Because I Love You

Because I Love You
Perpustakaan


__ADS_3

Masih bahas Redi dan Ulan saat di Kyoto...


"Ulan, soal..." Redi siap membahas future wife tapi pembicaraan terpotong karena handphonenya berdering. Redi menghela nafas saat melihat nama penelepon dilayar.


"Apa sih?" tanya Redi kesal, Balen menggangu konsentrasinya.


"Ledi Dei, Baen telepon malah judes begitu." Omel Balen tidak kalah kesal.


"Mau apa Baen?" Redi lembutkan suaranya tapi masih terdengar nada kesalnya.


"Ledi Dei sudah sama Ulan?" tanya Balen Kepo.


"Sudah ini lagi makan." jawab Redi.


"Sudah ngomong belum?" senyum-senyum sendiri walau Redi tidak melihat.


"Lu ganggu sih." omel Redi pada Balen.


"Ih Ledi Dei sih ndak laporan, jadi terpaksa Baen telepon deh. Kan Baen bilang harus tiap hari lapor, ndak ngerti memangnya yang Baen bilang?" tetap Redi yang salah.


"Gue makan dulu ya, Ulan belum makan kasihan." kata Redi pada Balen.


"Ledi, Baen sengaja ndak tidur nih biar tahu perkembangan." lapor Balen pada Redi.


"Ini baru juga hitungan jam Baen, tidur saja siapa yang suruh begadang sih?" dengus Redi.


"Ndak usah hitung-hitung Ledi, kita ndak sedang ngomong angka."


"Bodo ah, bye Baen." Redi matikan sambungan teleponnya.


Sementara itu Balen yang masih di California mendengus kesal saat Redi matikan teleponnya.


"Ledi Dei ish..." pandangi handphone sambil bergaya menonjok bikin Daniel tertawa melihatnya.


"Nyebelin deh Aban, masa matikan telepon aja." majukan bibir beberapa senti.


"Kamu sih, Redi baru juga bertemu Ulan, mana mungkin langsung bicara masa depan, bisa kabur Ulan tuh." kata Daniel terkekeh.


"Aduh, Baen mesti kasih tahu Ledi dei nih." bersiap ingin telepon Redi lagi.


"Tidak usah, kalau jodoh tidak kemana." jawab Daniel mengambil handphone dari tangan istrinya dan letakkan di nakas.


"Ayo bobo, Ibu hamil tidak boleh begadang." Daniel merebahkan badan istrinya.


"Aban, jangan lagi ya, Baen capek." katanya pada Daniel, sebenarnya Balen begadang karena Daniel bukan karena menunggu kabar Redi dan Ulan.


"Iya, kamu harus tidur juga." jawab Daniel terkekeh ikut rebahkan badannya disebelah Balen.


"Aban, besok kita kemana? masih sama Achara dan Markus?" tanya Balen.


"Berdua saja, masa sama mereka terus." Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Aban, besok piknik yuk." Balen kembali ajak piknik.


"Kemarin kan sudah sama Achara." kata Daniel.


"Mau lagi sama Aban, Enak deh Aban." katanya mau pamerkan tempat pikniknya pada Daniel.


"Mau bawa makanan apa?" tanya Daniel.


"Apa aja, ndak usah banyak-banyak." Balen ingatkan Daniel.


"Yang suka belanja banyak kan kamu." Daniel memeluk Balen gemas, bukan peluk sih cenderung menyekap.


"Kalau lapar mata suka begitu deh, tapi kan selalu habis Aban." Balen membela diri sambil terkikik geli karena disekap suaminya.


"Tentu saja, tapi Aban tidak mau habiskan makanan kamu terus, Abang begah kalau makan banyak." Daniel mengusap perutnya yang masih cenderung rata.


"Ya sudah besok kalau Aban beli makanan Baen tunggu di Mobil aja." katanya pada Daniel.


"Betul ya, biar Abang yang pilih."


"Iya."


"Kamu jangan rewel mau ini itu."


"Iya." tertawa geli saat Daniel kecup-kecup bibirnya.


"Aban mau lagi ndak?" Balen menawarkan.


"Nanti kamu capek." Daniel gelengkan kepalanya, sekali saja cukup pikir Daniel.


"Sini peluk Abang." Daniel menarik tubuh istrinya lalu memeluk Balen sambil pejamkan mata.


"Bobo..." bisiknya tapi mengendus di leher Balen.


"Aban, mau apa ndak sih?" protes Balen, ditawari lagi tidak mau tapi malah bikin Balen tak karuan. Biasanya kalau Balen ajak lakukan lagi Daniel langsung bergerak cepat.


"Besok saja ya, kamu capek." Daniel mengecup dahi istrinya.


"Baen ndak capek Aban." kesal sekali Balen, Daniel tidak seperti biasanya.


"Abang yang capek." jawab Daniel beralasan, ia tidak mau Balen kelelahan, aktifitas penuh beberapa hari ini, walau hati senang tetap saja Balen harus pikirkan kesehatannya.


"Ih, Aban mah." Balen balikkan badan, merajuk.


"Sayang..." Daniel balikkan badan Balen.


"Apa sih?" wajahnya tampak sengit.


"Besok pagi, Abang janji." Daniel tersenyum membujuk Balen.


"Maunya sekarang disuruh besok pagi, nyebelin Aban mah." kembali balikkan badan bikin Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Ya sudah ayo..."


"Ndak mau, Baen sudah ndak mau." menutup wajahnya dengan bantal.


"Kalau tidak mau jangan tidur sambil kesal." bisik Daniel sambil memeluk Balen dari belakang.


"Ndak usah peluk-peluk." dengusnya lagi.


"Nanti anaknya sedih, Papanya tidak boleh peluk sambil usap perut." bisik Daniel lagi.


"Papanya yang ndak mau lihat anaknya." oceh Balen bikin Daniel nyengir.


"Nak, kasih tahu mama ya, Papa capek jadi lihat anaknya besok pagi saja." Daniel bicara saja sendiri sementara Balen masih menutup wajahnya.


"Bilangin Mama jangan marah sama Papa tuh." oceh Daniel lagi, Balen jadi terkikik geli, dengar suaminya bicara sendiri.


"Aban mah..." balikkan badan lalu benamkan wajahnya didada Daniel yang tersenyum karena istrinya tidak lagi merajuk.


Sementara itu di Kyoto...


"Balen kenapa?" tanya Ulan tersenyum lihat ekspresi Redi barusan.


"Biasa, cerewet." Redi terkekeh.


"Tadi Abang mau bilang apa?" tanya Ulan ingat ucapan Redi terpotong karena telepon masuk.


"Makan dulu saja ya." Redi sudah tidak konsen, lebih baik makan dulu pikirnya. Lagi pula baru bertemu masa langsung bahas future wife, harus sabar, masih ada waktu.


Tidak banyak yang dibahas saat makan, hanya seputar kuliah Ulan, tugas-tugas yang sempat Redi kerjakan saat di California dan juga aktifitas Ulan sehari-hari.


"Abang, Ulan heran deh, kenapa Abang Redi bisa kerjakan tugas Ulan, bukannya ada perbedaan antara Asia dengan Eropa?" tanya Ulan pada Redi.


"Pasti, tapi kerjakan tugas kamu tuh, ilmu aku jadi bertambah karena aku jadi banyak membaca dan belajar lagi." jawab Redi jujur.


"Kapan-kapan Ulan perlu baca buku yang Abang punya juga ya, biar Ulan bisa tambah ilmu juga." kata Ulan pada Redi.


"Boleh, nanti ya kalau kita sudah..." eh Redi hampir saja bilang kalau kita sudah menikah, tapi segera sadar ini belum waktunya.


"Kalau kita sudah apa?" tanya Ulan.


"Kalau kita sudah tidak sibuk." jawab Redi tersenyum.


"Abang, temani Ulan ke toko buku setelah ini mau? kita kan sudah makan, Ulan ndak lapar lagi." ajak Ulan, tentu saja Redi mau dan langsung anggukan kepalanya.


"Ulan juga mau ke perpustakaan nasional sebenarnya." Ulan mendesah.


"Besok?" tanya Redi.


"Tanggal merah, perpustakaan tutup."


"Sekarang saja masih buka tidak?" tanya Redi.

__ADS_1


"Masih, Abang mau? masa liburan ke Kyoto malah ke perpustakaan." Ulan tidak enak hati.


"Tidak apa, aku senang kok, banyak yang bisa dibaca disana kan?" yah Redi harus menyesuaikan diri, tidak apa demi masa depan, jika hari pertama dengan Ulan ternyata harus ke perpustakaan.


__ADS_2