Because I Love You

Because I Love You
Dingin


__ADS_3

"Maaam, dingiiin." Cadi yang kembali kekamar dengan badan tertutup handuk yang menggantung di bahunya


"Ya ampun kenapa tidak mandi disana, terus langsung pakai bajunya?" tanya Balen pada bungsunya.


"Aku lupa bawa baju." jawabnya, Billian terkikik geli.


"Aku pinjamkan kaosku tidak mau, Cadi sudah mandi kok." kata Billian pada Balen.


"Oh my god, itu seperti pakai mini dress Abang." jawabnya, Daniel, Balen dan Billian tertawa dibuatnya.


"Chandra sama Cayi mana?" tanya Daniel.


"Masih berenang ajari Kate." jawab Cadi.


"Loh tidak jadi kamu yang ajari?" tanya Belin.


"Mereka saja, aku kedinginan." jawab Cadi.


"Tumben, kamu tidak enak badan?" Balen segera memeriksa tubuh anaknya.


"Enak." jawabnya. "Maaam baju." pintanya sambil giginya gemeretak.


"Oh iya sebentar." Balen segera ambilkan baju Cadi.


"Sini peluk Papa biar hangat." Daniel segera memeluk Cadi yang kedinginan.


"Tuh kan Abang, kalau kedinginan itu harus peluk." katanya pada Billian.


"Ah tadi sih kamu modus, masa mau peluk Kate, Om." kata Billian sambil tertawa.


"Kebetulan Kate yang dekat aku, kalau Abang yang dekat pasti aku peluk Abang." kata Cadi bikin Daniel tertawa.


"Iya Papa percaya, tapi jangan peluk anak perempuan sayang." Daniel ingatkan Cadi.


"Kalau perempuan dewasa boleh?" tanya Cadi polos.


"Boleh kalau keluarga kita." jawab Daniel.


"Kate juga keluarga kita." katanya sedikit memaksa.


"Bukan keluarga dekat." jawab Billian.


"Yang dekat siapa dong?" tanya Cadi.


"Oma, Mamon, Mama, Ante Kia, Kakak Beyin, Nami, Oma Kiki, Auntie Roma, Auntie Tori, Auntie Selin." Billian sebutkan semuanya.


"Yang sering peluk aku, Oma Ame loh kalau aku ikut Mamon ke rumah Oma. Mami Monik juga suka peluk malah cium gemas katanya." Daniel gelengkan kepalanya, ada saja jawabnya Cadi makin kesini.


"Aku jadi pusing, kenapa Kate bukan keluarga. Padahal Oma Ame boleh peluk aku, seharusnya aku boleh peluk Kate." katanya lagi, Daniel dan Billian jadi pandang-pandangan sambil nyengir ikutan bingung harus jelaskan apa.


"Nanti deh kalau sudah besar Cadi mengerti." kata Billian akhirnya.


"Ah lama harus tunggu besar dulu." sungutnya sambil memeluk Daniel karena Balen belum muncul juga. Daniel gemas sekali dengan bungsunya, langsung saja diciuminya.

__ADS_1


"Paaap aku sudah besar." teriaknya karena diperlakukan seperti anak kecil. Billian tertawa geli melihatnya.


"Ayo pakai bajunya dulu." kata Balen yang sudah datang membawa baju Cadi.


"Mam jangan lupa cajuput." katanya ingatkan Balen.


"Oh iya, cajuput." Balen tertawa segera mengambil minyak kayu putih, balurkan keseluruh tubuh Cadi.


"Abang Billian, don't go away." katanya pada Billian, sementara Balen pakaikan bajunya. Billian anggukan kepalanya sambil nyengir pandangi adiknya yang agak jumpalitan ini.


"Mau kemana?" tanya Balen.


"Breakfast." jawab Cadi sambil goyang-goyangkan badannya seperti sedang pemanasan, Balen melihat jam dipergelangan tangannya.


"Masih pagi." kata Balen pada Cadi.


"Tapi Mam, aku sudah lapar, jam enam sudah bisa kok kata pegawai restaurant, tadi aku minta dibuatkan sarapan." katanya pada Balen.


"Yah karena yang tanya Cadi anak yang punya hotel, tentu saja jam enam sudah bisa." Billian terkikik geli.


"Mau makan apa? makan dikamar saja." kata Balen pada Cadi kemudian ikut tertawa sambil menepuk bahu Billian.


"Maaam, aku mau sarapan sambil lihat Kate berenang." katanya merengek.


"Tuh kan Om anaknya modus." Billian kembali tertawakan Cadi.


"Kate pakai bikini?" tanya Daniel pada Billian, Balen segera menepuk bahu suaminya.


"Cadi masih polos, pikirannya ndak kaya gitu. Dia ndak ngerti yang begitu Aban, dulu di Hawaii lihat juga biasa aja." bisik Balen kesal, Daniel dan Billian terbahak dibuatnya, Mama langsung uring-uringan.


"Chandra sama Cayi bawa baju ganti apa tidak?" tanya Balen pada Cadi dan Billian.


"Bawa." jawab Billian.


"Kate bawa baju ganti tidak?" tanya Balen lagi.


"Bawa Mam, kan tadi aku ingatkan." jawab Cadi.


"Kamu bagaimana sih, ingatkan Kate bisa tapi kamu sendiri lupa." protes Balen.


"Habisnya aku kan masih kecil, jadi sering lupa." jawabnya bikin Billian kembali tertawa. Tadi saja bilangnya sudah besar waktu Papanya cium gemas.


"Abang tertawa terus nanti kebelet pipis loh." Cadi bikin Billian kembali tertawa.


"Numpang ke toilet Ante." kata Billian sebelum mereka tinggalkan rumah rooftop Balen dan Daniel. Untung saja Cadi bilang begitu, jadi Billian ke toilet saja lah.


"Pap Uncle Noah sama Kak Beyin terus deh."


"Semalam kan kamu yang suruh." kata Daniel pada Cadi.


"Tadi pagi juga tahu Pap."


"Bagus dong biar cepat menikah." jawab Daniel nyengir.

__ADS_1


"Abang Billian bilang ke Kakak Beyin, pagi-pagi jangan pacaran woi, aku juga ikutan bilang woiii." ceritanya seru, Daniel terkekeh.


"Kamu ndak boleh ikut-ikutan ah, ndak sopan." Balen ingatkan Cadi.


"Kan cuma ikut-ikutan, aku tidak bilang pacaran cuma bilang woiii saja." Cadi membela diri.


"Kenapa Ante?" tanya Billian yang baru keluar dari toilet.


"Memangnya Noah sama Beyin sudah pacaran?" tanya Balen Kepo.


"Sepertinya sih, tapi Beyin bilang belum baru dekat saja." lapor Billian.


"Biarkan saja, yang penting kan sudah saling mendekat, tinggal kita gong kan saja." kata Daniel santai.


"Gong apa sih Pap?"


"Tuh kan Aban." Balen terkekeh.


"Mam, aku kan cuma tanya mau apa pakai gong?"


"Kalau ada acara kan peresmiannya pakai gong, nanti Kakak Beyin kita resmikan." kata Balen.


"Menikah maksudnya?" Daniel terbahak, sudah putar-putar menjelaskan, Cadi malah langsung bilang menikah.


"Iya." jawab Balen nyengir. Umurnya saja yang kecil, tapi suka sekali nimbrung obrolan orang dewasa.


"Mam, kalau Uncle Noah menikah aku juga deh." kata Cadi bikin Balen bengong.


"Pffff..." Billian nyembur menahan tawa.


"Kamu mau menikah juga?" tanya Daniel.


"Paaap, aku kan masih kecil." teriaknya malu.


"Terus maksudnya bilang juga itu apa?" tanya Daniel.


"Aku juga datang ke peresmian pernikahan Uncle Noah." jawab Cadi. Ketiga orang dewasa itu langsung terbahak, karena mereka salah mengerti.


"Siapa yang harus kita resmikan?" Billian gemas langsung menggendong Cadi mengajaknya ke restaurant tinggalkan Daniel dan Balen yang segera menyusul keduanya


"Abaaaaang, aku sudah besar, tidak usah digendong." teriaknya, tapi Billian tidak peduli malah memeluk erat Cadi karena gemas.


"Abaaaan..." teriaknya lagi.


"Hahahaha Aban..." Billian kembali terbahak karena Cadi meniru Mamanya.


"Aku heran Mam kok tidak bisa bilang Abang ya? malah Aban." katanya bikin Billian tertawa geli.


"Coba bilang sama Mama." kata Billian yang matanya kini berair karena terus tertawa.


"Jangan nanti Mam sedih." katanya kasihan.


"Cadiii kamu tuh lucu banget sih " kata Billian kembali menyekap Cadi gemas sambil menunggu Om dan Ante didepan lift.

__ADS_1


"Abaaaannnn..." kembali berteriak dan sekarang bukan hanya Billian yang tertawa, tapi Balen dan Daniel juga.


__ADS_2