Because I Love You

Because I Love You
Pilih Kasih


__ADS_3

"Kamu belum cukup umur Kia, jangan pacaran dulu. Om khawatir mereka hanya main-main sama kamu." kata Lucky ada Kia.


"Segitunya Om lindungi aku." Kia mencibir.


"Iya dong, kamu keponakan perempuan satu-satunya." jawab Lucky yakin, padahal Kia bukan keponakannya langsung.


Mereka tiba di coffee shop kota bandung, Lucky sebenarnya tidak terlalu ingin minum kopi, jadi saat ini dia hanya memesan teh herbal dan Kia pesan minuman herbal.


"Om janji apa sama Aca tadi?" tanya Kia setelah mereka duduk dan menunggu pesanan.


"Nanti kamu juga tahu." Lucky tertawa.


Sementara itu di Jakarta, Belin juga tanyakan hal yang sama pada Aca.


"Tadi Om Lucky bilang kita sebaiknya olah vokal karena suara kita bikin sakit telinga Om Lucky." jawab Aca sambil tertawa.


"Waaah... Om Lucky bilang begitu." Bima belalakan matanya.


"Ini Penghinaan." protes Shaka.


"Jangan salahkan kalau suara kita sedikit tidak Bagus, keluarga kita tidak pernah ajarkan bernyanyi." protes Bari, padahal Papanya Doni punya suara bagus.


"Gue jarus laporkan ini saat rapat keluarga Suryadi." Shaka tidak terima.


"Om Lucky mau bayari kita kursus kok, biar enak di dengar. Makanya tadi aku bilang Om, jangan lupa." Aca senang sekali mau ikut olah vokal.


"Tapi tetap saja Om Lucky tidak hargai usaha kita demi dia." Billian juga tidak terima, sementara Belin dan Bari tertawa geli sambil pegangi perutnya.


"Om tidak ada si group ya?" tanya Bima.


"Tidak ada."


"Group keluarga Suryadi?" tanya Bima lagi.


"Tidak ada, Om Lucky tidak mau ada di group manapun." jawab Aca tertawa.


"Telepon Ca..." pinta Bima pada Aca karena ia sedang fokus mengemudi.


"Kita susul Om ada dimana, ini perbuatan tidak menyenangkan." Omel Bima lagi. Aca langsung hubungi Om kesayangan mereka.


"Kenapa?" tanya Lucky pada Aca.


"Om dimana? aku mau susul." terdengar suara Bima.


"Bandung." jawab Lucky santai.


"Ih sama Kia?" tanya Bima, tambah kesal saja karena tidak diajak.


"Curang tidak ajak kita." protes Shaka.


"Mendadak idenya, lagipula helinya tidak muat." jawab Lucky jujur.


"Ah curang, pilih kasih." teriak Bima.


"Kita cuma minum kopi kok, kalian mau minum kopi dimana om yang traktir." kata Lucky bujuk keponakannya.


"Tidak sebanding dengan diajak naik heli." masih tidak terima, lupa mau komplen soal olah vocal.


"Yang sebanding apa?" tanya Lucky.

__ADS_1


"Makan malam di sky in the lounge, mangkubumi city." teriak Billian sebut nama restaurant diatas awan yang baru saja dibuka beberapa waktu lalu.


"Wow Om juga belum pernah, mau kapan?"


"Sekarang!!!" jawab mereka berbarengan.


"Tidak bisa, kami masih di Bandung." jawab Lucky, lagi pula ia mau bertemu Raymond nanti.


"Om tidak usah ikut, Kia juga tidak usah, kami saja." kata Bima.


"Wah nanti Kia marah tidak diajak." kata Lucky tertawa pandangi Kia yang nikmati minuman herbalnya.


"Lagipula kalian harus booking dulu kan?" tanya Lucky lagi.


"Iya aku booking sekarang, kalau masih ada tempat kami saja ya." bujuk Bima.


"Ya sudah." Lucky pasrah ikuti kemauan ponakannya itu.


"Yes, makan sambil uji nyali kita." Bima langsung joget-joget.


"Tidak jadi komplen?" tanya Bari.


"Komplen apa?" Bima beneran lupa.


"Ya ampun, minum gibolan dong, baru sebentar sudah lupa." Belin terkikik geli.


"Beyin jangan macam-macam, telepon Alex gih kita mau dinner dia kenal sama owner kan." kata Bima pada Belin.


"Iya, wait." Belin segera hubungi sepupunya Alex.


"Kenapa Beyin?" tanya Alex.


"Kapan?"


"Nanti malam, untuk Lima orang." jawab Belin.


"Ada Kia dong." Alex langsung semangat.


"Tidak ada, Kia lagi ke Bandung sama Om Lucky." jawab Belin jujur.


"Lucky lagi Lucky lagi." sungut Alex tahu kalau yang blokir nomornya di handphone Kia adalah Lucky.


"Aku ikut ya nanti malam." Alex tawarkan diri.


"Oke, kabari ya Bang Alex." Belin langsung senang sepupunya mau ikut.


"All, Alex ikut tidak apa kan?" tanya Belin.


"Tidak apa." jawab Bima yang lain mengangguk setuju.


Setelah mendapat kabar kalau nanti malam konfirm tempat bisa mereka dapatkan, Aca langsung hubungi Lucky.


"Om, transfer untuk enam orang ya, kita ambil paket yang dua juta dua ratus per orang." kata Aca langsung.


"Wih mahal betul." Lucky terkekeh, selalu ada cara keponakannya menguras isi rekeningnya.


"Masih lebih murah dibanding sewa heli Om kan." teriak Bima bikin Lucky terbahak, beneran dendam keponakannya ini.


"Om kapan kita olah vocalnya?" tanya Bima, tidak jadi marah karena ditraktir di restaurant mahal diatas ketinggian berapa ratus meter, adenalin mereka benar-benar bagus.

__ADS_1


"Cari saja gurunya." jawab Lucky.


"Private ya Om, panggil kerumah?" tanya Bima.


"Terserah kalian, Kia ajak juga nih supaya kalau ngobrol suaranya tidak rombeng." kata Lucky bercandai Kia yang langsung melotot pada Lucky.


"Iya, kita berenam." jawab Bima.


"Eh, kalian booking untuk enam orang satu lagi siapa?" tanya Lucky.


"Alex." jawab Bima santai.


"Mau kita jodohkan sama Beyin." teriak Billian, Belin langsung menoyor kepala adiknya.


"Oke Om setuju." langsung setuju saja kalau Belin yang dijodohkan.


"Sudah Om transfer." kata Lucky kemudian setelah mengotak-atik handphone yang satu lagi.


"Terima kasih Om ku sayang, semoga berjodoh sama Kia." teriak Bima.


"Aamiin..." jawab mereka bersamaan seperti sedang sholat jamah saja.


"Om transfer apa lagi?" tanya Kia setelah Om Lucky tutup sambungan telepon Bima.


"Mereka minta makan di Sky in the lounge malam ini." jawab Lucky.


"Kia tidak diajak kok?" sungut Kia.


"Justru karena mereka tidak diajak ke Bandung jadi harus dibujuk pakai traktir." jawab Lucky tertawa.


"Om ayo pulang." ajak Kia karena sudah pukul lima sore.


"Tidak mau keliling dulu?" tanya Lucky, Kia gelengkan kepalanya.


"Nanti Papa sama Mama cari Kia." jawab Kia khawatir karena Papa belum tahu Kia di Bandung.


"Om sudah bilang kok." jawab Lucky.


"Cari oleh-oleh kalau begitu, Om. Sama makan batagor yuk Om, dekat pusat oleh-oleh saja." Kia langsung saja punya ide.


"Ayo." Lucky menurut saja.


"Om bolos kerja ya?" tanya Kia dalam perjalanan menuju pusat oleh-oleh.


"Enak saja." Lucky menyangkal, handphonenya kembali berdering.


"Opa Micko nih, kamu saja yang angkat." Lucky sodorkan handphonenya pada Kia.


"Om saja." tolak Kia menggelengkan kepalanya.


"Ya, Pa." Lucky menjawab sambungan teleponnya.


"Kamu di Bandung?" langsung tahu saja, Lucky lupa bilang supir kantor agar tidak beritahukan posisinya pada Papa.


"Iya." jawab Lucky malas.


"Sama siapa?"


"Kia." jawab Lucky, Micko menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Maumu apa sih Luck, Papa suruh Lamar Kia kamu tidak mau, tapi sekarang anak gadis orang kamu ajak ke Bandung di jam kantor begini." omel Papa Micko pada bungsunya, gantian Lucky yang menghela nafas mendengar Papanya mengoceh.


__ADS_2