
"Loh ini anak jawa apa anak state sih, pakai blangkon?" sambut Reza saat Kenan beserta anak cucunya datang berkunjung. Sementara Chandra, Charlie dan Cadi cengengesan salami Reza dan Kiki. Tori bukan hanya bawakan mereka Blangkon tapi juga lengkap dengan celana batiknya. C's terlihat sangat lucu dengan seragam yang diberikan oleh tantenya.
"Anak Indonesia dong Opa." Daniel wakili ketiga anaknya.
"Apa kabar, Niel. Fixed tinggal di Jakarta kan? tidak akan minta kembali Ke Ohio." Reza menggoda Daniel.
"Fixed Ayah, Baen kalau tidak ada hotel sih rasanya tidak ingin kembali Ke Indonesia." Daniel terkekeh.
"Baen beneran begitu?" Bunda Kiki langsung tanya Balen.
"Ndak Bunda, kecuali semuanya ikut pindah kesana, Baen ndak mikir balik Jakarta deh." jawab Balen tertawa.
"Untung Oma sama Opamu siapkan hotel ya." Oma Nina terkekeh.
"Oma sih, ndak mau ke Ohio." Balen tersenyum pandangi Oma Nina yang sudah keriput tapi masih terlihat cantik.
"Paling enak di negara sendiri kalau Oma sih." kata Oma Nina yang duduk di kursi rodanya.
"Maaf ya Oma, semalam Baen ndak langsung kesini temui Oma. Harusnya semua kumpul disini aja semalam." Balen agak menyesal baru temui Omanya sekarang.
"Justru Oma yang minta supaya jangan disini, kalau habis magrib Oma sudah capek jadi pasti kalian tidak terlayani." kata Oma Nina pada Balen sementara Daniel menyimak sambil tersenyum pada Oma Nina.
"Mana ini cicit Oma." panggil Oma Nina pada C's. Ketiganya hampiri Oma Nina dan menyalaminya.
"Ayo katanya kalau bertemu Oma mau apa?" tanya Daniel pada Cadi.
"Aku mau kiss Omaaa." katanya manja, Oma Nina tertawa langsung sodorkan pipinya.
"Aku mau bilang I love you Oma." kata Charlie pada Oma Nina. Mereka semua ikutan panggil Oma pada Oma Nina atas perintah Balen. Biar Oma awet muda kata Balen.
"Kamu sering bilang lewat telepon kan sayang." Oma Nina terkekeh.
"Tapi kalau langsung bisa pakai peluk." jawab Charlie bikin Oma Nina gemas san langsung memeluk Charlie.
"Oma bingung mana yang Chandra mana yang Cadi?" tanya Oma Nina.
"Bedakan dari gaya bicara saja Oma. Cadi lebih terlihat manja." kata Daniel pada Oma Nina.
"Pap benar yang aku bilang kan, mereka sering dikira kembar." kata Charlie pada Papanya. Daniel tertawa dan anggukan kepalanya. Untuk yang jarang bertemu pasti akan bingung, tapi bagi Daniel dan Balen terlihat jelas perbedaan antara Chandra dan Cadi meski mereka saling diam sekalipun.
"Ganteng-ganteng betul sih cucu Opa." kata Reza pada ketiganya.
"Bibitnya dulu dong Opa." kali ini Kenan yang banggakan diri.
"Kalian lebih ganteng dari Opa dan Papon dulu loh." kata Reza jujur.
__ADS_1
"Eit jangan salah Opa, Opa sama Papon itu ganteng pada jamannya." kata Nona pada Reza dan Kenan.
"Oh iya dong, itu terbukti jelas. Ya kan Ma." Kiki tertawa minta persetujuan Oma Nina.
"Buktinya apa dek?" tanya Reza pada Kiki.
"Ada tetangga yang tergile-gile." jawab Kiki terbahak.
"Masa lalu." Reza terkekeh.
"Jangan dibahas deh, bikin gue sama Nanta rusuh itu." kata Kenan merangkul Nanta yang terbahak mendengarnya.
"Hampir tidak kenal Papa tuh aku." jawab Nanta masih tertawa.
"Kalau ndak kenal Papon ndak kenal Baen juga dong Aban." kaya Balen.
"Oh jangan dong, bisa nyesal Abang kalau tidak kenal kamu sama Ichie."
"Jadi kalian harus berterima kasih sama tetangga Mama tuh." Oma Nina ikutan.
"Iya benar, selalu ada hikmah deh ya." kata Nanta tersenyum.
"Apa sih Baen ndak ngerti?" tanya Balen bingung.
"Wes Wes Wes sudah tidak usah dibahas." Reza terbahak menepuk bahu istrinya yang sudah mancing-mancing bahas masa lalu.
"Iya kata Aban Nanta begitu, Ayah kok sudah dapat berita? cepat sekali menyebar." Balen tertawa.
"Lucky yang kasih tahu, dia tidak bisa ikut makan siang karena mengejar persiapan serah terima lusa." jawab Reza.
"Ya ampun Aban, jadi repotin Aban Lucky kan kalau begini." kata Balen pada Nanta.
"Berarti Kia juga ndak kesini?" tanya Balen.
"Iya lah, Kia kan asisten Lucky disana, sudah pasti semua data Kia yang tahu." jawab Nanta.
"Aban santai dulu sih, ndak usah buru-buru." kata Balen pada Abangnya.
"Mana bisa santai, kita semua di kejar dateline." Nanta tertawa.
"Duh Baen ndak kuliah perhotelan lagi, nyesal deh." gumam Balen terdengar oleh Daniel.
"Kamu ada kursus singkat kan? itu bisa dipakai loh." Daniel ingatkan Balen.
"Iya tapi ini kan praktek, kalau teori sih Baen jago." jawab Balen sombongkan diri.
__ADS_1
"Mam aku mau praktek berenang sekarang." Cadi minta berenang.
"Berenang pakai blangkon yuk." ajak Charlie semangat.
"Mama tidak bawa baju ganti." kata Balen pada Charlie dan Cadi.
"Ah sayang sekali." Charlie sedikit menyesal, ia tahu dirumah Reza juga ada kolam berenangnya, tadi pagi hanya Chandra saja yang berenang, siang ini Charlie dan Cadi kegerahan.
"Ini masih siang Boy, nanti saja berenangnya kalau sudah sore supaya kalian tidak sakit kepala." kata Daniel pada Charlie dan Cadi.
"Ok Pap." Charlie anggukan kepalanya, Cadi ikut anggukan kepalanya meski mulutnya maju beberapa senti.
"Pintar betul anak Panta nih." Nanta mengacak anak rambut Charlie lalu Cadi, walaupun keinginannya berenang ditolak tapi tidak terlihat wajah kecewanya, Cadi tampak sedikit kecewa tapi teralihkan karena Chandra langsung mengajaknya bercanda. Mereka rebutan Blangkon saat ini.
"Richie mana?" tanya Reza.
"Jemput Ailen sama Galen di rumah Mario." jawab Kenan.
"Pasti ikut kesini itu Mario, mana bisa jauh dari duo bocah itu kalau mereka lagi di Jakarta." kata Reza. Benar saja tidak lama tampak Mario menggendong Ailen dan Richie menggendong Galen sementara Regina menggandeng Tori.
"Mama orang Amrik nih?" tanya Mario menggoda Balen.
"Papi..." Balen tersenyum hampiri Mario dan Regina.
"Ailen kok mirip Papi sih? bukan mirip Ichie atau Tori." Balen tertawa lihat keponakannya.
"Sayang Papi." jawab Ailen.
"Loh panggilnya Papi bukan Opa?" tanya Balen.
"Papi aja." jawab Ailen, Balen tertawa lihat Ailen memeluk erat Mario.
"Kamu cuma sayang Papi ya, tidak sayang Papon?" Kenan ikut hampiri Ailen.
"Sayang juga sih." jawabnya.
"Sudah besar masa digendong terus, ayo turun Papi capek tuh." kata Balen pada Ailen.
"Iya Papi?" tanya Ailen.
"Tidak kok, Papi senang." jawab Mario.
"Nanti malam minta pijit sama Mami tuh, sakit pinggang." kata Balen tertawa karena Ailen sudah berumur Lima tahun, tapi tetap saja dimanja oleh Mario.
"Ailen saja yang pijit Papi ya?" pinta Mario pada Ailen.
__ADS_1
"Galen aja." katanya bikin semua tertawa, katanya sayang tapi begitu disuruh pijit malah suruh adiknya yang baru berusia dua tahun. Dasar Ailen modus juga seperti Ante rupanya.