
Hallo semua! Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian berupa komen dilapak aku ya. Aku mohon dukungan dari kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya yang masih jauh dari kata sempurna ini.
Happy reading! ^^
_____________________________________
Ben POV
Ben datang ke salah satu temannya yang pandai dalam hal teknologi, setelah dia mencopotkan kamera dashboard di mobil Max di bengkel tadi.
"Bro, bantu gue untuk buka kamera ini." ucap Ben.
"Gue akan usahakan, bro. Lo duduk aja dulu."
Tak lama, teman Ben itu berhasil membuka video dari kamera itu.
"Ben, gue udah buka ni."
Dengan segera Ben menonton video yang diambil dari kamera itu.
"Stop." ucap Ben yang meminta videonya di stop.
"Kenapa?"
"Gue mau foto."
Ben memfoto mobil yang terekam di video itu. Begitu selesai, ia segera menelepon Natasha.
"Halo, yang."
("Kenapa, beb?")
"Aku menemukan bukti sebuah mobil yang berada di hutan saat penculikan Vanna terjadi."
("Vanna juga tadi berhasil membuka ponsel Max, dan Vanna mengetahui pemilik mobil itu. Dan sekarang, Max sudah bangun.")
"Baiklah kita bicarakan langsung."
Ben POV end.
########################################
Dirumah sakit, Ben yang baru tiba disana pun berdiskusi dengan Ivanna, Natasha, dan juga Max yang masih lemah.
"Pemilik mobil itu adalah Reiner Gunawan, kak."ucap Ivanna pada Ben.
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Vanna yakin. Dia datang ke perkebunan saat ada tragedi ular dengan menggunakan mobil itu."
"Kita bisa kumpulkan bukti awal kepemilikan mobil ini dulu."
"Kak, tolong selidiki Anna Lee juga."
"Kenapa dia?" tanya Ben.
"Aku dan kak Nat melihatnya di rumah sakit ini juga."
"Akan aku cari tau."
"Baiklah, kita berdua akan mengumpulkan bukti semuanya hingga kecurigaan kita tentang Reiner benar. Kita pamit dulu yah, Max, Van." pamit Ben.
"Thanks ka Ben."
Ben dan Natasha pergi dari kamar itu.
"Max, kamu lapar?" tanya Ivanna.
"Aku ga lapar."
"Aku haus kasih sayang." jawab Max.
"Kenapa kamu jadi curhat? Sepertinya kepalamu terbentur keras, Max."
"Dasar ga peka!"
"Kalau kamu suka sama aku, bilang aja, Max. Bahkan kamu memakai tanggal lahirku sebagai sandi ponselmu!"
"Sandi itu sudah lama aku pakai dan tidak ku ganti! Hanya terbiasa, jangan terlalu geer!"
"Ini bukti nyata, Max! Bahkan kamu rela tertembak karna aku." kata Ivanna.
"Kata siapa aku rela? Aku juga ga mau tertembak seperti ini."
"Tau ah, aku malas sama cowo yang jual mahal!"
"Baiklah baiklah. Aku hanya bercanda." ujar Max.
"Kenapa kamu berani banget sih datang ke sana sendirian?" tanya Ivanna.
"Aku khawatir saat Ben bilang kamu hilang. Dan ternyata kamu diculik."
__ADS_1
"Maaf merepotkanmu, Max."
"Hey! Kamu bukan merepotkanku, tapi kamu meresahkan aku!"
"Aku ga habis pikir kamu bisa tertembak karna menyelamatkan nyawaku."
"Kamu ga di apa apain sama penculik itu kan?" tanya Max.
"Aku hampir saja kehilangan mahkotaku, Max. Dan ini bibirku jadi luka karna penculik itu berani menamparku."
"Mana?" tanya Max.
"Ini." Ivanna menunjukkan sudut bibirnya yang masih memiliki bekas luka.
CUP
Secara tiba tiba Max mencium Ivanna. Ivanna yang terkejut pun membulatkan matanya.
"Max! Ga lucu!" bentak Ivanna.
Bukannya menghentikan aksinya setelah dibentak oleh Ivanna, Max malah mencium Ivanna sekali lagi. Seketika wajah Ivanna menjadi merah.
"Biasa aja! Ga ada orang lain ini, jadi ga perlu malu!" ucap Max yang tidak merasa bersalah.
"Max, lo sadar apa yang lo lakukan?" tanya Ivanna.
"Yes, aku sadar. Kenapa?"
"Wah sepertinya kepala lo benar benar ga sehat, Max. Gue harus meminta dokter memindai ulang kepala lo itu."
"Max? Sudah sadar?" sapa William yang baru datang.
"Papa? Baru datang?" tanya Max dengan panik.
"Iyah papa baru datang, kenapa? Ko kamu panik begitu?"
"Panik gimana pah? Ga ah." saut Max.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1