Because I Love You

Because I Love You
Rahasia


__ADS_3

"Baen kesepian nih!" teriak Balen saat Raymond hubungi Balen melalui sambungan Video group, ada Nanta , Roma dan Dania juga disana. Sebulan berlalu, kehidupan Balen dan Daniel di Ohio kembali normal, karena keluarga mereka sudah kembali ke Indonesia.


"Ke Jakarta saja ramai." jawab Raymond terkekeh.


"Aban ih, nanti kalau Ichie menikah Baen ke Indonesia." jawab Balen.


"Ke Indonesia tuh berarti bukan hanya ke Jakarta ya?" tanya Roma.


"Yah, Baen mau di Malang yang lama, honeymoon." jawabnya bikin Daniel yang disebelahnya cengar-cengir.


"Bukannya sekarang kalian honeymoon terus ya?" tanya Dania tertawakan Balen.


"Masa sih?" Balen tanyakan pada suaminya bingung, masa iya sekarang seperti honeymoon. Daniel sibuk kerja sementara Balen sibuk di kampus, sesekali ada juga yang masih meminta Balen untuk tampil di catwalk, untuk baju-baju model babydoll Balen terima, tapi yang mencetak body terpaksa Balen tolak, itupun jika tampil siang hari, kalau malam tidak Daniel ijinkan.


"Bukan honeymoon itu sih, Baen kerja, Aban kerja." katanya setelah sedikit berpikir.


"Kamu kerja apa?" tanya Nanta bikin Balen mencubit paha suaminya. Balen tidak bilang jika ia masih aktif di catwalk walaupun tidak peragakan pakaian yang sesi-sesi.


"Kerjain tugas kuliah." jawab Balen berkelit.


"Bukan di catwalk?" tanya Nanta lagi.


"Kalau tampil yang ndak seksi aja, jawabnya mengaku." Nanta tertawa mendengarnya.


"Bagus deh kamu sudah bisa pilah-pilah." kata Nanta kemudian.


"Aban ndak marah?" tanya Balen pada Nanta.


"Suamimu saja ijinkan, masa Abang marah. Dulu belum ada suami masih bisa Abang larang." jawab Nanta tersenyum.


"Ih kalau tahu ndak marah, Baen share foto-foto Baen di group keluarga tuh." menyesal tidak bisa pamer. Semua tertawa dibuatnya.


"Niel, ada proyek apa sekarang?" tanya Raymond.


"Masih yang kemarin saja Bang, kewalahan aku kalau harus tambah lagi." jawab Dani pada Raymond.


"Baru gue mau tawarin." Raymond terkekeh.


"Nyerah deh bang, Baen perlu pengawasan ekstra." jawab Daniel angkat tangannya. Tidak mau dibuat lebih sibuk lagi oleh pekerjaan.


"Yah Nantilah kalau kamu di Jakarta kita bicarakan, ini sih menarik."


"Jangan dibikin sibuk deh Aban Daniel Baen, sekarang aja Aban suka lembur." Balen curhat.


"Lembur sampai larut malam?" tanya Nanta.


"Ndak sih, jam sembilan sudah di rumah, tapi tetap aja Baen kesepian." keluh Balen pada Abang-abang dan Kakak-kakaknya.


"Kamu dirumah sendiri dong?" tanya Nanta.


"Iya, Aban Daniel ndak kasih Baen kerja sampai malam sih. Padahal Aban sendiri pulangnya suka malam." sungut Balen.


"Kalau terlalu lelah nanti pengaruh ke fisik kamu, sayang." Daniel mengelus bahu istrinya.

__ADS_1


"Sama saja Baen, di Jakarta juga Abang-abang kamu suka lembur. Resiko jadi istri deh, menunggu suami di rumah." kata Roma pada Balen.


"Iya sih." Balen terkekeh.


"Tapi kalau di Jakarta tempat main Baen banyak." katanya lagi.


"Kalau boleh main." sungut Roma, gantian Raymond yang nyengir.


"Aban Lemon, memangnya Kak Roma ndak boleh main?" tanya Balen.


"Seperti anak kecil saja main." kata Raymond.


"Boleh sih Baen, tapi mainnya ke rumah Mami, Bunda, Om Kenan. Pokoknya ke rumah keluarga, kalau ke Mal atau ke rumah teman tidak boleh." jawab Roma cepat.


"Boleh kok, tapi sama aku." jawab Raymond posesif.


"Tuh, Abang kamu tuh." Roma tertawa.


"Kerumah Tante Lulu dong, Kak Roma." Balen menggoda Roma.


"Ahim, calon besan." Balen tertawa sendiri.


"Eh anak gue masih ingusan Baen. Mana mau Lucky menikah sama bocah." Roma tertawa.


"Kia belum kepikiran kesana deh, apalagi gue, masa cepat sekali sudah punya menantu." Roma langsung heboh sendiri.


"Tapi Aban Lucky tuh dijodohinnya sama Kia bukan sih?" tanya Balen penasaran, bertanya langsung pada Raymond pasti lebih akurat. Berita simpang siur malah bikin pusing kepala.


"Nanti Baen pindahnya kalau Kia sudah lulus kuliah." jawab Balen tersenyum jahil.


"Ban Nanta, Aban Lemon sama Kak Roma sudah tahu belum sih kalau Kia mau ikut Baen?" tanya Balen pada Nanta.


"Sudah tahu Baen, ijin belum kita keluarkan." jawab Roma tersenyum.


"Kasih ijin dong, biar Baen ada teman disini." pinta Balen.


"Nanti ya, kita masih pikir panjang. Lagipula Kia juga masih UAN, nanti kalau sudah selesai baru deh pikirkan kuliah dimana." jawab Roma wakili Raymond.


"Kamu tahu alasan Kia mau kuliah jauh kan Baen?" tanya Raymond.


"Mau dekat Baen." jawab Balen sok tahu.


"Ada alasan lain pasti." tebak Roma.


"Ndak tahu." pura-pura tidak tahu saja.


"Kalau kamu rahasiakan Dari kami kenapa Kia mau kuliah disana, berarti setiap informasi yang kami punya tidak akan sampai ke kamu Baen." ancam Raymond.


"Informasi apa memangnya?" tidak merasa diancam, group anak-anak Baen pada bocor mana bisa simpan rahasia.


"Pembangunan hotel kamu." ah ini sih masa depan Balen.


"Ndak ada hubungannya dong Kia dan hotel Baen." tidak terima pembangunan hotelnya dikaitkan.

__ADS_1


"Ada dong, yang urus kan Abang." jawab Raymond.


"Terus kenapa kalau Aban?"


"Abang, Papanya Kia." Raymond terkekeh.


"Kata siapa Papon yang Papanya Kia." Balen monyongkan bibirnya.


"Nah kasih tahu dong kenapa tiba-tiba Kia mau kuliah di Ohio? selama ini tidak pernah sebut itu." Raymond bujuk Balen.


"Kalau kata Lucky karena ingin menjauh dari Lucky sih." jawab Dania.


"Bisa jadi." jawab Balen nyengir, Lucky sudah cerita sama Dania rupanya.


"Hotelnya untuk Dania saja kalau begitu." kata Raymond menggoda Balen.


"Eh enak aja Aban, masa depan Baen itu." setengah berteriak, Daniel dan Nanta terkekeh. Dania nyengir saja.


"Yang kasih tahu Abang, Dania sih bukan kamu."


"Aban Lucky ceritanya sama Tania bukan sama Baen." jawabnya membela diri.


"Aban tanya yang Kia ceritakan sama kamu." pinta Raymond.


"Dia ndak rela Aban Lucky menikah, takut istri Aban Lucky ndak suka sama Kia. Mungkin Kia trauma karena ternyata Aban Lucky pernah putus sama pacarnya karena Kia." Balen akhirnya beritahukan Raymond.


"Kia suka sama Lucky?" tanya Roma.


"Kia ndak bilang gitu sih, cuma takut kalau Aban Lucky sudah menikah berarti mereka ndak bisa jalan sama-sama lagi." jawab Balen.


"Lucky juga aku bilang mau dijodohkan tidak mau, katanya belum mau menikah. Mungkin menunggu Kia besar sedikit." Dania ikut katakan mungkin.


"Yah waktu Redi bilang Lucky naksir Kia pun, Lucky masih denial, Kia pun begitu." Daniel ikutan sampaikan yang dia tahu.


"Jangan dipaksa kalau mereka ndak mau dijodohkan." pesan Balen pada Raymond dan Roma.


"Jadi Baen, Lucky itu memang sudah diminta Om Micko untuk menikah, Winner referensikan Kia pada Om Micko untuk jadi istri Lucky, tapi seperti yang kalian bilang Lucky denial, menganggap Kia hanya keponakannya. Tapi yang kami lihat perlakuan Lucky pada Kia itu melebihi perlakuan Om pada keponakan." Raymond ceritakan panjang lebar.


"Jadi?" tanya Balen penasaran.


"Akan ada calon lain untuk Lucky, karena Abang Dan Kak Roma juga belum putuskan setuju untuk jodohkan mereka." Balen anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Pembahasan ini bisa tidak menyebar ke anak-anak kamu Baen?" tanya Nanta.


"Rahasia?" tanya Balen.


"Ini pembicaraan orang tua, mereka tidak perlu tahu." kata Raymond.


"Berarti Baen termasuk orang tua ya?" Balen tertawa geli menepuk paha suaminya.


"Iya dari kecil kamu sudah seperti orang tua kok." jawab Roma, semua terbahak sementara Balen,


"Abaaan, istrinya tuh katain Baen!" mengadu pada Raymond, keluar lagi bocahnya.

__ADS_1


__ADS_2