Because I Love You

Because I Love You
Panas


__ADS_3

"Mau konsul apa sih?" bisik Daniel saat Lucky dan Kia menjemput Daniel dan Balen di hotel Balena yang sedang dalam proses pembangunan, Nanta sudah pulang lebih dulu, sementara Ben baru pulang setelah ngobrol sebentar dengan Kia sepupunya.


"Nanti dong saat kita lagi berdua. Sekarang mau diantar kemana Pak?" tanya Lucky nyengir.


"Mau kemana sayang?" tanya Daniel pada Balen.


"Oma Nina ada dimana? Baen mau ajak Oma besok ke Malang, kasihan dirumah sendirian." Balen pikirkan Oma kesayangannya.


"Dirumah Ayah Eja, kita juga belum temui Oma ya sayang, aku harus laporan dong kalau sudah jadi suami kamu." kata Lucky pandangi Kia melalui kaca spion, istrinya duduk dibangku penumpang belakang bersama Balen hanya mengangguk saja.


"Kamu terlihat lelah." Balen menggoda Kia.


"Iya lah, tadi habis shubuh jalan pagi, langsung sarapan dirumah Opa Micko lanjut ke rumah Papa makan siang terus antar ke airport sekarang jemput Ante, aku lelah." jawab Kia apa adanya.


"Tadi malam juga kurang tidur?" tanya Balen menjurus.


"Untungnya tidur pulas, ya Om?"


"Iya, pulas kamu, aku tidak." jawab Lucky nyengir, Daniel terbahak mendengarnya.


"Besok ke Malang sama-sama aja yuk." ajak Balen pada Kia dan Lucky.


"Belum beli tiket kan?" tanya Balen lagi.


"Aban Nanta ndak mau naik jet, karena sudah beli tiket." Balen mendesah.


"Kalian berangkat jam berapa?" tanya Lucky.


"Bebas, kalau bisa sih pagi biar di Malang bisa jalan-jalan." jawab Balen, Daniel menyimak saja.


"Yang, mau naik jet? mesra-mesraan diatas awan kita." Lucky menggoda Kia.


"Idih..." Kia tertawa dengar banyolan Lucky.


"Kamarnya ada berapa?" tanya Lucky menyeringai.


"Satu." jawab Balen polos.


"Enak di kamar atau dikursi?" tanya Lucky lagi, Daniel menoyor kepala Lucky dan mereka langsung terbahak.


"Kia masih dibawah umur ini." dengus Kia dengar bercandaan Lucky.


"Sebentar lagi juga pintar." jawab Balen bikin Kia menarik pelan rambut Ante kesayangannya.


"Kia, Ben cakep deh, kalau Beyin ndak mau, Ben jadi menantu Baen aja lah." tiba-tiba Balen bahas Ben.


"Segitunya kamu terpesona sama Ben." Daniel mendengus, tidak bisa tutupi rasa cemburunya.


"Aban, kan mau dijodohin sama Beyin." Balen dekatkan pipinya dibahu Daniel.


"Genit." masih saja mendengus.


"Ih Baen sih maunya sama Aban aja." Balen memeluk Daniel, walaupun tidak maksimal karena terhalang bangku.


"Tuh makanya jangan suka bahas cowok lain, padahal suaminya tidak kalah ganteng." kata Lucky ikut kesal.


"Walaupun mau dijadikan menantu?" tanya Balen.


"Anak kita memangnya sudah pasti perempuan?" tanya Daniel.


"Ndak tahu, kan belum ketahuan." Balen terkekeh.

__ADS_1


"Nanti kalau Abang puji cewek cantik boleh ya. Abang bahas cewek itu terus?" tanya Daniel masih kesal.


"Ndak boleh Aban." tambah erat saja pelukan Daniel. Lucky tertawa melihat Balen yang sedikit panik karena suaminya emosi.


"Ya udah Baen ndak bahas Ben lagi deh." janji Balen pada Daniel yang hanya mencebik.


"Serem kan Baen kalau laki lu sudah emosi." Lucky tertawakan Balen.


"Makanya Baen sayang." jawab Balen sambil mencium pipi Daniel, Lucky tambah tertawa saja.


"Duduk yang benar Baen, nanti kamu keseleo." Daniel ingatkan Balen, meskipun sudah melunak, Balen tetap saja merasa suaminya masih marah.


"Jangan khawatir Om, Ben tidak genit kok. Tidak akan tergoda sama Ante Baen." Kia tenangkan Daniel.


"Aban kalau anak kita laki-laki, siapa tahu cakep dan jenius juga Aban." kata Balen pada Daniel.


"Aamiin." jawab Daniel.


"Nanti anak kita laki-laki atau perempuan, sayang?" tanya Lucky pada Kia.


"Masih lama kan Om, tunggu Kia selesai kuliah?" tanya Kia pada Lucky.


"Rencana kan begitu, tapi tidak tahu nanti jadinya bagaimana." jawab Lucky nyengir, Kia julurkan lidahnya pada Lucky melalui kaca spion.


"Sebelum ke Oma, kita ngopi dulu ya." ajak Lucky pada Daniel.


"Boleh, gue butuh teh herbal nih." jawab Daniel setuju.


"Biar rileks Bro, lu kenapa jadi tegang?" tanya Lucky.


"Capek juga mungkin." jawab Daniel nyengir.


"Kalau Baen cemburunya bagaimana, sama?" tanya Lucky.


"Kabur seminggu." Daniel terkekeh.


"Ish itu dulu." jawab Balen.


"Labrak-labrak." celutuk Daniel lagi.


"Itu juga dulu." jawab Balen nyengir.


"Kalau sekarang?" tanya Lucky.


"Ndak tahu, sejak menikah Aban ndak bikin cemburu sih. Makasih ya Aban." Daniel tertawa mendengarnya.


"Baen, kita lewati rumah teman gue yang cinta mati sama suami kamu nih." Lucky tunjuk salah satu rumah mewah yang mereka lewati dikawasan perumahan elite.


"Siapa?" tanya Daniel bingung.


"Secret admire lu Bang." Lucky terbahak.


"Oh..." itu saja tanggapan Daniel.


"Siapa Aban?" tanya Balen.


"Ada deh." Lucky terkikik geli lihat Balen mulai gelisah.


"Aban, cantik ndak?" tanya Balen.


"Sebandinglah sama kamu." jawab Lucky, tambah penasaran saja Balen.

__ADS_1


"Jangan dipanasi Luck, repot gue nanti." Daniel menepuk bahu Lucky.


"Kenapa takut kabur lagi ya?" tanya Lucky terbahak.


"Iya." jawab Daniel terkekeh.


"Aban ndak penasaran, ceweknya siapa?" tanya Balen.


"Buat apa?" Daniel malah balik bertanya.


"Jangan-jangan Aban sudah tahu nih." sungut Balen.


"Tidak tahu, tidak kenal juga." jawab Daniel.


Mereka sudah tiba di coffee shop pilihan Lucky, yang dia tahu ada minuman herbal juga di sana. Setelah pastikan Balen dan Kia duduk nyaman, Lucky dan Daniel segera ke kasir untuk memesan minuman yang mereka inginkan.


"Lu beneran tidak penasaran sama itu cewek Bang?" tanya Lucky pada Daniel.


"Tidak." jawab Daniel mantap.


"Itu rumah mantan gue sebenarnya." Lucky tertawa.


"Terus kenapa lu bilang cinta mati sama gue?" tanya Daniel ikut tertawa.


"Pengen tahu saja Baen kalau cemburu bagaimana." Lucky terbahak sementara Daniel kembali menoyor kepalanya.


"Cari masalah saja." dengus Daniel.


"Tadi kan lu panas hati, Bang. Impas deh satu sama."


"Rese, bisa dibahas terus sampai Baen yakin itu." Daniel amati istrinya yang tampak termenung, pasti kepikiran ucapan Lucky tadi.


"Mending lu kasih tahu deh, nanti Baen rewel." pinta Daniel pada Lucky.


"Gue bilang apa? rumah mantan gue begitu, di depan istri gue." Lucky gelengkan kepalanya.


"Lu bilang saja sama Baen nanti. Jangan gue lah, nanti Kia yang rewel, eh yakin betul gue, Kia belum cinta sama gue kayanya Bang." Lucky menarik nafas panjang.


"Perasaan kamu saja." Daniel terkekeh.


"Betul itu, bukan cuma perasaan."


"Sebenarnya sudah cuma tidak diekspresikan." gumam Daniel amati Kia.


"Tahu dari mana?" tanya Lucky.


"Dari tadi seperti mau menerkam cewek-cewek yang lirik kamu Bro." bisik Daniel bikin Lucky GR bukan kepalang.


"Beneran lu Bang, Baen yang gue lihat seperti mau menerkam." Lucky balas berbisik. Daniel alihkan pandangan pada istrinya sambil tersenyum manis. Balen tunjuk Handphonenya isyaratkan agar Daniel membaca pesan yang Balen kirim.


Aban, jangan dekat-dekat cewek yang di belakang Aban!!!


Daniel tertawa sambil gelengkan kepalanya, langsung majukan badannya, rupanya dibelakang Daniel ada cewek seksi yang begitu dekat dengan Daniel dan juga Lucky, hampir saja menempel, karena asik ngobrol sama Lucky, Daniel tidak perhatikan.


Jaga pandangan Aban, ingat istri lagi hamil.


kembali pesan Balen diterima dan dibaca Daniel.


Iya sayang.


Balas Daniel kemudian masukkan handphone ke saku, lalu fokus memesan minuman supaya cepat dekati istrinya yang gantian emosi karena dipanasi oleh Lucky tadi, ditambah lagi cewek-cewek yang cuci mata lihat Lucky dan Daniel.

__ADS_1


__ADS_2