gilirannya bersalaman dengan Ulan, tidak pakai pelukan ataupun kecupan, karena masih terlalu dini, walaupun sebenar Redi ingin lakukan itu.
"Iya Bang." Ulan tersenyum manis.
"Semangat belajar biar cepat lulus ya Ulan, jaga kesehatan." sekarang giliran Daniel yang berikan pesan pada Ulan.
"Iya Bang." pasang wajah sedih karena kembali berjuang sendiri di negara orang.
"Ditunggu di Ohio loh Ulan." kata Redi lagi, jangan sampai Ulan lupa rencananya berlibur.
"Yah..." Ulan acungkan jempolnya, pasang wajah ceria ingat liburan walaupun matanya berkaca-kaca.
"Jangan lupa telepon aku." pesan Redi rewel, anak-anak tidak ada yang mengganggu, biarkan Om Redi lancarkan aksinya.
"Ledi Dei lah yang telepon Ulan, bagaimana sih." Balen mendorong bahu Redi sedikit protes.
"Iya itu sih pasti Baen, tapi kan gue juga mau Ulan telepon gue." Redi terkekeh.
__ADS_1
"Kak Ulan ndak nginap di hotel saja kah malam ini?" tanya Richie kembali membujuk Ulan.
"Tanggung lah, pagi sekali Ulan harus ke kampus, kalau menginap di hotel nanti terburu-buru. Bahan materi seminar besok masih ada yang belum selesai." Ulan jelaskan pada Richie.
"Mau kubantu?" Redi menawarkan.
"Tinggal ketik sih Bang. Materi sudah lengkap." jawab Ulan. Redi pun anggukan kepalanya.
"Perlu ditemani ngetik ndak?" tanya Balen pada Ulan.
"Baen mau temani?" tanya Ulan.
"Kita menginap di apartment Ulan deh, besok sebelum Ulan ke kampus kita balik ke hotel." Balen menatap Daniel dan Redi.
"Boleh." Redi langsung semangat.
"Tuh jadi Ledi dei bisa bantu Ulan ketiknya biar cepat." kata Balen.
"Yah kita ditinggal lagi." protes Bima pada Balen.
"Sama saja Bima, sampai hotel juga Ante langsung masuk kamar, ndak nongkrong lagi." Balen jelaskan pada Bima.
"Iya sih." Bima terkekeh.
"Lagi pula ya, besok pagi kan kita sama-sama ke Tokyo." kata Redi pada Bima.
"Iya hehehe." Bima kembali cengengesan.
"Aku mau peluk Ante Ulan." Bima hampiri Ulan dan memeluknya.
"Ck, cepat sekali sudah pulang saja." keluh Ulan balas memeluk Bima.
"Ante jaga kesehatan, jangan sakit-sakit ya. Kalau Ante sakit Panta kepikiran." pesan Bima pada Ulan.
"Iya." Ulan terkekeh, tapi terharu juga dapat perhatian dari Bima.
"Gantian Bim." kata Aca lagi. Bima lepaskan pelukannya dan sekarang posisinya digantikan Aca.
"Kamu jangan nakal loh di Jakarta, kasihan Panta sama Manta suka sakit kepala tuh sama kelakuan kamu." malah Ulan yang berpesan pada Aca.
"Aku sudah jadi anak baik Ante." jawabnya cengengesan.
"Ante kalau jadian sama Om Redi kabari." bisik Aca jahil. Ulan mengetuk jidat Aca, mereka tertawa berdua, sementara yang lain saling pandang tidak tahu apa yang mereka bahas.
"Aku setuju." bisik Aca lagi.
"Ish, sudah ah, pelukan lama sama kamu malah tambah kepikiran." Ulan lepaskan pelukan Bima.
"Berarti Ante ada hati sampai mikirin." desisnya bikin Ulan kerutkan dahinya. Apa iya baru juga dua hari bertemu, tapi jujur Ulan sedikit baper dengan perhatian yang Redi kasih hari ini.
__ADS_1