
"Transfer sekarang Om, aku mau temani Kia karaoke lagi nih." pinta Bima pada Lucky, ini ketiga kalinya geng rusuh ke karaoke keluarga atas permintaan Kia.
"Oke." Lucky langsung mengambil handphone lalu mengirim uang ke rekening Bima via mobile banking.
"Kenapa tidak bawa kartu Om saja sih " gerutu Lucky karena Bima selalu menolak diberikan kartu oleh Lucky.
"Terlalu mencolok, nanti aku suruh Billian yang bayar, seakan kita gantian traktir." jawab Bima bikin Lucky anggukan kepalanya. Bima yang tahu Lucky sedang galau karena di abaikan Kia manfaatkan situasi minta Lucky jadi sponsor tinggal untuk setiap urusan yang terkait Kia dan habiskan waktu ke Karaoke memang permintaan Kia. Mereka tidak kenal club tapi rusuh-rusuhan sambil bernyanyi bersama.
"Tidak minum alkohol ya." pesan Lucky pada Bima.
"Iya Om, kalau minum alkohol pasti ketahuan saat aku sendawa, Manta sama Mamon bisa masukkan aku dan Acha ke gudang Om." Bima terkikik geli bayangkan Mamon dan Manta kalau sudah marah.
"Om, Kia sudah kirim pesan nih, aku jemput Kia dulu." pamit Bima pada Lucky. Tadi sepulang sekolah, Lucky minta Bima laporan tentang Kia yang tidak menerima telepon atau pun membalas pesan dari Lucky sejak tiga minggu lalu.
"Live Bima, jangan lupa." pesan Lucky pada Bima.
"Iya, nanti Acha yang live, jadi Om bisa telepon aku kalau ada sesuatu." kata Bima, Lucky tersenyum puas kedua keponakannya selalu bisa diandalkan. Lucky kerahkan mereka atas saran dari Daniel, mengingat kisah Richie dan Tori pun atas kelakuan keponakannya itu.
"Pak diminta wakilkan Pak Winner untuk rapat bulanan siang ini." Clara sekretaris Lucky masuki ruangan setelah Bima pulang.
"Winner kemana?" tanya Lucky agak malas, ia mau saksikan acara live para bocah saat karaoke nanti. Mana bisa konsentrasi dengarkan laporan dari setiap manager area nanti
"Pak Winner terima tamu dari Jepang Pak." jawab Clara.
"Clara siapkan handsfree untuk tab saya ya." pinta Lucky, mau tidak mau harus pakai handsfree.
"Baik Pak." tanpa banyak tanya Clara langsung keluar ruangan siapkan apa yang Lucky butuhkan.
Clara juga salah satu calon yang diajukan Papa Micko untuk menjadi istri Lucky nanti. Tapi Lucky menolak keras permintaan Papanya. Untung saja Papa Micko tidak memaksa, hanya menyodorkan beberapa nama saja untuk Lucky pilih, termasuk Kia.
Kia pun Lucky tolak, tapi diabaikan Kia benar-benar diluar perkiraan Lucky dan itu sangat mengganggu aktifitasnya beberapa minggu ini. Lucky menghela nafas panjang, tidak menyangkal di beri target untuk menikah akhir tahun ini.
"Lu mau keluar kantor? tunda saja rapat bulanannya." pinta Lucky pada Abangnya melalu telepon internal.
"Sekretaris Papa yang atur jadwal, bukan gue atau elu yang mau temui tamu dari Jepang? biar gue yang pimpin rapat bulanan?" Winner berikan pilihannya pada Lucky.
"Jam berapa?" tanya Lucky.
__ADS_1
"Jam dua di hotel A." jawab Winner, Lucky langsung tersenyum, keponakannya akan karaoke di hotel A, siapa tahu bisa bertemu Kia.
"Gue ke ruangan lu ya, gue yang ke Hotel A." pinta Lucky pada Abangnya. Tidak menunggu jawaban Winner, Lucky langsung melangkah cepat ke lantai bawah.
"Saya ke hotel A dulu Clara, nanti Winner yang pimpin rapat." katanya pada Clara.
"Handsfree masih butuh Pak?" tanya Clara.
"Tidak usah." Lucky kibaskan tangannya dan segera menjauh dari Clara. Semangat sekali mau temui tamu dari Jepang.
"Ada apa di hotel A?" tanya Winner pandangi Lucky saat adiknya semangat meminta berkas yang dibutuhkan saat pertemuan nanti, ia tidak mengajak asistennya merangkap sekretarisnya.
"Ketemu tamu kan? siapa?" tanya Lucky pada Winner.
"Mr. Sakura." jawab Winner.
"Oke." Lucky tersenyum.
"Kia juga mau kesana." Winner naikkan alisnya.
"Oh kata siapa?" pura-pura tidak tahu.
"Oh..." hanya itu saja malas melanjutkan.
"Jadi sponsor mereka terus heh?" Winner terkekeh.
"Sudah biasa bukan?" jawab Lucky sok acuh.
"Kata Bima, Kia mau ke Ohio setelah lulus." Winner masih saja membahas Kia.
"Iya." tidak mau panjang lebar.
"Gagal dong menikah sama Kia?" Winner cengar-cengir.
"Kata Siapa?" dahi Lucky langsung berkerut.
"Oh jadi sudah tetapkan pilihan? Kia? sudah bilang Papa?" dasar bakat wartawan selalu ada pertanyaan jebakan, atau Lucky yang gampang terpancing kalau sudah menyangkut Kia.
__ADS_1
"Ck... gue jalan dulu." malas menjawab barusan saja Lucky merasa terjebak.
"Tidak ada yang melarang kalau elu pilih Kia, Luck. Kenapa mempersulit diri sih?" Winner gelengkan kepalanya, adiknya terlalu gengsi untuk mengakui kalau dia memang menginginkan Kia untuk selalu disampingnya.
"Kalian tidak mengerti apa yang gue rasa sih." dengus Lucky.
"Kita sih mengerti, kamu yang tidak mengerti perasaan kamu sendiri, bro." Winner tertawakan adiknya.
"Gue jalan deh, tidak balik kantor ya nanti." kata Lucky lalu tinggalkan Winner diruangannya.
Om ada rapat di hotel A, kalian karaoke disana juga kan?
Saat sudah dimobil, Lucky sempatkan Kirim pesan pada Bima.
Iya, Om. Ini lagi siap-siap. Nanti aku kasih tahu kita di room berapa. *Bima
Jangan kasih tahu Kia kalau Om ada dilokasi yang sama, Om ketemu klien di restaurant. *Lucky
Kita makan disitu juga dong om. *Bima
Makan saja, tadi kan uang sudah di transfer. *Lucky
Oke Om, nanti aku kabari ya. * Bima
Oke. *Lucky
Lucky lajukan kendaraannya setelah urusan berkirim pesan pada Bima selesai. Sekarang saatnya fokus pada pekerjaan, sementara tidak pikirkan Kia dulu selama dua jam kedepan, tidak bisa lihat live, tidak apa. Nanti minta saja Acha untuk merekam kegiatan Live itu seperti beberapa hari kemarin. Bisa jadi tontonan yang menghibur Lucky menjelang tidur rekaman itu.
"Lucky..." Lucky terkesiap saat masuki ruangan VIP di restaurant, tampak Keiko mantan pacarnya yang duduk disana. Lucky menghela nafas panjang, Lucky lupa Liana masih keturunan Jepang.
"Meetingnya sama kamu, sejak kapan di Indonesia?" tanya Lucky saat duduk dihadapan Liana.
"Winner tidak bilang? Aku sudah dua bulan di Jakarta" jawab Liana tersenyum manis.
"Aku lupa tanya, langsung saja ya..." Lucky tidak berbasa-basi langsung membahas kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Liana.
"Kita akan sering bertemu, Lucky." Liana tersenyum setelah pembahasan serius mereka, wajahnya tampak sumringah.
__ADS_1
"Ya, tapi nanti urusannya akan sering sama Clara." jawab Lucky langsung saja serahkan pada Clara karena Lucky tidak mau terlalu sering bertemu Keiko.
"Aku tidak kenal Clara." jawab Keiko malas, ia hanya mau berhubungan dengan Lucky atau Winner yang sudah dia kenal, lagi pula Keiko datang atas permintaan Winner, tadinya Akira sepupu Liana yang akan datang hadiri pertemuan hari ini, entah apa maksud Winner pertemukan kembali Keiko dengan Lucky.