Because I Love You

Because I Love You
See you


__ADS_3

"Sudah siap semuanya?" tanya Daniel pada tiga bocah dihadapannya.


"Sudah Pap." jawab yang paling besar. Daniel acungkan jempolnya sambil tersenyum pada ketiga anaknya yang berbaris rapi. Ya setelah enam tahun berlalu, mereka kini bersiap kembali ke Jakarta tinggalkan Ohio.


Rencana setelah dua tahun akan kembali ke Jakarta gagal, karena tidak lama setelah melahirkan Balen kembali hamil begitu terus hingga anak ke tiga. Sedangkan Balen punya prinsip anak-anaknya harus lahir di Amerika. Kuliahnya pun sempat tersendat karena hamil anak kedua dan ketiga sambil mengurus bocah, bisa bayangkan sibuknya Balen.


"I'm gonna miss my friends, Pap." kata si sulung yang agak keberatan harus pindah ke Jakarta, walaupun Opa dan Omanya ada disana.


"Nanti di Jakarta kamu akan punya teman baru, boy." kata Daniel pada Daniel kecil dihadapannya.


"Cayi nanti juga punya teman kan?" tanya Charlie anak keduanya.


"Iya dong." Daniel tersenyum, mengacak anak rambut Charlie yang memiliki perpaduan wajah Daniel dan Balen.


"C's, ayo bantu Mama dong." teriak Balen dan dalam kamar.


"Tuh Mama panggil kalian." kata Daniel, Balen panggil ketiga anaknya C's, karena ketiga anaknya bernama, Chandra, Charlie dan si bontot Cadi. Semua seperti seumuran karena masing-masing selisih umur yang hanya sebelas bulan. Yang bikin Balen bangga satupun anaknya tidak ada yang cadel, semua bicaranya lancar. Jadi Aldo anak Dodi yang akhirnya jadi sahabat Daniel juga tidak bisa bilang anak Balen no good.


"C's kok lama sih?" teriak Balen karena belum ada satupun yang muncul.


"Yes Mam." Chandra segera berlari, sementara yang dua tidak bergerak.


"Bawakan koper Mama." perintah Balen pada Chandra.


"Oh my god, Mam. Opa sudah siapkan kapal untuk bawa semua barang kita, kenapa masih ada koper yang harus dibawa?" Chandra gelengkan kepalanya.


"Mama sengaja sisakan satu untuk barang-barang yang tertinggal."


"Oke." Chandra seperti Daniel yang tidak suka berdebat, wajah mereka pun sangat mirip, bikin Balen dulu menangis karena Chandra tidak ikuti garis wajahnya sedikitpun.


"Yang lain tinggalkan saja sayang, nanti ada yang urus." kata Daniel setelah Balen dan Chandra muncul.


"Iya." Balen anggukan kepalanya.


"C's sampai Jakarta nanti Mama akan bekerja loh, kalian jangan rewel ya." Balen ingatkan anak-anaknya.


"Pap saja yang bekerja, Mam jaga kami." kata Chandra.


"Tidak bisa, Mama harus bantu Uncle Lucky dan Auntie Kia yang sudah repot urus hotel." kata Balen menghela nafas, untung saja Lucky bersedia membantu Balen mengurus hotel miliknya.


"Jadi kita di jaga siapa?" tanya Cadi si bungsu, yang ini juga sangat mirip Daniel, hanya Charlie saja yang wajahnya perpaduan Daniel dan Balen. Masih mending lah ada yang mirip Balen walaupun tidak seratus persen.

__ADS_1


"Nanti selain Oma ada pengasuh juga." jawab Balen.


"Mama berdosa loh suruh orang yang urus anaknya." kata Charlie bikin Daniel tertawa.


"Aban, bagaimana nih?" Balen merengek manja, meskipun sudah punya tiga anak tetap saja manja. Ketiga anaknya laki-laki semua, jadi tidak ada satupun yang bisa dijodohkan dengan Aldo yang hampir setiap tahun berlibur ke Ohio, dan menginap di rumah Balen. Walaupun ada Hilma dan Noah tapi lebih memilih dekat dengan C's. Lucky dan Kia boleh lega karena Hilma akhirnya move on dan menikah dengan teman sekantornya, Noah sejak tahun lalu kembali Ke Jakarta mengurus bisnis keluarganya.


"Boys, kalian nanti bisa ikut Mama bekerja, tapi tidak boleh setiap hari karena kalian harus sekolah. Papa ijinkan Mama bekerja jadi Mama tidak berdosa. Lagi pula kalian sudah besar sudah tidak merepotkan Opa dan Oma, pengasuh untuk membantu kalian saja." Daniel jelaskan pada ketiga putranya.


"Kita rumahnya yang di hotel kan? kalau Mama bekerja kita masih ada digedung yang sama." Charlie pandangi Balen dan Daniel. Di Balena Hotel sudah disiapkan rumah di rooftop hotel atas permintaan Balen.


"Sekali waktu saja menginap disana ya." jawab Balen.


"Why Mam?" tanya Cadi pada Mamanya.


"Aban..." Balen minta Daniel yang menjelaskan.


"Kita temani Oma Amelia dan Opa James, kasihan dirumah mereka hanya berdua saja." Daniel jelaskan pada anak-anaknya, sesuai permintaan Papa James agar Daniel sekeluarga tinggal di rumah utama temani mereka yang kesepian.


"Opa dan Oma tidak mau tinggal disini sih." keluh Chandra, pikirnya kalau Opa dan Oma disini dia tidak harus pindah ke Jakarta.


"Nanti kalau sudah besar kamu bisa kuliah disini seperti Papa dan Mama." kata Daniel, bicara pada ketiga bocah ini seperti bicara dengan orang dewasa. Mereka sangat kritis dan jangan harap selucu Balen dan Richie kecil.


"Promise?"


"Aku tinggal sendiri seperti Papa waktu muda ya?" Chandra berhayal.


"Papa sampai sekarang masih muda Boy." jawab Daniel.


"Terlihat muda Papa." jawab Cadi bikin Daniel nyengir.


"Pap, Uncle Redi ikut pindah ke Jakarta?" tanya Chandra.


"Tidak, mereka masih menetap di Jepang." jawab Daniel


"Aku mau kuliah di Jepang seperti Auntie Ulan, Pap. Kuliahnya sama Mori." Charlie langsung sebut sepupunya anak semata wayang Redi dan Ulan.


"Cadi juga mau sama Mori." Charlie gelengkan kepalanya begitu Cadi mau ikut kuliah di Jepang.


"Pap, Cayi nakal." nah meskipun Cadi mirip Daniel, dia seperti Balen yang suka mengadu.


"Biar saja kalau dia mau kuliah di Jepang." kata Balen pada Charlie.

__ADS_1


"Cadi kan mirip Chandra, jadi kuliahnya di Ohio saja ikut Chandra." kata Charlie tunjuk Chandra.


"Kamu juga mirip." Daniel terkekeh.


"Tapi kan aku tidak begitu mirip, mereka berdua sering di kira kembar, Pap." Balen tertawa, suasana rumah begitu ramai setelah kehadiran ketiganya yang Balen besarkan tanpa pengasuh.


"Ayo nanti kita ketinggalan pesawat." kata Balen ingatkan semuanya.


"Pamit dulu sama Oma Margarita." kata Daniel. Mereka berlima segera menuju ke sebelah rumah, Oma Margarita sudah seperti orang tua mereka juga.


"Kalian sudah dijemput?" tanya Oma menyambut kelimanya.


"Sebentar lagi Markus sudah di jalan." jawab Daniel, Markus yang akan antarkan mereka ke Bandara.


"Oma pasti akan rindu kalian C's." Oma Margarita memeluk cucu-cucunya.


"Aku juga pasti rindu Oma." jawab Chandra, "Nanti kuliah aku kembali kesini Oma. Setiap tahun juga aku akan liburan kesini." kata Chandra kemudian.


"Enak saja setiap tahun." Balen langsung protes.


"Aku sudah janji sama Uncle Markus akan temani Romeo temui Papanya." jawab Chandra.


"Pap, Romeo kok punya dua Papa sih?" tanya Cadi pada Daniel.


"Memangnya tidak boleh?" tanya Daniel, Achara bertemu jodohnya di kota Malang, sampai saat ini Achara menetap di sana, tidak kembali Ke Ohio, karena ikut Richie dan Tori kuliah di Malang. Sekarang Achara sedang meringis usahanya bersama suaminya pria asli Malang.


"Kita punya banyak Papa tahu, Uncle Lucky, Uncle Redi, Ayah Leyi, Panta, Papa Lemon, Papa Doni dan Papa Mike itu juga Papa kita." Daniel menarik nafas lega karena Charlie membantu jelaskan tanpa Daniel harus berpikir.


"Oh Iya." Cadi tertawa.


"Janji akan sering tengok Oma di sini ya." kata Oma Margarita saat mengantarkan kelima kesayangannya ke mobil Markus.


"Tenang Oma, tunggu aku tahun depan." teriak Chandra bikin Balen gelengkan kepalanya, main bikin janji saja.


"In syaa Allah Oma, nanti Baen telepon Oma setiap hari." janji Balen pada Oma Margarita, sebagai miss ring ring ini hal yang mudah untuk Balen, mengabsen keluarganya di Jakarta saja Balen lakukan setiap hari.


"Jangan sampai memberatkan kamu, disana kamu pasti sibuk karena harus bekerja." kata Oma memaklumi.


"Ready?" tanya Markus yang menunggu di Mobil.


"See you when i see you, Oma." Cadi kembali memeluk Oma Margarita sebelum masuki mobil Markus. Keduanya berpelukan lama, Oma Margarita tampak berkaca-kaca melepas kepergian Daniel dan keluarganya.

__ADS_1


"Oma tunggu kalian ya." kata Oma Margarita lambaikan tangannya pada semua. Balen yang juga ikut menangis lambaikan tangan dan terus melihat ke Oma sampai menghilang dari pandangan mata.


__ADS_2