Because I Love You

Because I Love You
Masker


__ADS_3

Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira...


suara-suara centil dengan gerakan badan yang tidak bisa diam sedari tadi terus menggema didalam private jet milik santoso corporate, yang dipakai Tori berlibur ke Korea bersama sanak saudaranya.


Empat pria hanya bisa cengar-cengir melihat kecentilan para istri yang sibuk berempat. Ulan yang paling kalem mulai terkontaminasi dengan tiga orang yang memang sudah rusuh sebelumnya. Jangan berharap ada adegan mesra suami istri di atas awan karena para istri lebih memilih bergabung dan cekakak cekikik.


"Begini ya rasanya punya istri bocah." kata Lucky pandangi Daniel dan Redi. Richie tertawa saja karena dia juga masih termasuk bocah diantara ketiga pria dihadapannya.


"Sudah tahu kelakuan mereka dari dulu kan?" tanya Redi terkekeh.


"Ya tapi gue tidak sangka salah satunya akan jadi istri gue." Lucky terbahak, dulu dalam bayangannya istrinya wanita seumurannya yang sudah dewasa, apalah daya ia jatuh cinta sama Kia keponakannya sendiri.


"Menyesal Bang?" tanya Richie.


"Tidak dong, cuma lucu saja." jawab Lucky, Daniel jadi ikut tertawa.


"Abang kita saja santai." kata Redi tunjuk Abangnya.


"Ya Bang Daniel sih sudah persiapkan diri dari awal toh." jawab Lucky minta persetujuan Daniel yang anggukan kepalanya.


"Bang, mungkin tidak lu bosan sama Baen?" tanya Lucky.


"Jangan gila deh." jawab Daniel bergidik.


"Bisa gila dia tidak ada Baen." jawab Redi terbahak, "Iya kan, Chie?" minta persetujuan Richie, ingat saat Balen kabur seminggu, Daniel emosi tidak bisa ikut cari Balen, karena kondisinya sedang dirawat di rumah sakit.


"Itu kan dulu, bisa saja berubah." kata Lucky.


"Jangan ah, gue doa terus jangan berubah." jawab Daniel bayangkan sebentar lagi akan menjadi Papa.


"Iya jangan lah, Bokap sama Abang gue kan sudah jadi contoh family man." Redi ikutan.


"Ya elu sama Abang lu, termasuk gue sih sudah puas punya pacar banyak dulu, Bang Daniel hanya Baen seorang." Lucky konyol punya pikiran begitu.


"Kayanya Daniel punya pacar waktu SMP dan SMA deh." Redi pandangi Abangnya.


"Iya Bang?" tanya Richie yang baru tahu karena Daniel tidak pernah bahas mantan pacar kecilnya selama ini.


"Sudah lupa tuh, masa sih gue pacaran?" tanya Daniel pada Redi.


"Idih tidak mau mengaku." Redi mendengus.


"Beneran gue lupa, fans gue banyak sih." jawab Daniel percaya diri, Richie terkekeh mendengarnya, tidak heran kalau fans Daniel banyak, di Ohio pun begitu, terbukti dengan Balen yang pernah labrak-labrak.


"Gaya..." Lucky mencibir, Daniel terbahak dibuatnya.


"Sudah jangan bahas ini lagi ya, nanti mood istri gue rusak, lihat tuh lagi happy begitu." tunjuk Daniel pada Balen yang masih joget-joget bersama Kia dan Tori sementara Ulan cekikikan saja dari tadi.


"Takut istri?" tanya Lucky jahil.

__ADS_1


"Tidak takut kalau tidak salah." jawab Daniel.


"Iya kata Baen begitu, tidak ada suami yang takut istri, yang ada takut ketahuan istri." jawab Richie, semua mangut-mangut saja.


"Jadi nanti kita kemana saja di Korea?" tanya Redi pada Daniel.


"Baen tidak mau dikamar saja katanya." jawab Redi.


"Kia juga bilang begitu, dia mau jalan-jalan, jangan dikamar terus seperti di Malang tadi." Lucky terkekeh.


"Jangan dihajar terus berarti." jawab Redi garuk kepala.


"Memang berapa kali hajar sampai tidak keluar kamar?" Lucky melirik Richie sambil menyeringai.


"Tidur aku Bang, bukan hajar-hajaran, badan rentek tahu baru sampai Tashkent sudah diminta pulang terus berangkat lagi." jawab Richie monyongkan bibirnya.


"Kakak lu tuh." jawab Redi.


"Iya, demi Abang juga." Richie tersenyum.


Pesawat mendarat dengan sempurna, mereka tiba di Seoul dengan selamat, sehat dan bahagia.


"Capek?" tanya Daniel pada Balen saat mereka sudah berada di hotel. Daniel minta istirahat dulu hari ini, besok baru keliling Korea, mengingat kondisi istrinya sedang hamil.


"Ndak Aban, Baen senang." jawab Balen tersenyum, keluarkan semua baju di kopernya masukkan kedalam lemari yang ada di hotel.


"Hari ini istirahat dulu tidak apa kan? kasihan baby kalau kita paksakan jalan-jalan." kata Daniel kemudian.


"Capek dong sayang."


"Ndak, cuma jalan sekitar hotel aja, banyak yang jualan Baen lihat tadi." pinta Balen pada Daniel.


"Boleh." Daniel akhirnya setuju.


"Sekalian Baen mau beli buah Aban, buat sarapan besok." kata Balen.


"Ok sayang."


"Baen telepon yang lain ya kasih tahu."


"Ya."


Balen segera hubungi Kia, Tori dan Ulan, mereka sudah bikin group khusus berempat karena perjalanan ke Korea kali ini. Mulai bermunculan satu persatu wajah dengan berbagai macam gaya.


"Ante..." Kia yang menyapa lebih dulu, sementara Tori karena sedang pakai masker hanya diam saja.


"Kita nanti makan sekitar sini saja jalan kaki, mau?" tanya Balen pada semuanya, Tori hanya acungkan jempol karena tidak bisa bicara.


"Ulan bilang Bang Redi dulu, dia lagi di toilet." jawab Ulan.

__ADS_1


"Tidak mau Baen, aku sama Kia makan di kamar saja." teriak Lucky disambut pukulan di bahu oleh Kia, sudah tahu otak mesum suaminya.


"Jadi yang mau ikut nanti di lobby jam setengah dua belas, Baen harus makan tepat waktu." kata Balen pada semuanya.


"Kita skip." kata Lucky lagi.


"Kia mau ikut Ay..." rengek Kia pada Lucky.


"Aban Lucky please deh, nanti malam kan bisa." kata Balen pada Lucky.


"Memang mau ngapain nanti malam?" tanya Lucky.


"Ehem..." jawab Balen cengengesan.


"Idih Ante." Kia langsung malu sementara yang lain tertawa.


"Ante nanti kalau Om Lucky tidak mau ikut Kia saja sendiri." jawab Kia disambut pelukan dari belakang oleh Lucky yang pasang wajah jahil.


"Ih Aban..." Balen tertawa begitu juga Ulan.


"Baen, memang boleh istri pergi tanpa seijin suami?" tanya Lucky cengengesan.


"Ndak boleh." jawab Balen.


"Tuh Ay, dengar kan." Lucky terkekeh.


"Huhu Om Lucky janji tidak kurung Kia di kamar terus." Kia kembali merengek, Lucky terbahak karena berhasil menggoda istrinya.


"Jam setengah dua belas kan Baen, Redi masih di toilet, Ulan?" tanya Lucky.


"Masih Bang." jawab Ulan.


"Temani dong."


"Idih masa lagi EO, Ulan temani." Ulan langsung tutup hidungnya, semua tertawa jadinya.


"Aduh, jangan melawak dong, bisa keriput nih." omel Tori yang terpaksa melepas masker topengnya karena terpaksa ikut tertawa.


"Lagian Tori, lagi liburan sempatnya pakai masker." Balen terkekeh.


"Jangan kalah glowing sama orang Korea Baen." jawab Tori.


"Masih ada ndak maskernya?" tanya Ulan.


"Masih, mau?"


"Mau, jangan kalah glowing kan." jawab Ulan polos.


"Ih dasar, Baen juga mau deh." Ibu hamil yang selalu latah jadi mau juga.

__ADS_1


"Kia juga mau." tidak mau kalah.


"Oke, ambil ke kamarku." jawab Tori, kompak semua langsung matikan telepon dan bergegas ke kamar Tori mengambil masker, supaya tidak kalah glowing dengan orang korea.


__ADS_2