
"Aban suka gaya yang mana?" tanya Balen pada Daniel ketika mereka selesai beraktifitas, gaya jungkir balik dan gaya miring-miring yang Balen maksud sudah mereka laksanakan.
"Suka semua." jawab Daniel sambil pejamkan matanya dan memeluk Balen.
"Yang paling suka dong Aban, masa suka semua." protes Balen pada Daniel.
"Yang paling suka... semuanya suka sayang, terserah mau gaya apa saja." jawab Daniel lagi.
"Ah Aban mah, Baen kalau ditanya ibu-ibu di group jawab apa nanti." sungutnya karena tidak mendapat jawaban yang pasti.
"Loh kok mereka tanya, itu kan rahasia kita jangan diumbar." gantian Daniel yang protes.
"Iya kan ada yang tanya kemarin, sudah praktek belum, suami suka ndak. Gitu Aban." katanya laporkan percakapan di group.
"Kalau kamu jawab, Abang malu dong saat bertemu mereka. Nanti mereka bayangkan kita bergaya miring-miring. Bilang saja rahasia deh." Daniel tidak mau di ekspose.
"Ya sudah, nanti Baen bilang kata Aban rahasia." Daniel jadi gemas dan segera mencubit pipi istrinya.
"Ih, cubit Baen lagi." Balen terkekeh.
"Kamu tuh seperti yang Ichie bilang, kadang-kadang suka pinpinbo."
"Apa Ichie bilang begitu?" pura-pura kaget.
"Lupa, sudah tua ya?" Daniel balik bertanya menggoda istrinya.
"Habis suaminya sudah tua sih. Baen ketularan deh." jawabnya bikin Daniel tertawa.
"Sayang, ayo telepon Papon dan Mamon." ajak Daniel pada Balen.
"Pakai baju dulu dong Aban." katanya melihat Daniel masih telanjang dada. Daniel segera bangun dari tidurnya dan kenakan pakaiannya, menuju meja rias lalu rapikan rambutnya.
"Ayo." ajak Daniel pada Balen yang segera ambil handphonenya di nakas lalu hubungi Papon.
"Sayang..." langsung saja Kenan sambut Putri kesayangannya.
"Papon, videocall aja deh." katanya tidak puas karena tidak melihat wajah Papon.
"Nah ini kan cakep Papon Baen." katanya tertawa senang saat lihat Kenan.
"Mamon juga cakep kan?" Nona tidak mau kalah.
"Iya dong, Mamonnya Baen gitu loh." jawabnya bikin Kenan dan Nona terbahak.
"My Papon and my Mamon. Baen sama Aban tuh hari minggu besok syukuran pernikahan disini, mohon doa restu." katanya bikin Daniel terkekeh.
"Oh, disana bikin acara juga?" tanya Nona.
__ADS_1
"Makan siang aja kan Aban?" tanya sama Daniel.
"Iya, Mamon. Hanya makan siang mengundang kenalan kami disini. Kabar baik harus diumumkan katanya." Daniel ikut menjelaskan.
"Apa yang bisa Mamon bantu?" tanya Nona.
"Ndak usah bantu, acaranya cuma di restaurant aja." jawab Balen.
"Ok, semoga lancar." jawab Nona santai.
"Ndak mau ikut kesini? Mama Amelia dan Papa James rabu berangkat kesini karena acara itu." Balen menawarkan.
"Bagaimana Papon?" Nona terkekeh pandangi suaminya.
"Apa perlu kami datang?" tanya Kenan pada Balen dan Daniel.
"Terserah Papon dan Mamon. Kalau mau sekalian liburan mumpung Mama dan Papa kesini bisa sekalian berangkat." kata Daniel pada mertuanya.
"Nanti ya Papon pikirkan dulu dan lihat jadwal di Kantor." dari dulu selalu cocokkan jadwal dikantor.
"Siap Papon, datang atau tidak kamar tetap dirapikan." jawab Daniel tersenyum manis.
"Papon datang aja sih, masa cuma Aban Daniel ada orang tuanya, Baen ndak." merasa tidak adil.
"Mama Amel kan juga orang tua kamu."
"Iya sih tapi kan nanti orang tanya, oh ada orang tua Daniel, Balena mana ya orang tuanya? Beneran deh Baen ndak jelas asal usulnya." langsung mengomel.
"Mamon sih siap saja Baen, tergantung Papon nih." jawab Nona sambil menepuk bahu suaminya.
"Kalau masih anggap Baen anak harus datang." ancaman mulai ekstreem. Kenan dan Nona terbahak.
"Kamu tidak ajak Oma, Ayah dan Bunda? Opon dan Oma Mita? nanti mereka sedih kalau kamu tidak beritahukan." Kenan ingatkan Balen.
"Papon jangan dimatikan, Baen telepon semuanya." kata Balen langsung sambungkan video bersama. Satu persatu bermunculan dan menyapa Balen.
"Pada ke Ohio dong, Baen minggu ada acara makan siang dengan penduduk sekitar." kata Balen pada semua Anggota keluarganya, kecuali anak-anak.
"Kamu mau kampanye disana? Undang penduduk sekitar?" tanya Opa Baron konyol.
"Iya Baen mau jadi Presiden." jawab Balen bikin semua keluarga tertawa.
"Kami mau syukuran sekalian umumkan kalau kami sudah menikah Oma, Opon, Ayah, Bunda." Daniel jelaskan pada semuanya.
"Oma tidak datang ya sayang, terlalu jauh untuk Oma." jawab Oma Nina langsung undurkan diri.
"Iya Oma yang penting doanya." kata Daniel pada Oma.
__ADS_1
"Mama di temani Raymond dan Roma tidak apa Ma?" tanya Reza yang ingin ikut hadiri acara makan siang Balen dan Daniel.
"Iya, Oma sama Nanta dan Dania juga bisa. Mereka tidak ikut kan?" tanya Oma Nina.
"Kalau senior ikut, mereka harus jaga kandang, Ma." jawab Kenan, semua pun tertawa dibuatnya.
"Ya kalian pergilah, mumpung Daniel dan Baen masih disana, nanti kalau sudah kembali ke Indonesia, sudah bertambah malas kamu ke Ohio." kata Oma Nina pada Kenan. Sudah tahu anaknya selalu menghindari perjalanan jarak jauh jika tidak sangat terpaksa.
"Opon sebenarnya ingin hadir Baen, tapi kamu tahu kan Opon masih sedikit menggareng." kata Opa Baron bikin Balen terkikik geli.
"Bukannya Opon sudah sehat ya?" tanya Nona pada Papanya.
"Kambuh lagi Nona, Papa kamu tidak ada pantangnya." celutuk Oma Mita pada Mamon.
"Opon cepat sembuh, Baen doakan Opon ndak nakal lagi." Balen doakan Opa Baron.
"Enak saja bilang Opon nakal."
"Itu Opon kemarin sudah Baen kasih tahu ternyata masih dilanggar, berarti Opon nakal." katanya lagi.
"Oma Mita aja yang ikut deh, Opon biarin tinggal sama Bibi." kata Nona.
"Enak saja, kami kan satu paket, mana boleh begitu." Opa Baron tidak terima, Balen terkikik geli.
"Ya sudah berarti yang berangkat Papon, Mamon, Ayah dan Bunda ya.". Balen langsung catat para peserta dari keluarganya.
"Papa Micko nanti Papon ajak juga Baen, biasanya suka mau ikut." kata Kenan pada putrinya.
"Siap Papon, Disini ada rumah warga yang bisa disewa loh, nanti Baen siapkan rumahnya kalau yang ikut banyak." kata Balen mengingat kamar dirumah mereka terbatas. Kalau Papon dan Mamon bisa dikamar Richie Dan Oma Mita juga bisa dikamar Balen dulu, Kamar Redi pastilah Redi yang tempati. Tapi kalau ada Ayah, Bunda dan juga Papa Micko beserta istrinya pasti tidak muat.
"Kamu sih tidak beli hotel Baen, jadi sewa rumah warga deh." Opa Baron menggoda cucunya, Balen dan yang lain langsung terbahak.
"Opon sih ndak belikan, jadi kan Baen ndak punya hotel deh." salahkan Opon yang dulu tidak belikan Balen hotel.
"Masih mau punya hotel?" tanya Oma Nina pada Balen.
"Mau kalau Baen tinggal di Jakarta." jawab Balen.
"Tanah Oma yang dekat Warung Elite itu bisa kamu bangun hotel, itu hadiah dari Oma untuk kamu." kata Oma Nina yang masih punya aset menganggur.
"Ih kok kasih cucu bukan anak?" Ayah Eja menggoda Mamanya.
"Ayah, rejeki Baen jangan di protes." kata Balen bikin semuanya terbahak.
"Punya hotel deh Baen, asiiik." langsung joget-joget senang sudah punya lahan untuk bangun hotel.
"Opon siapkan dana untuk bangun ya, masih ada kan jatah Baen? Nanti Baen juga ambil dari tabungan Baen, kita hitung-hitung deh berapa yang harus Opon tambah." langsung tagih Opon yang langsung garuk kepala, tapi tertawa geli lihat cucunya kesenangan.
__ADS_1
"Kamu kuliah dulu yang benar, masalah hotel tinggal siapkan saja bagaimana konsepnya. Dana akan kita bicarakan secara professional." kata Opa Baron pada cucunya.
"Aseeek." langsung tambah hot joget-joget Balen.