
"Baen, beneran kamu besok mau ke Jakarta lagi?" tanya Ulan pada Balen, baru saja mereka bertemu Balen sudah bilang harus kembali Ke Jakarta karena harus memantau perkembangan hotelnya. Daniel tertawa melihat istrinya yang sok sibuk seperti pengusaha besar.
"Iya Ulan, besok ya kesini lagi kok sama Aban." jawab Balen nyengir.
"Kalau tahu begitu lebih baik lusa saja kamu datangnya." kata Ulan pada Balen, ia kasihan lihat Balen kelelahan.
"Ndak apa, Baen sekalian antar Achara tadi. Sekarang Achara sudah bisa bikin aktifitas sendiri deh." jawab Balen lega karena Achara sudah dirumah yang akan ditempatinya dimana beberapa orang kiriman Papanya sudah beberapa hari sebelumnya tinggal disana lebih dulu. Setidaknya Achara banyak yang temani.
"Ulan sudah ketemu Ledi Dei?" tanya Balen, Ulan gelengkan kepalanya sambil senyum malu-malu.
"Ulan kan lagi dipingit Baen." jawab Ulan.
"Bagaimana rasanya mau menikah? Senang ndak ternyata Ledi Dei yang akan jadi suami Ulan?" Balen senyum-senyum menggoda Ulan.
"Ih Baen, apa sih. Ulan malu ada Aban Daniel tahu." bisik Ulan sambil melirik Daniel yang cengengesan saja lihat Balen dan Ulan kasak-kusuk.
"Aban, masa Ulan malu jawabnya karena ada Aban." Ih Balen langsung bikin Ulan merah merona sambil pejamkan mata, malah kasih tahu Daniel lagi.
"Ulan kan memang pemalu." celutuk Papa Bagus.
"Papagus, sebentar lagi punya besan loh." Balen terkikik pandangi Bagus.
"Loh sudah punya besan dari dulu waktu abangmu menikah dengan Dania." jawab Bagus tertawa mengacak anak rambut Balen yang masih saja terlihat menggemaskan.
"Oh iya Baen lupa." Balen langsung terbahak.
"Tapi Papagus nyangka ndak kalau Ulan menikah secepat ini?" tanya Balen.
"Yah sudah persiapkan diri sih saat lihat Nanta dan kamu menikah muda, Papa pikir mungkin saja Ulan akan bernasib sama, ternyata betul saja." jawab Bagus senyum pandangi Ulan.
"Kalian menginap disini kan?" tanya Mama Tari pada Balen dan Daniel, Kenan dan Nona tidak ikut ke rumah Tari, mereka memilih kerumah Opa Baron terlebih dulu.
"Ndak dong Mama, Opon sudah pesan supaya Baen pulang cepat, dia mau makan disuapin Baen." jawab Balen ingat permintaan Opa Baron tadi.
"Halah Opa kamu tumben minta disuapin kamu." Tari terbahak.
"Manja aja kali, Mama Ai. Kan Baen sekarang terlihat dewasa." jawab Balen bikin Tari dan Bagus terbahak.
"Dewasa dari mana?" tanya Daniel ikut terbahak.
"Ih Aban mah, ndak mendukung istri." sungutnya karena Daniel malah tertawakan Balen.
"Mana ada tidak mendukung." Daniel terkekeh.
__ADS_1
"Seru ya Niel, punya istri seperti Baen." kata Mama Tari pada Daniel.
"Iya Ma." jawab Daniel nyengir lebar.
"Nanti kalau hotel kamu sudah selesai, kamu pulang dong ke Indonesia. Siapa yang urus kalau bukan kamu Baen, Abangmu sudah sangat sibuk, kasihan kalau ditambah lagi beban kerjanya." Tari ingatkan Balen.
"Iya Mama Ai, nanti dibahas lagi bagaimana baiknya, Baen belum kepikiran mau urus hotel, dulu Baen pikir Ichie aja yang urus, eh Ichie sudah di ambil Opon." Balen monyongkan bibirnya.
"Nanti pasti ada yang bantu, Ma." kata Bagus pada Tari.
"Kemarin itu Aban Lemon sebut Ben yang urus, Mama Ai ingat ndak anaknya Aban Romi." kata Balen.
"Anaknya Anggita?" tanya Tari.
"Iya kan istrinya Aban Romi cuma Kak Anggita, Mama Ai ih." Balen memukul lembut tangan Tari.
"Ben sudah di Indonesia?" tanya Tari.
"Ndak tahu, Baen ndak terlalu akrab sih, cuma sambil lewat aja. Dia kan dari kecil sudah tinggal di Perth, nah kalau ndak salah dia yang diminta Aban Lemon bantu urus hotel Baen."
"Ben itu sepupunya Kia Aban, Ban Romi sama Kak Roma itu sepupuan." Balen jelaskan pada Daniel.
"Dan orangnya ganteng Daniel." Tari acungkan jempolnya.
"Idih Mama Ai, suami Baen juga ganteng tahu." sungut Balen.
"Memang Mama bertemu Ben itu dimana? Kan dari kecil tinggal di Perth." tanya Ulan pada Mamanya.
"Pernah bertemu di airport waktu kita mau ke Jepang, Anggita juga ke Jepang sama Ben dan Romi. Tapi kita beda pesawat." jawab Tari pada Ulan.
"Iya, Mama kamu langsung seperti abege curi-curi pandang lihat Ben." Bagus tertawa.
"Genit ih Mama Ai." celutuk Balen bikin Tari terbahak.
"Enak saja, Mama curi pandang pikir siapa tahu jodoh sama Ulan. Eh tahunya jodohnya Redi, tidak kalah ganteng kok." kata Tari disela tawanya.
"Bilang gitu ndak enak sama Aban Dani ya?" Bagus terbahak mendengar pertanyaan Balen, sementara Daniel nyengir gelengkan kepalanya.
"Memang Redi ganteng kok, tapi kan Mama bertemu Ben lebih dulu, sementara Ulan bertemu Redi lebih dulu, jadi Mama tidak curi pandang sama Redi."
"Duh keselek deh Ledi Dei kita bahas." Balen tertawa.
"Baen kamu menginap saja malam ini, ke airport lebih dekat dari sini kan. Nanti Mama bilang Opon deh. Enak ada kamu suasananya jadi heboh." pinta Tari pada Balen.
__ADS_1
"Nanti yang suapin Opon siapa?" tanya Balen.
"Ada Oma Mita kan, ada Mama kamu juga." jawab Tari.
"Ya sudah Mama Ai coba aja. Eh Baen belum bertemu mertua Baen nih." Balen langsung tepuk jidat.
"Tuh kan Aban kalau di Malang ini pasti urusan kita banyak deh, makanya Baen maunya lama disini." kata Balen pada Daniel.
"Mama dan Papa lagi dirumah Opon." jawab Daniel yang sudah mendapat kabar dari keluarganya.
"Aban Leyi minta dijemput juga kan Aban?" tanya Balen, Daniel anggukan kepalanya, malam ini Larry datang bersama keluarganya, ia minta Daniel dan Balen menjemput di Bandara.
"Kalau sibuk begini besok tidak usah ke Jakarta dulu Baen." kata Bagus pada Balen.
"Aduh, ndak bisa Papa. Baen tuh sudah niat terbang-terbang." jawabnya polos.
"Terbang-terbang apa urus hotel?" tanya Bagus bingung.
"Duh..." Balen jadi bingung sendiri.
"Ya terbang-terbang berdua Aban sambil urus hotel." jawab Balen akhirnya.
"Kamu naik pesawat apa besok,.ada maskapai yang sering terbang lebih cepat dari jadwal loh, jadi jangan sampai terlambat." Tari ingatkan Balen.
"Baen naik private jet nya Achara, Mama Ai." jawab Balen.
"Oh bedua saja dong dipesawat." tanya Ulan, Balen anggukan kepalanya. Ulan langsung nyengir pandangi Balen.
"Apa sih Ulan?" Balen Salah tingkah.
"Dasar..." Ulan langsung mencubit pipi Balen gemas.
"Ih sakit Ulan." Balen balas memukul bahu Ulan. Daniel jadi terkikik geli karena Ulan sepertinya paham, mungkin Redi ceritakan pada Ulan.
"Mau bikin anak diatas awan seperti Ichie kan." bisik Ulan tertawa.
"Ih Ulan." Balen ikut tertawa.
"Ulan jangan iri." kata Balen lagi.
"Ndak kok." Ulan tertawa, Balen terkikik geli, kembali bisikkan sesuatu pada Ulan.
"Kalian ini apa sih bisik-bisik?" Mama Tari jadi bingung lihat keduanya kasak-kusuk sambil cekikikan.
__ADS_1
"Biasa Ma, Ulan ceritain nih Baen." Ulan cengar-cengir.
"Ulaaaan..." Balen langsung menutup mulut Ulan, keduanya kembali cekikikan.