
"Ayo istirahat dikamar." ajak Mama Amelia pada menantu dan cucu-cucunya. Kia sudah dianggap cucu juga oleh Mama Amel. Biarkan suami dan anak cucunya masih asik ngobrol di restaurant. Lagipula sebentar lagi mereka pasti akan berolah raga, entah berenang ataupun bermain tenis.
"Ayo Ma." Baen segera berdiri ikuti Mama yang pamit pada Papa James untuk kembali ke kamar. Kia dan Belin pun mengikuti.
"Aban, Baen ke kamar Mama dulu." ijin Balen pada Daniel.
"Ya." Daniel berdiri ulurkan tangannya minta Balen agar mendekat, lalu dipeluknya Balen, cium kening dan pipi istrinya.
"Belum pergi sudah kangen." bisik Daniel pada istrinya.
"Idih, cuma kekamar tahu." Balen mendongak manja, kalau tidak ada Papa dan yang lainnya pasti sudah Daniel cium bibir istrinya itu.
"Tuh pengantin baru diganggu jadi begini deh." Papa James terbahak lihat kemesraan keduanya.
"Sudah tahu begitu masih saja ikuti kemauan cucu." gerutu Daniel sambil melirik Belin yang pasang wajah tanpa dosa.
"Opa, nanti Bang Alex menginap disini sama Seto sahabatnya." Belin beritahukan Opa James.
"Yah, mau Opa suruh kemana dia kalau datang?" tanya Opa James pada cucunya.
"Opa ajak olah raga aja, nanti panggil Beyin ya." pesan Belin pada Opanya.
"Suruh pulang saja Alex dan temannya itu." Redi menggoda Belin.
"Eh jangan, Beyin mau akrab sama Kak Seto." katanya tersenyum centil.
"Seto kan naksir Kia." kata Billian dengan wajah datar.
"Yah kalau Kak Kia mau Seto, Beyin cari temannya Bang Alex yang lain." jawabnya santai, sudah berilmu sama suhunya Ante Baen.
"Alex mau dekati Kia kan?" tebak Billian pandangi Belin.
"Yah kenalan aja, terserah Kak Kia deh mau sama Bang Alex atau sama Kak Seto, bentar ya Beyin chat Bang Alex suruh ajak temannya yang banyak, jadi Beyin bisa pilih." katanya bikin semua tertawa.
"Kalau mereka semua naksir Kia bagaimana?" tanya Redi terkekeh, Daniel tersenyum saja mendengarnya.
"Ya kali Beyin ndak kebagian." jawabnya kembali semua tertawa.
"Kamu nanti sama Alex saja." kata Daniel tertawa.
"Ih masa sama Bang Alex itu kan saudara." jawab Belin.
"Saudara juga jauh, boleh kok." jawab Opa James tertawa.
"Nanti ya Beyin pikir-pikir dulu." jawabnya sok iye.
"Kak Kia yang penting kita cuci mata." bisik Belin, Kia jadi cekikikan dibuatnya.
"Ante juga boleh kalau mau." bisik Belin lagi bikin Daniel menjewer kuping keponakannya.
"Apa sih Om? dari kemarin jahat betul sama Beyin." gerutu Belin sambil usap telinganya.
"Kalau mau cari cowok kalian saja berdua jangan ajak istri Om."
"Aku tidak ajak Ante cari cowok kok, maksud Beyin kalau Beyin turun Ante boleh ikut ke kamar sama Om." jawabnya berkelit.
"Tadi bahasanya ambigu." jawab Daniel bikin Balen terkikik geli.
__ADS_1
"Aban cemburuan ternyata Mama." adunya pada Mama.
"Maklum saja dia berjuang sekian tahun loh demi kamu." jawab Mama menepuk bahu Balen.
"Hehehe makasih Aban." katanya lagi peluk Daniel.
"Kamu naik ke kamar temani Mama, kalau Beyin turun nanti, kamu tidak usah ikut, kalau memang mau turun telephone Abang saja, nanti Abang yang jemput." kata Daniel pada istrinya. Agak mengkhawatirkan Daniel, karena Alex usianya kurang lebih saja sama Balen, sudah pasti nanti istrinya akan jadi incaran teman-temannya Alex kalau mereka tidak tahu Balen sudah bersuami, itu yang ada dalam pikiran Daniel.
Akhirnya Mama Amelia, Balen, Belin dan Kia pun segera menuju kamar, mereka menemani Mama Amelia istirahat sambil menunggu kedatangan Alex dan teman-temannya.
"Kalian kan masih sekolah, memangnya boleh pacaran ya?" tanya Balen pada keduanya.
"Kan ndak pacaran." jawab Kia terkekeh.
"Itu cuci mata?" tanya Oma.
"Kan cuma senang lihat yang ganteng-ganteng aja ya Oma. Namanya juga anak muda." minta dukungan Mama Amelia.
"Tidak tahu ya, Oma tidak mau komentar ah, takut disalahkan Ayah dan Nami kamu." jawab Oma terkekeh.
"Seperti Ante Baen dong tidak pacaran tapi menikah." kata Oma Amelia banggakan Balen.
"Justru kita contoh Ante, Oma. Waktu bicara belum lancar sudah punya boyfriend." jawab Kia pada Oma.
"Iya tapi kan mereka tidak pacaran." jawab Oma yang sudah tiba dikamar kini. Masing-masing langsung ambil posisi rebahkan badan ambil bantal.
"Tidak pacaran tapi natsi-natsi." jawab Kia terkekeh. Mama tertawa mendengarnya.
"Biarkan saja Ma, lihat mereka maunya apa." kata Balen terkekeh.
"Iya." Mama masih saja tertawa.
"Ante, temannya Bang Alex itu, tidak tahu kenapa cakep semua." Belin mulai promosi.
"Mereka atlet ya?" tanya Balen ingin tahu.
"Iya. Atlet Taekwondo." jawab Belin acungkan jempol.
"Oh...." hanya bilang oh saja.
"Kamu tahu Aban Nanta dulu juga begitu." tiba-tiba Balen bahas Nanta.
"Iya kan Ayah Beyin teman Panta." jawab Kia tersenyum.
"Iya, mereka semua ganteng dan keren." Mata Balen menerawang.
"Itu sih jangan di tanya." jawab Belin bangga.
"Oma iya kan, Ayah Beyin terlalu keren dulu." minta pendapat Oma yang hanya menganggukkan kepalanya.
"Nanti lihat saja apa rombongan Alex sekeren Ban Nanta dan Ban Leyi." kata Balen lagi.
"Iya kalau ternyata memang sekeren itu bagaimana?" tanya Belin.
"Ya tidak usah bingung kalian juga sama kerennya." kata Balen tersenyum.
"Kalau kerenan Ayah bagaimana?" Belin langsung bingung. Balen dan Oma terbahak dibuatnya.
__ADS_1
"Memang mau langsung dijadikan calon mantu?" tanya Balen terkekeh.
"Kalau Oma setuju sih, langsung saja ya Oma." jawab Belin tersenyum, Oma gelengkan kepalanya.
"Cowoknya saja belum tahu mau apa tidak sama kamu." Balen terkekeh.
"Aku kan cantik, masa tidak mau." sungut Belin.
"Ya Beyin memang cantik, tapi kan mereka belum tentu hanya lihat cantiknya saja. Kaya ante sama Om Daniel." jadikan dirinya bahan perbandingan.
"Kenapa Ante sama Om?" tanya Belin.
"Om natsi ante bukan karena cantik, iya kan Ma?" minta Mama mengangguk.
"Iya." Mama asal iya saja. Sudah mulai mengantuk jadi sudah pejamkan mata sambil peluk guling.
"Karena apa? sudah jelas Ante terlalu cantik." jawab Kia yakin Daniel sukai Balen karena Balen cantik.
"Bukan hanya itu tahu, tapi Ante lucu dan menggemaskan." jawabnya tersenyum bangga.
"Kia, apa aku lucu dan menggemaskan?" tanya Belin pada Kia.
"Tidak tahu ya kalau itu. Kalau cantik sih iya kamu cantik." jawab Kia jujur.
"Duh ternyata kita tidak hanya harus cantik, tapi juga lucu dan menggemaskan, bagaimana bisa tahu itu ya? kalau tanya Billian pasti dia bilang kita menyebalkan." kata Belin sedikit berpikir, Oma sudah pulas dan mendengkur halus tidak mungkin dibangunkan.
"Kalau aku lucu dan menggemaskan tidak ya?" tanya Kia lagi.
"Nah itu aku tidak tahu, coba telepon Bima dan Aca, kita tanyakan sama mereka." kata Belin keluarkan handphonenya.
"Iya coba telepon mereka." kata Balen penasaran. Belin segera hubungi Bima.
"Kenapa?" tanya Bima tidak ramah.
"Ih lagi apa sih seperti terganggu?" Belin terkekeh.
"Lagi main game online, buruan ada apa?" tidak mau diganggu rupanya takut kalah main gamenya karena menerima telepon.
"Bima, apa aku dan Kia lucu dan menggemaskan?" langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Ih menggemaskan dari mana? sudah ya Bye." langsung matikan telepon.
"Ah dasar Bima menyebalkan." gerutu Belin, Kia pun ikut mengumpat.
"Tidak pas tanya mereka, kita harus tanya yang lain. Aku telepon Papaku ya." Kia langsung keluarkan handphonenya.
"Papa..." langsung tersenyum saat Papa angkat teleponnya.
"Iya Kia sayang, ada apa? Papa lagi meeting." setengah berbisik.
"Mau tanya sedikit bisa?"
"Penting? bisa cepat, Nak?" terburu-buru.
"Oh tidak penting kok." tersenyum lalu matikan teleponnya.
"Sepertinya tidak usah kita pikirkan, lihat saja nanti kesan mereka bagaimana setelah kenalan sama kita." kata Kia tidak mau pusing lalu segera memeluk Oma, pejamkan matanya.
__ADS_1
"Iiih..." Belin jadi monyongkan bibirnya lalu ikut berbaring memeluk Kia dan pejamkan mata.
"Pada tidur lagi." gerutu Balen lalu menguap ikut mengantuk, rebahkan badan disofa tapi berusaha tidak tertidur, takut jet lag lagi dia.