
"Maaam, tadi aku nangis loh di helicopter." lapor Cadi pada Balen saat baru pulang bersama Bima dan kedua Abangnya.
"Loh kok nangis? kenapa?" tanya Balen heran, kemudian memandang Bima yang cekikikan melihat Cadi memeluk Balen.
"Aku ingat Mam and Pap." katanya merengek.
"Mama kan menunggu kalian di rumah." jawab Balen.
"Tadi heli goyang-goyang kena angin, aku ingat Mam." katanya lagi.
"Kamu ketakutan." kata Chandra.
"Kamu juga takut kan?" tanya Cadi.
"Iya tapi aku berdoa tidak menangis." jawab Chandra.
"Yah aku kan menangis karena pikirkan Mam and Pap dirumah." jawab Cadi bikin Daniel terkikik geli.
"Goyang helinya?" tanya Daniel pada Bima.
"Iya sedikit." jawab Bima.
"Tapi kan ngeri." jawab Cadi bikin Bima terbahak.
"Kita tadinya santai, tapi ini bocah mengoceh yang tidak-tidak ya kita jadi takut juga " jawab Bima terbahak.
"Kamu mengoceh apa?" tanya Daniel.
"Aku cuma bilang kalau kaca helinya pecah karena kena angin kencang bagaimana?" jawab Cadi.
"Selain itu ada lagi." jawab Charlie.
"Iya aku cuma bilang kalau helinya jatuh, Mam sama Pap bagaimana mau cari kita." jawab Cadi serius.
"Cayi malah marah-marah padahal aku lagi ketakutan Mam." lapor Cadi.
"Terus?" tanya Balen.
"Ya aku nangis takut Mam tidak bisa cari aku." jawabnya polos, Balen memeluk erat bungsunya.
"Alhamdulillah ternyata sekarang Mama lagi peluk kamu sayang." Balen tenangkan bungsunya.
"Jadi masih mau naik helicopter lagi tidak?" tanya Bima."
"Aku mau, tidak usah ajak Cadi." jawab Chandra.
"Aku juga masih mau." jawab Charlie.
"Ih kalian sih begitu sama adiknya." protes Cadi pada kedua Abangnya.
"Kamu kan takut." jawab Charlie.
"Iya tapi kan berdoa biar tidak takut." jawab Cadi.
"Berarti masih mau?" tanya Bima terkekeh.
"Masih kalau tidak goyang." jawab Cadi pandangi Bima.
"Itu pohon bergoyang karena angin dari baling-baling." Bima jelaskan pada Cadi.
"Tapi ribut anginnya." Cadi mendengus.
"Kan pakai headset jadi tidak bising." jawab Chandra.
"Masih berisik, kuping aku saja sakit nih." katanya tunjuk kupingnya.
__ADS_1
"Jadi tadi happy apa tidak?" tanya Daniel.
"Happy sih tapi aku takuuuut." jawabnya manja, Daniel tertawa sambil ulurkan tangannya pada Cadi yang masih memeluk Balen, tapi sebelum Cadi pindah, Charlie yang masuk dalam pelukan Daniel.
"Ih kamu manja juga ya." kata Bima tertawa.
"Memang dia manja sama Om Daniel." jawab Aca yang baru saja masuk.
"Tadi jadi ke Taman Mini?" tanya Daniel pada Charlie.
"Jadi Pap, aku naik kereta gantung." jawab Charlie.
"Siapa saja yang naik kereta gantung?" tanya Daniel.
"Semua kecuali Abang Shaka karena temani Sinna yang tidak berani." jawab Chandra.
"Kamu juga naik sayang?" tanya Daniel pada Chandra.
"Iya Pap, aku yang pertama kali mau." jawab Chandra.
"Ke rumah adat?" tanya Daniel lagi. Chandra anggukan kepalanya senang.
"Pap nanti fotoku kirimkan ke Oma Margarita." pinta Chandra pada Papanya.
"Hahaha kamu mau pamer boy?" tanya Daniel.
"Aku cuma mau kasih tahu kalau Taman Mini itu banyak rumah adat seluruh kota di Indonesia." jawabnya tersenyum bangga.
"Jadi sudah betah di Jakarta ya? karena keren ada Taman Mini." kata Bima mengacak anak rambut Chandra.
"Abang, masih ada janji sama aku kan?" Bima naikkan alisnya pada Chandra, tanyakan janji apa.
"Mau ajak aku ke Musium angkut minggu depan." jawab Chandra.
"Aku yang ajak sih Ante, aku dapat tugas ke Malang hari kamis." jawab Bima nyengir.
"Kamu mau ajak Chandra?" tanya Balen.
"C's dong, bukan hanya Chandra." jawab Bima, Balen gelengkan kepalanya.
"Sekolah Bima, kamis jumat belum libur." tegas Balen, khawatir kalau diajak membolos jadi kebiasaan.
"Tanggal merah jumatnya, bolos hanya kamis." jawab Bima.
"Jangan, nanti kebiasaan." Balen gelengkan kepalanya.
"Ya sudah batal ya, Mam tidak ijinkan." kata Bima pada Chandra.
"Ya sudah deh." Chandra tampak kecewa sementara yang dua pasrah saja dalam pelukan Mam and Pap.
"Aku balik ya Ante." pamit Bima pada Balen."
"Ih buru-buru, nanti saja."
"Aku ada acara nih." jawab Bima.
"Pacaran?" tanya Balen.
"Mana bisa pacaran, Aca tuh yang pacaran." tunjuk Bima pada Aca.
"Gue lagi, kapan coba gue pacaran, pergi juga sama kalian terus." jawab Aca nyengir.
"Yang penyanyi itu Ca?" tanya Balen.
"Risa." jawab Bima.
__ADS_1
"Gosip, itu cuma teman." jawab Aca.
"Teman Tapi Nembak." Bima terkekeh.
"Gosip lo." sungut Aca, langsung salami Ante dan Om nya. "C's see you soon." kata Aca pada ketiganya.
"Abaaang, terima kasih yaaaa." kata Cadi pada kedua Abangnya.
"Duh manis betul nih Cadi, sama-sama ganteng." jawab Bima terkekeh.
"Abaaang, aku diajak lagi ya." pinta Cadi pada Bima.
"Menangis lagi tidak?" tanya Bima tertawa.
"Kalau takut saja kok." jawabnya bikin semua terbahak.
"Loh kalian sudah pulang?" tanya Kenan yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ini aku mau pulang ya Papon, tidak langsung pulang sih mau main dulu." pamit Bima pada Kenan.
"Kapan menginap disini? besok Om dan Ante kalian sudah pindah rumah nih." kata Kenan pada Bima dan Aca.
"Besok deh aku pindah kesini." janji Bima pada Kenan.
"Sudah bilang Panta?" tanya Aca.
"Nanti Papon yang bilang." jawab Kenan tertawa.
"Aku mau tinggal disini juga deh, Panta sama Manta kan juga sibuk." kata Aca bikin Kenan senang saja.
"Ya Papon siapkan kamarnya biar dirapikan sama Bibi." jawab Kenan, Balen tertawa dibuatnya.
"Kalau abangmu kan masih muda jadi masih aktif kesana kemari. Kalau Papon sama Mamon hal yang paling menyenangkan itu menunggu kalian pulang kerja " sambung Kenan sambil tersenyum.
"Papon ndak usah ditungguin deh, Bima sama Aca pulang kerja suka nongkrong loh." lapor Balen pada Kenan.
"Iya Papon tahu." Kenan terkekeh.
"Tapi senang saja kalau pagi ada yang temani Papon ke Mesjid." lanjut Kenan.
"Nanti bertiga dong ke Mesjid." Bima tersenyum pada Paponnya.
"Iya dong, sama Aca." jawab Kenan.
"Sama Aku kan juga." Cadi selalu ikutan.
"Kamu kan pindah." kata Aca pada Cadi.
"Kan pulang sekolah sama Papon." jawabnya.
"Papon yang jemput? capek loh Papon." kata Bima pada Papon.
"Kan kalau jemput aku malah semangat, karena aku cucunya Papon." jawab Cadi.
"Abang juga cucunya Papon, tidak minta jemput dulu." jawab Bima.
"Abang kan dari lahir di Indonesia, aku kan tamu." terus saja menjawab padahal Bima cuma bercanda.
"Kamu tamu negara ya?" tanya Aca.
"Iya tuh Bang Bima, aku tuh tamu negara tahu, jadi sekolahnya dijemput Papon." jawabnya bikin Kenan terbahak.
"Oh tamu negara yang menangis di helicopter ya?" tanya Bima masih saja bercandai Aca.
"Hihi Abaaaan." tertawa geli dan malu sendiri, sadar kalau dikerjai Abangnya sedari tadi.
__ADS_1