
"Bang Alex tidak seru nih, tidak jadi menginap." oceh Belin saat turun temui Alex, lupakan dialog pembuka yang dihafal bersama Kia tadi saat dikamar.
"Ya habisnya kamu lama sih." Alex terkekeh kerjai Belin atas ide Balen.
"Aah kan disini juga Abang banyak yang temani, ih aku marah kalau Abang tidak menginap." langsung merajuk, Billian dan yang lain tertawa melihatnya.
"Beyin, Kia, kita mau makan sop ikan, kamu mau ikut?" tanya Balen pada Belin.
"Bang Alex dan teman-temannya ikut tidak?" Tanya Belin.
"Ikut dong." Alex anggukan kepalanya.
"Ya sudah aku dan Kak Kia ikut juga dong." tertawa senang karena Alex dan temannya ikut.
"Bang Alex kenalkan ini Kia." langsung ingat kalau Alex mau minta dikenalkan dengan Kia.
"Halo..." Alex tersenyum pandangi Kia yang sudah di incarnya sejak kemarin.
"Hai, Kia." Kia salami Alex sambil tersenyum lalu beralih salami seto dan Panji. Billian cengengesan saja melihatnya. Setelahnya Kia langsung ambil posisi duduk disebelah Billian.
"Ayo kita jalan." ajak Papa James pada semuanya.
"Yuk." Daniel langsung berdiri ulurkan tangan pada Balen.
"Oh my god, kenapa Ante sama Om selalu mesra, aku jadi panas dingin." kata Kia pada Balen bikin semua terbahak.
"Nanti kita ada gilirannya." jawab Belin sok bijaksana langsung menggandeng Alex sepupunya.
"Sudah ada Alex, tidak gandeng om lagi." protes Redi tertawakan Belin.
"Nanti kalau sudah punya pasangan juga tidak gandeng Bang Alex lagi." jawab Belin konyol, semua tertawa mendengarnya.
"Kalian sekolah dimana?" tanya Panji pada Kia dan Belin.
"Ih anak sekolahan..." Redi terkikik geli padahal Belin mau mau menjawab pertanyaan Panji.
"Apa sih Om." sungut Belin kesal ditertawakan Redi.
"Tanya dong sama Panji dan Seto, kakak kuliah dimana." goda Redi lagi.
"Aah Om Redi, rese, rese, rese." pukuli bahu Redi bikin semua tertawa. Belin lupakan latihan saat jadi wanita keraton di kamar tadi bersama Kia.
"Billian ikut mobil Abang?" Alex tawarkan Billian.
"Aku sama Opa, temani Om Redi, Bang." jawab Billian pada Alex.
"Oke, aku ikuti mobil Opa ya." kata Alex lagi, Redi acungkan jempol, ia sudah pegangi kunci mobil dari tadi.
Redi yang setir kendaraan Opa James, Billian temani Redi duduk di depan, Mama dan Papa di kursi tengah sedangkan Balen dan Daniel duduk di kursi belakang.
"Sayang, jadi ingat waktu kamu antar Abang ke bandara dulu ya kalau begini." Daniel langsung mengenang masa lalu, bernostalgia.
__ADS_1
"Oh yang kita suit kan Aban?" Balen terkikik geli.
"Itu bukan suit loh." Daniel tertawa, Mama dan Papa yang menguping ikut tertawa.
"Yah, Baen sebar ke orang-orang waktu itu kalau sudah punya boyfriend karena sudah suit. Eh Tori langsung nangis-nangis minta di antar cari Ichie mau suit juga." kenang Balen sambil terbahak, semua ikut tertawa mendengarnya.
"Kamu sama Tori itu memang konyol dulu." kata Mama Amelia terkekeh.
"Sampai sekarang Oma." jawab Billian.
"Hei Billian aku ante kamu loh." protes Balen pada Billian.
"Iya Ante yang sekarang kesayangan Om Daniel." jawab Billian terkekeh.
"Kesayangannya kamu juga kan?" Redi tertawakan Billian.
"Iya sih waktu belum ada suaminya, kesayangan aku sama Ayah." jawab Billian mencebik.
"Eh kenapa sekarang tidak sayang? Billian jangan begitu dong, semua harus tetap sayang, tidak ada yang berubah." teriak Balen tidak terima.
"Om Daniel sih posesif Ante." jawab Billian setengah curhat.
"Kalau sama kamu tidak, Billian." jawab Daniel terkekeh.
"Berarti aku boleh peluk Ante dong, Om?" tanya Billian tersenyum menoleh kebelakang.
"Tidak boleh." jawab Daniel cepat. Tetap ya posesif.
"Tuh kan Ante, malas ah sama suami Ante." kata Billian pada Balen. Semua tertawakan Billian dan Balen.
"Iya semua tetap sayang Baen dong." jawab Daniel.
"Tapi kalau Aban posesif semua jadi ndak sayang Baen." keluh Balen sementara Billian dan Redi cekikikan di depan, tertawakan Balen yang merajuk pada Daniel
"Billian cuma menggoda kamu." Daniel merangkul istrinya, tenangkan Balen yang mulai resah takut tidak disayang.
"Papa juga tidak boleh peluk, Niel?" tanya Papa James pada Daniel.
"Kalau Papa boleh dong." jawab Daniel tertawa.
"Papa kira kamu cemburui semua orang."
"Ndak boleh gitu kan Papa?" Balen minta dukungan Papa James.
"Yah Daniel cuma menjaga kamu, sayang. Bersentuhan dengan yang bukan muhrim tidak baik juga." jawab Papa James bikin Daniel tersenyum lebar, Balen anggukan kepalanya.
"Mama kok diam aja sih?" tanya Balen pada Mama Amelia.
"Mama kepikiran Belin dan Kia, bagaimana mereka di mobil Alex, aman kan Pa?"
"Aman in syaa Allah, Mereka duduk di belakang kok bertiga tadi kulihat, Alex, Belin, Kia." jawab Daniel yang rupanya awasi Belin dan Kia.
__ADS_1
"Syukurlah, mereka centil-centil begitu sih, Mama agak khawatir saja." kata Mama Amelia pada semuanya.
"Tenang Oma, Ante Baen juga centil kan, aman saja tuh." jawab Billian tanpa dosa.
"Billian memangnya Ante secentil apa sih?" Balen tidak merasa centil.
"Ya seperti yang aku dengar saja, masih bayi mau jadi istri Ayah." jawab Billian buat semuanya tertawa.
"Ih... itu kan cuma bilang-bilang aja." Balen membela diri.
"Kata Ayah, hampir saja yang lain gendong anak, Ayah gendong calon Istri." Billian gelengkan kepala.
"Ya kalau Ante menikah sama Ayah, kamu sama Beyin ndak ada loh." jawab Balen tertawa.
"Enak saja, istri aku mau menikah sama Leyi." Daniel langsung peluki Balen.
"Kan itu belum bertemu Aban." jawab Balen.
"Setelah bertemu Abang, bagaimana?" tanya Daniel tertawa.
"Yah Baen ndak pusing waktu Aban Leyi mau menikah sama Kaka Femi, eh ternyata ndak jadi, menikahnya sama Kakak Rumi deh." jawab Balen tertawa.
"Femi itu yang dokter kan?" tanya Daniel.
"Iya, Aban ingat?"
"Ingat, kan Abang ikut ke Cirebon. Tapi waktu sepanjang jalan Abang deal-dealan sama Kak Rumi supaya bisa dekati mereka berdua, dan Abang bisa dekati kamu." jawab Daniel tertawa.
"Ih kacau Om Daniel ternyata kolaburasi sama Nami ya?" Billian tertawa.
"Yah bisa dibilang begitu, jadi mata-mata Opa juga sih." jawab Daniel tertawa.
"Mata-mata bagaimana Opa?"
"Yah Opa tanya pendapat Daniel mending mana Femi atau Rumi, Daniel bilang Rumi sih." jawab Papa James tertawa.
"Memang kenapa yang Femi Om?" Billian ingin tahu.
"Om lebih akrab sama Nami sih, orangnya asik." jawab Daniel apa adanya.
"Namiku memang keren sih." Billian langsung banggakan Maminya.
"Balenku juga keren." jawab Daniel bikin hidung Balen kembang kempis.
"Ih ge er dia tuh Bang." Redi langsung saja menggoda Balen.
"Ledi, ndak Baen kenalin sama Ulan loh." langsung mengancam bikin semua terbahak.
"Baen, tiket ke Jepang, gue yang bayar deh." Redi langsung bujuki Balen.
"Ih, Aban Daniel Baen juga bisa bayar." jawabnya sombong.
__ADS_1
"Baen gue cium nih." ancam Redi.
"Jangan macam-macam Ledi dei." langsung saja suaminya pasang badan, semua tertawa dibuatnya.