Because I Love You

Because I Love You
Terbuka


__ADS_3

"Sudah gendongnya ya, Papa sama Ayah mau ngobrol." kata Daniel pada Cadi.


"Aaah Paaaap." merengek tetap mau digendong.


"Sini sama Abang, biarkan Papa bicara sama Ayah ya." Billian ambil alih Cadi yang sekarang pindah digendong Billian.


"Cadi..." Balen goyangkan tangannya sambil geleng-geleng kepala.


"Abang aku turun saja." bisik Cadi lihat wajah Mamanya tidak bersahabat.


"Tidak apa, gendong saja." Billian balas berbisik.


"Turunkan Billian, Cadi sama Cayi sejak di Jakarta jadi manja deh, tiap sebentar minta gendong. Di Ohio tidak pernah begitu."


"Di Ohio tidak ada yang gendong Mam, kalau disini banyak." jawab Cadi bikin Billian nyengir.


"Tuh Billian, gara-gara kamu, Bima sama Aca ini anak-anak jadi manja dan tidak mandiri." Balen omeli Billian.


"Duh aku deh yang kena." Billian terkekeh lalu turunkan Cadi dari gendongannya.


"I'm so sorry, Abang." Cadi jadi tidak enak hati karena Abangnya disalahkan Mama.


"It's ok sayang." Billian mengacak anak rambut Cadi. "Ayo main di kamar." ajak Billian pada Cadi.


"Aku ikuut." teriak Charlie, Billian langsung gerakan jarinya mengajak Charlie, lalu naikkan alisnya pada Chandra yang masih duduk tenang dipangkuan Larry.


"Ok aku juga." jawab Chandra lalu mengecup pipi Larry, kemudian pindah mengecup pipi Papanya.


"Nite Ayah and Pap." katanya lagi bikin Daniel dan Larry tersenyum padanya.


"Aku ciumnya nanti ya." kata Cadi pada keduanya.


"Aku juga nanti." Charlie ikut-ikutan.


"Oke sayang." jawab Larry terkekeh, C's begitu manisnya dimata Larry.


"Mam I love you." Cadi monyongkan bibirnya, seperti ingin mencium Mama dari jarak jauh.


"I love you too, baby." jawab Balen tersenyum.


"I'm not your baby anymore, Mam." jawab Cadi bikin semuanya tertawa.


"You will always be my baby C's." kata Balen masih tertawa.


"Aku sudah bukan bayi, don't call me baby please. Aku sudah besar Mam." kata Cadi.


"Sudah besar minta digendong." Balen terkikik geli.


"Nami, aku sudah besar kan?" tanya sama Nami.


"Iya dong kamu saja sudah bisa panggil Kate pretty." Rumi menggoda Cadi sambil tertawa.

__ADS_1


"Nami, tapi Kate beneran Pretty kan?" tanya Cadi polos.


"Hahaha..." Rumi langsung terbahak.


"Abang Billian kalah sama adiknya nih." kata Rumi lagi.


"Nami ih." Billian tertawa lalu kembali menggendong Cadi, tentu saja mau disekapnya karena gemas.


"Abang, aku sudah besar jangan digendong." teriaknya, tetap saja Billian jahili adiknya itu, malah perut Cadi sekarang yang jadi sasaran hingga bocah itu tertawa kegelian. Selanjutnya mereka semua masuk kedalam kamar bermain, dimana mainan C's semua berkumpul disana.


Karena anak-anak sudah diajak Billian masuk ke kamar, maka Balen dan Rumi pun bergabung dengan Daniel dan Larry.


"Bagaimana, Bang?" tanya Daniel pada Larry.


"Sepertinya Belin semakin dekat dengan Noah ya." kata Larry pandangi Daniel dan Balen.


"Bagus kan?" Balen tersenyum pada Abang kesayangannya.


"Hmmm..." Larry memegang dagunya.


"Aban nih kemarin sama Panji kesal, sekarang sama Noah ragu, bagaimana sih." Balen tertawakan Larry.


"Hanya takut kehilangan, seperti maunl dibawa pergi saja anak Abang nih." kata Larry bikin ketiganya tertawa geli.


"Kamu juga bawa pergi aku Love." kata Rumi tertawakan suaminya.


"Iya sih."


"Saat gathering kemarin dia bilang minta restu." jawab Larry menghela nafas.


"Kasih dong restunya." kata Balen cepat.


"Iya Noah oke kok, kalau dua-duanya klop kenapa tidak." sahut Daniel.


"Aban, Mama sama Papanya Noah tuh kenal sama Papa James loh." kata Balen pada Larry. Rumi menyimak saja, ia tidak sekhawatir Larry.


"Iya, Abang juga kenal, pernah beberapa kali bertemu saat antar kamu tournament dulu." jawab Larry pada Balen.


"Yang bikin Abang ragu apa?" tanya Daniel, " Belin sudah cukup umur Bang, Balen malah aku ambil Dari Papon dan Mamon saat masih ingusan." kata Daniel terkekeh.


"Ih Aban ndak ya, Baen kuliah udah ndak ingusan." protes Balen bikin Daniel dan Larry terbahak.


"Aban, Baen memang ndak tahu dalamnya Noah sih, maksud Baen kadangkan perlakuan ke teman sama ke pasangan tuh suka beda ya kalau Baen baca atau dengar curhatan anak-anak dikantor. Tapi berapa tahun kita sama-sama Noah beneran dia manis banget, iya kan Aban?" minta pendapat Daniel.


"Manis apa?" Daniel bersungut.


"Maksud Baen dia menyenangkan sebagai teman sebagai saudara. Kita sudah seperti saudara kan disana." Balen ingatkan Daniel.


"Iya sayang, Abang cuma goda kamu kok. Benar itu Bang, don't worry lah." kata Daniel pada Larry.


"Jadi gini loh Niel, Si Beyin ini masih tutupi kalau dia ada hubungan sama Noah ke kita. Tapi kalau Billian bilang sepertinya mereka sudah pacaran." kata Rumi pada Daniel.

__ADS_1


"So what should we do?" tanya Daniel.


"Bagaimana caranya biar Beyin lebih terbuka, sejak kejadian Panji ini anak tidak banyak cerita ya. Apalagi sekarang di kantor semakin sibuk."


"Ajak ngobrol dong Kak Yumi." kata Balen pada Rumi.


"Diajak ngobrol terus tapi selalu menghindar kalau bahas Noah."


"Oh undang makan aja Papa dan Mama Noah kesini ya, atau kita kumpul di Balena hotel?" Balen langsung saja punya ide.


"Masa kita keluarga perempuan yang undang sih, harusnya mereka yang datang lamar anak kita dong." Larry langsung menolak.


"Ciee Aban, sudah siap punya menantu kalau begini ya." Balen tertawakan Larry.


"Kamu nih godain Abang terus, untung ya tidak punya anak perempuan." kata Larry tertawa.


"Ini lagi nunggu anak perempuan." kata Daniel tertawa.


"Jadi Aban maunya bagaimana, jangan galau deh." kata Balen pada Larry.


"Kapan waktu, kalau Noah antar Belin pulang ajak masuk Bang, ngobrol deh tuh berdua, pancing Noahnya." Daniel ajari Larry.


"Pintaran kamu kok?" kata Larry tertawa.


"Abang tuh cuma nervous jadi galau sendiri." Daniel ikut tertawa.


"Ajak Noah main tennis bareng deh Aban, biar akrab sama calon menantu." kata Balen pada Larry.


"Kamu dong penyelenggara." kata Daniel pada istrinya.


"Oke betul ya, Baen undang nih pertandingan kekeluargaan." kata Balen cengar-cengir.


"Atur saja sayang." kata Daniel pada Balen.


"Di Balena hotel oke ya Aban?" minta pendapat Larry.


"Oke." jawab Larry tersenyum.


"Tidak usah tanding, sekedar main santai saja." kata Daniel pada Larry dan Balen.


"Wah asik nih, Baen ikut main ya, Denis juga Baen ajak." kata Balen semangat.


"Kamu ikut Love?" tanya Larry pada istrinya.


"Nonton saja." jawab Rumi.


"Mau nunggu Ledi Dei sama Papa?" tanya Balen.


"Telepon suruh pulang cepat." kata Daniel semangat.


"Kasihan lah Ulan masih kangen keluarganya." Larry gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau ada Mama sama Papanya Noah baru Papa dan Mama kita suruh pulang. Tapi kalau hanya Noah, kita-kita saja." kata Larry lagi, Daniel anggukan kepalanya, setuju dengan pendapat Abangnya itu.


__ADS_2