
"Ante!!!" Billian langsung sambut Balen dengan senyum manisnya. Ia menjemput Balen, Daniel dan Achara seorang diri.
"Kamu kok sendiri?" tanya Balen langsung peluk Billian, salah satu anak yang dirindukannya.
"Ante kan bertiga, mobilku tidak muat kalau ajak yang lain." jawab Billian yang hanya fokus pada Balen.
"Billian, Ante saja yang kamu sambut?" sindir Daniel bikin Billian terkekeh.
"Om juga dong, siap-siap dikuras habis." katanya tertawa jahil, Daniel langsung merangkul keponakannya itu sambil terbahak.
"Ini Achara teman Ante, ingat?" tanya Balen, Billian gelengkan kepalanya tapi mengangguk sopan pada Achara.
"Hello handsome." sapa Achara ramah.
"Namaku Billian." sahutnya terkekeh, merasa risih dipanggil handsome.
"Ok, Hai Billian." Achara terkekeh.
"Hai Auntie." Billian tersenyum.
"Aduh dia panggil aku Auntie, aku belum setua itu Billian." protes Achara bikin Balen dan Daniel tertawa.
"Ante, aku ajak Ante sama Om kerumah Opa dan Oma dulu ya, bukan ke rumah Papon." kata Billian setelah mereka tiba dimobil.
"Oke." Daniel anggukan kepalanya.
"Jadi malam ini kita menginap dirumah Opa." kata Billian perlahan lajukan kendaraannya.
"Kamar sudah siapa untuk tamu Ante?" tanya Balen, karena ia pikirkan kamar Achara, kalau dirumah orangtuanya Balen tidak perlu pusing.
"Sudah, Ante sama Om tenang saja. Belin sudah atur semuanya." jawab Billian.
"Semua berkumpul di rumah Opa." kata Billian lagi.
"Menyambut kita ya?" Daniel langsung ge-er gitu.
"Menyambut Ante sih, pada mau lihat perut Ante." jawab Billian tertawa jahil.
"Belum kelihatan Billian." kata Balen mengusap perutnya.
"Ante kurus sih." dengusnya.
"Sekarang lebih berisi Billian." sahut Daniel tersenyum pandangi Balen, Achara tertidur disebelah Balen, efek hamil membuat Achara cepat lelah.
"Teman Ante nanti tinggal di Malang?" tanya Billian.
"Iya." jawab Balen.
"Sendiri?" tanya Billian lagi.
"Nanti ada temannya." jawab Balen.
"Dia hamil juga ya?" tanya Billian lagi.
"Kok kamu tahu?" tanya Balen.
"Cuma tebak-tebak saja." Billian terkekeh.
"Om bawa dua wanita hamil ke Indonesia, hebat."
__ADS_1
"Apanya yang hebat, ndak nyambung." Balen terkekeh.
"Kata Oma kalau hamil muda suka rewel. Jadinya Om hebat hadapi dua wanita rewel."
"Rewel cuma sama suami aja Billian, kalau Achara ndak rewel sih." Balen menjelaskan.
"Tidak rewel tapi tiba-tiba pingsan." Daniel terkekeh ingat Balen sudah dua kali minta diantar ke rumah sakit menyusul Achara yang pingsan saat dikampus.
"Iya sih, makanya Achara cuti kuliah karena hamilnya begini." jawab Balen resah.
"Nanti siapa yang jaga?" tanya Billian seperti prihatin.
"Orang suruhan Papanya." jawab Balen.
"Om Markus dong suruh jaga." ceplos Billian.
"Kamu pasti menguping pembicaraan Ante sama Ayah Leyi deh." Balen menoyor kepala anaknya itu.
"Kedengaran Ante, bukan menguping. Ante kan selalu video call. Jadi satu rumah dengar karena Ayah tidak pakai handsfree." Billian menjelaskan sambil usap kepalanya.
"Kamu kenal Markus juga ya?" tanya Achara yang terbangun saat nama Markus disebut.
"Kenal, semua sahabat Om ku aku kenal." jawab Billian bangga.
Tak terasa mereka tiba di rumah Papa James orang tua Daniel yang juga kenal dengan Papa Achara. Tanpa sepengetahuan Achara, Papanya hubungi Papa James ucapkan terima kasih karena Balen dan Daniel bantu Achara pindah ke Indonesia sementara waktu. Ia juga secara tidak langsung titipkan Achara pada Papa James. Oleh karena itu Papa James dan Mama Amelia minta Billian untuk mengantarkan Daniel, Balen dan Achara langsung ke rumah mereka.
"Papa, Mama..." Balen langsung hampiri keduanya lalu memeluk mereka satu persatu.
"Kamu naik berapa kilo?" tanya Papa James terkekeh.
"Papa body shaming deh." protes Balen.
"Loh Papa mau bilang kamu jauh lebih cantik dengan badan berisi begini." lanjut Papa James bikin Balen langsung senyum-senyum dipuji mertuanya.
"Ih Mama, Baen bawa oleh-oleh nya cuma sedikit loh." jawab Balen terkikik geli.
"Mama tidak minta dibawakan oleh-oleh loh, kamu dan Daniel tiba dengan selamat saja Mama bersyukur dan bahagia sekali." jawab Mama Amelia peluk Balen erat.
"Achara ayo, ini Mama dan Papa Daniel, Mama dan Papaku juga." Balen menarik Achara yang sedari tadi diam saja pandangi Balen dan mertuanya.
"Nice to meet you Uncle and Auntie." sapa Achara pada keduanya.
"Nice to meet you too Achara, semoga kamu betah di Indonesia ya." Mama memeluk Achara, sementara Daniel yang sedari tadi diabaikan ambil posisi duduk di sofa bersama Billian dan juga Larry karena Mama dan Papa sibuk dengan Balen dan sahabatnya.
"Bagaimana calon Papa, apa calon Mama rewel?" tanya Larry menggoda adiknya.
"Masih teratasi." jawab Daniel tertawa.
"Kak Rumi mana Bang?" tanya Daniel yang belum melihat Rumi.
"Lagi sibuk bantu Dania persiapkan pernikahan Ichie, sebentar lagi juga kesini." jawab Larry tersenyum.
"Abang tidak ikut sibuk?" tanya Daniel.
"Para wanita saja yang sibuk, kita sih santai. Sama lah seperti saat kamu menikah dulu yang sibuk para mama." jawab Larry buka rahasia.
"Ternyata Abang sama Bang Nanta tidak berkontribusi ya." Daniel tertawa.
"Enak saja, tetap dong kita sumbang saran." jawab Larry.
__ADS_1
"Tuh Adik kesayangan lu, bawa teman." kata Daniel tunjuk istrinya.
"Markus sudah tahu?" tanya Larry yang juga mengenal Markus, Daniel yakin anak yang dikandung Achara saat ini anak Markus saat komunikasikan dengan Larry masalah Achara yang minta ikut ke Indonesia.
"Belum sih, dia juga belum tanya." jawab Daniel tersenyum.
"Kasih tahu lah calon istrinya di Kota Malang."
"Nanti gue pastikan dulu Bang." jawab Daniel, ia belum komunikasikan dengan Markus.
"Aban..." Balen langsung hampiri Larry, pengen peluk tapi melirik dulu ke arah Daniel.
"Sini peluk, Aban kangen." Larry ulurkan kedua tangannya.
"Jangan macam-macam." Daniel segera menarik pelan tangan istrinya hingga duduk dipangkuan Daniel.
"Hi Achara how are you." sapa Larry saat melihat Achara dibelakang Balen.
"Aku hamil loh, sama seperti Balen." jawabnya tertawa.
"Mama suamimu?" tanya Larry konyol.
"Ish pertanyaannya menyakitkan." Achara mengelus dadanya.
"Aban ih..." Balen langsung pelototi Larry.
"Galak kamu sejak hamil ya." Larry terkekeh pandangi Balen.
"Aban, kata Mama Baen fresh loh sekarang." dasar Balen pamer gitu dipuji Mama Amelia.
"Cantik dan fresh terus sih istrinya Daniel mah." jawab Daniel sebelum Larry memuji istrinya.
"Masih cemburu sama gue ya." Larry melempar bantal kursi ke arah Daniel.
"Aban ih..." Balen menangkap bantal tersebut sambil monyongkan bibirnya.
"Suami kamu sih posesif." sungut Larry.
"Karena Aban Daniel sayang Baen, iya kan Mama." minta persetujuan Mama.
"Semua sayang Baen dong." jawab Mama tersenyum.
"Achara kamu istirahat di sini." ajak Mama Amelia pada Achara ke arah kamar tamu.
"Auntie, terima kasih sudah mau terima aku."
"Santai saja, jangan dijadikan beban." jawab Mama Amelia menepuk bahu Achara.
"Achara anggap saja lagi di apartment, terserah kamu kapan mau keluar kamar. Pokoknya setiap jam makan aku ingatkan kamu." kata Balen yang tahu Achara suka mengurung diri di kamar sejak hamil.
"Kapan kita ke Malang, Balena?" tanya Achara.
"Nanti Achara, setelah orang suruhan Papamu tiba di Indonesia, kamu langsung ke Malang bersama mereka." jawab Papa James yang sudah berkoordinasi dengan Papa Achara.
"Oke..." Achara menghela nafas panjang.
"Makan dulu sebelum tidur ya." kata Mama Amelia pada Achara.
"Iya Auntie, aku bersihkan badan dulu."
__ADS_1
"Achara disini tidak boleh pakai pakaian seksi ya." teriak Balen.
"Iya aku nanti pakai daster yang kamu kasih." jawab Achara bikin Balen terkikik geli, ia sudah minta Belin dan Kak Rumi siapkan daster untuk Achara, biar Achara merasakan betapa nyamannya kalau pakai daster di rumah.