
"Aban..." Balen langsung menghambur kepelukan Daniel saat masuk ke kamar kerja suaminya.
"Abang lagi zoom sayang." Daniel tertawa sambut pelukan istrinya sambil lihat ke kamera laptopnya. Beberapa orang disana tampak ikut tertawa lihat kemesraan Balen dan Daniel. Untung saja Balen gunakan piyama tangan panjang bukan gunakan baju seksi.
"Eh maapin, Baen kira lagi ngetik biasa." Balen ikut tertawa segera tinggalkan suaminya yang masih sibuk bekerja meskipun sudah dirumah. Tapi dengan rekanan di Indonesia memang Daniel biasanya lakukan meeting online jam segini, saat mereka baru tiba di kantor dengan pikiran yang masih fresh.
"Baen, Aban kangen nih." langkah Balen terhenti saat mendengar suara Larry.
"Baen kira Aban zoom meeting sama klien." Balen tertawa dan kembali hampiri suaminya. Daniel sambut Balen dan dudukan Balen di pangkuannya. Ternyata Daniel sedang zoom meeting bersama keluarganya.
"Aban Leyi, miss you so much." teriak Balen, sementara Daniel senyum-senyum saja lingkarkan tangannya dipinggang Balen.
"Sudah hamil belum?" tanya Mama Amelia pada Balen.
"Belum Mama." jawab Balen tersenyum.
"Jangan ditunda ya sayang." pinta Mama Amelia pada Balen.
"Iya Mama, ndak ditunda kok, memang belum hamil aja." jawab Balen.
"Kamu lebih berisi Baen." kata Papa James pada Balen.
"Disiram terus Pa." jawab Daniel bikin Balen mencubit bahunya. Semua tertawa dibuatnya.
"Redi bagaimana Ulan?" tanya Papa James yang tahu Redi sedang dekati Ulan.
"Bulan depan aku ke Jepang Papa, ijin dan mohon doa restu." jawab Redi terkekeh.
"Memang sudah janjian?" tanya Balen.
"Sudah tadi baru gue telepon." jawab Redi.
"Tanggal berapa kamu ke Jepang?" tanya Mama Amelia pada Redi.
"Dua hari sebelum long weekend, aku ada meeting disana setelahnya baru senang-senang sama calon menantu Mama." jawab Redi bikin keluarganya rusuh.
"Kamu serius Red?" tanya Larry pada Redi.
"Serius lah Bang." jawabnya mantap.
"Jangan bikin malu keluarga loh." pesan Larry pada adik bungsunya.
"Gue ikuti jejak Kuda Niel deh." jawab Redi tertawa.
"Yah, dia kan selalu ikut-ikutan aku dari dulu." Daniel tertawakan Redi.
"Iya Daniel seperti role modelnya kamu ya Red." Mama Amelia setujui itu.
"Kebetulan saja kesenangannya sama." jawab Redi bikin Daniel mencibir.
"Nanti kalau sudah menikah pasti Ledi Dei minta zoom meeting juga tuh Ma." kata Daniel.
"Kenapa begitu?" tanya Mama.
"Ya dia mau niru aku pangku istri seperti sekarang." jawab Daniel bikin semua terbahak.
__ADS_1
"Sombong kamu, baru berapa minggu bisa mangku saja. Gue yang sudah belasan tahun tidak sesombong ini." Larry masih saja tertawa. Daniel dan Balen ikut tertawa.
"Tapi aku nikahi Ulan tidak dalam waktu dekat sepertinya." kata Redi pada keluarganya.
"Memang Ulan mau sama kamu?" Mama Amelia menggoda putranya.
"Nah itu salah satunya, selain itu kalaupun Ulan mau, pasti minta selesaikan kuliahnya dulu. Lagi pula kami pisah negara, kalau dipaksakan menikah sekarang. Aku tidak mau Ulan terbebani dan kuliahnya berantakan." Redi sampaikan alasannya.
"Nyindir gue lu?" Daniel mendengus.
"Loh kalau Abang kan satu negara, di kota yang sama, bahkan dirumah yang sama. Aku dan Ulan beda negara Bang. LDR kalau pacaran sih masih oke, kalau sudah menikah gue tidak mau." Redi jelaskan pada Daniel.
"Oh ok." Daniel anggukan kepalanya sambil cubiti pinggang Balen. Gemas sekali untuk tidak mengganggu istrinya.
"Jadi mau mama lamar sekarang atau nanti saja itu, Ulan?" tanya Mama Amelia.
"Nanti ya ma, aku belum tahu Ulan mau sama aku apa tidak. Tadi dia bilang aku playboy." lapor Redi pada Mama.
"Pinter si Ulan." Larry tertawa.
"Rese, aku tidak se playboy itu, Bang Leyi." katanya pada Larry.
"Gadis Malaysiamu sudah selesai urusannya?" tanya Papa James.
"Tidak ada urusan lah Pa, kami hanya berteman." jawab Redi.
"Redi, kamu waktu itu kenalkan dia sama Mama sebagai calon menantu loh " Mama Amelia ingatkan Redi.
"Azura tahu aku bercanda, Ma. Kita tuh no baper-baper club." jawab Redi.
"Mama minta selesaikan yang benar ya, jangan ada yang minta tanggung jawab nantinya."
"Yah semoga memang begitu, Mama hanya khawatir sayang."
"Khawatir boleh, curiga jangan."
"Azura kok ndak pernah kelihatan ya? biasanya Baen suka bertemu di mini market." tanya Balen pada Redi.
"Tidak tahu, sudah mau sebulan tidak kontak sih, mungkin dia ke Malaysia." jawab Redi.
"Kirain ikut Ledi Dei ke California." celutuk Balen tertawa.
"Awas ya Redi, kalau ternyata dia ada di California jangan harap gue bantu untuk dekati Ulan dan keluarganya." ancam Larry pada Redi.
"Kalaupun dia di California itu bukan karena gue kali. Belum ada yang tahu juga kalau gue fixed pindah ke sini. Mereka tahunya karena gue memang suka tugas di sini saja." jawab Redi.
"Aban tahu Azura ndak?" tanya Balen pada Daniel.
"Tidak." Daniel gelengkan kepalanya.
"Daniel gaulnya sama cewek lokal dan cewek turkey Baen." celutuk Redi.
"Iya Aban?" tanya Balen.
"Yang kamu labrak itu memang orang mana?" Larry terbahak.
__ADS_1
"Oh itu." Balen tersipu malu.
"Jadi Mama dan Papa setuju, Redi sama Ulan?" tanya Daniel alihkan perhatian Balen, malas ribut untuk sesuatu yang tidak jelas.
"Sangat setuju." jawab Mama Amelia tertawa.
"Ulan pintar loh Ma, dia tuh ternyata dapat beasiswa." semangat sekali Redi ceritakan Ulan pada Mamanya.
"Sudah tahu kali." sahut Larry bikin Mama dan Papa terbahak.
"Ante Baen!" teriak Belin saat lihat Balen dilayar. Ia baru saja perhatikan Ayahnya yang sedang zoom meeting di pagi hari.
"Loh kok ndak sekolah sih Beyin?" tanya Balen heran.
"It's saturday, Ante." jawab Belin tertawa.
"Oh iya disini masih Friday night." jawab Balen tertawa.
"Ih Ante lagi di pangku Om Daniel ya?" Belin langsung rusuh. Balen tertawa dibuatnya.
"Iya dong." Daniel tertawa tempelkan wajahnya pada bahu Balen. Terlihat sekali betapa Daniel sayangi Balen.
"Om Daniel ih, nempel terus sama Ante. Ayah aku di Jepang jarang sekali dekat sama Ante karena Om Daniel ndak mau jauh-jauh." Belin mengadu sama ayahnya.
"Salah sendiri orang honeymoon kamu malah ikuti." jawab Larry malah salahkan Belin.
"Yah kan Beyin masih rindu." jawab Belin.
"Ante juga rindu Beyin, sekitar dua bulan lagi kita bertemu loh." Balen tersenyum bayangkan akan segera ke Jakarta.
"Kalau kamu hamil, sebaiknya tidak usah ke Jakarta Baen." pesan Larry pada Balen.
"Yah, Baen mau lihat Ichie dan Tori menikah." jawab Balen.
"Lihat usia kandungan kamu nanti." jawab Mama Amelia, seperti sudah akan hamil saja Balen.
"Tania dulu lagi hamil ikut ke Uni Emirates kan Aban." Balen ingatkan Larry.
"Yah, Itu atas ijin Dokter, kamu juga begitu harus atas ijin Dokter." sahut Mama Amelia.
"Oh ya Ma, disini aku sama Baen mau adakan syukuran pernikahan, kami undang kenalan disini." lapor Daniel pada Mama Amelia dan anggota keluarganya.
"Wah kapan, kita datang dong Pa." semangat ya mau ikut hadir.
"Hanya makan siang saja kok Ma, bukan pesta yang meriah." jawab Daniel.
"Kalian harus kita dampingi dong." kata Mama Amelia.
"Ada Redi perwakilan Ma." Daniel kasihan kalau Papa dan Mama harus ke Ohio.
"Beritahukan saja kapan kamu syukuran." kata Mama.
"Minggu depan Ma, hanya undang makan siang dan bagikan souvenir." jawab Daniel.
"Oke." Mama Amelia anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Oke apa?" pancing Larry.
"Rabu kami usahakan sudah berangkat kesana." jawab Mama Amelia bikin Larry dan yang lainnya tertawa. Mana bisa ditolak kalau sudah punya mau mantan Ibu pejabat ini.