Because I Love You

Because I Love You
Tidak sangka


__ADS_3

"Makannya yang banyak dong, Abang sudah bela-belain masak buat kamu." kata Raymond ketika melihat piring Balen hanya berkurang setengah.


"Kebanyakan tadi Aban ambilnya." Balen salahkan Raymond.


"Kamu kan makannya berdua Baen, ayo makan lagi." tegas Raymond.


"Aban, Baen kenyang." rengek Balen.


"Mam kenapa makannya sedikit? Nanti Mam sakit seperti pagi-pagi kalau kurang makan." Chandra khawatirkan Mamanya.


"Nanti Mama habiskan, sekarang di simpan dulu boleh ya?" ijin Balen pada anaknya.


"Boleh, nanti setengah jam lagi Mam aku suapi ya." jawab Chandra, perhatian sekali pada Mama.


"Peluk Mama Chandra." kata Balen minta dipeluk sulungnya.


"Mam manja seperti yang Cadi bilang." kata Chandra hampiri Mama dan memeluknya.


"Duh Chandra Manis sekali, nanti kalau sudah besar dan punya pacar apa semanis ini juga sama Mama?" tanya Raymond sambil tertawa.


"Hei kata siapa boleh pacaran?" tanya Nanta.


"Loh itu tidak boleh pacaran hanya berlaku di keluarga kita kan, Redi saja pacaran terus." jawab Raymond.


"Abang Ray!" protes Ulan bikin Raymond dan yang lainnya terbahak.


"Ulan tidak akan percaya Bang, tidak ada bukti nyata." jawab Redi tengil.


"Aiiih, kamu sembunyikan masa lalu sangat rapi sampai istrimu tidak percaya." dengus Raymond, Ulan monyongkan bibirnya.


"Tenang Ulan, sekarang Redi setia." sahut Papa James.


"Lah berarti dulu betulkan banyak pacarnya." Raymond masih saja provokasi.


"Ish jangan bahas aku saja, itu menantu Abang pun sama." dengus Redi, semua terbahak, Lucky garuk kepalanya yang tidak gatal, walaupun Raymond tahu sepak terjangnya tetap saja Lucky risih.


"Lucky langsung kicep." Daniel terbahak.


"Iya memang tidak ada yang saingi Abang Daniel kan." Lucky terkekeh.


"Hei kata siapa, aku sama Nanta pun." jawab Raymond bangga, dulunya tidak punya pacar selain dari Roma istrinya, Nanta juga begitu.


"Wah pas itu kalian tiga lawan tiga." kata Papa James.


"Apa sih Pa." Larry gelengkan kepalanya.


"Nah mantan playboy yang satu buka suara." kata Nanta, semua terbahak dibuatnya. Chandra menyimak saja sambil tersenyum, entah apa yang ada dalam pikirannya soal pacar, yang pasti Chandra merasa lucu dengan pembahasan para orang dewasa, kadang mereka terlihat seperti anak kecil juga.


"Biarpun dulu playboy, yang oenting sekarang ndak lagi kan, cuma ingat istri aja dirumah." Balen menengahi.


"Oh iya dong." jawab ketiganya berbarengan, kemudian terdengar kembali derai tawa.


"Yang tidak sangka Daniel sih." kata Papa James, "Papa pikir dia sebelas dua belas sama Larry, ternyata tidak." Papa James terkekeh.


"Siapa dulu dong calon istrinya." jawab Balen bangga


"Can isti." Raymond membenarkan, semua kembali tertawa.


"Papa, Ante Baen dulu kocak ya kecilnya, aku kok tidak?" tanya Kia.


"Kamu kan keturunan Papa." jawab Raymond.


"Maksud Aban apa coba keturunan? Baen juga keturunan Aban tahu." protes Balen.


"Ya tapi beda, iya kan Nan?" Raymond memandang Nanta.

__ADS_1


"Ya gimana ya, singkong rebus gitu loh." jawab Nanta.


"Eeeh Baen sudah lama ndak dengar itu." Balen terbahak, lupa dengan ember yang setiap pagi selalu ditentengnya.


"Singkong rebus Abang." ulang Nanta lagi, semua kembali tertawa.


"Mam mana singkong rebusnya, aku mau pakai keju." Cadi langsung saja minta singkong rebus pakai keju.


"Ayo loh, beli dulu singkongnya." kata Daniel tertawa lalu memanggil Bibi untuk ke pasar belikan singkong untuk Cadi.


"Memang tidak ada disini? kalau kepasar dulu lama Pap." Cadi menempel pada Papanya.


"Tidak ada sayang, adanya bengkoang." jawab Daniel.


"Tadi Panta bilang singkong rebus."


"Panta hanya sebut, kamu tahu Mamamu waktu kecil di panggil singkong rebus oleh Panta." Raymond menjelaskan.


"Kenapa dipanggil begitu ya?" tanya Mama Amelia.


"Baen kan lucu Ma, jadi di otak aku tuh pasti Baen saja terus. Bahkan saat makan singkong rebus di rumah Ando sahabat aku waktu SMA, aku lihat seperti tangannya Balen itu putihnya." Nanta menjelaskan kemudia tertawa geli.


"Sayang ya sama Baen, lihat makanan ingat Baen aja."


"Pastilah, sekarang saja kita kumpul disini karena sayang sama kamu kan." jawab Raymond bikin Balen melankolis,. langsung berlinang air matanya. Buru-buru Balen menghapus airmatanya dengan tissue yang ada dimeja.


"Mam kenapa?" tanya Chandra yang masih memeluk Balen sambil menyimak dan sesekali memandang Mamanya.


"Terharu karena semua sayang Mama." jawab Balen masih saja mengalir air matanya.


"Don't cry Mam." Chandra gelengkan kepalanya, lalu bantu Mama menghapus air mata haru. Mama Amelia tersenyum, melihat Balen bersama C's, Mama seperti nostalgia saat Larry dan adik-adiknya masih kecil.


"Mam, kenapa menangis?" Mora mendekati Balen dengan wajah lucu, kepo menggemaskan gitu. Balen tertawa melihat anaknya yang satu ini.


"Mam baru aku dekati sudah tertawa." katanya sambil berkacak pinggang.


"Tadi kan Panta tangannya kotor." jawabnya.


"Sekarang sudah bersih." jawab Nanta.


"Tapi bau asap masakan. Aku tidak suka." jawabnya.


"Ish anakmu Ulan." Nanta meringis.


"Masanta, Mora ndak suka lihat Ulan di dapur, karena setelahnya pasti bau masakan katanya."


" Walah, jadi kalian tidak pernah masak?" tanya Nanta.


"Tetap saja beli juga harus ke dapur toh, dihangatkan." jawab Ulan.


"Kamu harus biasakan dengan bau masakan di Jakarta, bumbu dan rempah lebih beragam." Nanta beritahukan Mora.


"Harusnya kalau sudah masak itu langsung mandi cuci rambut." Mora memberi saran.


"Oke." jawab Nanta terkekeh.


"Meniru siapa begitu Moa?" tanya Larry.


"Aku pikir-pikir saja supaya tidak bau kan harus mandi." jawabnya.


"Oke." Larry akhirnya menurut sambil tertawa.


"Angkatan mereka lebih kritis nih Bang." kata Larry pada Raymond.


"Beda sama angkatan Billian ya?" tanya Raymond melirik Billian yang memangku Charlie.

__ADS_1


"Mereka lebih aktif." sahut Billian.


"Angkatan kalian melempem." jawab Larry.


"Ayah jangan begitu lah, yang pentingkan kita urus perusahaannya benar." Billian membela diri.


"Iya Opa setuju." jawab Papa James.


"Iya itu yang paling penting." Raymond mangut-mangut, "Baen masih butuh Abang disini?" tanya Raymond.


"Mau pulang kah?" tanya Kia.


"Iya lah, Papa ada acara sama Oma Monik dan Opa Alex, kalian mau ikut?" Raymond tanyakan Kia dan Lucky.


"Kita ndak diajak?" Balen menggoda Raymond.


"Ayo kalau mau ikut, Mami pasti senang." jawab Raymond.


"Ndak usah Aban, Baen bercanda." jawab Balen.


"Mam kita pergi?" tanya Charlie yang dari tadi maunya diajak jalan-jalan.


"Sama Uncle Redi saja." jawab Redi cepat, tahu kondisi Balen yang harus lebih banyak istirahat.


"Mau kemana?" tanya Daniel.


"Tadi Mora minta kerumah Ayah." jawab Redi.


"Ayah disini Moa." jawab Larry, ia masih mau berlama-lama bersama keluarganya.


"Aku juga ijin deh, Bang nebeng ya." kata Nanta pada Raymond.


"Kan tadi gue yang nebeng elu Nanta." Raymond tertawa.


"Iya ya, duh sudah tua betul apa sampai lupa." Nanta ikut tertawa sambil menepuk dahinya.


"Kalian mau ikut?" tanya Raymond pada anak dan menantunya.


"Syabda masih tidur, bagaimana?" tanya Kia pada Lucky.


"Kalau kamu mau ikut dibangunkan saja." jawab Lucky.


"Kia mau di rumah saja deh Pa, Kia capek juga gendong-gendong Syabda." jawab Kia.


"Nanti Papa yang gendong." Raymond menawarkan.


"Berat Pa. Nanti sakit pinggang Papa." Kia tertawa.


"Jangan digendong terus, biarkan Syabda banyak bergerak, Kia." Mama Amelia beritahukan Kia.


"Iya Oma, tapi kalau lihat Kia langsung saja minta gendong, sama Bang Lucky tidak begitu." jawab Kia.


"Cie Abang." Nanta tertawa.


"Kalau Kia panggil Om dia marah." adu Kia.


"Harusnya panggil sayang kan." jawab Lucky jahil, Nanta langsung saja menoyor kepala adik Iparnya itu.


"Abang ih." Lucky meringis.


"Nih anak bikin bingung nih Pa, anak Nanta jadi adik ipar coba." Nanta terkekeh.


"Panta." Kia jadi bersemu merah.


"Tuh Bang, tidak aku suruh panggil Abang juga kok, tetap Panta." jawab Lucky terkikik geli.

__ADS_1


Tidak ada yang bisa menebak ya, Papa saja tidak sangka anak Papa menikahi kedua adik kamu Nanta." jawab Papa James, semua kembali tertawa.


__ADS_2