Because I Love You

Because I Love You
Latihan


__ADS_3

Karena banyak yang ikut turun membantu di dapur, mengupas telur puyuh yang sudah direbus, lalu membersihkan wortel dan juga bengkoang, ini sedikit bingung sebenarnya mereka lagi masak tekwan atau sup, kenapa juga pakai bengkoang, bahkan tadi Raymond mau masukkan Nanas juga tapi dilarang Mama Amelia yang awasi para pria tampan itu memasak.


Walaupun bumbu sudah meyakinkan tetap saja harus diperhatikan, benar saja kan harus diawasi. Tidak sampai satu jam mereka sudah selesai memasak dan banyak menu yang tersaji di meja makan.


"Perasaan masaknya cuma sup, kenapa banyak menu yang tersaji?" tanya Balen.


"Hebat kan?" tanya Raymond bangga.


"Bawa makanan yang ada di dapur Bunda ya?" tanya Balen.


"Enak saja, tidak sehina itu ya." Raymond mendengus.


"Aban beli?" tanya Balen.


"Cerewet ah, tinggal makan saja." protes Raymond.


"Baen kan mau tahu masakan siapa." Balen merengut, Raymond tertawa dan suapkan satu sendok sup untuk dicoba Balen.


"Enak Aban." Balen langsung pasang wajah senang.


"Ya iya lah, yang berdiri di dapur siapa coba?" kata Raymond, Nanta dan yang lainnya cengengesan, Larry naikkan alisnya jahil.


"Kesayang Baen semuanya." jawab Balen terkekeh.


"Ayo makan semuaaa." ajak Mama Amelia, senang hari ini kedatangan tamu yang menyiapkan makanan untuk tuan rumah.


"Mama senang kan?" Larry terkekeh memeluk Mamanya.


"Senang dong, tiap hari saja begini." jawab Mama Amelia.


"Duh jangan ya Ma, ini perlu extra effort, aku lagi menginap di rumah mertua di telepon Baen." dengus Raymond.


"Aban ndak ikhlas?" tanya Balen.


"Ikhlas lah Baen, menurut kamu memangnya kalau sudah begini masih tidak ikhlas?" tanya Raymond.


"Bukan ikhlas lagi dek, itu yang di kulkas Mami Monik dibawa semua." Nanta terkekeh.


"Aban ih ndak modal." protes Balen.


"Kamu telepon Abang jam berapa?" tanya Raymond.


"Lupa." jawab Balen.


"Kamu menunggu kita sampai disini kan tidak lama?" tanya Larry. Balen anggukan kepalanya.


"Kita gerak cepat, apa yang ada dikulkas dibawa. Ini telur puyuh baru kemarin ada yang antar ke rumah." Larry terkekeh.


"Semua dari kulkas masing-masing?" tanya Balen.


"Iya." Nanta nyengir.


"Aban bawa apa dari kulkas?" tanya Balen pada Nanta.


"Wortel." jawab Nanta.


"Aban Lucky?" Balen absen.


"Aku bawa bengkoang sama Nanas Baen, tadinya mau makan rujak ada bumbunya kan, eh ketinggalan." Lucky menggaruk kepalanya.


"Pantesan jadi sup tekwan." Komentar Kia bikin semua terbahak.


"Hampir jadi pindang." sahut Papa James, semua terbahak mendengarnya.


"Tapi enak kan?" tanya Raymond.


"Enak lah, Papa aku yang masak." jawab Kia banggakan Papanya.

__ADS_1


"Gembul mana gembul?" tanya Raymond tidak melihat Syabda.


"Tidur di kamar Baen." jawab Balen.


"Kasih makan dulu Kia." perintah Raymond.


"Tadi sudah makan kok, biar saja tidur Pa, Kia capek nih pangku Syabda berat." jawab Kia.


"Lagian di kasih makan apa bisa gembul begitu?" tanya Ulan.


"Tuh Opanya, cucu dicekokin makanan terus." jawab Lucky.


"Syabda seperti kamu kecil Lucky, gembul gitu." jawab Raymond.


"Masa? kok aku tidak pernah lihat foto aku gembul sih?" Lucky tidak terima.


"Abang punya." Nanta terbahak.


"Abang jangan gitu dong." Lucky langsung saja protes.


"Kia mau lihat, dirumah tidak pernah ada." teriak Kia.


"Disembunyikan pasti." Nanta tertawakan Lucky.


"Mana ada, aku kan apa adanya, tidak perlu sembunyi-sembunyi." jawab Lucky.


"Baen ndak pernah lihat Aban Lucky gembul." Lucky tersenyum senang dibela Balen.


"Ya iyalah, dia gembul kamu belum lahir." jawab Nanta semua kembali tertawa.


"Billian mana suruh makan." Papa James mencari cucunya yang besar.


"Main sama adik-adik." jawab Redi.


"Redi lu betah ya di Jepang, sini lah di Jakarta, seru nih kita." ajak Raymond.


"Pindah yuk." ajak Ulan berharap segera kembali Ke Indonesia.


"Yang pegang dijepang Tanaka saja." Daniel berikan opsi.


"Beneran Bos boleh nih?" Redi semangat karena Daniel kasih lampu hijau.


"Boleh, Daniel harus gantikan Balen di hotel." sahut Nanta cepat.


"Yes Jekardah." Redi langsung berteriak senang.


"Benar ini anak Mama mau kumpul di Jakarta semua?" Mama Amelia tampak sumringah, ia memastikan lagi.


"Iya." jawab Daniel, Mama Amelia langsung tersenyum tampak bahagia, Papa James pun begitu.


"Nah seru nih." Larry ikutan senang.


"Pa, tapi siap-siap nih Baen ditarik Papon ke rumah." kata Nanta karena Redi bisa temani Papa James sedangkan Papon hanya berdua Mamon saja.


"Waduh..." Papa James tampak berpikir.


"Tidak mau kita yang temani Papa?" tanya Redi.


"Mau, sangat mau. Tapi Papa kesepian dong hanya ditemani Mora."


"Anak-anak tetap bagi tugas Pa." jawab Daniel.


"Billian sama Belin, Abang oper kesini deh." Larry bercandai Papa James.


"Kalau mereka sih sama saja bisa Tani hanya malam, ini yang siang hari itu loh." jawab Mama Amalia.


"Tenang, C's tetap temani Opa dan Oma."

__ADS_1


"Aku temani Papon sama adik ya." teriak Cadi.


"Itu anak kenapa tidak mau disini kalau siang?" tanya Papa James.


"Dia main basket di sana, Pa." jawab Larry.


"Kok kamu tahu?" tanya Papa.


"Abang sering lihat saat lewat pulang kantor. Nah sudah sebulan ini akhirnya Abang ajari Cadi." jawab Larry.


"Waah Ayah tidak adil." protes Charlie.


"Waduh Ayah di protes." Larry terkekeh.


"Harusnya Aku sama Chandra juga diajari Basket jangan Cadi saja." sungut Charlie.


"Oke kalian bertiga Ayah ajari, kalau Ayah berhalangan latihan sendiri di lapangan, kalau Panta sempat juga Panta akan ajari." kata Larry pada ketiganya yang langsung mengerubung dimeja makan.


"Moa juga." pinta Mora.


"Oh kalau Moa sudah di Jakarta pasti diajari." jawab Larry.


"Yaaaiiii." Mora langsung berlari sambil berteriak dan melompat senang.


"Jadi Cadi sudah pintar main basket?" tanya Lucky.


"Belum terlalu, tapi aku sudah bisa dribble pakai dua bola sih." jawab Cadi tanpa bermaksud banggakan diri.


"Keren." Daniel acungkan jempolnya.


"Cayo juga mau diajari Ayah, Panta." pinta Charlie.


"Ikut club saja ya, bagaimana?"


"Mauuu..." jawab mereka bertiga.


"Aduh mereka dari shubuh olah raga loh, latihan basket seminggu sekali saja." kata Daniel pada Abang-abang.


"Kapan pintarnya kalau satu minggu satu kali Pap." protes Cadi.


"Idealnya berapa kali latihan basket seminggu?" tanya Raymond.


"Tiga sampai Lima kali seminggu, total waktunya 150 menit." jawab Nanta.


"Syabda mulai latihan olahraga Lucky, mumpung C's juga berlatih, basket saja." perintah Raymond pada menantunya.


"Siap Pa." jawab Lucky.


"Latih berenang juga Lucky, tuh C's sudah bisa ajari, Kate sudah Bagus berenangnya Ayah lihat." kaya Larry memandang C's.


"Chandra yang melatih Ayah, aku tidak jadi." jawab Cadi.


"Kenapa?" tanya Larry.


"Aku capek tidak konsentrasi, kalau ajari Kate aku tidak bisa latihan basket dong." jawab Cadi.


"Jadi biarkan Kate kagumi yang lain dong, kedua Abangnya bisa jadi kandidat." Raymond memanasi.


"Papa Lemon, Abang-abang lebih jago berenangnya biar saja mereka yang ajari, aku kan masih kecil jadi latihan basket dulu." jawab Cadi.


"Maksudnya bagaimana nih? kok gue jadi pusing?" tanya Raymond.


"Mam panggil dokter dong, Papa Lemon pusing." teriak Cadi khawatirkan Papa Lemon.


"Cadi di rumah Papon tidak latihan piano?" tanya Raymon"


"Latihan juga." jawab Cadi.

__ADS_1


"Tuh Paaap, Cadi banyak yang ajari disini, aku juga mau belajar basket Dan Piano." pinta Charlie.


__ADS_2