
"Bagaimana dokter?" tanya Daniel setelah dokter Ranti memeriksa kondisi kandungan istrinya.
"Hanya keram saja Pak, mungkin tadi Ibu Balen angkat berat ya." jawab dokter Ranti, "Tapi kondisi aman kok tidak ada masalah." lanjut dokter Ranti, ia sudah siap saja kalau Balen harus melahirkan saat ini juga.
"Kamu angkat apa tadi sayang?" tanya Daniel pada Balen.
"Baen lupa, Aban." jawabnya.
"Coba di ingat lagi, supaya kamu tidak lakukan itu karena berbahaya." pinta Daniel, Balen berpikir keras apa yang diangkatnya,
"Perasaan Baen ya, cuma pangku anak cewek yang Manis itu loh, yang paling kecil." kata Balen akhirnya ingat saat sarapan tadi pagi ia suapi gadis kecil yang paling menyita perhatiannya. Yang baru saja ditinggal pergi Ibunya untuk selamanya, bikin Balen selalu menghiburnya.
"Kirana ya." Ranti juga mengingat gadis itu.
"Iya cantik ya dokter." malah ajak dokter Ranti bahas Kirana.
"Aban, Kirana jadi anak kita aja." pinta Balen pada Daniel.
"Kamu mau adopsi?" tanya Daniel.
"Kalau Aban setuju."
"Kita bicarakan dulu sama keluarga ya, lagi pula Kirana masih ada Papanya." jawab Daniel.
"Tapi dia ndak punya Mama."
"Nanti kita bahas, dokter apa istri saya perlu bedrest?" tanya Daniel.
"Ndak sampai begitu Aban." protes Balen bikin dokter Ranti terkikik geli.
"Bikin stress nih suami saya sama anak-anak." Balen mengadu pada dokter Ranti.
"Alhamdulillah banyak yang sayang ya bu." jawab dokter Ranti.
"Iya sih." Balen langsung senyum-senyum malu merasa seperti tidak bersyukur.
"I love you Aban." katanya pada Daniel yang menahan senyum pada istrinya. Daniel hanya mencebik.
"Abaaan..." teriak Balen tanpa malu pada dokter Ranti.
"Manjanya itu dokter." kata Daniel pada dokter Ranti sambil mengecup dahi istrinya, dokter Ranti jadi risih sendiri dengan tingkah suami istri ini.
"Jawab Aban." desak Balen pada Daniel.
"I love you, I love you." jawab Daniel tersenyum manis, ah sayang suami orang, batin dokter Ranti melihat ketampanan Daniel.
"Saya sudah bisa duduk di bangku sana dok?" tanya Balen.
"Bisa bu." jawab dokter Ranti tersadar dari kehaluannya mengagumi suami orang.
"dokter kalau mau bergabung dengan. anak muda silahkan." kata Daniel persilahkan dokter Ranti bergabung di gerbong sebelah, karena dia cukup akrab dengan Vina kemarin.
"Saya disini saja, khawatir Ibu Balen keram lagi." jawab dokter Ranti.
"Team dokter ada digerbong sebelah kan?" tanya Balen.
"Iya bu."
"Kalau Baen bilang sih mending ke gerbong sebelah banyak yang ganteng dan single loh." kata Balen kembali promosikan anak-anaknya.
__ADS_1
"Semangat sekali istri saya mau jodohkan dokter nih." Daniel terbahak.
"Iya nih bu Balen, saya jadi malu." dokter Ranti tersipu.
"Habisnya ya, sudah cantik, dokter pula anak Baen juga Ganteng, mapan."
"Mereka belum tentu mau sama saya Bu." jawab dokter Ranti merendahkan diri.
"Percakapan wanita, saya tinggal ya." Daniel segera biarkan Balen berbicara dengan dokter Ranti, pembicaraan tidak penting menurut Daniel.
"Suami Ibu ganteng." kata Dokter Ranti tidak bisa menahan diri.
"Iya." jawab Balen tersenyum.
"Tapi dokter ndak boleh suka sama suami saya loh." kata Balen to the point.
"Iya bu, saya cuma iri saja, semoga nanti dapat suami juga Ganteng dan perhatian seperti suami Ibu."
"Ih dokter bikin ngeri deh, jangan bilangnya seperti suami saya dong, kesannya kalau begitu dokter naksir suami saya." sungut Balen.
"Ih Ibu, hanya kagum kok."
"Ndak boleh kagum-kagum sama suami orang." jawab Balen terkekeh.
"Ayo kita ke gerbong sebelah." Balen beranjak, antarkan dokter Ranti agar lebih dekat dengan Bari atau Shaka. Tentu saja sang dokter mengikutinya.
"Maaam sudah sehat?" sambut Cadi saat melihat Balen, ia duduk paling depan bersama Kirana.
"Sudah, eh Kirana." Balen langsung tersenyum dengan wajah berbinar.
"Duduk berdua dengan Abang Cadi ya." kata Dokter Ranti pada Kirana.
"Kamu nih gampang sekali akrab ya, Mama senang."
"Modus." celutuk Shaka.
"Eh Shaka, ini temani dokter Ranti ya." kata Balen langsung saja mengarah pada Shaka. Salah sendiri Shaka buka suara.
"Minggir lu Bim." usir Shaka pada Bima yang duduk disebelahnya.
"Iya Bima minggir." Balen setujui Shaka.
"Eh buset Ante." Bima terkekeh lalu segera berdiri persilahkan dokter Ranti duduk dikursinya.
"Mas nya duduk di mana?" tanya dokter Ranti.
"Kalau minta pangku sama dokter kan tidak sopan." jawab Bima mendapat pukulan keras di Panta*t nya dari Billian.
"Duh perjaka gue bisa hilang nih." teriak Bima semua terbahak, suasana gerbong kembali rusuh.
"Bima banyak anak-anak." desis Balen pada Bima.
"Iya Ante, kenapa kesini sih? sidak ya?" tanya Bima jahil.
"Antarin Ante balin gerbong Bim." ajak Balen.
"Disini saja Ante, duduk dekat aku." Bima membujuk Balen.
"Nanti Baen di cari." jawab Balen.
__ADS_1
"Duh Om Daniel..." gerutu Bima saat melihat Daniel menyusul.
"Tuh kan." Balen terkikik geli.
"Ayo sayang." Daniel ulurkan tangannya.
"Duh Pak Daniel bikin iri deh, Pasangan idaman ini." celutuk dokter Ranti.
"Shaka, bisa kan seperti Om Daniel nanti sama istrinya?" tanya Balen.
"Aku lebih perhatian dong Ante, Om Daniel mah tidak ada apa-apanya." jawab Shaka, semua rusuh soraki Shaka.
"Semoga lancar ya." kata Balen cengar-cengir jahil.
"Shaka, dokter Ranti di jaga ya jangan sampai lecet." pesan Balen, semua teriak suit-suit rusuh. Setelahnya keduanya kembali Ke gerbong mereka, sementara yang ditinggal sudah rusuh bertambah rusuh saja.
"Ranti, mau duduk sama gue?" Vina menawarkan.
"Terus gue pindah?" tanya Billian, Vina cengengesan.
"Biar enak ngobrolnya." jawab Vina.
"Tidak usah, gue sama Shaka saja." jawab Ranti.
"Merina, sama siapa?" tanya Ranti pada temannya.
"Itu sama adik Keana." jawab Vina tunjuk Merina.
"Aban, dokter Ranti tuh suka sama Aban tahu, makanya Baen antar ke gerbong sebelah." kata Balen setelah mereka duduk manis.
"Abang siapa dulu dong." jawab Daniel.
"Aban Baen, ndak boleh ada yang suka." jawab Balen posesif.
"Suka biasa saja tidak apa." jawab Daniel.
"Eh Aban nih, jangan bikin Baen kesal deh."
"Maksud Abang paling tidak suami kamu tuh tidak menyebalkan, jadi orang suka karena tidak menyebalkan.
"Tadi dia berdoa dapat suami seperti Aban, Baen bilang aja bikin ngeri." sungut Balen.
"Jadi bagaimana? pindah dokter lagi?" tanya Daniel, ya ini sudah kesekian kalinya Balen cemburu pada dokter kandungan yang menanganinya.
"Yang laki-laki aja Aban, kalau ndak yang cewek tapi seumuran Mama Amel atau Mamon, jangan yang muda-muda masih lajang gitu deh."
"Iya sayang." Lucky terkekeh mendengar percakapan Balen dan Daniel.
"Dokter Airing saja tuh yang bantu lahiran Raymond." kata Kiki pada Balen.
"Seumuran Bunda?"
"Lebih tua." jawab Kiki.
"Memangnya dia masih praktek?" tanya Balen.
"Tidak tahu." Kiki terbahak.
"Ih Bunda mah, Aban Baen mau laki-laki atau perempuan sepuh." pintanya lagi. Daniel terkikik geli sambil anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Aaah Aban, perut Baen sakit lagi." teriak Balen bikin semua panik.