
"Kok Tante Hilma tahu, Om Lucky ada di cafe? Berarti Noah yang kasih tahu ya?" tanya Kia penasaran, mereka sudah berada dirumah kini, duduk santai menunggu saatnya ke Bandara.
"Namanya juga orang ganteng, auranya tersebar jadi gampang dilacak." jawab Lucky bikin Kia mencibir sambil tersenyum.
"Cerita dong Om, tadi ngobrol apa sama Tante Hilma, kok lama betul ngobrolnya?" kepo deh Kia sampai tanya detail begitu.
"Cuma ngobrol biasa." jawab Lucky santai.
"Sok rahasia deh, kesal." Kia memberengut.
"Memangnya Kia pacar Uncle Lucky sampai harus cerita detail begitu?" Tori sadarkan Kia.
"Iya juga sih. Oke lah Kia tidak akan tanya-tanya lagi, bukan urusan Kia juga." Kia mengangkat alisnya lalu tinggalkan Lucky diruang tamu.
"Kia... sayang, mau kemana?" panggil Lucky pada Kia yang terus saja tinggalkan semuanya menuju ke kamar.
"Bobo dulu ya, Kia sudah selesai packing, tinggal tunggu ke Bandara." jawab Kia tersenyum.
"Main salju yuk." ajak Lucky.
"Malas Om." jawabnya singkat, Lucky berdecak bocah kecilnya seperti merajuk.
"Nanti Om ceritakan, disini terlalu ramai." Lucky beralasan.
"Sudah tidak mau tahu sih." jawab Kia, efek kenyang ia memang agak mengantuk, mau peluk guling saja rasanya. Kia menutup pintu kamar, benar-benar tinggalkan Lucky yang duduk di sofa, yang lain terkekeh melihatnya.
"Toy, kamu sih bilang begitu." Lucky salahkan Tori khawatir Kia merajuk.
"Kenapa? memang benar yang aku bilang kan Uncle? itu privacy, Kia tidak perlu tahu, kecuali memang kalian ada something." Tori tidak mau disalahkan, ia tersenyum jahil.
"Kia lama dibujuknya kalau merajuk begitu." dengus Lucky tapi tidak beranjak dari sofa. Percuma dekati Kia sekarang yang ada dia akan semakin abaikan Lucky. Nanti saja saat di pesawat baru membujuk Kia, pikir Lucky menunggu waktu yang tepat. Anak muda berangkat lebih dulu malam ini karena harus antarkan Ulan, sementara para Opa dan Oma masih betah temani Balen dan Daniel. Redi pun rencananya malam ini akan kembali Ke California.
"Kia hanya mengantuk, kenapa kamu resah sekali." tanya Dania yang tiba-tiba muncul bersama Balen.
"Kakak bikin kaget saja." dengus Lucky kesal.
"Sudah tua sih jadi gampang kaget." celutuk Balen konyol.
"Rese deh, lebih muda gue dari laki lu Baen." kata Lucky tidak kalah konyol.
"Ya tapi kan Aban Daniel sudah punya Baen dan calon baby nih." jawab Balen terkekeh.
__ADS_1
"Terus maksud looo?" tanya Lucky sudah tahu arah pembicaraan Balen.
"Ya Aban Lucky ndak jelas, katanya sudah putus sama kakaknya Noah, tapi kenapa tadi pisah meja?" Balen tidak terima.
"Ada yang harus di bahas, jadi gue pisah meja deh. Memang tadi gue terlihat mesra sama Hilma sampai kalian kepo?"
"Iya mesra sekali sampai Uncle bantu hapus air matanya Hilma." Tori sang provokator bicara dengan kencang, sudah pasti seisi rumah dengar termasuk Kia kalau belum tidur, meskipun Kia sedang di kamar.
"Hadeh, katanya privacy. Tapi kamu malah pojokkan Uncle sampai harus ceritakan detail, panggil Kia deh, gue mau mendongeng buat kalian geng Kepo." Lucky bikin semua tertawa.
"Bocah-bocah nanti kumpul duduk di kaki gue ya biar menyimak dengan baik." kata Lucky konyol sementara Tori semangat segera ke kamar memanggil Kia.
"Diperut Baen sudah ada bocah nih, masih panggil Baen bocah aja." protes Balen sambil tertawa. Tori berhasil membawa Kia yang keluar kamar membawa bantal, dengan mata kedip-kedip efek baru mulai pulas sudah dibangunkan Tori.
Reflek Kia letakkan bantal di paha Lucky lalu berbaring disofa, letakkan kepalanya di bantal dan lanjutkan tidurnya.
"Jangan tidur dong." Lucky mengetuk kepala Kia pelan.
"Kia tadi sudah bilang kan mau bobo." gerutu Kia.
"Sambil dengar ya. Om ceritakan urusan Hilma tadi nih." kata Lucky pada Kia yang sudah dapat posisi enak.
"Hu uh." menjawab dengan mata terpejam.
"Mau dengar Kisah sang playboy." jawab Daniel bikin semua terbahak.
Pov On
"Luck!" Lucky langsung menoleh saat mendengar suara Hilma yang sangat dikenalnya.
"Loh, Kamu disini?" tanya Lucky heran dan surprised, bisa bertemu Hilma di Ohio.
"Aku sudah beberapa bulan disini, kebetulan bertemu ada yang harus aku bicarakan dengan kamu." jawab Hilma.
"Mau bicara disini?" tanya Lucky dengan mata menuju pintu, siapa tahu ada pacar Hilma, tidak ada siapapun.
"Di sana saja Luck." tunjuk Hilma pada bangku lain yang tidak jauh dari rombongan Lucky, tanpa khawatir terdengar yang lain pembicaraan mereka nanti.
"Sebentar ya." pamit Lucky pada Redi dan lainnya.
"Kamu tambah cantik ya, bahagia di Ohio." puji Lucky jujur setelah mereka pindah meja. Hilma terlihat semakin bersinar dibanding saat menjadi pacar Lucky.
__ADS_1
"Pastinya, sudah tidak beban mental sama pacar karena dibohongi terus sih." jawabnya menyindir Lucky yang sering berbohong karena Kia.
"Hehehe..." tertawa saja tidak tahu mau bilang apa.
"Aku senang lihat kamu lebih happy sekarang." akhirnya bilang begitu, Hilma tersenyum mengangkat alisnya.
"Aku mau kembalikan ini." Hilma serahkan jepitan berlian yang pernah Lucky berikan padanya.
"Itu untuk kamu. Jual saja atau buang saja kalau lihat itu ingat aku terus." kata Lucky, Hilma gelengkan kepalanya.
"Lihat ini aku jadi ingat gadis kecilmu itu, karena dia yang pilihkan ini ternyata. Sakitnya kok masih terasa." suara Hilma terdengar lirih.
"Kia tidak salah Hil, Aku minta maaf."
"Sudah dimaafkan, tapi aku tidak mau repot karena barang ini." ketus Hilma.
"Bagaimana baiknya saja, kalau memang mengganggu suasana hati kamu, aku terima." Lucky menerima jepitan yang Hilma kembalikan. Terlalu kekanakan menurut Lucky, kembalikan barang yang pernah di kasih tidak sekalian, besok-besok apa lagi yang akan dikembalikan mengingat ada beberapa yang pernah Lucky berikan dan semua dibelinya bersama Kia.
"Kamu sampai kapan disini?" tanya Hilma.
"Nanti malam kembali Ke Jakarta, Kia terlalu lama ijin sekolah." jawab Lucky tanpa sengaja sebut nama Kia.
"Kamu ke sini sama Kia?"
"Sama Bang Nanta, Kak Dania dan yang lainnya." jawab Lucky.
"Ternyata memang benar kan kamu tidak bisa jauh dari Kia. Selalu ada dia disekitar kamu." desis Hilma yang tiba-tiba menangis, bertemu Lucky malah membangkitkan luka lama. Lucky mengambil tissue dimeja dan bantu hapuskan air mata Hilma.
"Seperti yang dulu aku bilang, Kia keponakanku, Hil, pasti akan selalu ada disekitarku." tangan Lucky sibuk menghapus air mata Hilma yang malah biarkan Lucky lakukan itu.
"Jangan menangis, nanti yang lihat kira aku aniaya kamu." desis Lucky kemudian sodorkan tissue pada Hilma.
"Kak, ayo!" tiba-tiba Noah sudah berdiri disamping Lucky dan Hilma, mengulurkan tangannya pada Kakaknya.
"Hai Noah." Lucky tersenyum menyapa Noah yang tadi enggan dia sapa.
"Hai..." Noah balas tersenyum lalu melirik pada Kia sambil menghela nafas.
"Aku pamit Luck." Hilma tersenyum lalu segera membalas uluran tangan adiknya.
"Ada Kak Dania dan Bang Nanta juga disini." kata Lucky.
__ADS_1
"Salam saja, suasana sedang tidak mendukung." jawabnya kemudian tinggalkan Lucky yang segera kembali pada rombongannya.
Pov End.