Because I Love You

Because I Love You
Ganggu


__ADS_3

"Kia Sayang, telepon Papa sekarang ya." pinta Lucky pada Kia setelah satu jam berlalu Kia juga belum menghubungi Papanya.


"Nanti saja Om." kata Kia malas-malasan, Lucky gelengkan kepalanya dan mengambil handphone yang ada dalam genggaman Kia.


"Oom, jangan sekarang." Kia mendengus.


"Om kasih tahu mertua kamu ya." ancam Lucky pada istrinya, sudah pasti Kia tidak berani, bisa dapat wejangan panjang dari Oma Lulu dan Opa Micko nanti. Saat Lucky mendial nomor mertuanya Lucky langsung serahkan pada Kia. Raymond tidak langsung angkat telepon, mungkin lagi sibuk, tapi tidak lama terdengar suara Roma.


"Mertua? hehehe sudah punya mertua saja ya, seperti mimpi." Kia terkekeh, belum Lucky menjawab sudah terdengar suara Roma yang lumayan menggelegar.


"Kia, mau jadi anak durhaka kamu dari shubuh abaikan telepon Papamu?" Mamanya mulai ngomel.


"Mama..." pasang suara ceria tanpa dosa seakan tidak terjadi apapun.


"Baru punya suami sehari sudah lupa sama orang tua kamu ya." lanjut Roma lagi, padahal juga yang bikin punya suami itu siapa, pikir Kia menahan diri untuk tidak menjawab omelan Mamanya, takut dikira melawan nantinya.


"Mama..." panggil Mama lagi biar tidak ngomel.


"Masih ingat punya Mama?" eh masih kesal rupanya.


"Mama..." panggil lagi, mau tahu mau ngomel apa lagi nih Mamanya.


"Iya apa?" akhirnya berhenti ngomel, Kia langsung nyengir pandangi Lucky yang ikut menyimak sambil cengengesan.


"Papa telepon Kia, sekarang Papa mana? Kia lagi dirumah Opa Micko tadi sarapan bersama."


"Papa lagi ngobrol sama Opa Eja, kita mau ke Malang siang ini. Kamu sama Lucky kapan?" tanya Roma.


"Besok Kak Roma " teriak Lucky pada Roma.


"Masih panggil gue Kak, Lucky?" tanya Roma terkekeh.


"Istriku masih panggil aku Om, Kak Roma." Lucky ikut terkekeh.


"Kiaaaa, ganti! jangan panggil Om. Bikin malu saja." kembali ngomel, ketularan siapa Roma begini? Oma Monik tidak suka ngomel, pikir Kia dalam hati.


"Iya Mama, nanti Kia browsing panggilan apa yang pas buat Om Lucky." jawab Kia nyengir, pagi-pagi sudah dengar nyanyian merdu Mamanya.


"Lucky, kasih tahu Kia dong, kamu mau dipanggil apa sama istri kamu." kalau bicara sama Om Lucky tidak pakai ngomel, tidak adil, pikir Kia lagi.


"Siap Kak Roma, sementara biarkan saja dulu, Kia masih adaptasi. Papa dan Mama juga memaklumi." jawab Lucky mencubit pipi Kia gemas.


"Sakit...!" protes Kia tanpa keluarkan suara, pandangi Lucky sambil cemberut. Lucky terkekeh lalu menarik Kia hingga duduk dipangkuannya. Mereka ada diruang keluarga saat ini, sementara Micko dan Lulu sudah masuk kamar lagi bermain bersama cucu mereka, Winner pun sudah berangkat ke kantor.


"Lucky kalau bisa kamu mampir ke rumah siang ini, kalian makan siang disini saja sekalian antar kami ke airport." undang Roma sekalian manfaatkan waktu bersama anak Dan menantu.


"Iya Kak, nanti kami kesana." jawab Lucky yang kini sandarkan dagunya dibahu Kia.

__ADS_1


"Papa tidak mau ngomong sama aku, Ma?" tanya Kia sebelum menutup teleponnya.


"Papa lagi sama Ayah Eja, tidak dengar ya tadi Mama sudah bilang?"


"Dengar, marah-marah terus sih? Padahal anaknya sudah nurut, dinikahkan tidak pakai rembukan, ikut saja demi keluarga supaya tidak malu." kata Kia lembut tapi mengenal, Roma jadi terdiam sesaat.


"Kia, sayang." terdengar suara Raymond.


"Iya Pa."


"Nanti makan siang disini ya, sama Opa dan Oma juga, lengkap." kata Raymond, kalau bilang lengkap berarti nanti Opa Alex dan Oma Monik juga akan makan siang bersama.


"Iya. Opa Micko ajak?" tanya Kia.


"Sudah di ajak tadi, tapi lagi ada cucu jadi tidak santai nanti mertua kamu." jawab Raymond.


"Oke Pa."


"Kia..." panggil Raymond.


"Ya Papa."


"Terima kasih ya jadi anak baik. I love you, Nak." Kia langsung meleleh dengarkan ucapan Papanya.


"I love so much Papa." jawab Kia.


"Mama?" terdengar suara Roma.


"Ish, enak saja tukang ngomel." Roma terkekeh, Lucky jadi senyum-senyum. Setelah mereka akhiri sambungan teleponnya Kia berusaha berdiri dari pangkuan Lucky, ini perdana bagi Kia dan Lucky, rasanya tentu saja bikin Kia nano-nano.


"Mau kemana?" Lucky menahan badan istrinya.


"Malu Om, nanti Opa dan Oma keluar." bisik Kia di telinga Lucky, ish Lucky sudah GR saja dikira Kia mau mencium pipinya.


"Memang kenapa? kan sudah menikah." Lucky menggoda Kia, matanya penuh hasrat, ah Lucky.


"Om..." Kia meringis salah tingkah.


"I love you." bisik Lucky lagi.


"Iih..." tambah salah tingkah, jantung Kia berdebar tak karuan.


"Om napain?" tiba-tiba saja Sinna anak Winner yang baru bisa berjalan hampiri Lucky dan Kia.


"Ih, unyil. Opa sama Oma mana?" tanya Lucky langsung bebaskan Kia dan sambut kedatangan keponakannya.


"Tuuh..." tunjuknya entah kemana.

__ADS_1


"Yuk ke Opa lagi." ajak Lucky mau kembalikan bocah imut yang mengganggu kesenangan Lucky barusan.


"Ndak au." menolak sambil majukan mulutnya.


"Sini sama kakak." Kia ulurkan tangannya ingin menggendong keponakan Lucky yang sekarang juga jadi keponakan Kia.


"Ndak au." gelengkan kepalanya


"Maunya apa?" tanya Lucky.


"Cini aja." jawabnya kenes senang duduk dipangkuan Lucky gantikan posisi Kia tadi.


"Ih, Om mau pangku Tante Kia." kata Lucky pada keponakannya, memang benar itu yang Lucky mau.


"Ndak boyeh Om." gelengkan kepalanya.


Sementara dikamar Micko dan Lulu tertawa puas amati Lucky, Kia dan Sinna cucunya melalui CCTV.


"Gayanya yang tidak mau menikah, pakai mau tunangan saja." Micko terkikik geli.


"Kamu jahil ya, ganggu mereka saja, kalau dibiarkan pasti tadi Kia sudah di kiss." kata Lulu menepuk bahu Micko.


"Biar saja, siapa suruh pamer kemesraan, sudah tahu ada cctv." Micko terbahak, kembali fokus pada CCTV.


"Pa, aku mau ke rumah mertua nih." kata Lucky yang tahu Papanya pasti mendengar perkataan Lucky.


"Tuh kan sengaja betul tadi dia pamer." kata Micko lagi.


"Ma, Sinna aku ajak ya." kata Lucky lagi.


"Eh Pa, jangan sampai diajak itu Sinna, Mama masih kangen." Lulu langsung panik, mumpung cucu lagi di rumah puas-puasin bermain bersama. Micko dan Lulu bergegas keluar kamar, butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke ruang keluarga.


"Sinna sini sama Oma." Lulu ulurkan tangannya.


"Ndak au Oma, Om aja." entah kenapa Sinna maunya sama Lucky saja.


"Panas dia lihat kamu pangku Kia tadi." kata Micko pada Lucky dengan santainya, sementara Kia menutup mulutnya tanpa sadar, ternyata Opa Micko dan Oma Lulu melihatnya, malunya bukan kepalang.


"Cemburu ya?" Lucky terkekeh mengacak anak rambut keponakannya.


"Om sayang Tante Kia." kata Lucky ambil kesempatan mencium Pipi Kia, pura-pura panasi Sinna, tidak peduli ada Papa dan Mamanya.


"Ih, ndak boyeh, Om Akkuu." protes memeluk Lucky.


"Wah cium lagi dong Tante Kia nya Om." halah malah tambah-tambah bikin Lucky semangat ini Oma Lulu, Lucky kembali ciumi Pipi Kia di depan Mama, Papa dan keponakannya.


"Tante Kia cium Sinna deh." Kia langsung hampiri pipi Sinna tapi Lucky cepat tanggap malah sodorkan pipinya. Dasar Lucky ambil kesempatan, tidak peduli Sinna yang sedikit tergencet badannya dan badan Kia.

__ADS_1


"Lucky ya ampun, gepeng deh cucu Mama." Lulu langsung menepuk bahu bungsunya dan Sinna pun ikut menepuk bahu Om nya.


"Om Nakkai." omelnya bikin Lucky terbahak, sementara Kia sudah tidak tahu mau pasang ekspresi bagaimana karena kelakuan Om kesayangannya itu.


__ADS_2