Because I Love You

Because I Love You
Gombal


__ADS_3

Selamat Lucky dan Kia atas pernikahannya, semoga bahagia. Betul kan kecurigaanku selama ini? bukan karena cemburu buta sama Kia, miris😌


Pesan dari Hilma, Lucky baca sambil menarik nafas panjang, rasanya tidak perlu menjelaskan apapun pada Hilma, karena kisah Lucky dan Hilma sudah lewat. Media sosial Opa Alex tentang pernikahan Lucky dan Kia trending satu, dan sejak semalam wajah Lucky dan Kia yang selalu muncul di jaringan sosial. Komentar para netijen yang mendukung ataupun menghujat tidak ada yang Lucky tanggapi, yang penting buat Lucky adalah kebahagiaan istrinya harus jadi prioritas.


"Hilma kirim pesan ucapkan selamat." kata Lucky pada Kia yang duduk disebelahnya dari tadi. Sepertinya Kia sudah ikut baca pesan Hilma tapi tidak berkomentar apapun. Saat Lucky beritahukan Hilma kirim pesan Kia hanya mengangkat alisnya seakan tidak peduli.


"Boleh di balas?" Lucky minta ijin istrinya.


"Terserah." Kia mengedikkan bahunya, terlihat acuh tapi Lucky tahu Kia kesal.


Terima kasih Hilma.


Lucky kirimkan balasan dan tunjukkan pada Kia.


"Jangan cemburu." bisik Lucky sambil terkekeh.


"Idih GR." dengus Kia mencibir bikin Lucky gemas ingin cium, apa daya masih di acara pernikahan Redi dan Ulan.


"Cabut yuk..." bisik Lucky lagi.


"Kemana?" tanya Kia pandangi Lucky.


"Mau berdua saja sama kamu." Lucky berdiri dan ulurkan tangannya pada Kia.


"Pamit dulu Om." kata Kia sambut uluran tangan Lucky, mereka berjalan ke arah Redi yang sedang berkumpul bersama keluarganya.


"Cabut ya." kata Lucky sambil salami Papa James dan Mama Amelia.


"Masukin dulu main cabut saja." kata Larry bikin semua terbahak, dasar Larry bikin otak mesum Lucky menjadi-jadi.


"Mau kemana?" tanya Redi pada Lucky.


"Hotel, gue sudah booking. Yuk..." ajak Lucky pada Redi.


"Sudah boleh ke hotel belum Ma?" tanya Redi tentu saja tertarik dengan tawaran Lucky.


"Kita kan disuruh menginap sama Eyang." kata Ulan ingatkan Redi.


"Ke hotel dulu nanti malam kesini lagi, bisa kan Ma?" dasar bontot tetap minta persetujuan Mama.


"Tanya sama Eyang dong, Mama sih bisa-bisa saja." jawab Mama Amelia.


"Mama dong yang bilang ke Eyang, bilang mau culik aku sebentar." gunakan power of Mama nih Redi, takut di blacklist sama Eyang rupanya.


"Tamu Eyang belum pada pulang." tunjuk Mama pada sekelompok penduduk desa yang sedang ngobrol sama Eyang.


"Mana sopan kamu tinggalkan mereka." kata Papa James ikut bersuara.


"Terima nasib deh Ledi Dei, jadi cucu kesayangan Eyang." celutuk Balen sambil cekikikan.


"Richie saja bisa tinggalkan pesta waktu acara." Redi bersungut.

__ADS_1


"Ini bukan Jakarta sayang, nanti Eyang bisa jadi bahan pembicaraan sekampung karena kamu." Papa James tegaskan pada Redi.


"Baiklah, Lucky you're so lucky men." kata Redi yang harus berbesar hati tidur di bilik tanpa pintu nanti malam.


"Oma, Opa, Ayah, Om, Ante, Kia ijin." absen Kia berpamitan pada semuanya.


"Minum vitamin Kia." kata Daniel menyeringai.


"Rese lu Bang." Lucky terkekeh.


"Benar itu, kasih Vitamin biar nanti ke Korea tidak lemas." Larry ikut-ikutan.


"Vitaminnya apa?" tanya Redi mau kasih Ulan vitamin juga.


"Kalau kamu sih masih tidur di bilik, rasanya tidak perlu?" jawab Larry, semua terbahak dibuatnya.


"Suami Kak Yumi rese." dengus Redi pada Rumi yang tertawa mendengarnya.


"Aban Leyi Baen tuh." Balen tidak terima Larry dibilang rese, semua kembali tertawa.


"Eh Bang, gue sama Daniel masa boleh peluk Baen loh, Sementara Abang tidak boleh ya." Redi panasi Larry.


"Tuh yang rese suami Baen berarti bukan suami Rumi." jawab Larry menonjok bahu Daniel.


"Ih..." Daniel usap bahunya sambil cengengesan.


"Sama Leyi kamu cemburu, Daniel?" tanya Rumi pada iparnya.


"Padahal kalau tidak ada Leyi kamu tidak kenal Baen loh." Rumi tertawa.


"Terima kasih Aban Leyi." kata Daniel nyengir.


"Berarti boleh peluk Baen dong." Larry ikut nyengir.


"Tidak boleh." tegas Daniel posesif, Larry gelengkan kepalanya sambil terbahak, Adiknya ini dari kecil memang sudah cemburu lihat kedekatan Larry dengan Balen.


"Aban, kita ke hotel yuk." ajak Balen pada Daniel.


"Kalian bukannya menginap di rumah Oma?" tanya Mama Amelia.


"Baen jadi pengen ke hotel, dengar Kia sama Aban Lucky ke hotel." jawab Balen mengelus perutnya.


"Bawaan orok, anak gue bahaya nih, orang honeymoon dia mau honeymoon juga." Daniel melirik Balen sambil cengar-cengir.


"Anak lu apa istri lu?" tanya Larry tertawa.


"Aban ih..." Balen langsung monyongkan bibirnya pada Larry.


"Kamu banyak maunya ya Baen, untung saja menikahnya sama Daniel." Larry terkekeh.


"Iya Bang Daniel manjakan Baen betul." celutuk Ulan.

__ADS_1


"Iya dong istri aku." jawab Daniel terkekeh.


"Anak Mama semuanya begitu kok, bukan Daniel saja. Rumi bagaimana Larry, begitu juga kan?" tanya Mama Amelia pada Rumi.


"Iya Ma." jawab Rumi tersenyum.


"Depan Mama saja bilang iya." Larry menggoda istrinya.


"Memang iya kok, kamu kan menyebalkannya waktu kita belum menikah saja." kata Rumi mengenang masa lalu.


"Yah, kan belum jadian juga." jawab Larry terkekeh.


"Kak Yumi, Aban Leyi the best." Balen acungkan jempolnya.


"Aku?" tanya Daniel pada Balen.


"Aban Daniel sih Best of the best." jawab Balen acungkan dua jempol.


"Gombal!" dengus Redi lalu mencibir.


"Ledi Dei minta di puji juga tuh Ulan." Balen menyolek Ulan.


"Hehehe..." cengengesan saja istrinya Redi.


"Masih malu-malu." komentar Rumi pada Ulan.


"Nanti juga malu-maluin." sahut Balen.


"Itu sih kamu Baen, Ulan mah tidak." jawab Redi ajak ribut Balen.


"Ledi Dei ish, Ayo Mama, Papa kita bubar saja, Biar Ledi disini." kata Balen pura-pura merajuk. Mama Amelia dan Papa James tertawa sudah tahu kalau Redi dan Balen suka perang mulut, tapi saling sayang.


"Redi Ulan, kami kembali Ke villa kalau begitu, harus bersiap karena nanti malam sudah kembali ke Jakarta." kata Mama Amelia kemudian.


"Loh Mama, Baen cuma bercanda kok." Ulan jelaskan pada Mama, tidak mau Mama Amelia terprovokasi.


"Mama ijin bukan karena Baen kok, tapi sebentar lagi sore, sedangkan kita harus kejar ke Bandara juga." kata Mama Amelia jelaskan pada Ulan.


"Ulan, Mama sih sudah tahu Baen.". Alen terkikik geli.


"Iya Dari kecil suka ikut Mama dan Papa nih istrinya Daniel." kata Mama merangkul Balen.


"Pedekate dari Balita." kata Balen pada Ulan.


"Waktu Balita pedekate sama Leyi tapi." celutukan Daniel bikin Balen melepaskan rangkulan Mama dan memeluk suaminya sambil terbahak.


"Makanya kamu cemburu ya?" tanya Papa James malah tambah-tambahi pembahasan yang tidak penting. Untung saja Rumi santai, tidak pernah permasalahkan itu, juga tidak pernah beranggapan Balen sebagai ancaman bagi hubungannya dengan Larry.


"Cinta Baen cuma buat Aban Daniel." jawab Balen mengusap bahu suaminya.


"Kembali menggombal." celutuk Redi, semua terbahak sambil beranjak berpamitan pada Ulan, Redi juga keluarga besar Ulan.

__ADS_1


__ADS_2