
Meeting singkat bersama Aca dan Bari berjalan lancar, mereka setuju menjadi asisten Balen. Tentu saja Balen senangnya bukan main, bisa bekerja sambil bermain kalau begini caranya. Ada Kia, Aca dan Bari pasti akan sangat membantu Balen.
"Bari sudah kasih tahu Padon?" tanya Balen pada Bari.
"Padon sudah dihubungi Panta semalam, dia tidak masalah." jawab Bari.
"Jadi sebenarnya kalian sudah tahu ya akan bantu Ante?" tanya Balen.
"Sudah dong." jawab Aca tertawa.
"Kok ndak ada yang telepon Ante sih?" protes Balen.
"Masa kita yang telepon sih, dimana-mana pihak perusahaan yang hubungi karyawan kalau berminat." jawab Bari konyol.
"Ih dasar ya." Balen tertawa sambil menepuk bahu Bari.
"Ante tapi sorry nih, kita tuh kalau kerja serius loh." Bari kasih tahu Balen.
"Iya betul." Kia anggukan kepalanya.
"Ya, Ante kan belum pernah kerja ya, kecuali baca laporan yang Aban Lucky Kirim setiap minggu sama Baen.
Cuma sebatas itu aja ilmu Baen. Baen mohon bimbingan Aban Lucky dan kalian semua." kata Balen serius.
"Duh gue lihat auranya kok beda." Lucky tertawa saat melihat Balen serius.
"Ih Aban, Baen juga bisa serius tahu. di Ohio Baen berapa kali diundang jadi pembicara saat ada acara Permias loh." kata Balen pada Lucky, Daniel anggukan kepalanya, selama di Ohio juga Balen selesaikan kuliahnya sama S2, kalau saja tidak pindah ke Jakarta mungkin Balen akan ambil S3. Punya anak tiga tidak menyurutkan semangatnya menuntut ilmu.
"Percaya Baen, memang kamu kira foto-foto kamu saat jadi pembicara itu tidak berseliweran di lingkup kita ya?" Lucky tertawa.
"Masa sih, Aban lihat dimana? internet?" percaya diri.
"Suami kamu lah yang kirim-kirim" jawab Lucky tertawa, Balen langsung tersipu dan menepuk bahu suaminya.
"Pokoknya kalau ada yang tidak mengerti bisa hubungi aku atau tanyakan Kia." kata Lucky pada Balen.
"Kita perlu seruangan ndak sih?" tanya Balen.
"Jangan dong, repot kalau mau quickly." Lucky langsung mendapat cubitan diperut dari Kia.
"Ah dasar kalian..." Balen tidak melanjutkan pembicaraannya karena ada Aca dan Bari disana.
"Belum punya surat nih." celutuk Aca sambil melirik Lucky.
"Surat apa?" tanya Balen.
"Surat nikah." jawab Bari kemudian mereka langsung tertawa.
"Eh iya kok mereka ndak ada yang dinikahkan paksa seperti kita ya?" tanya Balen heran sendiri.
"Sudah beda jaman Ante, Belin saja tidak dipaksa." Aca tertawa.
__ADS_1
"Aca, Bari, awasi Belin ya. Dia sudah ada jodohnya." kata Balen pada kedua anaknya.
"Noah ante?" tanya Kia, Balen naikkan alisnya.
"Seru-seru." Kia langsung terkekeh.
"Apanya yang seru?" tanya Balen.
"Kisah cinta Belin." jawab Kia.
"Ruwet itu sih bukan seru." Aca terkekeh.
"Ante jangan khawatir, kita juga awasi Belin terus kok walau kita jarang kumpul. Bima suka jadi kurir makan siang Belin supaya dia tidak makan siang sama Panji." jawab Bari cengar-cengir.
"Kenapa sih Panji?" tanya Daniel mulai tertarik dengan kisah keponakannya.
"Ya gitu deh, Belin saja yang kejar-kejar Panji, jadi dia merasa diatas angin." Bari menghela nafas.
"Kalian sih sibuk sendiri, jadi Belin kesepian." Kia salahkan keduanya.
"Memang sibuk bagaimana dong, bukan kita sih tapi kalian yang sudah kerja kantoran, kalau aku kan santai di Warung Elite." jawab Bari, Aca anggukan kepalanya.
"Iya lah, masing-masing sudah punya tanggung jawab, mana mungkin terus-terusan bersama sepanjang waktu." jawab Daniel.
"Tapi kalau yang cowok-cowok sih masih suka janjian makan siang di Warung Elite, kalau Belin suka menolak karena dia makan siang sama Panji." Aca menjelaskan.
"Ya sudah yang penting diawasi aja, Panji memang sejahat itu ya?" tanya Balen.
"Sebenarnya tidak sih, cuma dia risih kali diikuti Belin terus." kata Kia.
"Masalahnya mau dijodohkan juga kandidatnya tidak beres." kata Lucky tertawa.
"Siapa kandidatnya?" tanya Aca.
"Bari." jawab Lucky tertawa.
"Hahaha itu sih bercandaan orangtua kita saja yang bilang mentok-mentok Belin dijodohkan sama aku, tapi aku disuruh sekolah kepribadian dulu sama Ayah dan Nami." jawab Bari bikin semua tertawa.
"Sudah begitu tunggu mentok dulu." Bari terbahak.
"Sedih amat nasib jadi cadangan." Aca ikut terbahak.
"Kalau Bima sama Aca kan aman tuh ya karena sudah ante sama Om Daniel, Ante Ulan sama Om Redi, ya kali Belin sama Salah satu mereka, jadi nama mereka tidak lolos seleksi." lanjut Kia, kembali semua terbahak.
"Noah sih sudah paling pas ya Aban." tanyakan pada Lucky dan Daniel.
"Betul." jawab Daniel setuju.
"Tapi nanti jadi saudara sama eheem." dasar Balen jahili Lucky.
"Tidak masalah Baen dia sudah move on." Lucky terkekeh, Kia cengar cengir saja.
__ADS_1
"Oke ya, pertemuan kita sampai disini, aku mau lanjut kerja lagi." Kia menutup pertemuan mereka.
"Sampai jumpa besok." Balen tersenyum senang.
"Yes bebas." Lucky langsung bergaya mengangkat kedua tangannya.
"Bebas dari sini, kembali Ke Suryadi." Aca tertawakan Lucky.
"Iya Om lu tuh tidak sabaran." katanya pada Aca.
"Ban Winner ya?" Balen tertawa.
"Nanti kalau sudah tenang Baen mau ketemu Aban Winner deh, mau bilang terima kasih karena ijinkan Aban Lucky double job."
"Iya lah, kamu juga belum bertemu Papa dan Mama loh Baen." Lucky ingatkan Balen.
"Iya, Baen ingat kok, cuma belum bongkar koper jadi belum bisa mampir."
"Duh Baen, mereka tidak harapkan bingkisan kamu, yang penting kamu muncul juga mereka sudah happy." jawab Lucky pada Balen.
"Oh ya sudah weekend Baen ke rumah Papa Micko, nanti Baen bahas sama Papon." jawab Balen.
"Kabari biar gue kesana juga." kata Lucky.
"Siap Aban, kunci kamar Baen mana?" menagih pada Lucky yang langsung tertawa, mengambil kunci kamar di kantongnya lalu serahkan pada Balen.
"Selamat bulan madu." katanya jahil.
"Waduh ante..." Aca gelengkan kepalanya.
"Ini tuh survey, jadi kalau ada keluhan bisa Baen sampaikan besok." jawabnya berkelit.
"Jangan lupa pulang Ante, ingat ada tiga jagoan menunggu dirumah." kata Bari sok serius.
"Iya, kalau menginap juga Baen suruh anak-anak diantar ke sini." jawab Balen, "Eh Aban kita nginap aja ya?" minta persetujuan Daniel.
"Yakin?" tanya Daniel.
"Yakin kan bajunya sudah di Mobil, disini ada laundry yang satu jam selesai ndak?" tanya Balen pada Kia.
"Ada."
"Oke, baju kerja besok nanti laundry aja, Aca habis magrib antar C's kesini ya." pinta Balen pada Aca.
"Walah, mending mereka aku ajak menginap dikamarku." kata Aca pada Balen.
"Gimana Aban?" minta pendapat Daniel.
"Katanya tidak bisa jauh dari Anak-anak." sindir Lucky tertawa.
"Yah kalau yang jaga seperti Aca sih, Baen jadi tenang." jawabnya sambil mencubit kedua pipi Aca.
__ADS_1
"Ante, jaga wibawa dong." tegur Aca karena beberapa mata melihat kearah mereka.
"Eh iya Baen lupa." Balen terkikik geli sambil mengelus pipi Aca untung hilangkan rasa sakitnya karena kena cubitan Balen.