
Menjelang Magrib Richie baru sampai di rumah. Tadi di rumah Opa Mario, Richie ditanyakan keseriusannya, sudah seperti apa saja Richie di interogasi oleh Mario dan Andi para Opanya Tori. Tapi semua dijawab Richie dengan lancar sesuai dengan gayanya yang acuh dan apa adanya. Semua setuju saja Richie nikahi Tori tiga bulan lagi dan mereka menetap di Malang. Mungkin selamanya Richie akan terus tinggal di sana karena perusahaan Opon berpusat di Malang. Sudah pasti Tori akan jadi orang Malang juga nanti.
"Lama sekali sih." Nanta yang tidak sabar dengar cerita mendengus saat Richie baru sampai rumah.
"Ya kan harus menghadap ke Opa Mario dan Opa Andi juga." jawab Richie pada Abangnya.
"Bagaimana sih ceritanya?" penasaran karena Papa sama Balen lebih memilih berkurung di kamar, lelah habis perjalanan jauh, sementara duo bocah rusuh juga ikut berkurung di kamar. Nanta jadi mondar-mandir menunggu Richie.
"Ichie belajar berkantor di Malang, Bang. Di perusahaan Opon." Richie mulai membuka kisah, lanjut menceritakan rencana Opon nikahkan Richie tiga bulan kedepan dan juga tadi saat menghadap keluarga Tori.
"Hebat kamu dek, sendiri menghadap keluarga Tori." Nanta acungkan jempolnya.
"Belum lamaran kan harus sendiri dulu Bang." Richie tertawa.
"Tidak sangka malah tinggal di Malang kamu nanti." Nanta tersenyum, ingat kota kelahirannya.
"Ya, rejekinya disana Bang. Opon kasih Ichie gaji besar sih makanya berani menikah tiga bulan lagi." kata Richie tertawa.
"Tinggal dimana nanti?"
"Sementara di rumah Opon."
"Tidak usah beli rumah setelah menikah tuh, rumah Oma dan Rumah Papa kosong. Rumah Bang Raymond dekat rumah Papa juga kosong. Hanya asisten rumah tangga saja di setiap rumah. Aman lah dek." kata Nanta pada adiknya.
"Enak mana dirumah Oma apa di rumah Papa?" tanya Richie.
"Kalau hanya berdua sih enak di rumah Papa. Kalau Abang yang tinggal di Malang pasti Abang pilih rumah Oma, duo bocah yang sudah bujang bisa di paviliun." kata Nanta tertawa.
"Nanti aku kuliah di Unbraw deh." kata Bima yang keluar dari kamar.
"Yakin mau kuliah di Malang?" Nanta terkekeh.
"Ya tidak tahu juga, Opa Micko suruh di Amrik sih. Oma Misha malah suruh di Sidney, jadi bingung." Bima tertawa.
"Dimana saja yang penting serius belajar, tidak main-main. Ingat loh kamu tuh sudah di tunggu Suryadi Corporation dan Syahputra group." Nanta ingatkan Bima.
"Oh Warung Elite tidak tunggu aku kah?"
"Tidak, kami sudah punya tenaga handal." jawab Nanta. Richie tertawa kan Bima yang pasang wajah aneh.
"Panta, aku kuliah di Jerman saja bagaimana?"
"Jangan aneh-aneh." Nanta mengetuk jidat Bima.
"Ah Panta sih, Bima serius."
"Kasih Panta daftar kampus dan jurusan yang kamu mau di Jerman, beri alasan juga kenapa mau disana."
"Teman baikku mau kuliah disana. Kalau kami tidak lulus di Malang."
"Teman baik kamu itu siapa?" tanya Richie jahil, agak saru antara teman baik dan pacar bagi Bima.
__ADS_1
"Masih sekolah jangan pacar-pacaran Bima." Nanta ingatkan Bima.
"Sudah beda jaman sama Panta lah, masa tidak boleh punya pacar sih." Bima mendengus.
"Tidak boleh, keluarga kita tidak ada yang pacaran." tegas Nanta.
"Om Ichie sama Kak Tory pacaran, Ante Baen sama Om Daniel malah pacaran dari ingusan." bandingkan dengan Om dan Antenya.
"Mereka pacarannya beda sama kamu yang sudah gandengan tangan sama rangkul-rangkul itu."
"Ante sama Om sudah boyfriend suit-suit
sama saja sentuhan fisik juga." terus saja menjawab cari pembenaran.
"Jangan samakan mereka beda." tegas Nanta bikin Bima tidak mengerti.
"Tetap saja pacaran." menggerutu pelan tapi tetap terdengar. Richie tertawakan anaknya Baen yang satu ini.
"Bima, Ante kamu itu dari ingusan sudah punya pekerjaan dan tabungan senilai ratusan juta, sedangkan kamu sampai umur segini, masih saja minta. Mau ganti handphone saja merengek kesana kemari. Kalau sudah bisa cari uang sendiri baru boleh punya calon istri, ingat ya bukan pacaran tapi calon istri." tegas Nanta pada Bima.
"Yoo, malah di marahi kan." garuk kepala tidak bisa menjawab lagi kalau bahasnya soal uang.
"Haloo..." Balen sudah tampak segar keluar kamar dengan wajah sumringah. Sementara Bima sedang pasang wajah bertekuk sembilan karena dilarang pacaran sama Panta.
"Mau ke Dufan ndak?" ajak Balen pada Bima.
"Kapan?" tanya Bima.
"Minggu ini aku sibuk di sekolah Ante, paling minggu depan deh." kata Bima pada Balen.
"Ya atur aja, Ante sebentar lagi sudah go international loh." katanya terkekeh.
"Aku mau go international ke Jerman di larang Panta." mengadu pada Balen yang masih menggelendot sama Nanta.
"Ke Jerman, memangnya boleh sama Papon?"
"Panta saja tidak ijinkan, apalagi Papon." Richie tertawakan Bima lagi.
"Nah itu udah tahu." Balen tertawa.
"Aban, ndak terasa loh dua tahun lagi Bima kuliah." kata Balen pada Abangnya.
"Kamu selesai dia masuk ya." Nanta tertawa.
"Aban sebentar lagi punya menantu deh." Balen menggoda Abangnya.
"Jangan dong, sekolah dulu saja. Kalau sudah bisa cari uang untuk nafkahi anak orang, baru boleh kasih Panta menantu." kata Nanta pada Bima.
"Iya Panta, Iya." langsung saja bilang begitu, kupingnya sudah mulai panas dengar Panta bicara begitu.
"Ante, aku kuliah dimana ya nanti?" minta pendapat Balen.
__ADS_1
"Kamu mau ambil jurusan apa sih?" tanya Balen.
"Bisnis ya Panta?" minta pendapat Nanta.
"Iya." Nanta anggukan kepalanya.
"Harvard Business School." jawab Balen.
"Ya sudah Panta, Bima sekolah disana saja nanti." kata Bima pada Nanta.
"Oke." Nanta setuju saja, yang penting serius belajar.
"Sama teman baikku boleh Panta?" masih ya negosiasi sama Panta.
"Sebelum berangkat kalian menikah saja dulu ya?" Nanta tersenyum jahil.
"Mau dikasih makan apa Panta?" langsung ciut ditantang begitu.
"Dari pada kita kebagian dosanya, kalian disana tidak ada yang awasi." kata Nanta pada Bima.
"Ih Panta." langsung bergidik.
"Pilih mana ndak disetujui apa dipaksa menikah muda?" Balen tertawakan Bima.
"Ah Ante sama Panta, tidak asik." Nanta tertawa mendengarnya.
"Sudah mau magrib." kata Richie mengingatkan saat mendengar suara orang mengaji di Mesjid.
"Mandi Bima." kata Nanta lagi pada sulungnya.
"Ya." bergerak cepat ke kamar.
"Bangunkan Aca." kata Nanta lagi.
"Ya." kembali berteriak karena sudah berada di kamar.
"Aduh anak Baen sudah mau dinikahkan aja." Balen terkekeh melihat Nanta.
"Masih lama." jawab Nanta menoyor kepala adiknya.
"Aban..." protes sambil mengusap kepalanya.
"Daniel mana?" tanya Nanta.
"Sibuk di laptop." jawab Balen, setelah bangun tidur tadi suaminya langsung membuka laptop sambil menerima telepon. Amati pergerakan barang yang
sudah keluar dan yang akan masuk.
"Rajin juga Daniel ya." Nanta tertawakan Iparnya itu.
"Kata Aban Daniel kalau ndak kerja istri cantiknya ini mau dikasih makan apa?" Balen ulangi perkataan Daniel sambil kibaskan rambutnya pasang gaya sok cantik. Richie dan Nanta kompak menarik ujung rambut Balen bikin singkong rebus berteriak heboh amankan rambutnya.
__ADS_1