Because I Love You

Because I Love You
Buang


__ADS_3

"Halo..." Balen langsung tersenyum saat masuki rumah Opon. Semua berkumpul di ruang keluarga siap untuk makan siang bersama.


"Salaam dong, jangan halo." protes Opon pada cucunya.


"Ih Opon keren religious." Balen tertawakan Opon.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumusalaam Warahmatullahi Wabarakatuh." jawab Opon tersenyum manis sambil rentangkan tangannya minta dipeluk Balen.


"Opon kangen Baen kan?" Balen terkikik geli lalu peluki Opa Baron.


"Sesekali disini malah menginap di hotel." gerutu Opon bikin semua tertawa.


"Itu Kisna juga kangen Opon tuh." tunjuk Balen pada Krisna.


"Sehat kamu Krisna?" tanya Opon menggeser tubuh Balen membuat semua kembali tertawa.


"Ya ampun, Opon!" Balen gelengkan kepalanya. Daniel tertawa mengambil alih istrinya.


"Baen dibuang gitu aja." gerutu Balen bikin Opon terbahak.


"Siapa yang buang kamu sih, tuh langsung dipungut Daniel."


"Enak aja emang Baen apaan pungut."


"Tadi kan kamu bilang buang." Opon masih terbahak.


"Opon sama Kisna aja, Baen mau bobo hotel lagi." sungutnya.


"Enak saja." Mamon yang komplen anaknya kembali akan menginap di hotel.


"Kisna, sini dong. Mamon juga kangen loh." Nona langsung hampiri Krisna dan memeluknya.


"Kenapa tidak jadi sekolah di Jepang?" tanya Nona pada Krisna.


"Mama, nangis terus mulai dari dipesawat sampai selama di Jepang, Lah bagaimana mau daftar kalau Mamanya begitu." sungut Krisna, Kenan tertawa mendengarnya.


"Mbak Tari cengeng juga ya." Nona tertawa.


"Sepi Non, aku sama Papamu juga sepi tidak ada anak-anak disini, kecuali kalau kalian atau Vicky datang baru ramai." kata Mita pada Nona.


"Iya sih, kita beruntung ada Nanta, Dania dan anak-anaknya ya, Mas." menepuk paha suaminya.


"Iya. Cuma kasihan Nanta, kami kasih pindah rumah tapi cucu kami sandera." Kenan terbahak, Bima dan Aca sempat tidak boleh ikut pindah.


"Kamu nanti saja sekolah di Jepang kalau Ulan sudah kembali ke Malang." Oma Mita beritahukan Krisna.


"Iya Bude." jawab Krisna, memanggil Mita Bude karena masih sepupu Mamanya. Harusnya panggil Opa Baron Pakde, tapi Opa Baron minta dipanggil Opon biar tidak pusing kalau Krisna sedang berkumpul bersama Balen dan Richie.


"Chie, nanti kamu tinggal disini loh ya, kecuali kamu sudah menikah baru boleh pindah." kata Opa Baron pada Richie.


"Iya Opon."

__ADS_1


"Kapan kamu mulai bekerja?" tanyakan pada Richie.


"Nanti ya Opon, Setelah Baen kembali Ke Ohio." kata Richie pada Opon.


"Kenapa begitu?" tanya Opa Baron.


"Dia kan mau antar Baen ke Bandara." jawab Balen.


"Ichie mau ikut Ke Jepang." Richie terkekeh.


"Hei mana boleh." Nona langsung menolak.


"Mamon sebelum sibuk, Ichie refreshing dulu dong." ijin sama Mamon setelah memutuskan sendiri.


"Suka seenaknya ini anaknya Kenan." gerutu Nona bikin Samuel dan Deni rusuh.


"Jangan comment." tegas Nona pada keduanya yang tertawa geli.


"Boleh ya Papa, Ichie ikut ke Jepang?" membujuk Papanya.


"Ya." Kenan setujui keinginan Richie.


"Mas Kenan ini selalu manjakan anak-anak." gerutu Nona bikin Kenan merangkul istrinya.


"Kamu mau kita ikut juga?" tanya Kenan bikin Nona senyum bahagia. Suaminya paling malas di pesawat lama, tapi entah demi Nona tidak merajuk atau demi Richie aman tidak diomeli Mamon, malah tawarkan ikut ke Jepang.


"Tidak usah sayang, cucu bisa rusuh minta ikut juga nanti, Pusing lagi Nanta dibuatnya." jawab Nona terkekeh.


Handphone Kenan berdering, pikirnya dari kantor rupanya cucu tercinta Bima yang hubungi Papon.


"Papon, kapan ke Jakarta?" tanya langsung tanpa basa-basi, pasti lagi peralihan mata pelajaran jadi bisa telepon.


"Besok." jawab Kenan santai.


"Memang Ante sama Om Daniel tetap di Malang?" pastikan pada Papon.


"Papon belum tahu, mereka belum bilang apapun." jawab Kenan pandangi Daniel dan Balen.


"Kalau iya, kita jumat malam mau ke Malang." kata Bima.


"Naik apa?"


"Mobil, ini sudah janjian sama yang lain."


"Boleh sama Panta dan Manta?" tanya Kenan.


"Tidak tahu, belum ijin. Sudah dulu ya Papon gurunya sudah datang." langsung tutup sambungan telepon.


"Kalian mau lebih lama disini?" tanya Kenan begitu tutup sambungan telepon bicara pada Daniel dan Balen.


"Ndak." jawab Balen gelengkan kepalanya.


"Ini Bima tanya. Dia bilang mau menyusul ke Malang." kata Kenan lagi.

__ADS_1


"Tadi kita bercandai Bima dan anak-anak di group." jawab Daniel tertawa.


"Biar saja Bima kesini, Opon juga kangen." kata Opa Baron.


"Ndak bisa Opon, Daniel ada urusan lain di Jakarta. Sebenarnya mau lama juga disini, tapi kita harus surat lainnya untuk ke berangkatan nanti. Daniel juga harus ke kebon jengkol, Daniel harus jual beberapa asset untuk kepindahan kami ke Jakarta nanti." kata Daniel pada Opa Baron.


"Kalian mau menetap di Jakarta lagi?" tanya Opa Baron.


"Kalau kuliah Balen sudah selesai." jawab. Daniel.


"Bisnis kamu disana?" tanya Opa Baron.


"Nanti Daniel bicarakan sama Redi, kalau Redi tidak mau meneruskan di Amerika, Daniel harus jual aset yang disana jadi kami hanya handle yang dari Jakarta saja. Karena kalau tidak pegang langsung rasanya tidak akan sebaik sekarang. Jengkol hanya disukai orang Indonesia dan Asia, jadi yang handel Daniel rasa harus orang kita juga." jawab Daniel.


"Baen tinggal di Malang saja nanti. Jadi aku ada kamu." bisik Tori pada Balen.


"Ya nanti Tanya si Bos dulu." Daniel menunjuk Daniel dengan dagunya.


"Kalau pada tinggal di Malang, Kisna senang sekali." Krisna terkekeh.


"Opon juga senang." jawab Opa Baron tertawa.


"Boleh saja, Rumah kita kosong, rumah Oma dan Rumah Bang Raymond juga kosong." jawab Kenan serahkan keputusan pada Daniel dan Balen, mengingat Balen sudah punya suami kini.


"Baen harus ngebut nih biar cepat selesai kuliahnya, jadi cepat pindah juga." jawab Balen.


"Papa dan Mama Daniel berharap Daniel dan Balen tinggal di Jakarta. Papa sudah mau rehat urus kantor Daniel." jawab. Daniel pastikan ia tidak mungkin pindah ke Malang nanti.


"Pengiriman barang juga dari Tanjung Priok ya, kalau disini kamu harus ke Surabaya." kata Kenan pada Daniel, pembicaraan mereka cukup serius pagi menjelang siang ini.


"Iya Papa." jawab Daniel anggukan kepalanya.


"Baen mau makan dong." memecahkan suasana, Oma Mita langsung beranjak ajak Balen ke Meja makan, walaupun belum waktunya makan siang, sudah tersaji beberapa menu di meja makan.


"Tori sini." mengajak Tori bergabung.


"Kisna ayo." suami sendiri tidak diajak.


"Kamu tidak ikut makan Daniel?" tanya Kenan pada menantunya.


"Nanti saja Papa, Daniel masih kenyang minum banyak jus Apel tadi." jawab Daniel jujur.


"Baen suami kamu tidak diajak makan?" tegur Om Samuel.


"Aban makannya rapi, Om. Nanti jam dua belas siang Aban harus makan tuh." jawab Balen.


"Loh nanti Abangmu makan sendiri?" tanya Ante Dini.


"Ndak, Baen makan lagi juga." jawab Balen mulai menyendok makanan ke mulutnya.


"Kita makannya dikit aja, nanti kita makan lagi." kata Balen pada Tori.


"Ya." Tori iya saja.

__ADS_1


"Bibi, gorengin pempek dong." lah tadi bilang makan dikit sekarang minta gorengin pempek, begitulah Balen.


__ADS_2