
Anak-anak Baen sudah berangkat keliling Kyoto bersama Richie dan Lucky. Sementara Balen, Daniel dan Redi bersiap menuju Apartment Ulan. Rencananya hari ini mau membantu Ulan kerjakan tugasnya. Kalaupun tidak mengerti setidaknya temani dan semangati Ulan kerjakan tugas.
"Sampai juga disini." sambut Ulan saat bukakan pintu untuk ketiganya.
"Nah enak betul apartmentnya." Balen langsung saja senang begitu masuki apartment Ulan.
"Sebenarnya kalau yang datang hanya bertiga bisa menginap disini, tapi karena serombongan, Ulan ndak bisa nampungnya." jawab Ulan terkekeh, persilahkan semua duduk lalu ambilkan minuman botol di lemari pendingin.
"Ndak ada es krim ya?" tanya Balen ikuti Ulan mengintip isi kulkas.
"Hehehe Ulan belum sempat belanja."
"Tadi kamu tidak bilang mau es krim Baen." protes Redi pada Balen.
"Tiba-tiba aja mau." jawab Balen tersenyum.
"Nanti Ulan turun deh belikan Baen es krim." kata Ulan dengan senang hati.
"Ndak usah, Ulan kerjakan tugas aja di bantu Aban Redi. Baen ama Aban Daniel numpang istirahat." kata Balen tertawa.
"Kalau tugasnya cepat selesai, kita bisa menyusul anak-anak. Sayang loh sudah di sini malah tidak kemana-mana." Ulan memandang Balen.
"Memang kita tidak niat kemana-mana sih, cuma mau bertemu kamu." jawab Redi apa adanya.
"Oh gitu ya." Ulan tersenyum sedikit salah tingkah, karena Balen dari sebelumnya sudah menggoda Ulan dengan Redi walaupun tidak terang-terangan.
"Mana tugasnya?" tanya Redi lagi segera menuju meja makan dimana kertas-kertas berserakan, sepertinya itu tugas yang sedang dikerjakan Ulan.
"Kamu ambil jurusan apa sih?" tanya Redi lagi.
"Arsitektur interior dan desain lingkungan." jawab Ulan.
"Loh saya kira kamu ambil design and art itu yang bagian seni nya Ulan." kata Daniel yang ternyata salah perkiraan.
"Ndak Bang, tadinya mau ambil kelas Manga, tapi ingat Bang Raymond yang terpaksa lepaskan hobby animasinya demi usaha keluarga." Ulan tersenyum.
"Nih seperti Ledi dong, kuliah Arsitek tapi kerjanya distributor kebutuhan dapur." Balen terkekeh.
"Yah kalau terusi sesuai ilmu perkuliahan suamimu tidak ada yang bantu Baen." Redi tertawa.
"Ndak apa yang penting menghasilkan dan enjoy." jawab Ulan.
"Ya Alhamdulillah enjoy saja sih. Tapi kalau ingat kuliahnya susah nyesal juga kenapa tidak ambil bisnis saja dulu." Redi tertawa.
"Ledi bermanfaat juga tahu kuliah Arsitek, bisa bantu Ulan tuh kerjakan tugas. Coba kolaburasi ilmu di Ohio sama Jepang punya." kata Balen tersenyum jahil.
"Ayo kita mulai, apa yang bisa aku bantu?" tanya Redi.
"Ulan, Baen gorengi Ulan pempek, mau ndak?" Balen menawarkan.
"Boleh nih buat cemilan kita Baen. Memang sudah bisa goreng pempek kamu, Baen?" tanya Ulan yang tahu Balen tidak pernah kedapur.
"Hehehe ayo Aban." cengar-cengir ajak suaminya beraktifitas didapur. Daniel tersenyum ikuti maunya Balen.
__ADS_1
"Yang goreng Daniel itu nanti." bisik Redi bikin Ulan terbahak.
"Ulan aja yang goreng deh, jangan Abang Daniel." Ulan jadi tidak enak hati.
"Tidak apa Ulan, terusi saja sama Redi, biarkan kami pinjam dapurmu." kata Daniel pada Ulan.
Mulailah Ulan diskusikan tugasnya dengan Redi, sesekali ia membuka bukunya lalu tanyakan maksud yang ia tidak mengerti pada Redi. Untung saja buku yang dipakai berbahasa Inggris, kalau bahasa Jepang sudah pasti Redi harus menyimak Ulan terjemahkan maksud dari isi buku.
"Abang Redi masih ingat ilmu Arsiteknya ya hebat." Ulan tersenyum senang karena beberapa pertanyaan yang Ulan berikan bisa dijawab dengan baik oleh Redi.
"Yah lumayan." Redi tersenyum.
"Nanti ulan tanya-tanya Abang, ndak apa ya?" ijin pada Redi.
"Boleh, nanti telepon saja." jawab Redi senang hati, mereka sudah bertukar nomor handphone tadi.
"Nanti kalau ada pertanyaan Ulan chat dulu ya Bang, takutnya Abang Redi lagi sibuk disana." kata Ulan lagi.
"Iya semoga saja aku bisa bantu. Tadi saja ada yang beda ya, tapi lumayan juga aku jadi tambah ilmu." Redi tertawa.
"Ulan pernah dengar tuh katanya semakin sering membagi ilmu malah semakin pintar." kata Ulan lalu kembali fokus dengan tugasnya.
Sementara didapur Daniel temani Balen menggoreng pempek.
"Sebentar aja kan Ban?" tanyanya sambil pegang sodet.
"Tunggu agak kuning baru angkat." jawab Daniel yang berdiri disebelah istrinya, sabar ajari Baen menggoreng.
"Aban, nanti disana beli Air Fryer aja deh, jadi Baen ndak nyalain kompor, enak lagi ndak pakai minyak gorengnya." katanya lagi sambil membalik pempek yang di penggorengan.
"Eh kok Baen ndak tahu sih?" tanyanya heran.
"Kamu kan tahunya tinggal makan." jawab Daniel.
"Iya sih soalnya diurusi Ichie semua, ah Ichie sih tahu-tahu nya pindah." keluh Balen bikin Daniel tertawa.
"Kamu juga tahu-tahu jadi istri." jawab Daniel mencubit pipi Balen gemas.
"Hahaha Aban sih." tertawa salahkan Daniel.
"Sudah boleh diangkat?" tanyanya lagi.
"Boleh." jawab Daniel.
"Duh Baen belum ngerti nih, kuningnya seperti apa, kalau ndak ada Aban gimana nih." Balen meringis.
"Nanti Baen pakai air fryer kan?"
"Iya sih, tapi ajarin Aban." pintanya pada Daniel.
"Iya sayang."
"Tapi enak ndak Aban kalau ndak pakai minyak?" tanya Balen lagi.
__ADS_1
"Kemarin-kemarin yang Ichie masak enak kan?"
"Iya sih." Balen terkekeh.
"Pempek sudah siap..." teriak Balen sambil bawakan pempek yang sudah diletakkan di wadah.
"Stocknya Ulan malah kamu yang makan." Redi tertawakan Balen.
"Ulan ndak apa kan?" baru minta persetujuan Ulan.
"Ndak apa Baen, sebenarnya Ulan bisa bikin kok." jawab Ulan santai.
"Tapi kan disini repot cari ikannya."
"Gampanglah Baen, bisa disiasati." Ulan tertawa.
"Sudah selesai tugasnya?" tanya Balen.
"Sudah sih."
"Kok cepat?" tanya Balen.
"Ini Baen bawa pakar sih." Ulan tertawa menujuk Redi.
"Ih Ledi dei hebat juga." Balen acungkan jempolnya.
"Baru sadar kalau gue hebat." Redi mencibir.
"Soalnya yang Baen tahu yang lebih hebat tuh Aban Daniel Baen sih." jawabnya sombong.
"Bodo amat Baen." jawab Redi bikin Balen tertawa geli.
"Ulan kamu yakin tugasnya sudah selesai?" tanya Daniel.
"Sudah Bang." Ulan anggukan kepalanya.
"Ayo di makan saja pempeknya." Ulan persilahkan Balen dan Daniel makan sementara ia rapikan berkasnya.
"Ulan, kok cepat sih, ditinggal goreng malah selesai?" tanya Balen pada Ulan.
"Jangan sok pintar deh Ledi Dei." protes Balen lihat Redi siap-siap banggakan diri. Redi dan Daniel tertawa dibuatnya.
"Ulan sudah kerjakan dari minggu lalu sih, ini yang tertinggal yang Ulan belum paham." jawab Ulan.
"Jadi Aban Redi bantu berapa soal?" tanya Balen.
"Satu ya Lan?" tanya Redi pada Ulan.
"Tiga." jawab Ulan naikkan tiga jarinya.
"Lumayan juga ya, semoga tidak salah. Kabari ya nanti hasilnya bagaimana." pinta Redi pada Ulan.
"Memang sudah tukar nomor handphone?" tanya Balen.
__ADS_1
"Sudah." jawab Ulan tersenyum.
"Berarti sebentar lagi tukar cincin ya." Balen tersenyum jahil pandangi Ulan dan Redi.