
Seminggu berlalu, Balen dan keluarga sudah pindah ke rumah utama keluarga Prawira kini, Papa James dan Mama Amelia sesuai rencana menempati Paviliun disebelah rumah utama. Sebenarnya Balen sudah meminta agar ia dan keluarga saja yang tinggal di paviliun, tapi Mama Amelia tidak ijinkan itu, mengingat ia dan Papa James hanya berdua jadi tidak membutuhkan rumah yang sebesar rumah utama, Paviliun sudah lebih dari cukup untuk mereka. Toh hanya bergeser sedikit, tapi tetap bisa melihat anak, menantu dan cucu sejauh pandangan mata.
Pagi hari seperti biasa para cucu sibuk berenang setelah sholat shubuh, tidak lama-lama hanya setengah jam saja, kemudian bersiap mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Begitu aktifitas mereka seminggu ini.
"Setiap hari berenang?" tanya Papa James saat semua sudah berkumpul di meja makan.
"Iya, seharusnya sore hari latihan tennis, seminggu dua kali. Tapi Pap belum antarkan ke lapangan tennis terdekat." Chandra tunjuk Papanya dengan dagu sambil tersenyum pada Opa.
"Duh sayang sekali lapangan tennis dirumah ini Opa jadikan Paviliun. Opa tidak sangka itu jadi aktifitas rutin kalian." kata Papa James sedikit menyesal. Kalau saja belum jadi rumah sudah pasti ketiga cucunya bisa berlatih tennis.
"It's ok Opa, kami bisa latihan dimanapun, asal saja Pap antarkan kami untuk pertama kali." jawab Chandra wakili kedua adiknya.
"Di hotel saja, ada lapangan tennisnya kok, tapi suka disewa orang untuk tournament juga. Kalau lagi ada tournament tidak bisa latihan disana." kata Balen pada ketiga jagoannya.
"Mam, dirumah rooftop masih bisa dibikin lapangan tennis, please." pinta Chandra yang memang sangat hobby olahraga.
"Nanti saja kalian Papa daftarkan di club. Lebih banyak informasi jika ada kejuaraan." kata Daniel akhirnya.
"Iya bisa ikut club Papa kalian waktu kecil dulu." kata Mama Amelia.
"Kapan Pap?" tagih Chandra.
"Kalau Papa tidak sibuk, sore ini Papa urus. Kalian bertiga ikut kan?" Daniel tanyakan ketiganya, karena hanya Chandra yang semangat.
"Tapi aku kan pulang sekolah ke rumah Papon." jawab Cadi yang bingung karena ia bertugas menjaga Papon sepulang sekolah.
"Nanti Papon atau supir Papon yang antar Cadi ke club tennis." jawab Balen.
"Bilang dulu Mam sama Papon." Cadi ingatkan Mamanya.
"Iya nanti Mama bilang sama Papon." jawab Balen.
"Bilang sama Mamon juga, karena Mamon selalu masak lebih kalau aku disanaaa." kata Cadi.
"Hihi Cadi makannya banyak ya, jadi Mamon masaknya lebih." Mama Amelia tertawa.
"Biasa seperti sekarang saja." tunjuknya pada piring dihadapannya.
"Tapi berapa kali?" tanya Balen terkikik geli.
"Kan pulang sekolah makan, terus bobo, habis bobo mandi makan, terus main basket sama teman disana pulang main basket sambil tunggu Mam and Pap jemput aku makan lagiii." jawabnya dengan mata jenakanya.
"Itu saja tiga kali makan, makanya Mamon masak lebih." hitung Balen.
__ADS_1
"Kalau latihan tennis makannya dua kali Mam." beritahu Cadi.
"Jadi bagaimana?" tanya Balen.
"Tidak usah dikurangin masaknya, karena aku mau bawa makan supaya selesai latihan aku langsung makan lagi." jawabnya bikin Mama, Papa, Oma dan Opa terbahak.
"Wah enak sekali kamu bawa makan, aku juga mau." protes Chandra.
"Nanti Oma bawakan buat Chandra dan Cayi." kata Mama Amelia.
"Tapi aku mau masakan Mamon juga, makan malam saja disini." kata Charlie.
"Berarti Mamon masaknya dilebihkan kalau kalian latihan tennis?" tanya Mama Amelia, ketiga cucunya anggukan kepala, Mama Amelia kembali tertawa geli.
"Nanti Mama bawakan makanan hotel saja untuk selesai latihan." kata Balen.
"Tidak mau, aku maunya masakan Mamooon." jawab Cadi, dasar cucu maunya masakan Omanya saja.
"Masakan Oma tidak mau?" tanya Mama Amelia.
"Mau kalau aku lagi disini saja ya Oma." katanya merayu Oma Amelia supaya tidak merajuk.
"Tapi kan kalau disini bukan Oma yang masak, tapi Bibi." jawab Charlie, Mama Amelia tertawa dibuatnya.
"Tapi Oma yang kasih tahu bumbunya kok." kata Balen pada Charlie.
"Masa jual resep sama Bibi." Papa James terbahak.
"Oma Lulu jual resep bakpau sama Mam." kata Chandra.
"Itu untuk pelanggan hotel, karena yang menginap di hotel bayar, Maka resep yang dipakai di hotel juga bayar, tapi Oma Lulu kasih gratis kemarin untuk Mama." Balen menjelaskan.
"Oma Lulu rugi kalau begitu, Mam saja jual bakpaunya." kata Charlie, mulai berhitung.
"Iya nanti Mama bayar kok." kata Balen tersenyum.
"Iya Mam, jangan bikin rugi orang lain." kata Chandra, Daniel tersenyum sambil menahan tawa.
"Kalian tahu-tahunya untung rugi, semua mau berbisnis seperti Pap and Mam?" tanya Papa James, kompak semua anggukan kepala.
"Tidak ada yang mau jadi jaksa seperti Opa ya?" tanya Papa James, semua ingin berbisnis juga menuruni keluarga Papon ternyata.
"Nanti aku lihat dulu kalau jadi jaksa bagaimana." jawab Cadi.
__ADS_1
"Itu yang memutuskan orang bersalah atau tidak." kata Chandra.
"Penjahat temannya?" tanya Cadi.
"Bukan teman itu." jawab Charlie.
"Tapi kan bertemu penjahat, kalau penjahatnya menangis minta maaf sama Opa, masih Opa hukum juga?" tanya Cadi.
"Semua yang bersalah harus dihukum mau itu teman atau bukan, mau menangis atau tidak tetap saja kalau sudah diputuskan bersalah harus ditahan." jawab Papa James.
"Ah aku tidak mau jadi jaksa." Cadi gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Papa James.
"Takutnya aku kasihan." jawab Cadi bikin semua terbahak.
"Kalau aku kenal kan pasti aku kasihan. Sementara Mam and Pap selalu ajarkan supaya jadi orang yang pemaaf. Aku nanti bingung." jawabnya polos.
"Chandra lebih cocok jadi jaksa." kata Charlie.
"Kenapa aku?" tanya Chandra.
"Kamu lebih serius dibanding kita." jawab Charlie.
"Jadi pengusaha juga harus serius, mana boleh bercanda-bercanda nanti rugi kalau salah hitung untung ruginya." celoteh Chandra, Papa James dan Mama Amelia senyum-senyum dibuatnya, suasana meja makan pagi hari sangat ramai semenjak kehadiran anak, menantu dan cucunya.
"Jadi apa saja boleh selama itu baik." kata Papa James akhirnya.
"Tapi Opa hebat loh karena jadi jaksa Opa sibuk urus negara." kata Balen pada ketiga jagoannya.
"Aku urus perusahaan Pap saja." Chandra langsung memutuskan.
"Nanti aku yang urus hotel Mam ya." Charlie melamar di Balena hotel.
"Aku bagaimana?" tanya Cadi bingung karena semua sudah ambil bagian.
"Kalau mau jadi pengusaha juga bisa bantu Panta atau Papa Lemon." kata Balen tersenyum.
"Bantu Om Ichie juga bisa?" tanya Cadi semangat.
"Iya itu juga bisa." jawab Balen.
"Oke." Cadi langsung acungkan jempolnya.
__ADS_1
"Berdua sama Syabda tuh." kata Charlie.
"Asiik ada temannya, aku bisa main di kantor seperti Mam dan Auntie Kia." teriaknya senang, bayangkan nanti bekerja punya teman, dasar Cadi dipikirannya masih main saja.