Because I Love You

Because I Love You
Jodoh


__ADS_3

"Om, jantung Kia kalau tidak berdetak bisa mati dong, lepas..." Kia berusaha lepaskan pelukan Lucky.


"Bilang iya dulu." paksa Lucky.


"Idih..." malah mencibir pandangi Lucky.


"Om sama Alex, kamu pilih mana?" tanya Lucky teringat Alex.


"Pilih untuk apa?" malah tanya Kia.


"Jodoh!" jawab Lucky.


"Bodo ah, mana Kia tahu." dahi Kia berkerut, "Om, lepas dong Kia malu nih." Kia sadar beberapa pasang mata perhatikan mereka.


"Bilang iya dulu." jawab Lucky.


"Kia mikir dulu Om." pinta Kia.


"Kelamaan Kia, kamu mau Opa Micko dan Bang Raymond ambil keputusan? dari tadi mereka lihat kita pelukan."


"Om jebak Kia." Kia memukul-mukul dada Lucky hentakkan kakinya kesal.


"Kita harus satu suara, jangan sampai kita dinikahkan secepatnya." kata Lucky pada Kia, lepaskan pelukannya.


"Ini tuh hari bahagia Om Ichie, Papa tidak akan pikirkan Kia." jawab Kia yakin.


"Terserah kamu deh Kia, Om tidak mau memaksa."


"Bagus deh, Kia kan harus pikir benar-benar karena ini masa depan Kia." jawab Kia, lucky mencebik.


"Kalau kamu menolak ya Om bisa apa, Om tidak akan memaksa." kata Lucky lagi.


"Kita kan Om dan keponakan." Kia nyengir, Lucky angkat alisnya.


"Tapi kalau Om dipaksa menikah sama cewek lain, Om mati saja lah." Lucky tinggalkan Kia.


"Huaaa Om!!!" gantian Kia yang mengejar Lucky.


"Kenapa?"


"Jangan mati..." pasang wajah memelas.


"Ini masih hidup." jawab Lucky.


"Tadi kata Om mau mati saja."


"Hmmm..." mengangkat alisnya.


"Tidak boleh bilang mau mati itu dosa Om." Kia ingatkan Lucky.


"Percuma hidup kalau tidak bahagia." jawab Lucky sok sendu, dalam hatinya tertawa melihat ekspresi Kia.


"Tidak mendidik, Om bukan calon suami idaman." Kia monyongkan bibirnya, waduh bukan ini yang Lucky mau, tadi dia pikir Kia akan setujui ajakan tunangan tadi.


"Suami idaman kamu seperti apa?" tanya Lucky.


"Yang beriman." jawab Kia bikin Lucky nyengir, tadi dia memang seperti orang tidak beriman saja.


"Nyengir lagi." sungut Kia.


"Menurut kamu Om tidak beriman?" tanya Lucky.


"Itu mau mati?"


"Tidak jadi." jawab Lucky kembali tertawa.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Kia.


"Kan kata kamu jangan mati, kamu sayang betul sama Om sampai takut kehilangan." Lucky tertawa geli.


"Sebel ih!!!" Kia kembali hentakkan kakinya kesal dibercandai Lucky.


"Kia sayang... gemes deh." tertawa mencubit pipi Kia, beneran gemes.


"Bodo amat Om Lucky." beneran kesal dipermainkan Lucky.


"Jadi bagaimana? mau kan kita tunangan."


"Tidak mau!" tolak Kia merajuk.


"Ck, tadi katanya mau pikir dulu."


"Tunangan saja sama Tante Lee." sengit gitu suara Kia.


"Jangan dong, maunya sama Kia saja." jawab Lucky kembali merangkul Kia.


"Ayo ke Opa Micko." ajak Lucky sambil menggiring Kia pada keluarganya, ada Raymond dan Roma juga disana.


"Tidak ikut meeting karena Kia, heh?" langsung mendapat sambutan Dari Winner saat Lucky dan Kia mendekat.


"Memang iya Om?" tanya Kia, Lucky mengangkat alisnya.


"Tadi katanya diundur jadi besok, Om bohong!" Kia kembali mencubit perut Lucky yang tertawa dibuatnya.


"Papa, Lamar saja Kia nih. Kami tunangan saja dulu, menikahnya setelah Kia lulus." kata Lucky langsung pada Papanya.


"Setuju kan Bang?" tanya Lucky pada Raymond.


"Nanti saja kita bahas." kata Papa Micko sok jual mahal.


"Orang jatuh cinta memang suka aneh." sahut Winner tertawa.


"Bang, aku tidak akan ganggu kuliah Kia deh, aku tunggu sampai dia lulus." Lucky membujuk Raymond.


"Kita pikirkan dulu, Lucky." jawab Roma tersenyum jahil.


"Baiklah." Lucky tidak mendesak, ia menunggu kabar baik dari kedua orang tua Kia.


"Komen dong Ma." kata Winner pada Mamanya.


"Hmm... Mama lagi menikmati aksi panggung pengisi acara, Ichie keren juga pestanya. Kalian mau pesta yang seperti apa?" tanya Mama Lulu pada Lucky dan Kia.


"Masih empat tahun lagi Ma, kan dalam waktu dekat hanya tunangan." jawab Lucky pada Mama Lulu.


"Tunangan? memang ada keluarga Reza yang tunangan lebih dulu? setahu Mama sih Oma Nina tidak ijinkan itu, dia mau anak keturunannya langsung menikah saja." Lucky menghembuskan nafas lega, untung Oma Nina sudah pulang setelah akad nikah tadi.


"Apalagi kalau tahu cucunya dipeluk-peluk Lucky." timpal Winner kembali tertawa.


"Kia, kamu beneran mau kuliah di Ohio? itu keinginan kamu menuntut ilmu atau menghindari Lucky yang mau dicarikan jodoh?" tanya Papa Micko pada Kia.


"Ih Opa." Kia jadi salah tingkah.


"Kalau dalam rangka menghindari Lucky yang akan menikah, sebaiknya kamu batalkan kuliah di Ohio." tegas Micko pada Kia yang sudah seperti cucunya sendiri.


"Papa sudah bayar Opa, tidak bisa dibatalkan." Kia mencari alasan.


"Sekuat itu kamu mau meninggalkan Lucky?" tanya Raymond jahil.


"Papa, apa sih?" Kia kembali monyongkan bibirnya. Raymond dan Roma terbahak dibuatnya.


"Kuliah di Jakarta saja." bisik Lucky pada Kia.

__ADS_1


"Apa sih?" kening Kia berkerut.


"Kita kan mau tunangan, masa berjauhan." bujuk Lucky setulus hati.


"Tadi Om bilang boleh selesaikan kuliah, bagaimana sih?" Kia mengomel.


"Berarti setuju ya kita tunangan?" Lucky nyengir pandangi Kia.


"Memandang dengan penuh cinta." celutuk Winner.


"Rese!" Lucky terbahak, tidak jelas ini cinta apa bukan.


"Ini acara Richie loh, kalian kenapa bikin acara sendiri sih?" tanya Nanta pada Lucky dan Kia.


"Om Lucky nih Panta, bukan Kia." aksi menyelamatkan diri bikin Lucky terbahak.


"Abang setuju tidak?" tanya Lucky pada Nanta.


"Tidak punya hak jawab."


"Punya dong, kan aku tanya Abang." Lucky tersenyum.


"Tuh Ichie mau apa tuh." Nanta menunjuk Richie yang datang hampiri mereka.


"Pamit ya..." ijin Richie pada semuanya.


"Mau kemana Om?" tanya Kia pada Richie.


"Bukhara." jawab Lucky tersenyum, tempat bulan madu pilihan Richie dan Tori ke Bukhara Uzbekistan.


"Ikuut." rengek Kia pada Om nya.


"Ajak tuh Bang, Kia minta ikut." goda Richie pada Lucky.


"Mau berangkat sekarang? belum kelar nih acara." tunjuk Lucky pada keseruan di panggung.


"Tinggal konser, Bang. Ijin ya, Tori sudah capek juga."


"Malam pertama dulu lah." celutuk Raymond.


"Aih Bang Lemon, ada anak dibawah umur nih." Richie terbahak tunjuk Kia.


"Sebentar lagi juga dia menyusul." jawab Raymond terbahak.


"Papa!!!" teriak Kia malu, apa-apaan Papanya bahas malam pertama dan malah bilang Kia akan menyusul.


"Kamu mau menyusul ke Bukhara kan?" tanya Raymond pada Putri semata wayangnya ini.


"Mauuuu..." Kia langsung heboh.


"Oke Luck, halalin dulu, setelah itu ajak ke Bukhara." kata Raymond menepuk bahu Lucky.


"Empat tahun lagi dong." Lucky tertawa.


"Enak saja anak gue sudah dipeluk-peluk mau dinikahi empat tahun lagi." Raymond tersenyum sinks, Micko cengar-cengir.


"Maksud Abang bagaimana?" Lucky jadi bingung sendiri.


"Nikahkan dalam waktu dekat Lucky, masa harus diajari sih." sahut Mama Lulu.


"Kan kami mau tunangan dulu, Kia juga baru lulus sekolah, dia harus kuliah." Lucky langsung sampaikan alasannya.


"Sebenarnya tidak mau dibahas malam ini ya, tapi kalian terlalu nempel sih peluk-pelukan didepan umum, jadi kamu harus nikahkan Kia secepatnya, jangan sampai Kia di cap sebagai perempuan tidak benar." tegas Mama Lulu bikin Lucky dan Kia terbengong.


"Oke, semoga lancar. Aku tunggu di Bukhara." jawab Richie tertawa senang lalu segera tinggalkan semuanya, ia dan Tori harus segera ke Bandara, bercapek-capek dahulu senang-senang kemudian. R

__ADS_1


__ADS_2