
"Kenalan dulu kan Mam? kalau orangnya sulit aku tidak mau." kata Chandra pada Mamanya, ketika Balen membahas soal mengajari Kate berenang.
"Iya kenalan dulu." Balen anggukan kepalanya, "Ini kok seperti mau dijodohkan ya Aban." bisik Balen terkikik geli.
"Mulai halu Mam." Daniel terkekeh sambil ikut berbisik, Balen mencubit perut suaminya gemas.
"Mereka juga cuma sebentar sih di Indonesia, jadi mau belajar berenangnya tuh kilat." kata Balen, sementara Daniel mengusap perutnya yang sedikit perih akibat cubitan mesra dari istrinya.
"Mana bisa pintar kalau kilat, tapi kalau Kate itu disiplin, belajar setiap hari sih bisa." jawab Chandra, anaknya yang satu ini dewasa sebelum waktunya, padahal kehidupannya enam tahun ini tidak keras, semoga kedepannya begitu lancar-lancar saja.
"Mam, kenapa belajarnya tidak di hotel Mam saja, jadi aku setiap hari ada ditempat yang sama dengan Mam." Charlie berikan ide.
"Tante Jelita juga mau bertemu keluarganya, tidak setiap hari di hotel." jawab Balen.
"Mam, belajar berenang setiap shubuh saja sekalian aku latihan." gantian Chandra yang berikan ide.
"Wah masa kalian shubuh-shubuh sudah di rumah Papon, mereka tidak mungkin kesini karena jauh." tolak Balen.
"Belajarnya sore saja sayang." kata Balen.
"Oke Mam." Chandra setuju saja walau idenya ditolak Mama, pikirnya tadi selama mengajari berenang, Chandra akan menginap di rumah Papon, tapi berhubung Chandra buka type anak yang suka mendebat orang tuanya, jadi kalau keinginannya ditolak dia tidak akan berusaha membujuk.
"Maaam, aku ngantuk." Cadi mulai merengek, kekenyangan habis makan sate padang pakai kentang goreng.
"Tidur sama Opa ya?" Papa James menawarkan.
"Aku mau peluk Pap." tetap Pap tak terganti.
"Papa mandi dulu ya." ijin Daniel pada Cadi.
"Tapi aku ngantuknya sekarang Pap." Balen tertawa beda sekali Cadi dengan Abang-abangnya.
"Ya sudah Cadi sama Mama dulu ayo." ajak Balen.
"Maaam temani aku makan Puding." ini lagi Charlie ikut merengek.
"Aduh kalau begini Mama jadi bingung." Balen tertawa.
"Cadi sikat gigi dulu, setelah itu bobo sofa sama Mama, sambil kita temani Cayi makan Puding." kata Balen pada Cadi, cari jalan tengah.
"Tadi sudah sikat gigi di rumah Papon." rengeknya sambil menggaruk lehernya, mulai kegerahan karena AC hanya tersedia di kamar.
"Kamu habis makan sate Cadi." Balen ingatkan Cadi.
"Paaap, kenapa belum mandi?" tanya Cadi karena Daniel belum bergerak, abaikan Mama yang menyuruhnya sikat gigi.
"Papa mau ngobrol sama Opa dan Oma, kamu malah ajak tidur." protes Oma Amelia.
"Aku kan harus tidur cepat Oma, mau ikut Opa dan Pap ke Mesjid besok." jawabnya bikin Opa James tersenyum.
"Oh kalau pintar begini Oma saja yang temani kamu bobo ya, biar Papa mandi dan Mama temani Cadi makan Puding." bujuk Mama Amelia pada cucunya.
"Iya Opa juga ikut temani, Cadi bebas mau peluk Opa atau Oma. Sekalian Cadi juga bisa menjaga Opa dan Oma sebelum tidur." sambung Papa James, bujukannya kali ini berhasil karena ada kata menjaga Opa dan Oma.
"Ya sudah." Cadi mengangguk pasrah.
"Dimana?" tanya Papa James.
"Kamar Opa tapi nanti Pap jemput ya." pintanya pada Daniel.
"Iya kamu ikut Opa dan Oma dulu, nanti Papa jemput. Jangan minta gendong Opa atau Oma ya Nak." pesan Daniel pada Cadi yang mulai beranjak bersama Opa dan Oma menuju ke Paviliun.
"Ok Pap, Chandra mau ikut tidak?" Cadi tawarkan Chandra.
__ADS_1
"No thanks." Chandra gelengkan kepalanya.
"Bye sayang, Oma bobo dulu." Oma Amelia pamit pada kedua cucunya.
"Good sleep Oma and Opa." balas Chandra.
"Dream of me, Oma and Opa." balas Charlie tersenyum.
"Aku?" Cadi minta ucapan mesra dari kedua Abangnya.
"Dream of us." kata Chandra.
"Itu nightmare." balas Cadi konyol, kedua Abangnya tertawa, setelah Cadi menghilang bersama Opa dan Oma, Chandra lanjutkan ngobrol bersama Papanya.
"Pap aku rindu Om Redi, Ante Ulan dan Mora, sudah berapa hari tidak telephone." adu Chandra pada Papanya.
"Om Redi lagi sibuk Boy, kamu mau apa?" tanya Daniel.
"Rindu saja." jawabnya.
"Mau Papa teleponkan sekarang?" tanya Daniel.
"Sudah tidur belum?" Chandra balik bertanya.
"Mungkin belum." Daniel mengedikkan bahunya, ambil handphonenya mulai hubungi Redi.
"Tidak usah, besok saja teleponnya, biar Ayah yang telephone ." kata Chandra, khawatir Om nya sudah tidur, Daniel pun menekan tombol merah pada handphonenya.
"Memang besok Ayah mau kesini?" tanya Daniel pada Chandra.
"Iya." Chandra anggukan kepalanya sementara Balen sibuk ladeni Charlie yang minta ini dan itu.
"Pap, sebelum jemput Cadi nanti tidur peluk aku dulu ya." pinta Charlie yang menunggu pudingnya disiapkan Mama.
"Duh anak Mama kenapa pada suka tidur dipeluk Papa sih?" tanya Balen pada Charlie, letakkan pudding dihadapan Charlie, bocah itupun nikmati Puding bikinan Mamon.
"Seperti anak kecil saja, peluk-peluk." Chandra gelengkan kepalanya.
"Mama juga suka dipeluk kalian loh." kata Balen pada keduanya.
"Mam mau nanti tidur aku peluk?" tanya Chandra serius, demi Mama tidak apalah peluk-peluk.
"Tidak usah boy, itu biar Papa saja." jawab Daniel cepat ambil alih tugas Chandra.
"Pap kan peluk Cayi." jawab Chandra.
"Nanti setelahnya Papa mau peluk Mama." jawab Daniel cengengesan, Chandra gelengkan kepalanya, heran dengan Papa dan adik-adiknya, Mamanya juga begitu.
"Berarti kita seperti Pap loh Mam. Maunya tidur di peluk, kenapa Mam heran?" kata Charlie bikin Balen tertawa.
"Iya kalian memang semuanya seperti Papa." jawab Balen.
"Aku tidak suka peluk-pelukan." protes Chandra.
"Harus suka dong." kata Daniel pada Chandra.
"Harus ya?" tanya Chandra.
"Iya dong, kapan lagi waktunya mau peluk-pelukan sama kalian, kalau sudah besar sedikit lagi pasti akan lebih sulit." jawab Daniel.
"Terserah Pap saja lag." jawab Chandra pasrah.
"Sudah belum makan pudingnya?" tanya Daniel pada Charlie yang masih sibuk mengunyah.
__ADS_1
"Sebentar lagi." jawabnya.
"Pap, kenapa sih disini makan steak pakai lontong?" tanya Charlie penasaran.
"Kalau pakai kentang tidak kenyang, buktinya kamu masih makan Puding sekarang." Chandra wakili Papanya.
"Begitu ya, seharusnya sih kenyang, tapi aku masih mau Puding." jawab Charlie terkekeh.
"Pudingnya enak." ocehnya sementara yang lain sabar menanti.
"Pap mandi saja, yang cepat ya." pinta Charlie kemudian.
"Setelah itu?" tanya Daniel.
"Ke kamar aku." jawab Charlie.
"Peluk?" tanya Daniel jahil.
"Iya." ladeni saja pertanyaan Papanya.
"Yang lama atau sebentar?" tanya Daniel lagi.
"Sampai aku tertidur." jawab Charlie masih nikmati Puding pesanannya.
"Ok, pudingnya enak sekali ya?" tanya Daniel mendekat pada Charlie minta disuapi.
"Enak, jawab Charlie lalu suapi Papanya."
"Pap jangan lupa nanti sikat gigi, karena Pap makan Puding." sekarang Daniel yang diingatkan anaknya.
"Siap Boss." jawab Daniel terkekeh mengacak anak rambut Charlie.
"Mau lagi Pap?" tanya Charlie siap pegangi sendok, Balen sibuk dengan handphonenya sesekali menyimak obrolan suami an anaknya.
"Tidak, Papa kenyang." Daniel gelengkan kepalanya.
"Kamu mau Chand?" tanya Charlie pada Abangnya.
"Aku sudah sikat gigi." Chandra menolak.
"Sikat gigi lagi kan bisa." Charlie mencebik, lalu bereskan sisa puding untuk dimasukkan ke dalam kulkas.
"Aku masukkan sini ya, nanti kalau ada yang mau ambil sendiri." katanya lagi pada semuanya.
"Oke, have a nice dream, boy." pesan Daniel pada kedua anaknya.
"I love you Pap and Mam." Chandra mencium pipi Daniel dan Balen bergantian.
"Me too." jawab Balen.
"Pap jangan lupa." pesan Charlie.
"Kalau Pap ke kamar aku, Mam ikut saja." Charlie pandangi Balen.
"Kita tidur bertiga?" tanya Balen, Chandra sudah masuk ke kamarnya.
"Hanya sampai aku tertidur kalau Mam and Pap kesempitan." jawab Charlie.
"Oke kalau begitu Mama sama Papa ke kamar dulu." kata Balen cium pipi Charlie.
Keinginan Charlie dipeluk Papa sampai ia tertidur malam ini tidak tercapai, karena begitu sampai dikamarnya ia langsung berbaring dan tertidur pulas. Begitu selesai mandi Balen dan Daniel ke kamar Charlie anaknya itu sudah tertidur tampan sambil memeluk guling.
"Bagaimana sayang?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Peluk dulu aja sebentar." jawab Balen, Daniel ikuti saran Balen, peluk Charlie sebentar lalu amati apakah ada pergerakan, rupanya tidak hanya terdengar dengkuran halus.
"Kalau begitu kita tidak kesempitan, kita ambil kesempatan saja mumpung anak-anak sudah tidur." bisik Daniel, gantian malam ini Daniel yang mancing-mancing Balen.