
"Aban, C's lagi ke Dufan loh, diajak Papon dan Mamon." kata Balen pada Daniel yang dihubunginya via telepon.
"Iya tadi Papon sudah hubungi Abang."
"Terus Aban kemana? istirahat di rumah?" tanya Balen.
"Tidak, Abang akan menyusul mereka, biar mereka senang bisa jalan sama Papon, Mamon dan Papanya." jawab Daniel yang berniat hari ini memang habiskan hari bersama anak-anak sebelum mulai aktif bekerja.
"Nanti kata Cayi kita nginap hotel saja lagi, tidak apa. Yakin tuh, semalam bilang sangat merindukan." Balen mengadu pada Daniel yang terbahak mendengarnya.
"Kita lihat nanti setelah mereka bertemu Abang, mau ikut jemput kamu apa biarkan Abang kembali Ke hotel." jawab Daniel disela tawanya.
"Aban ndak capek ke Dufan? kata Cayi mereka pulang malam, nanti Baen pulang sendiri aja atau ikut Aca. Aban pasti malam juga pulangnya." kata Balen pada Daniel.
"Kamu tidak apa nanti sendirian di rumah?" tanya Daniel.
"Ada Bibi kan, ndak apa lah paling Baen leyeh-leyeh dikamar sambil tunggu Aban serombongan pulang, Aban nyetir sendiri?" tanya Balen.
"Naik taxi sayang, tadi Papon bilang tidak usah bawa mobil, biar bisa pulang bersama-sama." Daniel jelaskan pada Balen.
"Sudah makan siang belum? makan dulu Aban."
"Masih kenyang sih, tadi sarapan dihotel banyak."
"Makan dulu Aban, sekarang jam makan siang."
"Iya nanti begitu sampai Abang cari restaurant dulu."
"C's pasti sudah makan deh, Mamon suka bawa bekal kan, anak-anak bisa makan di Mobil."
"Mereka tidak akan mau makan di mobil." Daniel terkekeh.
"Memang Aban bikin aturan untuk mereka ndak makan di Mobil juga?" tanya Balen.
"Iya, supaya tidak mengundang semut." jawab Daniel terkekeh.
"Ih Aban, makan dimobil pas jalan jarak jauh tuh enak, apalagi Jakarta kan macet Aban."
"Hmm, jadi bagaimana. Batalkan aturan itu?" tanya Daniel.
"Iya lah kalau sekarang mereka masih di jalan tapi belum makan bagaimana?" Balen jadi khawatir.
"Iya sayang kamu tenang saja, lanjut kerja lagi sana. Sekarang sudah tidak bisa jadi miss ring ring ngobrol ngalor ngidul ya, kamu harus fokus, target kamu terbaik didunia bukan?" Daniel ingatkan Balen.
"Hihi bantu doa ya Aban."
"Pasti dong, Abang telepon C's lagi deh ya." Daniel akhiri sambungan teleponnya, ia harus beritahukan anak-anaknya mereka diijinkan makan di mobil kalau lapar.
"Are you sure, Pap?" tanya Chandra saat Daniel beritahukan hal itu.
"Iya karena perjalananjauh dan macet, kalian pasti kelaparan saat ini kan?" tanya Daniel.
"Yes Pap, lapar sekali." jawab Chandra.
"Aku juga lapar." Charlie ikutan.
__ADS_1
"Aku juga Pap, tadi Papon ajak ke restaurant kalian tidak mau sih." tegur Chandra pada kedua Abangnya.
"Banyak makanan kenapa harus ke restaurant, nanti kan kita bisa makan sambil pesan air kelapa muda." Charlie membela diri.
"Masih jauh Papon?" tanya Charlie.
"Sebentar lagi sayang, itu pintu masuknya." tunjuk Kenan saat melihat pintu masuk Ancol.
"Pap apa aku boleh surfing?" tanya Chandra.
"Lain kali saja ya, tidak ada surfing disana." jawab Daniel.
"Mereka suka surfing, Niel?" tanya Kenan.
"Suka Pa, beberapa kali coba waktu di Hawaii." jawab Daniel.
"Wah, cucu Papon serba bisa ini." Kenan mengusap pipi Chandra sambil tersenyum bangga.
"Aku juga bisa Papon." Cadi sodorkan pipinya minta diusap juga, Nona dan Kenan langsung terbahak.
"Niel, kamu sudah sampai mana?" tanya Nona pada menantunya.
"Masih di tol Mamon, sebentar lagi keluar tol, perkiraan sepuluh menit lagi sampai, mau minum kelapa muda dimana Mamon?" tanya Daniel.
"Nanti Mamon share location." kata Nona pada Daniel.
"Pap mau kelapa muda juga?" tanya Charlie.
"Iya murni tanpa gula." kata Daniel ingatkan Charlie.
"Oh ya? Papa tidak sabar jadinya." Daniel tertawa bisa saja Charlie menggoda Papanya.
Kembali kepada Balen dan timnya yang sedang diajari Lucky, tapi berhubung makan siang mereka menjedanya lalu menunggu staff menyiapkan makanan untuk segera disantap. Sebenarnya bisa saja mereka turun ke restaurant kalau tidak sedang menghemat waktu. Lucky hanya berikan waktunya satu minggu untuk ajari Balen beserta asistennya, setelahnya mereka bisa bertanya pada Kia, itu pun tidak satu minggu full-day karena Lucky juga harus ke Suryadi Corporate jika ada panggilan.
"Nantinya yang banyak bekerja Aca sama Bari ya." Lucky beritahukan Aca dan Bari, keduanya mengangguk siap-siap saja.
"Kita santai Kia." kata Balen terkikik senang.
"Tidak santai juga, ada hal yang harus kamu periksa secara cermat Balen dan jangan mudah menerima aduan dari Karyawan, kamu harus berada ditengah ya, jangan memihak." Lucky ingatkan Balen.
"Laporan yang Aban Kirim biasanya tuh nanti Baen minta ke Kia atau bagaimana?" tanya Balen.
"Nanti Kia kenalkan sama Manager keuangan ya, Ante nanti bisa langsung minta sama dia." jawab Kia.
"Makanan sudah siap Pak." keseriusan mereka terjeda dengan suara staff yang sampaikan makanan mereka sudah siap.
"Terima kasih, Mbak." Balen yang menjawab.
"Sama-sama Ibu." jawabnya dengan hormat.
"Apa masih ada yang mau disiapkan Bapak dan Ibu?" tanya staff itu lagi.
"Makan minum sudah ya?" tanya Lucky.
"Sudah Pak."
__ADS_1
"Kalau begitu boleh tinggalkan saja kami, kamu silahkan makan siang juga." kata Lucky sambil tersenyum.
Setelah makan siang lanjut dengan meeting bersama manager terkait. Banyak pertanyaan yang Balen lontarkan, mengingat Balen orang yang kritis, ada saja yang ditanyakan. Bukan Balen saja yang bertanya, Aca dan Bari pun ikutan, membuat meeting berlangsung lama. Tapi Balen senang, banyak hal baru yang Balen tahu.
"Ante jadi pulang sama aku?" tanya Aca pada Balen sore hari saat mereka akan pulang.
"Jadi."
"Antar Bari dulu ya, kan Ante juga bengong dirumah, sekalian saja kita jalan-jalan." kata Aca tersenyum.
"Oke, yuk." Balen setuju saja, benar yang Aca bilang dari pada bengong dirumah.
"Bima, Shaka sama Billian ajak nongkrong nih." kata Bari tunjukkan handphonenya.
"Berarti antar Ante dulu atau Ante mau ikut gabung?" tanya Aca.
"Ikut." jawab Balen nyengir, mumpung anak-anak masih di Dufan.
"Bilang Om Daniel dulu Ante." kata Aca pada Balen.
"Sambil jalan saja." kata Balen.
"Ish Ante kalau Panta tahu bisa dijewer nih, istri kalau mau pergi kemanapun harus seijin suami tahu." dengus Aca mengambil handphone lalu hubungi Daniel.
"Ya Ca." untung saja Daniel langsung menjawab sambungan teleponnya.
"Om, Ante aku ajak nongkrong sama Bari, Billian, Shaka dan Bima boleh? kasihan dirumah bengong."
"Dimana?" tanya Daniel.
"Paling Warung Elite sih, dimana lagi." Aca terkekeh.
"Oke nanti Om jemput Ante disana." jawab Daniel bikin Aca nyengir.
"Sholeh banget nih keponakan gue." Lucky tertawa langsung merangkul Aca.
"Jadi istri kalau mau keluar rumah harus seijin suami kan Ca? tuh Ay dengar." katanya pada Kia sambil nyengir.
"Iya." jawab Kia monyongkan bibir, beberapa waktu lalu pernah ikut Mama Lulu tanpa beritahukan Lucky.
"Ih Aban, Baen juga bilang tahu, tapi kalau sudah sampai aja." jawab Balen sok polos.
"Itu sih bukan minta ijin Baen, tapi pemberitahuan, beda lah." Lucky terkekeh.
"Aca sudah bisa menikah nih, carikan jodoh Ban." kata Balen pada Lucky.
"Bima dulu dong." jawab Aca melengos.
"Dia sama yang penyanyi itu tahu, ingat kan Ante? yang Aca jadi bintang video clip." Kia ingatkan Balen.
"Eh beneran?" Balen langsung kepo, Aca gelengkan kepalanya sambil melangkan keluar ruangan tinggalkan yang lainnya.
"Selalu menghindar kalau ditanya, tapi begitu gosipnya, iya kan Bar?" tanya Kia.
"Tidak tahu." jawab Bari cepat lalu berlari menyusul Aca.
__ADS_1
"Ah minta dijewer nih mulai rahasia-rahasiaan." kata Balen ikut menyusul Bari dam Aca, Lucky dan Kia tertawa sambil ikut susul ketiganya.