
"Mam, masa Cadi begitu." keluh Charlie sambil datangi Balen yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Sudah seminggu berlalu dari acara gathering keluarga, weekend kali ini Balen ingin habiskan waktunya dirumah saja. Rasanya sejak di Indonesia, Balen selalu saja sibuk saat weekend.
"Cadi kenapa?" tanya Balen sambil ulurkan tangannya siap memeluk Charlie yang langsung duduk pangkuan Balen.
"Aku terus setiap hari yang ajari Kate berenang, Cadi main-main saja." gerutu Charlie.
"Kamu keberatan?" tanya Balen pada Charlie.
"Tidak keberatan kalau dia tidak bergaya Bos, setiap aku ajari Kate selalu sana dia komplen." sungut Charlie, Balen terkekeh.
"Memang Cayi pernah salah sampai di komplen?" tanya Balen.
"I don't know, Cadi yang bilang salah terus, aku kan jadi malu sama Kate. Kalau memang Cadi merasa lebih pintar berenang, kenapa bukan Cadi saja yang ajari Kate, aku jadi seperti muridnya Cadi yang belajar berenang juga." Charlie menyandarkan wajahnya di bahu Balen.
"Mana Cadi?" tanya Balen pada Charlie.
"Pergi sama Pap antar Kate pulang." jawabnya.
"Cayi tidak ikut?"
"Malas, aku lagi kesal sama Cadi." mulut Charlie maju beberapa senti.
"Nanti Mama kasih tahu Cadi, Charlie jangan kesal sama adiknya." Balen mengusap lembut kepala Cadi.
"Mam, kapan kita ke Malang? Uncle Ledi masih disana, Cayi kangen Moa." sekarang merengek minta ke Malang.
"Opon saja masih disini." Balen tersenyum, Dari awal memang ketiga anaknya minta ikut Redi dan Ulan ke Malang.
"Cayi juga mau bertemu Om Kisna."
"Om Kisna sibuk, kalau ke Malang belum tentu kita bisa bertemu." Balen beritahukan Charlie karena Krisna sering ikut membantu Event yang diselenggarakan perusahaan tempat Om Bagus bekerja, yang dulunya Mamon ikut menanam saham disana, entah masih atau tidak, Balen tidak pernah tanyakan Mamon.
"Mam, Opon mana?" akhirnya tanyakan Opon.
"Opon tidur tuh, sana bangunkan ajak berenang." kata Oma Mita yang bawakan Pisang goreng untuk mereka makan.
"Oma, tumben di goreng pisangnya, tidak direbus." Balen terkekeh langsung nikmati Pisang goreng buatan Oma Mita.
"Oma lagi mau yang pakai selain srikaya, tadi Cadi minta dibuatkan." jawab Oma.
"Ada saja si Cadi, tahu dari mana dia Pisang goreng pakai selai srikaya." Balen kembali tertawa sementara Charlie pindah duduk ke kursi dan ikut nikmati Pisang goreng srikaya.
"Dia nonton tv, Mam." Charlie beritahukan Balen.
"Ada di tv?" tanya Balen.
"Iya, kemarin itu dibilang kalau itu jajanan khas pontianak." Charlie menjelaskan.
"Enak Oma." kata Charlie pada Oma Mita.
"Kamu suka?" Charlie anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Makan saja habiskan, nanti Cadi Oma gorengkan lagi." kata Oma Mita, Charlie gelengkan kepalanya.
"Dua saja Oma, tidak boleh terlalu banyak." jawab Charlie.
"Siapa yang larang? kan Oma yang masak."
"Kata Pap, kalau makan tidak boleh berlebihan, secukupnya saja." jawab Charlie, Oma Mita dan Balen langsung nyengir dibuatnya.
"Cukup makan dua Pisang goreng?" tanya Oma Mita memastikan.
"Cukup Oma." jawabnya.
"Kalian ini selalu saja kata Pap, kata Mam." Oma Mita tertawa lalu acungkan dua jempolnya, karena anak-anak Balen dan Daniel anak-anak yang Manis dan penurut.
"Semoga saja selamanya begini Oma, selalu menyejukkan hati." Balen tersenyum.
"Oma, kapan kita ke Malang." Charlie langsung saja cari peluang untuk berangkat ke Malang.
"Opon masih betah di Jakarta sayang, katanya mau dekat kalian terus." jawab Oma Mita.
"Ya sudah, nanti kalau Opon sudah bosan di Jakarta, kita ikut antar Opon dan Oma Mita pulang ya Mam." kata Charlie pada Balen.
"Boleh." Balen anggukan kepalanya.
"Tapi kalau Opon mau di Jakarta terus bagaimana?" tanya Oma Mita.
"Tidak apa, tunggu saja sampai Opon bosan." jawab Charlie tersenyum manis.
"Kata Papon, Opon tidak boleh makan Pisang Oma, karena nanti gulanya tinggi." Charlie ingat saat dipangku Kenan di kolam berenang, ikut dengarkan pembahasan Papon dan Opon tentang penyakit.
"Begitu ya? di Malang dia makan Pisang rebus terus." Oma Mita tertawa.
"Oma, memangnya tidak ikut ke dokter kalau Opon kontrol bulanan?" tanya Balen.
"Mana ada kontrol bulanan Baen, yang ada takut ketemu dokter." jawab Oma Mita.
"Sekarang saja ajak ke dokter, Cayi temani." Charlie sok iye.
"Hari libur dokternya tidak praktek sayang, nanti saja senin kita ajak Opon ke dokter." jawab Balen pada Charlie.
"Memangnya Opon sakit?" tanya Cadi yang baru saja masuk kedalam rumah, diikuti Daniel di belakangnya.
"Tidak, hanya cek rutin saja." jawab. Balen.
"Kalau tidak saki mau aku ajak main bola, ayo Cayi." Cadi langsung berlari mencari Opon.
"Cadiii, Opon lagi tidur." teriak Charlie ikut berlari mengejar Cadi.
"Aban, Pisang goreng srikaya nih." tunjuk Balen pada Pisang di meja.
"Tidak bikin yang rebus Oma?" tanya Daniel nyengir.
__ADS_1
"Kamu mau yang rebus, Oma bikinkan sebentar." Oma Mita hendak beranjak.
"Tidak usah Oma, biar Daniel minta bibi saja yang rebuskan." Daniel segera beranjak menuju ke dapur memanggil Bibi minta cemilan rebusan kesukaannya.
"Baen, seharusnya kamu yang kedapur panggil Bibi." Oma Mita menegur Balen.
"Biar saja Oma, Aban orangnya mandiri kok." jawab Balen terkekeh.
"Kamu masih pusing, sayang?" tanya Daniel pada Balen.
"kadang-kadang Aban, hilang timbul gitu. Kecapekan kayanya, tadi sudah minum teh jahe buatan Oma Mita." jawab Balen pada suaminya yang sudah kembali duduk disebelahnya.
"Baen hamil kali ya Oma, suka pusing-pusing seminggu ini." kata Daniel pada Oma Mita.
"Pakai mual tidak?" tanya Oma Mita.
"Kalau telat makan ya mual, Oma." Balen terkikik geli.
"Kamu tidak periksa Baen, siapa tahu benar kamu hamil, kata Nona kalian sedang program bayi perempuan kan?"
"Baen kok malas ke dokter kandungan ya Oma, capek rasanya badan Baen." Balen pandangi Mita. "Semenjak di Jakarta jarang olah raga Baen, kangen main tennis deh Aban." lanjut Balen pandangi Daniel.
"Setiap hamil kangen main tennis dia Oma, nanti aku ke apotik deh belikan tespack." kata Daniel kemudian.
"Oma Daniel tinggal sebentar ya." Daniel segera beranjak.
"Paaaap, mau kemana?" teriak Cadi.
"Ke apotik." jawab Daniel.
"Aku ikut Pap." gantian Charlie yang teriak.
"Pap, aku boleh ikut?" Chandra yang baru saja keluar kamar minta ikut juga.
"Papa hanya ke apotik, bukan ke toko buku atau ke toko mainan." Daniel beritahukan keduanya, sementara Cadi belum bilang ingin ikut juga.
"Aku ikut ya Pap." pinta Chandra lagi.
"Kamu mau apa sayang?" tanya Daniel tahu anaknya pasti inginkan sesuatu.
"Tadi Opon kasih aku uang buat beli ice cream." jawabnya tersenyum, Daniel ikut tersenyum mendengarnya.
"Ayo." Daniel anggukan kepalanya.
"Paaaap aku juga dong." rengek Cadi yang tidak diajak.
"Juga apa?" Daniel menggoda Cadi.
"Ikut dan beli Ice cream." jawab Cadi.
"Ayo semua boleh ikut, uang dari Opon ditabung saja, biar Papa yang belikan Ice cream." kaya Daniel bikin ketiganya bersorak senang.
__ADS_1