Because I Love You

Because I Love You
Kambing hitam


__ADS_3

"Kia pergi dulu ya, mohon doa restu." pamit Kia pada seisi rumah, tentu saja termasuk Lucky. Atas permintaan Balen semua yang mau ikut menyusul saja agar bisa kasih kesempatan Kia dan Noah ngobrol lebih lama, yang lain menyetujui, biarkan Balen pergi lebih dulu bersama Kia, bahkan Kia belum tahu jika para Om dan Tantenya akan ikut menyusul saksikan Kia berkenalan dengan Noah.


"Kamu yang antar Balen, Niel?" tanya Nanta pada Daniel.


"Iya, sekalian aku harus ke kantor sebentar, sebelum makan siang aku sudah di rumah kok." janji Daniel pada Nanta.


"Sekalian jemput Baen kan Aban nanti pulangnya?" tanya Balen.


"Iya." Daniel anggukan kepalanya.


"Ulan dan Tori kenapa tidak ikut?" tanya Lucky sepeninggalan Balen, Kia dan Daniel.


"Nanti Noah tidak fokus pada Kia." jawab Ulan apa adanya.


"Kalian serius sekali mau menjodohkan Kia sama Noah." Lucky gelengkan kepalanya.


"Jangan cemburu dong, Bang." Ulan menggoda Lucky.


"Siapa yang cemburu, hanya tidak habis pikir kok bisa-bisanya mau jodohkan Kia sama temannya Balen." dengus Lucky sedikit kesal.


"Mumpung Kia ada disini, Noah juga tidak punya pacar." jawab Tori naikkan alisnya sambil tersenyum.


"Seperti yang Abang bilang semalam, biar Kia tidak ganggu kamu terus kalau sudah punya teman yang lain." Nanta menepuk bahu Lucky.


"Siapa yang terganggu sih, aku senang saja kalau Kia mengandalkan aku" Lucky mendesah.


"Kita jalan jam berapa?" tanya Lucky pada yang lain akhirnya tidak sabar ingin menyusul Kia.


"Nanti kalau Baen bilang mereka sudah sampai di cafe." jawab Nanta.


"Apa tidak terlalu lama, Nanti keburu bubar mereka." kata Lucky tidak bisa sembunyikan ketidak sabarannya.


"Cinta bilang Bos." Redi menggoda Lucky.


"Ck, tidak seperti itu juga. Sama seperti Bang Nanta gue penasaran cowok seperti apa yang dikenalkan sama Kia. Tuh anak tidak pernah dekat dengan orang lain selain kita-kita ini." kata Lucky pada Redi.


"Iya, Kia sudah terlalu nyaman sama kita, sampai lupa bersosialisasi dengan yang lain. Sekarang saatnya kita perlahan biarkan Kia berteman dengan selain keluarga dan kerabat." Nanta berikan kelonggaran pada Kia, tentu saja semalam sudah berkomunikasi dengan Raymond. Lucky tidak bereaksi, hanya tunjukkan wajah datar.


"Jangan lupa kita harus selidiki siapapun yang dekat dengan Kia." kata Lucky setelah sesaat berdiam diri.


"Biar apa coba sampai segitunya?" Larry terkekeh, padahal dia juga sering kirim orang awasi Balen dan anak-anaknya, hanya saja saat ini Larry senang lihat Lucky gusar.

__ADS_1


"Biar amanlah, biar Kia tidak dipermainkan oleh para playboy." jawab Lucky.


"Playboynya kan kamu Lucky." Dania tertawakan adiknya.


"Ck, aku sedang tidak ingin bercanda kakak." Lucky mendengus.


"Kamu terlalu protect Kia sih kalau menurut kakak, tapi kamu bilang hanya anggap keponakan. Mestinya Bima dan Aca juga kamu perhatikan sebegitunya." Dania menghela nafas.


"Bima dan Aca itu laki-laki, Kak. Mereka juga harus ikut menjaga Kia, cucu perempuan satu-satunya loh, Ayah Eja dan Om Kenan pasti sedih kalau Kia kenapa-napa." bawa-bawa nama Reza dan Kenan, Nanta jadi cengar-cengir.


"Ya sudah kalau begitu kita jalan sekarang saja." kata Nanta menenghi, kasihan juga Lucky digoda terus.


"Abang Lucky harusnya perhatikan Ulan juga." Ulan menggoda Lucky.


"Kurang perhatian apa? kamu Abang jemput ke Jepang biar bisa ikut bersama kita. Sampai disini kamu sama Redi saja terus." jawab Lucky menyeringai. Redi menjulurkan lidahnya pada Lucky.


"Ya Abang senang kalian saling perhatian sesama saudara." kata Nanta setengah menyindir.


"Tuh sesama saudara." bisik Lucky pada Redi yang tertawa mendengarnya.


"Jangan cari kambing hitamlah, dari kemarin bintangnya elu sama Kia." Redi terkekeh.


"Hei Baen." Noah menepuk bahu Balen yang sudah duduk santai bersama Kia sambil membolak-balik buku menu.


"Noah, see... Baen ndak telat kan?" Balen tersenyum bangga.


"Yah it's good." jawab Noah terkekeh.


"Ini Kia." Balen perkenalkan Kia pada Noah yang segera duduk dihadapan keduanya.


"Hai Kia... Kamu yang dulu sering ikuti Baen si lapangan tenis bukan ya?" tanya Noah tertawa ingat gadis kecil berlarian dilapangan saat Balen sedang latihan.


"Ih ingat aja sih." Balen jadi terbahak ingat Kia kecil.


"Masa sih dulu aku begitu?" Kia tersenyum malu sementara Noah yang duduk dihadapan mereka ikut tertawa ingat Kia kecil sambil anggukan kepalanya.


"Kamu mau kuliah di Ohio? ini aku bawakan brosur jadi kamu bisa pelajari dan memilih jurusan yang mau kamu ambil." kemudian Noah serahkan beberapa lembar brosur di dalam map.


"Ini ada beberapa university yang bisa jadi bahan pertimbangkan kamu Kia." kata Noah lagi bikin Kia terbelalak melihat Noah siapkan semua berkas yang dibutuhkan Kia.


"Terimakasih, Kak Noah baik sekali mau direpotkan." Kia tampak tulus, tak habis pikir ternyata cowok baik ada lagi.

__ADS_1


"Oh santai saja, kebetulan minggu kemarin aku habis keliling semua university di Ohio untuk keperluan pekerjaanku." jawab Noah tersenyum.


"Kak Noah bekerja disini ya?" tanya Kia atunsias.


"Iya, aku sudah selesai kuliah jadi harus bekerja." jawab Noah.


"Dia punya sekolah bahasa di Indonesia bekerja sama dengan salah satu sekolah disini." Balen menjelaskan. me


"Tidak bekerja di Indonesia?" Kia bawel sekali bertanya terus.


"Masih betah disini." jawab Noah terkekeh naikkan alisnya pada Balen


"Cewek sini cakep-cakep soalnya jadi Noah betah." jawab Balen membuat Noah melempar tissue yang sedang dipilin-pilinnya ari tadi.


"Selain itu Noah jagain Baen juga kalau Aban Daniel terlambat jemput atau ndak bisa jemput." Balen menangkap tissue dan lanjutkan membahas Noah dihadapannya orang yang dia bicarakan.


"Jadi supirnya Balen aku." kata Noah monyongkan bibirnya.


"Dia yang mau sih, Ante ndak pernah maksa." jelas Balen pada Kia.


"Iya Baen memang gue yang mau." Noah terkekeh.


"Nanti kalau Kia kuliah disini jadi supirnya Kia aja." kata Balen pada Noah.


"Baik Nyonya." jawab Noah bikin Balen terkikik geli.


"Apa lagi yang mau Kia tanya?" tanya Noah beralih pada Kia.


"Belum ada sih, Kia baca-baca dulu brosusnya, nanti kalau bingung baru Kia tanya deh. Ante nanti forward pertanyaan Kia ke Kak Noah ya." pinta Kia pada Balen.


"Repot ah, kamu langsung aja ke Noah. Noah kasih nomor Noah sama Kia dong. Kia juga gitu kasih nomor Kia sama Noah." Balen ajarkan keduanya.


"Ante kamu memang selalu seenaknya." kata Noah serahkan handphonenya pada Kia.


"Nah kalau sudah berbagi nomor handphone gitu, jadi lebih lancar kan. Baen soalnya banyak urusan. Mau konsentrasi kuliah sama urus anak diperut Baen nih." kata Balen bangga tunjuk perutnya.


"Wow, sudah hamil rupanya congratulations Baen, aku ikut senang." Noah tersenyum lebar.


"Sudah ndak patah hati kan?" tanya Balen konyol.


"Ada Kia kenapa harus patah hati." jawab Noah mengajak Kia tos. Balen jadi terbahak dibuatnya, sesuai perkiraan Balen keduanya bisa saling menghibur.

__ADS_1


__ADS_2